Takashi Shiraishi – Menyulut Api Zaman Bergerak

Oleh: Sapto Raharjanto Ketua Bidang Penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies CoLEPS Jember

Monwnews.com, Nama Takashi Shiraishi memiliki tempat istimewa dalam historiografi Indonesia. Sejarawan kenamaan asal Jepang kelahiran Kisarazu, Chiba, pada tahun 1948 ini dikenal berkat ketelitian serta kedalaman analisisnya mengenai perjalanan sejarah sosial dan politik di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Perjalanan akademis Shiraishi sangat mengagumkan. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Tokyo, ia melanjutkan studi ke Universitas Cornell di Amerika Serikat. Di sana, ia meraih gelar Ph.D. di bawah bimbingan para pakar studi Indonesia terkemuka. Sepanjang kariernya, Shiraishi pernah mengajar di berbagai institusi bergengsi, termasuk Universitas Tokyo, Universitas Kyoto, dan National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) di Jepang. Sebagai ilmuwan yang menguasai berbagai bahasa, ia tidak hanya membaca dokumen resmi kolonial, tetapi juga menyelami surat kabar bahasa Melayu lokal, brosur propaganda, serta karya sastra sezaman.

Dedikasi mendalam Takashi Shiraishi terhadap sejarah Indonesia melahirkan sebuah karya monumental berjudul An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912–1926. Buku yang diterbitkan oleh Cornell University Press pada tahun 1990 ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hilmar Farid seorang sejarawan dan aktivis kebudayaan terkemuka di Indonesia dengan judul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926. Penerbitan edisi terjemahan ini memberikan dampak luas bagi pembaca Indonesia karena menghadirkan perspektif baru yang menyegarkan tentang sejarah pergerakan nasional.

Lahirnya buku Zaman Bergerak didasari oleh keinginan Takashi Shiraishi untuk melihat sejarah perjuangan kemerdekaan dari sudut pandang rakyat biasa (history from below). Sebelum buku ini lahir, narasi sejarah pergerakan nasional kerap didominasi oleh kisah para elite terpelajar yang merumuskan gagasan besar di ruang-ruang rapat tertutup atau organisasi formal.

Shiraishi menyadari bahwa peristiwa besar dalam sejarah tidak hanya digerakkan oleh segelintir tokoh elite di Jakarta atau Surabaya, melainkan oleh dinamika sosial yang bergejolak di akar rumput. Untuk merekonstruksi suasana zaman tersebut, Shiraishi melakukan riset arsip yang sangat teliti. Metode utama yang digunakannya adalah close reading atau pembacaan teks secara amat mendalam terhadap puluhan koran lama berbahasa Melayu-Tionghoa dan Melayu Rendah yang terbit pada dekade 1910-an hingga 1920-an. Melalui jejak kata-kata di koran, selebaran, dan pamflet, Shiraishi berhasil merekam detak jantung radikalisme rakyat Jawa pada masa itu.

Buku Zaman Bergerak menceritakan sebuah fase krusial dalam sejarah Indonesia yaitu sebuah transisi perjuangan rakyat dari model tradisional menuju model perlawanan modern.

Sebelum periode pergerakan nasional, perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda umumnya bersifat lokal, sporadis, dan sangat bergantung pada kepemimpinan karismatik seorang tokoh agama atau bangsawan. Contohnya adalah Perang Diponegoro atau berbagai pemberontakan petani di Jawa. Ketika sang pemimpin ditangkap atau gugur, gerakan perlawanan tersebut langsung padam. Perlawanan tradisional ini juga kerap diwarnai oleh mistisisme atau harapan messianistik seperti kedatangan Ratu Adil.

Namun, memasuki dekade 1910-an, tatanan masyarakat di Jawa mengalami perubahan mendasar. Penetrasi kapitalisme kolonial melalui perkebunan gula, kereta api, dan sistem kerja upah merusak tatanan desa tradisional. Pada saat yang sama, pendidikan modern mulai dibuka terbatas untuk pribumi dan media cetak tumbuh pesat.

Dari persinggungan itulah lahir model perlawanan baru yang modern. Rakyat mulai menyadari bahwa perlawanan tidak lagi dilakukan dengan keris atau tombak, melainkan melalui sarana-sarana baru seperti organisasi, pers, rapat umum (vergadering), dan pemogokan buruh. Fenomena inilah yang disebut oleh orang-orang pada masa itu sebagai “zaman bergerak” sebuah periode ketika rakyat merasa bahwa dunia sedang berubah dan mereka harus ikut bergerak mengubah nasibnya sendiri.

Buku ini membedah dengan cermat pasang surut Sarekat Islam (SI), organisasi massa terbesar saat itu. SI bermula dari fase keagamaan dan perdagangan di Surakarta, lalu berkembang pesat menjadi tempat bernaungnya berbagai arus pemikiran. Di dalam SI, terjadi pertempuran ideologi yang sangat sengit hingga akhirnya organisasi ini terpecah menjadi kubu kanan (nasionalis-religius) dan kubu kiri (sosialis-komunis). Shiraishi menggambarkan bagaimana rapat-rapat umum SI mampu menyedot puluhan ribu rakyat biasa yang mendengarkan pidato, bernyanyi, dan merasakan tumbuhnya rasa kebersamaan sebagai sebuah bangsa.

Puncak dari radikalisme rakyat ini berujung pada letupan pemogokan buruh di berbagai sektor usaha kolonial dan akhirnya bermuara pada pemberontakan yang dipelopori oleh kubu kiri pada tahun 1926. Meskipun pemberontakan tersebut berhasil ditumpas dengan keras oleh pemerintah kolonial Belanda, pola perlawanan rakyat telah berubah total dan tidak pernah kembali lagi ke model tradisional.

Dalam merekonstruksi “zaman bergerak”, Takashi Shiraishi menampilkan serangkaian tokoh pergerakan dengan latar belakang dan karakter yang beragam yaitu

Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter muda terpelajar yang radikal dan tidak kenal kompromi. Tjipto menggunakan keahlian medis dan penanya untuk menyerang feodalisme Jawa serta ketidakadilan kolonial. Ia menjadi figur penting yang menghubungkan pemikiran intelektual modern dengan aksi politik nyata di lapangan.

H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin karismatik Sarekat Islam yang dijuluki sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Tjokroaminoto memiliki kemampuan pidato yang luar biasa dan mampu memikat ribuan rakyat jelata, menggabungkan simbol-simbol Islam dengan wacana keadilan sosial.

Semaoen, tokoh muda yang cerdas dan energik dari kubu kiri. Semaoen belajar organisasi dari Henk Sneevliet (seorang sosialis Belanda) dan berhasil memimpin Sarekat Islam Semarang serta serikat buruh kereta api (VSTP) menjadi kekuatan politik yang amat disiplin dan radikal.

Marco Kartodikromo (Mas Marco), jurnalis dan sastrawan yang tulisan-tulisannya di koran seperti Doenia Bergerak menjadi bahan bakar semangat radikalisme rakyat. Marco mempopulerkan bahasa Melayu sebagai bahasa perlawanan dan menunjukkan betapa ampuhnya pena dalam melawan meriam kolonial.

Selain tokoh-tokoh utama tersebut, buku ini juga merekam keterlibatan orang-orang biasa seperti kuli pabrik gula, pegawai kereta api, buruh cetak, dan petani kecil. Shiraishi membuktikan bahwa ideologi pergerakan tidak sekadar diturunkan dari atas atau diadopsi mentah-mentah dari Barat, melainkan dibentuk dan diolah kembali oleh rakyat jelata berdasarkan pengalaman pahit hidup mereka sehari-hari.

Zaman Pergerakan Nasional yang menjadi latar belakang dari buku Zaman Bergerak ini merupakan periode yang sangat krusial dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Periode ini menjadi fondasi awal lahirnya kesadaran berbangsa. Sebelum era ini, masyarakat di kepulauan nusantara mengidentifikasi diri mereka berdasarkan suku, daerah, atau agama.

Melalui pergerakan nasional, lahir sebuah ruang publik baru di mana orang-orang dari pelbagai latar belakang dapat bertemu, berdiskusi, dan merumuskan cita-cita bersama. Pergerakan nasional mengajarkan bahwa kekuasaan penjajah yang tampak begitu kokoh sebenarnya dapat digoyahkan apabila rakyat bersatu dan terorganisasi secara sistematis.

Pelajaran paling berharga dari buku Zaman Bergerak adalah tentang arti penting ilmu pengetahuan dan kesadaran kritis untuk menuntun sebuah perjuangan.

Tanpa ilmu pengetahuan dan pemahaman yang jelas tentang struktur penindasan, perjuangan rakyat hanya akan menjadi amukan emosional yang mudah dipadamkan. Sebaliknya, ketika ilmu pengetahuan, kemampuan membaca situasi, dan keterampilan berorganisasi dimiliki oleh rakyat, perjuangan tersebut berubah menjadi kekuatan sosial yang sangat dahsyat.

Para tokoh pergerakan dalam buku ini menunjukkan bahwa membaca koran, mendirikan sekolah, menerbitkan majalah, dan berdiskusi bukanlah kegiatan akademis yang steril, melainkan tindakan politik yang radikal. Ilmu pengetahuan memberi rakyat kata-kata untuk menamai ketidakadilan yang mereka alami, sekaligus memberikan strategi untuk mengubahnya.

Buku karya Takashi Shiraishi ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar hadiah atau hasil kerja segelintir diplomasi elite, melainkan buah dari keberanian rakyat biasa yang belajar untuk berpikir kritis, mengorganisasi diri, dan melangkah bersama memasuki zaman baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *