Tradisi Berbagi Buah Warnai Perayaan Maulid Nabi di RT 06/RW 02 Desa Pandanlandung,Kabupaten Malang

monwnews.com – Malang,- Tradisi muludan atau Maulid Nabi dengan membawa buah-buahan merupakan bentuk syukur atas rezeki dan wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang banyak dilakukan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Makna dan Filosofinya adalah sebuah bentuk
Ungkapan Syukur. Membawa hasil bumi dan buah-buahan menandakan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas nikmat rezeki dan hasil panen.

Sedekah dan berbagi buah-buahan yang dibawa warga biasanya disusun dalam bentuk gunungan atau wadah tertentu untuk dibagikan dan dinikmati bersama warga.

Menjadi simbol keberkahan, makanan atau buah dari tradisi tersebut sering dipercaya membawa berkah bagi yang memakannya.

Tradisi yang masih ada dan dilakukan di Daerah Jawa Timur,biasanya seperti di Jember, Situbondo (Ancak Agung), Madura, hingga Lumajang dan Malang, warga membuat gunungan atau sebuah wadah yang diisi buah dan hasil bumi, yang kemudian diperebutkan atau dibagikan setelah doa bersama.

Daerah Lainpun juga banyak majelis taklim atau masjid di berbagai desa juga menganjurkan jamaah membawa buah untuk ditukar atau dimakan bersama dalam acara kenduri.

Seperti pada Selasa malam (26/08/2026) -12 Rabiul Awal 1448 Hijriyah warga di Desa Pandanlandung,RW 02/RT 06,Kecamatan Wagir,Kabupaten Malang datang berbondong-bondong ke masjid dan mushala atau tempat yang telah disediakan,untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Mereka datang bersama keluarga dengan membawa tumpeng dan buah-buahan sebagai pertanda merayakan kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.

Andre salah satu warga RT 06 dari Gang Guyup Rukun mengatakan, bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW identik dengan buah-buahan. Sehingga buah-buahan menjadi sasaran simbol keberkahan warga yang datang ke sebuah tempat pertemuan warga,atau di masjid dan mushala.

Ada ratusan dan aneka macam buah-buahan yang disatukan. Kemudian setelah selesai pembacaan maulid syaroful anam dan doa, buah-buahan itu dengan tertib dibagikan oleh koordinator secara adil, ditukar sesuai bawaan masing-masing ,” ujarnya kepada awak media ini.

Buah-buahan yang disatukan bermaksud menyatukan niat untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya iringan shalawat nabi, buah-buahan tersebut ada barokahnya.

“Semoga dengan dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad SAW kita semua dapat syafaatnya kelak saat yaumil qiyamah,” tutur Bapak Jùli ,selaku imam dalam acara muludan di wilayah RT 06/RW 02 Desa Pandanlandung.
(galih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *