Monwnews.com, Setiap kali Timur Tengah bergolak, selalu muncul pertanyaan klasik di kalangan masyarakat Indonesia: “Kalau Gus Dur masih hidup, kira-kira apa yang akan beliau lakukan?” Pertanyaan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan kerinduan akan sosok pemikir Muslim yang mampu membaca realitas dengan jernih di tengah hiruk-pikuk sentimen sektarian.

Hari ini, ketika ketegangan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kembali memanas—dengan saling serang, ancaman, dan kontestasi geopolitik yang tak kunjung reda—imajinasi tentang Gus Dur menjadi relevan. Bukan untuk meramal, tetapi untuk menggali kembali tradisi berpikir yang selama ini menjadi ciri khas almarhum: kemanusiaan di atas segala-galanya.
Rekam Jejak yang Tak Terbantahkan
Untuk membayangkan apa yang akan dilakukan Gus Dur, kita harus melihat apa yang telah ia lakukan. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1994, jauh sebelum menjadi presiden, Gus Dur menerima undangan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian damai Israel-Yordania. Langkah ini mengundang kontroversi. Banyak pihak mengecamnya. Namun Gus Dur memiliki logika sendiri: “Bagaimana mungkin kita bisa mendamaikan Palestina dan Israel jika kita hanya mau berbicara dengan salah satunya?”
Inilah titik tolak berpikir Gus Dur. Ia tidak pernah terjebak pada simbol. Ia tidak peduli pada pencitraan heroik dengan menjadi pihak yang paling keras menghujat musuh. Yang ia kejar adalah substansi: bagaimana penderitaan rakyat Palestina bisa dihentikan. Baginya, berdialog dengan Israel bukan berarti melegitimasi pendudukan. Justru sebaliknya, itu adalah cara untuk membuka ruang negosiasi yang selama ini tertutup.
Ketika menjabat presiden, Gus Dur mewacanakan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel. Lagi-lagi kontroversi. Namun ia menjelaskan dengan tenang: Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi pemain penting dalam perdamaian Timur Tengah jika tidak memiliki akses ke semua pihak. Ini bukan soal membela Israel, ini soal memperluas pengaruh untuk kepentingan yang lebih besar: kemerdekaan Palestina.
Dalam konteks konflik Iran versus AS-Israel hari ini, pendekatan ini akan kembali ia gunakan. Gus Dur tidak akan terburu-buru memihak. Ia akan melihat siapa aktor agresor, siapa yang menjadi korban, dan bagaimana jalan damai bisa dibuka. Ia akan mengingatkan bahwa membela Palestina tidak harus berarti membela semua kebijakan Iran. Sebaliknya, mengkritisi kebijakan Amerika tidak berarti menutup pintu dialog.
Ketika Tuhan Tidak Perlu Dibela
Pada tahun 1982, Gus Dur menulis artikel monumental di majalah Tempo berjudul “Tuhan Tidak Perlu Dibela”. Artikel ini lahir dari kegelisahan melihat umat Islam yang mudah terprovokasi, seolah-olah Tuhan sedang terancam dan perlu diselamatkan. Gus Dur mengutip seorang guru tarekat: “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya.”
Pernyataan ini menjadi kunci untuk memahami bagaimana Gus Dur akan merespons konflik Iran-AS-Israel. Ia akan melihat bahwa banyak pihak—baik di Iran, di Amerika, di Israel, maupun di Indonesia sendiri—berusaha membela Tuhan dengan cara yang justru bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan. Ada yang membela Iran dengan retorika keislaman, seolah-olah rezim Teheran adalah representasi suci Tuhan. Ada yang membela Israel dengan narasi “umat pilihan”, seolah-olah Tuhan memihak pada kekerasan.
Gus Dur akan mengingatkan bahwa Tuhan tidak butuh dibela oleh rudal balistik. Yang butuh dibela adalah warga sipil yang ketakutan di Gaza, di Lebanon, di Teheran, di Tel Aviv. Yang butuh dibela adalah anak-anak yang kehilangan orangtua. Yang butuh dibela adalah masa depan yang suram karena perang tak berkesudahan.
Filosofi ini menempatkan Gus Dur pada posisi yang unik: ia bisa mengkritisi kebijakan Amerika yang arogan, tanpa harus membenarkan tindakan Iran yang provokatif. Ia bisa menyuarakan penderitaan rakyat Palestina, tanpa harus ikut-ikutan membenci warga Israel. Ia bisa menjadi jembatan, bukan tembok pemisah.
Pandangan atas Standar Ganda Global
Gus Dur bukanlah sosok naif yang hanya bicara damai tanpa melihat realitas kekuasaan. Ia sangat paham bahwa politik internasional penuh dengan kemunafikan. Pada tahun 2007, ketika Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi kepada Iran terkait program nuklir, Gus Dur angkat bicara. Ia menyebut sanksi itu sebagai wujud ketidakadilan. Bukan karena ia mendukung program nuklir Iran, tetapi karena ia melihat standar ganda yang mencolok.
“Untuk nuklir Israel kok tidak tegas,” ujarnya kala itu. Israel selama ini diyakini memiliki ratusan hulu ledak nuklir, namun tidak pernah mendapat sanksi serupa. Ini menunjukkan bahwa politik global sering kali dijalankan dengan dua ukuran: negara kuat bebas melakukan apa saja, negara lemah dihukum untuk kesalahan yang sama.
Dalam konflik hari ini, Gus Dur akan kembali menyuarakan kritik atas standar ganda ini. Ia akan mendesak dunia internasional untuk konsisten: jika program nuklir Iran dianggap ancaman, maka program nuklir Israel juga harus diawasi. Jika sanksi dijatuhkan kepada Iran karena dianggap melanggar resolusi PBB, maka Israel juga harus mendapat sanksi karena puluhan tahun mengabaikan resolusi PBB tentang Palestina.
Namun kritik ini tidak akan membuat Gus Dur buta terhadap kesalahan Iran. Ia juga akan mengingatkan Teheran untuk tidak menggunakan isu Palestina sebagai alat kepentingan geopolitik. Ia akan kritis terhadap rezim otoriter, termasuk di negara-negara Muslim. Baginya, membela Islam tidak berarti membela penguasa zalim.
Spiritualitas Seorang Sufi di Tengah Perang
Gus Dur adalah seorang pengikut tarekat. Ia menjalani kehidupan spiritual yang tidak banyak diketahui publik. Di balik guyonan dan tingkahnya yang kocak, tersimpan kedalaman batin yang luar biasa. Ia memahami konsep tawakkal, ridha, dan mahabbah (cinta) sebagai pengalaman, bukan sekadar teori. Dalam pandangan tasawuf, konflik eksternal sering kali merupakan proyeksi dari kekacauan internal. Amarah, kebencian, dendam—semua itu adalah penyakit hati yang justru melemahkan manusia. Gus Dur akan mengingatkan para pemimpin Iran, Amerika, dan Israel bahwa perang tidak akan menyelesaikan apa pun. Yang akan lahir dari perang hanyalah generasi baru yang penuh trauma dan dendam.
Ketika Gus Dur mengunjungi Israel dan bertemu dengan para rabi Yahudi, ia tidak diliputi rasa takut atau benci. Ia justru merasakan “hasrat damai” yang sama dari semua orang, terlepas dari latar belakang agama. Ini adalah pencapaian spiritual tertinggi: mampu melihat kemanusiaan di balik identitas politik. Dalam konteks konflik hari ini, Gus Dur akan menjadi suara yang paling lantang menolak politisasi agama. Ia akan mengecam jika ada pihak yang menggunakan ayat suci untuk membenarkan pembunuhan. Ia akan mengecam jika ada kelompok yang mengklaim sebagai “tentara Tuhan” padahal tindakannya jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Ia akan mengajak semua pihak untuk kembali pada esensi agama: kasih sayang, keadilan, dan perdamaian.
Diplomasi ala Pesantren
Gus Dur adalah produk pesantren, namun ia tidak pernah terjebak pada eksklusivisme. Ia justru membuka pesantren untuk semua: aktivis lintas agama, diplomat asing, bahkan mereka yang dianggap “sesat” sekalipun. Pendekatan ini lahir dari keyakinan bahwa dialog tidak bisa dilakukan dari kejauhan. Untuk berdialog, kita harus mendekat.
Dalam konflik Iran-AS-Israel, Gus Dur akan menggunakan pendekatan diplomasi ala pesantren ini. Ia akan mendorong Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi fasilitator dialog. Ia akan menggunakan jaringan internasionalnya—di dunia Islam, di Barat, di PBB—untuk membuka ruang perundingan. Ia akan mengingatkan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan, bukan justru ikut menyulut api permusuhan.
Gus Dur juga akan memanfaatkan kekuatan budaya. Ia percaya bahwa olahraga, seni, dan pendidikan bisa menjadi medium diplomasi yang lebih efektif daripada senjata. Ia akan mendukung penuh inisiatif-inisiatif yang mempertemukan anak-anak muda dari berbagai negara untuk saling mengenal. Ia akan menentang upaya-upaya untuk mencampuradukkan agama dengan kebencian, karena ia tahu bahwa justru di ruang-ruang netral itulah benih-benih perdamaian bisa tumbuh.
Sikap terhadap Iran, Amerika, dan Israel
Jika diminta merumuskan secara lebih konkret, kemungkinan besar Gus Dur akan mengambil posisi sebagai berikut:
Terhadap Iran: Gus Dur akan menghormati Iran sebagai negara dengan peradaban besar. Namun ia juga akan kritis terhadap kebijakan luar negeri Iran yang kerap provokatif. Ia akan mengingatkan Teheran bahwa membela Palestina adalah kewajiban moral, tetapi menjadikan Palestina sebagai alat legitimasi politik justru mengkhianati perjuangan rakyat Palestina sendiri. Ia akan mendesak Iran untuk membuka diri pada dialog dan tidak mudah terpancing eskalasi militer.
Terhadap Amerika Serikat: Gus Dur akan mengkritisi kebijakan luar negeri Amerika yang sering arogan dan inkonsisten. Ia akan mengecam dukungan buta Amerika kepada Israel tanpa syarat. Namun ia juga tidak akan menutup pintu dialog. Ia akan mengingatkan bahwa Amerika bisa menjadi bagian dari solusi jika bersedia berlaku adil. Ia akan mendorong pemerintahan Amerika untuk mendesak Israel menghentikan perluasan permukiman dan menghormati hak-hak rakyat Palestina.
Terhadap Israel: Gus Dur akan bersikap paling kompleks. Ia tidak akan pernah mengakui legitimasi pendudukan Israel atas tanah Palestina. Ia akan terus menyuarakan kemerdekaan Palestina. Namun ia juga tidak akan menutup mata pada kenyataan bahwa Israel adalah negara yang ada dan harus diajak bicara. Baginya, boikot total hanya akan memperpanjang penderitaan. Yang diperlukan adalah tekanan diplomatik yang konsisten untuk mendorong solusi dua negara.
Terhadap Palestina: Gus Dur akan menjadi pembela paling vokal. Namun pembelaannya bukan dalam bentuk retorika heroik, melainkan aksi nyata. Ia akan mendorong penggalangan dana kemanusiaan, bantuan medis, dukungan diplomatik, dan pendidikan perdamaian. Ia akan mendukung perjuangan Palestina dengan cara-cara yang cerdas, tidak sekadar euforia solidaritas yang cepat panas cepat dingin.
Mengelola Pertentangan Tanpa Permusuhan
Salah satu sumbangan pemikiran Gus Dur yang paling relevan dengan konflik hari ini adalah konsepnya tentang “pertentangan bukanlah permusuhan”. Dalam bukunya Islamku, Islam Anda, Islam Kita, ia menulis bahwa perbedaan kepentingan adalah hal lumrah dalam hubungan antarbangsa. Amerika memiliki kepentingan yang berbeda dengan Iran. Israel memiliki kepentingan yang berbeda dengan Palestina. Namun perbedaan ini tidak harus berujung pada permusuhan eksistensial.
Gus Dur akan mendorong semua pihak untuk mengelola pertentangan secara dewasa. Ia akan mengkritisi kebijakan Amerika yang mencoba memaksakan kehendak dengan kekuatan militer. Ia juga akan mengkritisi kebijakan Iran yang menggunakan retorika “kematian bagi Amerika” sebagai identitas politik. Baginya, pertentangan bisa dikelola melalui diplomasi, negosiasi, dan kompromi. Tidak perlu menghancurkan satu sama lain untuk membuktikan siapa yang benar.
Pandangan ini sangat relevan dengan situasi hari ini, di mana retorika keras justru menjadi komoditas politik. Para pemimpin di berbagai negara berlomba-lomba menunjukkan sikap paling heroik, paling keras terhadap musuh. Padahal, di balik retorika itu, rakyat kecil yang menderita. Gus Dur akan mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah siapa yang paling keras bicara, tetapi siapa yang paling mampu membawa perdamaian.
Indonesia sebagai Mercusuar Perdamaian
Gus Dur memiliki visi besar tentang peran Indonesia di dunia internasional. Ia ingin Indonesia menjadi “mercusuar peradaban” yang menerangi jalan perdamaian, bukan menjadi bagian dari kegelapan konflik. Ia percaya bahwa Indonesia, dengan keberagaman dan tradisi toleransinya, memiliki modal besar untuk menjadi mediator dalam konflik-konflik global.
Dalam konteks Iran-AS-Israel, Gus Dur akan mendorong Indonesia untuk mengambil peran lebih aktif. Bukan sekadar mengeluarkan pernyataan diplomatik normatif, tetapi terlibat langsung dalam upaya-upaya perdamaian. Ia akan mendorong pemerintah Indonesia untuk membuka saluran komunikasi dengan semua pihak, termasuk dengan Israel jika itu diperlukan untuk kepentingan Palestina.
Gus Dur juga akan mengingatkan bahwa perdamaian tidak bisa hanya diandalkan pada pemerintah. Masyarakat sipil, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, dan individu-individu harus terlibat. Ia akan menggerakkan jaringan Nahdlatul Ulama untuk menjadi agen perdamaian, mengirim utusan-utusan ke berbagai negara untuk membangun dialog antaragama dan antarbudaya.
Damai Itu Kerja Keras
Andai Gus Dur masih hidup, ia mungkin akan tersenyum melihat hiruk-pikuk respons masyarakat Indonesia terhadap konflik Iran-AS-Israel. Ia akan melihat banyak orang sibuk mengutuk di media sosial, sibuk membagikan berita-berita provokatif, sibuk menunjukkan sikap paling heroik. Namun ia juga akan melihat sedikit sekali orang yang benar-benar bekerja untuk perdamaian.
Gus Dur akan mengingatkan bahwa damai itu kerja keras. Damai bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, apalagi dengan hanya duduk manis di depan layar ponsel. Damai membutuhkan nyali untuk berdialog dengan pihak yang tidak kita sukai. Damai membutuhkan keberanian untuk mengkritisi kawan sendiri jika mereka salah. Damai membutuhkan keteguhan untuk tetap berpikir jernih di tengah gelombang sentimen.
Pesan terakhir Gus Dur, jika ia masih hidup hari ini, mungkin akan sederhana: “Jangan gampang terprovokasi. Jangan mudah membenci. Lihatlah manusia sebagai manusia. Di atas semua perbedaan politik dan agama, kemanusiaan adalah yang utama. Dan Tuhan—Tuhan yang Maha Besar itu—tidak perlu kita bela dengan kebencian. Ia cukup dibela dengan cinta.”
Di tengah badai konflik yang tak kunjung reda, suara seperti ini memang terasa asing. Namun justru di saat semua orang berteriak, suara yang tenang itulah yang paling diperlukan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.













I have learn a few excellent stuff here. Certainly price bookmarking for revisiting.
I surprise how so much attempt you put to create this type of great informative website.
xnxx