Umum  

KHAIBAR, PERLAWANAN, DAN REKONSILIASI

Membaca Ajaran Ali, Konflik Iran-Israel, dan Pemikiran Gus Dur

Kota Khaibar
Kota Khaibar

Oleh: H. Kus Bachrul – Ksatria Merah Jambu Foundation

Monwnews.com, Di bawah rembulan Madinah, tahun 628 M, seekor kuda pacu hitam berlari kencang membawa seorang kesatria bermata sakit. Ketika pintu benteng Khaibar terangkat dengan satu tangan, sejarah mencatat nama Ali bin Abi Thalib bukan sekadar panglima perang—tapi simbol keberanian yang akan diperdebatkan ribuan tahun kemudian di gedung PBB, di medan perang Gaza, dan dalam pikiran seorang kiai Abdurrahman Wahid dari Jombang.

H. Kus Bachrul - Pendoa Nusantara
H. Kus Bachrul – Pendoa Nusantara

KETIKA PINTU BENTENG ITU TERBANGKITKAN

Perang bukanlah perkara mudah untuk diceritakan. Tapi di Khaibar, 1400 tahun lalu, perang menjelma menjadi teater heroik yang terus hidup dalam memori kolektif umat Islam.

Khaibar—oasis subur 150 kilometer dari Madinah—bukan sekadar perkampungan Yahudi biasa. Ia adalah benteng alam yang diperkuat delapan benteng batu di atas bukit-bukit basalt. Bani Nadhir, yang terusir dari Madinah, memusatkan kekuatan di sana. Mereka menghimpun senjata, menghasut suku Badui, dan menyewa tentara bayaran untuk satu tujuan: menghancurkan komunitas Muslim yang baru lahir.

Nabi Muhammad tahu. Beliau juga tahu bahwa ekspedisi militer ke Khaibar adalah konsekuensi logis dari politik realis. Setelah Perjanjian Hudaibiyyah dengan Quraisy Makkah, tidak ada lagi musuh di selatan. Saatnya mengamankan utara. Tapi pasukan Muslim gagal berkali-kali. Bendera perang yang diberikan kepada sahabat-sahabat pilihan tak pernah membawa kemenangan. Sampai kemudian Nabi bersabda, kalimat yang akan dikutip sepanjang zaman:

”Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”

Esoknya, Ali bin Abi Thalib dipanggil. Matanya sedang sakit—merah, bengkak, mungkin trakoma. Tapi Nabi meludahi kedua matanya, dan konon Ali sembuh seketika. Ia mengambil bendera, berlari menuju benteng, dan sejarah pun berubah. Marhab, panglima perang Yahibi yang legendaris, maju menantang duel. Syair-syair perang dipertukarkan. Beberapa detik kemudian, pedang Ali membelah Marhab dari ubun-ubun sampai ke dada.

Puncaknya: ketika Ali mencabut pintu benteng Khaibar—pintu besi raksasa yang butuh puluhan orang untuk mengangkatnya—dan menjadikannya perisai. Riwayat berbeda tentang beratnya. Ada yang bilang seberat 50 kilogram. Ada yang bilang 100 kilogram. Tapi semua sepakat: itu mustahil dilakukan manusia biasa. Yang lebih penting: setelah kemenangan, Nabi tidak membantai penduduk Khaibar. Mereka diizinkan tetap tinggal dengan membayar upeti. Sebuah keputusan pragmatis yang mencerminkan bahwa tujuan perang bukanlah pemusnahan etnis, tapi pengamanan politik.

PINTU KOTA ILMU DAN SAMUDERA KEBJJAKSANAAN

Nabi Muhammad pernah bersabda: “Ana madinatul ‘ilmi wa ‘Aliyyun babuha”—Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.

Hadis ini, yang diterima luas di kalangan Sunni dan Syiah, menjadi fondasi bagi klaim bahwa Ali bukan hanya panglima perang, tapi pewaris spiritual Nabi. Sejak kecil, Ali dididik langsung dalam pangkuan Nabi. Ketika wahyu pertama turun, Ali yang masih bocah adalah salah satu orang pertama yang beriman. Dua puluh tiga tahun kedekatan fisik dan spiritual ini menjadikannya penerima utama ajaran-ajaran esoteris Islam.

Dalam Nahj al-Balaghah (Puncak Kefasihan)—kumpulan khutbah, surat, dan kata-kata bijak Ali—kita menemukan konsep keadilan yang melampaui sekadar hukum positif. Keadilan bagi Ali adalah prinsip kosmis yang mengatur alam semesta.

”Janganlah engkau menjadi seperti orang yang tidak pernah merasa kenyang meski telah mendapatkan dunia, dan tidak pernah merasa puas meski telah mengumpulkan harta. Ketahuilah, keadilan adalah timbangan Allah yang ditegakkan di muka bumi.”

Dalam khutbahnya yang lain, Ali berkata: ”Barangsiapa yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin rakyat, hendaklah ia memulai pendidikannya dengan mengajarkan dirinya sendiri sebelum mengajarkan orang lain.”

Tapi keadilan Ali tidak hanya abstrak. Ketika diangkat menjadi khalifah, ia mengambil langkah kontroversial: mengembalikan harta Baitul Mal yang diambil secara tidak sah oleh elit Quraisy. Langkah ini memicu perlawanan dari Muawiyah dan Aisyah, yang menuntut balas dendam atas kematian Utsman terlebih dahulu. Ali menolak. Menurutnya, stabilitas dan keadilan struktural harus didahulukan sebelum menuntut balas dalam suasana kacak.

Di sinilah kaum Sufi melihat mata rantai pertama spiritualitas mereka. Hampir semua tarekat Sufi—dari Naqsyabandi, Qadiriyah, hingga Syadziliyah—menisbatkan silsilah mereka kepada Ali. Mereka meyakini bahwa Nabi menyampaikan rahasia-rahasia makrifat kepada Ali, yang kemudian mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, kaum Syiah mengambil langkah lebih jauh. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan (imamah) adalah kelanjutan dari kenabian—sebuah otoritas spiritual dan politik yang ditetapkan secara ilahi dan diwariskan melalui Ali dan keturunannya dari Fathimah. Imam dalam pandangan Syiah bukan sekadar penguasa, tapi pemandu spiritual yang maksum (terjaga dari dosa) dan memiliki pengetahuan tentang realitas batin Al-Qur’an. Narasi ketertindasan (mazlumiyyah) yang melekat pada diri Ali dan keluarganya—terutama setelah tragedi Karbala—menjadi inti kesalehan dan identitas Syiah. Khaibar bukan lagi sekadar kemenangan militer, tapi awal dari perjalanan panjang menuju penderitaan dan harapan akan tegaknya keadilan di bawah naungan Imam Mahdi.

GEMA KHAIBAR DI TENGAH RUDAL DAN DRONE

Dalam lanskap geopolitik Timur Tengah kontemporer, simbol-simbol sejarah kerap dihidupkan kembali untuk membingkai konflik masa kini. Bagi Republik Islam Iran, yang menjadikan Syiah sebagai ideologi negara, warisan Ali dan narasi Karbala adalah energi revolusioner yang tak pernah padam. Semangat Khaibar—perlawanan terhadap kekuatan yang dianggap agresif dan dominan—diproyeksikan ke dalam konfrontasinya dengan Israel.

Dalam demonstrasi anti-Israel di Tehran, Isfahan, dan Qom, ribuan orang meneriakkan slogan yang menggetarkan: “Khaibar Khaibar ya Yahud, jaisyu Muhammad sawfa ya’ud” (Khaibar, Khaibar wahai Yahudi, pasukan Muhammad akan kembali). Slogan ini secara eksplisit menghubungkan pertempuran abad ke-7 dengan konflik masa kini, memproyeksikan kemenangan masa lalu ke masa depan.

Para pemimpin Iran, melalui korps elite Revolusioner Garda (IRGC), secara konsisten membingkai perjuangan mereka sebagai kelanjutan dari perjuangan para nabi dan imam melawan kebatilan. Israel diposisikan sebagai “entitas Zionis” yang merupakan jelmaan modern dari kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam sejak zaman Nabi, termasuk Yahudi Khaibar.

Di sisi lain, Israel dan sekutunya (terutama AS) melihat Iran sebagai ancaman eksistensial. Kekhawatiran ini memuncak dalam isu nuklir Iran. Pada awal Maret 2026—saat tulisan ini dibuat—serangan militer AS-Israel ke Iran memicu kecaman keras dari Rusia dan China. Moskow memperingatkan bahwa agresi ini justru dapat memicu Iran untuk mengembangkan senjata nuklir, sementara Beijing menyesalkan serangan yang mengganggu proses diplomasi. Tapi apakah konflik Iran-Israel benar-benar dapat disederhanakan sebagai ulangan dari Khaibar?

Sejarawan akan mengingatkan kita pada tiga perbedaan mendasar.

Pertama, konteks historis Khaibar sangat spesifik: konflik lokal di Jazirah Arab abad ke-7 antara sebuah negara kota yang sedang berkembang (Madinah) dengan entitas politik yang secara aktif bersekongkol untuk menghancurkannya. Konflik Iran-Israel hari ini adalah konflik antarnegara-bangsa modern dengan dimensi regional dan global yang sangat kompleks—melibatkan teknologi militer canggih, doktrin nuklir, aliansi internasional, dan perebutan hegemoni kawasan.

Kedua, populasi Yahudi Khaibar adalah entitas politik yang kalah dan kemudian menjadi bagian dari sistem protektorat Islam. Israel adalah negara berdaulat yang kuat, diakui oleh sebagian besar dunia, dan memiliki kemampuan militer yang sebanding dengan lawan-lawannya.

Ketiga, menyamakan seluruh Yahudi dengan musuh Nabi adalah kekeliruan teologis dan historis. Nabi sendiri memiliki tetangga Yahudi di Madinah, menandatangani Piagam Madinah yang melindungi hak-hak mereka, dan memperlakukan tawanan perang Khaibar dengan cara yang pada masanya dianggap manusiawi.

Namun, dalam politik identitas, fakta-fakta historis seringkali kalah oleh kekuatan simbol. Dan simbol Khaibar adalah simbol yang sangat kuat.

GUS DUR: MEMBACA KHAIBAR DENGAN KACAMATA KEMANUSIAAN

Di tengah hiruk-pikuk retorika konfrontatif yang membara, ada satu suara yang terus bergema dari masa lalu—suara seorang kiai dengan kacamata tebal dan senyum nakal: Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur.

Gus Dur adalah Muslim tradisionalis yang sangat mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi). Ia tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang menghormati para imam Syiah, membaca kisah-kisah mereka, dan mengambil pelajaran dari perjuangan mereka. Tapi ia juga seorang humanis sejati yang mampu melampaui sekat-sekat sektarian.

Langkah paling kontroversial namun paling visioner dari Gus Dur adalah kunjungannya ke Israel dan jalinan pertemanannya dengan tokoh-tokoh Yahudi progresif, termasuk bergabung dalam yayasan Shimon Peres. Tindakannya ini sering disalahpahami sebagai bentuk normalisasi atau dukungan terhadap Zionisme.

Padahal, logika Gus Dur sangat sederhana namun mendalam: “Indonesia tidak mungkin berperan dalam perdamaian Israel–Palestina jika tidak memiliki jalur komunikasi dengan kedua pihak.”

Gus Dur dengan tegas membedakan antara agama Yahudi dan ideologi politik Zionisme. Ia membangun persahabatan dengan Yahudi justru untuk membuka ruang dialog dan dukungan moral bagi perjuangan Palestina di level global. Menurutnya, dengan mengisolasi diri dan memutus komunikasi, kita justru kehilangan kesempatan untuk memengaruhi opini dan kebijakan.

“Membangun pertemanan dengan kelompok Yahudi progresif justru membuka ruang dukungan moral dan politik yang dapat membantu perjuangan Palestina dalam arena global,” tegasnya dalam suatu kesempatan.

Gus Dur mengajarkan kita untuk membaca sejarah tidak secara harfiah dan konfrontatif, tetapi secara substantif dan kontekstual. Baginya, semangat Khaibar bukanlah semangat untuk memusuhi orang Yahudi sepanjang masa, melainkan semangat untuk melawan ketidakadilan dan agresi. Nabi berperang melawan kelompok Yahudi Khaibar bukan karena mereka Yahudi, tetapi karena tindakan politis mereka yang mengancam keamanan dan melanggar perjanjian.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang membesarkannya, ada konsep tentang “al-muhafadhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah”—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Konsep ini mengandaikan bahwa kita tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu, tapi juga tidak boleh menolak perubahan yang membawa kebaikan.

Membaca Khaibar dengan kacamata Gus Dur berarti membaca peristiwa itu sebagai bagian dari sirah nabawiyah yang harus dipahami secara utuh—tidak hanya episode perangnya, tapi juga episode diplomasi, pengampunan, dan koeksistensi yang menyertainya.

DARI KHAIBAR KE KOMITE BERSAMA

Pada tahun 628 M, setelah Khaibar takluk, Nabi Muhammad tidak membantai penduduknya. Mereka diizinkan tetap tinggal, menggarap tanah mereka, dan membayar upeti sebagai imbalan perlindungan. Ini adalah perjanjian politik, bukan pemusnahan teologis. Pada tahun 2026, di tengah saling serang rudal antara Iran dan Israel, kita perlu mengingat kembali pelajaran ini.

Ali bin Abi Thalib, sang pahlawan Khaibar, mengajarkan keadilan tanpa kompromi—tapi juga kebijaksanaan dalam memilih jalan. Ketika Muawiyah memberontak, Ali tidak serta-merta mengkafirkannya. Ketika pasukannya sendiri (Khawarij) memisahkan diri, Ali tetap berdialog dengan mereka. Ia adalah pejuang, tapi juga negosiator.

Gus Dur, dalam tradisi yang berbeda, mengajarkan hal yang sama. Bahwa dialog dengan “yang lain”—bahkan dengan musuh sekalipun—adalah jalan kenabian. Bahwa membela Palestina adalah wajib, tapi membela hak-hak sipil warga Israel juga sama wajibnya jika mereka terzalimi. Bahwa kita harus membedakan antara yang sakral dan yang profan, antara ajaran agama yang abadi dan realitas politik yang berubah.

Di tengah ancaman eskalasi militer yang dapat membawa kawasan menuju jurang kehancuran, kita membutuhkan lebih banyak suara seperti Gus Dur. Bukan suara yang menghasut kebencian dengan membawa-bawa nama Ali atau Khaibar, tapi suara yang mampu membaca ulang sejarah dengan jernih dan mengambil pelajaran darinya.

Ali di Khaibar adalah singa padang pasir yang tak kenal takut. Tapi Ali di Kufah adalah negarawan yang membuka pintu dialog. Gus Dur di Indonesia adalah kiai yang berani melintasi batas demi kemanusiaan.

Dua figur ini, dari dua zaman yang berbeda, mengajarkan kita satu hal: bahwa keberanian sejati tidak hanya di medan perang, tapi juga di medan dialog dan kemanusiaan. Bahwa memegang teguh prinsip bukan berarti menutup pintu komunikasi. Bahwa membela kebenaran bukan berarti memusuhi seluruh “yang lain”.

Di ujung jalan buntu konflik Iran-Israel, mungkin inilah satu-satunya jalan keluar: kembali kepada ajaran Ali yang sejati, bukan simbolnya yang telah dibajak; kembali kepada semangat Khaibar yang otentik, bukan retorikanya yang dikemas ulang; dan mendengarkan suara-suara kenabian seperti Gus Dur yang berani berkata: “Mari kita bicara.”

Karena pada akhirnya, pintu benteng Khaibar yang terangkat oleh tangan Ali bukanlah pintu untuk menutup diri dari dunia, tapi pintu yang membuka jalan menuju masa depan yang lebih adil.

TIGA PELAJARAN DARI KHAIBAR

Pertama, keberanian tanpa kebijaksanaan adalah kebrutalan. Ali tidak hanya berani, ia juga bijaksana. Setelah Khaibar takluk, ia tidak memaksa penduduknya masuk Islam. Mereka diberi pilihan.

Kedua, perlawanan terhadap ketidakadilan adalah kewajiban, tapi membenci seluruh kelompok etnis atau agama adalah kejahatan. Nabi berperang melawan kelompok Yahudi Khaibar karena tindakan politis mereka, bukan karena keyahudian mereka.

Ketiga, dialog dengan musuh bukanlah pengkhianatan. Gus Dur membuktikan bahwa dengan membuka komunikasi, kita justru bisa memperjuangkan kepentingan kita dengan lebih efektif.

Tiga pelajaran ini—dari Khaibar, dari Ali, dari Gus Dur—mungkin adalah satu-satunya pegangan di tengah dunia yang semakin terbakar.

Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah bagian dari seri “Membaca Sejarah, Merawat Kemanusiaan” yang mengajak pembaca melihat peristiwa sejarah tidak sekadar sebagai catatan masa lalu, tapi sebagai cermin untuk memahami kompleksitas masa kini.

Respon (8)

  1. Ping-balik: zithromax 500
  2. Ping-balik: metoprolol 25 mg pill
  3. Ping-balik: viagra us pharmacy
  4. Ping-balik: tadalafil 5 mg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *