Umum  

Giyanti: Kedaulatan yang Ditandatangani, Lalu Dirayakan

Oleh: Eko Muhammad Ridwan - Ketua Umum RRI - Ranggah Rajasa Indonesia

perjanjian giyanti
perjanjian giyanti

Perjanjian 1755 membelah Jawa bukan semata karena kekuatan asing, melainkan karena kegagalan elite menjaga kedaulatan. Pola itu berulang hari ini dalam bentuk yang lebih halus dan lebih mahal.

Eko Muhammad Ridwan, Ketua Umum RRI - Ranggah Rajasa Indonesia
Eko Muhammad Ridwan, Ketua Umum RRI – Ranggah Rajasa Indonesia

Monwnews.com, Perjanjian Giyanti 1755 sering dikenang sebagai tonggak lahirnya dua pusat kebudayaan besar di Jawa: Surakarta dan Yogyakarta. Ia dirawat sebagai warisan sejarah, dipuja melalui upacara, dan dibingkai sebagai kompromi politik yang menyelamatkan stabilitas.

Namun di balik narasi rapi itu, tersembunyi fakta yang jauh lebih pahit: Giyanti bukan kemenangan diplomasi Jawa, melainkan kekalahan elite yang gagal menjaga kedaulatan.

Pembelahan Mataram tidak terjadi karena kekuatan asing semata, tetapi karena konflik internal yang membuka pintu bagi pihak luar untuk menjadi wasit sekaligus penentu hasil. Kedaulatan tidak direbut melalui perang besar.

Ia ditandatangani di meja perundingan, diserahkan atas nama ketertiban, lalu disucikan sebagai tradisi.

Sejak saat itu, istana boleh megah dan budaya boleh lestari, tetapi urat nadi ekonomi berpindah tangan. Sejarah ini relevan hari ini: ketika elite terpecah dan lebih sibuk mengamankan posisi, desain masa depan bangsa akan selalu ditulis oleh pihak lain—dengan pena yang sama sunyinya.

Ada bangsa yang kalah karena diserbu.
Ada bangsa yang jatuh karena dikhianati.
Dan ada bangsa—seperti Jawa pada pertengahan abad ke-18—yang menyerahkan dirinya sendiri, lalu merayakan penyerahan itu sebagai warisan budaya.

Perjanjian Giyanti tahun 1755 kerap diperlakukan sebagai tonggak lahirnya dua pusat kebudayaan besar di Jawa: Surakarta dan Yogyakarta. Sejarah resmi menarasikannya sebagai kompromi politik yang “menyelamatkan stabilitas”. Upacara adat digelar. Keraton dirawat. Tradisi disucikan.

Namun jika sejarah dibaca tanpa dupa romantisme, Giyanti justru memancarkan pesan yang lebih pahit: inilah saat ketika elite Jawa memilih selamat secara pribadi ketimbang berdaulat secara kolektif. Kedaulatan tidak direbut dari tangan mereka. Ia ditandatangani, diserahkan, dan dibingkai sebagai takdir.

Ironisnya, peristiwa ini justru dipuja sebagai bagian dari identitas luhur. Kekalahan politik disulap menjadi estetika kebudayaan. Dan bangsa diajak mengagumi hasilnya tanpa pernah benar-benar mengadili sebabnya.

https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1
https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1

Ketika Elite Kehabisan Akal, Asing Menjadi Wasit

Kolonialisme tidak pernah bekerja sendirian. Ia selalu membutuhkan kondisi pendukung: elite lokal yang terpecah, konflik internal yang berlarut, dan kelelahan politik yang membuka jalan pintas. Giyanti lahir dari kombinasi itulah.

Elite Jawa gagal mengelola suksesi dan legitimasi kekuasaan. Pertikaian berkepanjangan menguras sumber daya dan melemahkan posisi tawar. Dalam situasi seperti itu, kongsi dagang asing tidak perlu datang sebagai penakluk. Mereka cukup tampil sebagai penengah konflik—yang kebetulan memegang kas, tentara, dan kewenangan administratif.

Devide et impera sering dipahami sebagai strategi licik kolonial. Padahal, ia hanya efektif ketika elite lokal menyediakannya lahan subur. Ketika elite gagal membangun kesepakatan minimal tentang masa depan bersama, kedaulatan akan selalu mencari tuan baru.

Giyanti bukanlah bukti kecerdikan asing semata. Ia adalah cermin ketidakmampuan elite mengatasi konflik tanpa menjual rumahnya sendiri.

Dari Raja ke Manajer Wilayah

Perjanjian itu melahirkan raja-raja baru. Tapi raja macam apa?

Raja yang berdaulat dalam upacara, tetapi bergantung dalam praktik.

Raja yang menguasai istana, tetapi tidak mengendalikan perdagangan.

Raja yang sah secara silsilah, tetapi rapuh tanpa pengakuan eksternal.

Dalam bahasa hari ini, mereka bukan kepala negara penuh. Mereka adalah manajer wilayah—diberi otonomi simbolik, tetapi dibatasi secara struktural. Kedaulatan direduksi menjadi gelar. Kekuasaan dipersempit menjadi administrasi.

Ketergantungan semacam ini jarang diakui sebagai masalah. Ia dibungkus dalam narasi “stabilitas”. Padahal, stabilitas yang dibeli dengan kehilangan kendali ekonomi bukanlah stabilitas, melainkan penundaan krisis.

Keris Diturunkan, Pena Dinaikkan

Sejarah Jawa sarat simbol: keris, wahyu, dan legitimasi kosmis. Tapi Giyanti mengajarkan satu pelajaran brutal: dalam dunia modern, wahyu kalah oleh arsip.

Sementara elite sibuk menafsirkan pertanda langit, pejabat kongsi dagang menyiapkan pasal. Sementara istana berdebat soal legitimasi spiritual, pihak asing menyusun kontrak.

Hasilnya tidak ambigu: tanah dibelah, kekuasaan dibagi, dan masa depan dikunci—bukan oleh senjata, melainkan oleh tanda tangan. Sejak saat itu, politik memasuki fase baru: siapa menguasai dokumen, menguasai negara.

Pena tidak berisik. Ia tidak berdarah. Tapi dampaknya jauh lebih permanen.

Istana sebagai Kompensasi atas Kehilangan Ekonomi

Inilah inti persoalan yang kerap dihindari: urat nadi ekonomi diserahkan, elite diberi kompensasi simbolik.

Pesisir—pelabuhan, perdagangan, dan bea—menjadi kunci kekuasaan nyata. Ketika kontrol atasnya berpindah, istana yang megah di pedalaman hanya menjadi panggung. Upacara boleh berlangsung. Tradisi boleh tumbuh. Tapi fondasi ekonomi telah lepas.

Ekonomi adalah darah negara. Ritual hanyalah kulitnya.

Ketika darah dikuasai pihak lain, kulit boleh tampak sehat. Namun tubuh itu hidup dalam ketergantungan. Inilah yang layak disebut kandang kebodohan yang mewah: nyaman bagi elite, indah bagi simbol, mematikan bagi kemandirian.

Mengapa Kekalahan Ini Tidak Pernah Diadili

Bangsa yang matang mengakui kekalahannya.
Bangsa yang rapuh mengubahnya menjadi legenda.

Giyanti tidak pernah diadili secara jujur. Ia diterima sebagai takdir, bukan sebagai keputusan politik yang salah. Tidak ada pertanyaan publik tentang mengapa elite gagal bersatu, mengapa ekonomi diserahkan, dan mengapa asing diberi peran penentu.

Yang ada hanyalah perayaan tradisi. Seolah-olah kebudayaan dapat menebus kehilangan kedaulatan. Seolah-olah estetika dapat menggantikan strategi.

Ini bukan sekadar masalah sejarah. Ini masalah mentalitas elite: lebih nyaman mengelola simbol ketimbang membenahi struktur.

Giyanti dan Indonesia Hari Ini

Indonesia 2026 tentu bukan Jawa 1755. Kita memiliki konstitusi, pemilu, dan kedaulatan formal. Namun pola Giyanti berulang dalam bentuk yang lebih halus dan lebih mahal.

Hari ini, kita juga hidup dalam lanskap:
• elite yang terfragmentasi,
• konflik politik berkepanjangan,
• dan ketergantungan pada penentu eksternal.

VOC modern tidak membawa meriam. Ia hadir sebagai pasar global, biaya modal, indeks, rating, kontrak investasi, dan standar regulasi yang tampak netral. Ketika elite nasional gagal menyepakati agenda strategis jangka panjang—industrialisasi, pendidikan, energi, pangan—maka desain masa depan akan ditulis oleh mereka yang menguasai pena global.

Tanda Tangan sebagai Alat Penjajahan Baru

Jika dulu satu perjanjian membelah Jawa, hari ini satu regulasi bisa membelah akses ekonomi. Ia menentukan siapa boleh masuk, siapa tersingkir, siapa menikmati rente, dan siapa menanggung biaya.

Kolonialisme hari ini tidak telanjang. Ia legal, administratif, dan sering kali disambut dengan karpet merah. Dan seperti Giyanti, semua itu dilakukan atas nama stabilitas.

Stabilitas menjadi kata kunci yang menghalalkan penyerahan kendali. Padahal, stabilitas tanpa kedaulatan hanyalah ketenangan semu sebelum ketergantungan permanen.

Devide et Impera Versi Mutakhir

Kolonialisme klasik memecah kerajaan. Kolonialisme modern memecah elite, kebijakan, dan bahkan kesadaran publik.

Polarisasi menjadi komoditas. Konflik menjadi industri. Selama elite sibuk bertarung dalam siklus pendek, agenda strategis bangsa tidak pernah lahir. Dan selama itu pula, penentu eksternal terus mengisi kekosongan.

Sejarah mengajarkan satu pola sederhana: bangsa dengan elite terpecah mudah dikelola dari luar.

Giyanti sebagai Diagnosis, Bukan Nostalgia

Giyanti bukan sekadar masa lalu. Ia adalah diagnosis tentang bagaimana bangsa kehilangan kedaulatannya tanpa perang besar. Kedaulatan tidak selalu direbut. Ia sering kali diserahkan—pelan-pelan, lewat kompromi elite, atas nama ketertiban.

Jika hari ini kita masih lebih sibuk merawat simbol ketimbang membangun struktur, maka Giyanti belum selesai. Ia hanya berganti kostum, dari perjanjian kolonial menjadi kontrak modern.

Penutup: Jangan Rayakan Perpecahan

Sejarah seharusnya membuat kita waspada, bukan nyaman.
Giyanti mengingatkan bahwa bangsa bisa runtuh bukan karena kurang keberanian, tetapi karena terlalu banyak kompromi yang salah arah.

Jika perpecahan terus dirayakan sebagai warisan, dan kedaulatan diperlakukan sebagai beban, maka generasi mendatang akan membaca zaman ini dengan kalimat yang sama pahitnya:

Di bawah temaram meja perundingan modern, elite kembali memperebutkan sisa-sisa kedaulatan—dan menyebutnya stabilitas.

Sejarah tidak berteriak. Ia berbisik. Dan sering kali, ia menertawakan bangsa yang menolak belajar darinya.

*Artikel memperingati perjanjian Giyanti 13 Pebruari 1755 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *