Oleh: H. Tri Prakoso – Pegiat Pendoa Nusantara
Monwnews.com, ”Hidayah bisa engkau dapat dari tempat yang gelap juga bisa kau dapat dari tempat yang terang. Sesat bisa juga ada pada tempat yang terang juga bisa ada pada tempat yang gelap.”

Meruntuhkan Mitos: Terang Belum Tentu Hidayah, Gelap Belum Tentu Sesat.
Ketika Logika Sederhana Diuji
Sejak kecil kita diajari logika sederhana: terang itu baik, gelap itu buruk. Sekolah yang terang benderang adalah tempat menimba ilmu, bukan lorong gelap yang becek dan kumuh. Orang-orang berpenampilan rapi dan bersih adalah panutan, bukan mereka yang compang-camping di pinggir jalan. Dalam bahasa agama, kita sering tergesa-gesa menyimpulkan: mereka yang rajin ke masjid pasti mendapat hidayah, mereka yang jarang terlihat di majelis taklim mungkin tersesat. Tapi seorang sufi besar dari tanah Turki, Syaikh Dliyauddin Ahmad Al-Kamasykhonawi, dalam magnum opusnya Jami’ al-Ushul fi al-Auliya, mengajak kita berpikir ulang. Lewat kitab tebal yang menjadi rujukan utama tarekat Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah itu, ia menanamkan pemahaman bahwa hidayah dan kesesatan tidak bisa diukur dengan parameter duniawi yang sederhana. Bahwa Tuhan, dengan sifat-Nya yang Maha Lembut (Al-Lathif) dan Maha Kuasa (Al-Qadir), seringkali bekerja dengan cara yang justru membalikkan logika manusia.
Teks singkat yang menjadi pangkal renungan ini adalah mutiara hikmah yang mengguncang kepastian kita. Ia datang seperti petir di siang bolong, mengagetkan mereka yang selama ini merasa paling terang, dan menghibur mereka yang bergumul dalam kegelapan.
Membongkar Mitos Terang dan Gelap
”Hidayah bisa engkau dapat dari tempat yang gelap juga bisa kau dapat dari tempat yang terang. Sesat bisa juga ada pada tempat yang terang juga bisa ada pada tempat yang gelap.”
Kalimat ini adalah dekonstruksi atas cara pandang dikotomis yang melekat dalam budaya kita. Ia memisahkan secara tegas antara realitas lahiriah dan hakikat batiniah.
KH. Ahmad Mustofa Bisri, atau akrab disapa Gus Mus, pernah bercerita dalam sebuah pengajian: “Banyak orang shalih yang lahir dari tempat maksiat. Banyak anak durhaka yang lahir dari rumah tangga ulama. Jangan pernah merasa paling aman hanya karena lingkunganmu tampak bersih.” Dalam tradisi tasawuf, pemahaman ini bukan hal baru. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘ulum al-Din mengingatkan bahaya ‘ujub (kagum pada diri sendiri) yang justru sering menghinggapi mereka yang rajin beribadah. Mereka yang berada di “tempat terang”—masjid yang megah, majelis yang ramai, pakaian yang putih bersih—justru berisiko tinggi terjangkit penyakit halus ini. Mereka merasa sudah aman, merasa lebih baik dari orang lain, merasa pintu surga sudah terbuka lebar. Padahal, dalam bahasa Al-Kamasykhonawi, ini adalah “tempat terang” yang menjerumuskan ke dalam kesesatan.
Sebaliknya, “tempat gelap” bisa berarti banyak hal. Bisa berupa kemiskinan yang memilukan, bisa berupa dosa yang menghinakan, bisa pula berupa kesunyian yang mencekik. Di tempat-tempat seperti inilah justru seringkali manusia merasakan kepapaan dirinya yang hakiki (faqr). Ia merasakan betapa tidak berdayanya ia di hadapan Tuhan. Dari sanalah, tangis penyesalan lahir. Dari sanalah, pintu tobat terbuka. Dari sanalah, hidayah menyelinap masuk ke relung jiwa yang paling dalam.
Ibn ‘Atha’illah dalam Al-Hikam (Hikmah ke-19) berkata: “Mungkin saja Allah membukakan pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaan. Mungkin saja Dia menakdirkanmu berbuat maksiat, dan maksiat itu justru menjadi jalan bagimu menuju kepada-Nya.” Ini bukan berarti kita boleh merencanakan maksiat. Ini adalah penegasan bahwa rahmat Allah melampaui segala logika dan perhitungan manusia. Seorang pemabuk di pinggir jalan, yang menangis tersedu-sedu karena sadar akan kehinaan dirinya, bisa jadi lebih dekat kepada Tuhan daripada seorang alim yang berjalan dengan dada membusung karena merasa ilmunya sudah cukup.
Abdi dan Gusti—Relasi yang Menentukan
Di titik inilah kita perlu masuk lebih dalam, ke inti ajaran tasawuf Jawa yang diislamkan: konsep Abdi dan Gusti. Istilah ini mungkin akrab di telinga kita lewat tembang-tembang Jawa atau ajaran para wali. Tapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar hubungan hamba dan Tuan.
Abdi adalah hamba. Bukan hamba dalam arti sosial yang seringkali penuh tekanan dan keterpaksaan. Abdi dalam pengertian spiritual adalah pengakuan ontologis bahwa diri ini adalah kepunyaan-Nya, bergantung kepada-Nya, dan tanpa-Nya kita adalah nol besar. Al-Kamasykhonawi dalam Jami’ al-Ushul menjelaskan bahwa maqam pertama yang harus dicapai seorang salik (pejalan spiritual) adalah al-faqr—merasakan kemiskinan hakiki di hadapan Allah. Tanpa ini, semua langkah berikutnya akan timpang. Gusti adalah Tuhan, Pemilik, Penguasa. Dialah yang memiliki segala sesuatu, termasuk diri kita. Dialah yang berhak menentukan ke mana arah hidup ini berlabuh.
Nah, problem utama manusia modern justru terletak di sini. Kita ingin menjadi Gusti bagi diri kita sendiri. Kita ingin mengatur segalanya sesuai keinginan. Kita ingin menentukan sendiri dari mana hidayah harus datang—dari buku yang kita baca, dari ustadz yang kita kagumi, dari lingkungan yang kita pilih. Ketika hidayah datang dari tempat yang tidak kita duga—dari orang yang kita anggap hina, dari peristiwa yang memalukan, dari kegagalan yang menghancurkan—kita menolaknya. Kita tidak mengakui bahwa Gusti berhak menggunakan cara apa pun untuk mendidik Abdi-Nya.
Inilah esensi dari pernyataan bahwa hidayah bisa datang dari tempat gelap. Gusti, dengan sifat Al-Qadir-Nya (Maha Kuasa), memiliki kewenangan mutlak untuk memilih wasilah (perantara) hidayah. Tidak ada yang bisa membatasi kuasa-Nya. Seekor semut bisa menjadi pembawa berkah. Seorang pendosa bisa menjadi penyebab taubatnya seribu orang. Sebuah peristiwa kelam bisa menjadi pintu terbukanya cahaya.
Al-Lathif dan Al-Qadir—Dua Sisi Wajah Kasih Sayang
Jika Al-Qadir berbicara tentang kuasa, maka Al-Lathif berbicara tentang kelembutan. Kedua sifat Allah ini bekerja secara simultan, tak terpisahkan, dalam setiap detik kehidupan seorang hamba.
Allah Maha Kuasa untuk menghancurkan kita dalam sekejap. Tapi Dia juga Maha Lembut, sehingga Dia memberi kita waktu, memberi kita kesempatan, memberi kita petunjuk-petunjuk halus yang seringkali luput dari perhatian.
Dalam kitab Jami’ al-Ushul, Al-Kamasykhonawi menjelaskan bahwa Allah mendidik hamba-hamba-Nya yang dikasihi dengan al-shaqtatu al-‘isyqiyyah—”pukulan-pukulan cinta”. Pukulan ini terasa sakit. Bisa berupa kehilangan orang tercinta, kebangkrutan yang menghancurkan, penyakit yang berkepanjangan, atau pengkhianatan dari orang terdekat. Tapi di balik pukulan itu, ada kelembutan yang tak terkatakan. Pukulan itu mematahkan kesombongan kita (kasr al-nafs), membuat kita sadar bahwa kita bukan siapa-siapa, dan memaksa kita untuk kembali bersimpuh di hadapan-Nya.
Coba renungkan: pernahkah Anda mengalami masa-masa tergelap dalam hidup? Mungkin saat itu Anda merasa Allah meninggalkan Anda. Tapi di kemudian hari, Anda sadar bahwa justru dari kegelapan itulah Anda belajar banyak hal. Anda belajar rendah hati. Anda belajar bersyukur atas hal-hal kecil. Anda belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah datang dari materi. Inilah cara kerja Al-Lathif: Dia hadir dalam balutan pakaian Al-Qadir. Kuasa-Nya yang “keras” itu sejatinya adalah kelembutan-Nya yang tak terbaca oleh mata lahir.
Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Maqshad al-Asna fi Syarh Asma’ Allah al-Husna menjelaskan bahwa Al-Lathif adalah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang paling lembut dan tersembunyi, serta Maha Lembut dalam memperlakukan hamba-Nya. Dia tahu persis “obat” apa yang dibutuhkan jiwa kita, bahkan ketika kita sendiri tidak tahu. Lalu Dia memberikannya kepada kita—kadang dalam bungkus yang manis, kadang dalam bungkus yang pahit. Tapi semuanya adalah resep cinta dari Sang Dokter Sejati.
Mengapa Harus Merasakan Lawannya?
Teks renungan itu melanjutkan: ”Apabila engkau tidak mengerti sesat, maka engkau juga tidak akan mengerti hidayah. Apabila engkau tidak merasakan susah maka engkau juga tidak akan merasa bahagia.”
Ini adalah prinsip epistemologi sufistik: pengetahuan sejati lahir dari pengenalan atas lawannya (al-asyya’u tu’rafu bi-azdadiha). Orang yang tidak pernah jatuh sakit tidak akan pernah benar-benar menghargai nikmat sehat. Orang yang tidak pernah merasakan lapar tidak akan memahami nilai makanan. Orang yang tidak pernah tersesat tidak akan pernah benar-benar menemukan jalan pulang. Dalam konteks spiritual, maknanya lebih dalam lagi. Bagaimana kita bisa merindukan surga jika tidak pernah merasakan panasnya penyesalan atas dosa? Bagaimana kita bisa mencintai Allah jika tidak pernah merasakan betapa nestapanya hidup tanpa-Nya?
Para sufi percaya bahwa dosa yang disadari dan ditangisi lebih baik daripada ketaatan yang membuat sombong. Karena dosa yang ditangisi itu mengantarkan hamba pada pintu tobat. Dan tobat adalah salah satu maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual. Dalam kitab Al-Risalah al-Qusyairiyyah, Imam Al-Qusyairi menempatkan tobat sebagai maqam pertama, namun sekaligus maqam yang terus berulang hingga akhir hayat.
Maka jangan buru-buru mengutuk kegelapan. Mungkin di sanalah kita belajar tentang cahaya. Jangan buru-buru menyesali kesalahan. Mungkin dari sanalah kita belajar tentang kebenaran. Gusti mendidik Abdi-Nya melalui kontras-kontras kehidupan. Ia hadirkan malam agar kita merindukan siang. Ia hadirkan pedih agar kita menghargai sembuh. Ia hadirkan sesat agar kita haus akan petunjuk.
Sabar—Kunci Membuka Hakikat
”Ilusi akan lahir atau ada tatkala engkau punya keinginan tanpa disertai kesabaran. Hakiki pasti ada pada jiwa-jiwa yang tertanam kesabaran apabila dia punya keinginan itulah kebenaran.”
Di sinilah titik krusialnya. Keinginan adalah fitrah manusia. Kita semua punya keinginan: ingin bahagia, ingin sukses, ingin dicintai, ingin selamat dunia akhirat. Tapi keinginan tanpa sabar hanya akan melahirkan ilusi.
Ilusi apa? Ilusi bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan mengabaikan aturan Tuhan. Ilusi bahwa kesuksesan bisa dipetik tanpa proses yang panjang. Ilusi bahwa surga bisa didapat tanpa pengorbanan. Ilusi bahwa cinta sejati bisa dimiliki tanpa kesetiaan.
Orang-orang seperti ini, kata teks renungan, adalah mereka yang “menggapai bahagia tapi perbuatan mereka justru mendekati susah”. Mereka bekerja keras untuk mengumpulkan harta, tapi hati mereka gelisah tak pernah puas. Mereka mengejar popularitas, tapi justru kehilangan diri sendiri. Mereka ingin masuk surga, tapi enggan meninggalkan maksiat. Mereka adalah “kayu bakar neraka”—menyalakan api dengan tangan mereka sendiri, lalu terbakar di dalamnya.
Sabar, dalam pengertian sufistik, bukanlah sikap pasif menunggu nasib. Sabar adalah keteguhan aktif (tsabat) dalam meniti jalan yang diridhai Allah, meskipun jalan itu terjal dan berliku. Sabar adalah tetap berpegang pada prinsip ketika semua orang tergoda untuk mengambil jalan pintas. Sabar adalah menerima ketentuan Allah dengan lapang dada, sambil terus berusaha sekuat tenaga.
Al-Kamasykhonawi menjelaskan bahwa sabar adalah fondasi dari seluruh maqam spiritual. Tanpa sabar, seseorang tidak akan pernah mencapai maqam syukur, ridha, atau mahabbah (cinta). Karena cinta sejati selalu diuji dengan kesabaran. Apakah Anda mencintai seseorang? Maka Anda akan sabar menanti, sabar menjaga, sabar memaafkan, sabar berkorban. Demikian pula cinta kepada Tuhan: ia akan diuji dengan berbagai macam ujian. Dan hanya mereka yang sabar yang akan lulus ujian itu.
Keinginan yang disertai sabar adalah keinginan yang telah disucikan. Ia tidak lagi menjadi alat pemuas ego, tetapi menjadi energi spiritual yang mendorong seseorang menuju Tuhan. Inilah yang disebut teks sebagai “kebenaran” atau hakikat. Ia adalah buah dari proses panjang pembersihan jiwa (tazkiyat al-nafs).
Bahaya Kehidupan Ilusif
Penutup teks renungan itu menggetarkan: ”Banyak di antara umat manusia yang menggapai bahagia tapi perbuatan mereka justru mendekati susah, mereka inilah yang akan dijadikan kayu bakar di akhirat kelak dan akan membakar dirinya sendiri.”
Ini adalah kritik tajam terhadap gaya hidup modern yang hedonis dan konsumtif. Kita hidup di zaman di mana orang berlomba-lomba mengejar kebahagiaan, tapi justru semakin jauh darinya. Kita punya rumah mewah tapi keluarga berantakan. Kita punya banyak teman di media sosial tapi kesepian di dunia nyata. Kita punya akses ke segala informasi tapi kehilangan makna hidup.
Dalam bahasa Al-Ghazali, ini adalah hubb al-dunya—cinta dunia yang berlebihan. Ia adalah sumber segala kesalahan. Ia mengubah persepsi, membalikkan prioritas, dan pada akhirnya menghancurkan pelakunya sendiri. Api neraka, secara simbolik, adalah manifestasi dari api nafsu yang selama ini mereka sembah di dunia. Mereka membakar diri sendiri dengan ilusi yang mereka ciptakan.
Di sinilah letak kebenaran konsep Abdi dan Gusti. Mereka yang menjadikan hawa nafsunya sebagai “gusti” (tuhan) selain Allah, pada akhirnya akan merasakan konsekuensinya. Karena nafsu adalah tuhan yang palsu—ia menjanjikan segalanya tapi memberi apa-apa. Ia menjanjikan kebahagiaan tapi menghadirkan kehampaan. Ia menjanjikan kepuasan tapi menciptakan ketagihan yang tak berujung. Sebaliknya, mereka yang mengakui Allah sebagai satu-satunya Gusti, dan dirinya sebagai Abdi yang fakir dan butuh, akan menemukan kedamaian sejati. Mereka mungkin tidak kaya raya, mungkin tidak terkenal, mungkin tidak dianggap sukses oleh dunia. Tapi hati mereka tenang. Mereka tidak lagi dikejar-kejar oleh ilusi. Mereka telah menemukan hakikat.
Di Mana Pun Engkau Letakkan Aku
Teks renungan ini, dengan segala kedalaman maknanya, adalah undangan untuk merenungkan ulang seluruh peta perjalanan hidup kita. Ia mengajak kita untuk tidak terjebak pada penampilan lahir, tetapi menyelami makna batin dari setiap peristiwa.
Dalam terang konsep Abdi-Gusti, kita belajar untuk rendah hati. Kita tidak pernah tahu dari mana hidayah akan datang. Bisa dari orang yang kita remehkan, bisa dari peristiwa yang kita kutuk, bisa dari tempat paling gelap sekalipun. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga hati tetap terbuka, dan memohon kepada Allah agar diberikan kepekaan untuk membaca tanda-tanda-Nya.
Dalam terang sifat Al-Lathif dan Al-Qadir, kita belajar untuk pasrah sekaligus waspada. Pasrah karena kita tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman kuasa-Nya. Waspada karena kita tahu bahwa kelembutan-Nya bisa hadir dalam berbagai rupa, dan kita harus siap menyambutnya.
Dan dalam terang sabar, kita belajar untuk teguh. Keinginan kita yang tak terbatas harus ditempa dengan kesabaran yang membaja. Hanya dengan begitu kita bisa membedakan mana ilusi dan mana hakikat. Hanya dengan begitu kita bisa selamat dari menjadi “kayu bakar neraka” bagi diri kita sendiri.
Pada akhirnya, semua bermuara pada satu kesadaran: bahwa kita adalah Abdi, dan Dia adalah Gusti. Bahwa di mana pun Dia letakkan kita, di tempat terang atau gelap, di sana ada kuasa-Nya yang mengatur dan kelembutan-Nya yang mendidik. Tugas kita hanya satu: bersabar menanti hidayah-Nya, karena hanya Dia-lah Yang Maha Kuasa dan Maha Lembut.
“Ya Rabbi, di mana pun Engkau letakkan aku, aku percaya di sana ada kebaikan-Mu. Di tengah terang maupun di kedalaman gelap, Engkau tetap Gusti, dan aku tetap Abdi-Mu yang fakir. Maka sabarkanlah aku, dan jangan Engkau biarkan aku tertipu oleh ilusi dunia.”
—
Artikel ini ditulis untuk rubrik Renungan, sebagai bagian dari upaya menghadirkan wacana spiritual yang relevan dengan kehidupan modern.












