Monwnews.com, Malang – Apa harga sebuah kesetiaan? Bagi Ibu Hervina, 16 tahun pengabdiannya di SDN 169 Sadar, Kabupaten Bone, ternyata hanya seharga pesan singkat di WhatsApp yang mengusirnya keluar dari sekolah. Sebuah kenyataan yang tidak hanya menyedihkan, tapi menyayat hati siapa pun yang peduli pada nasib pahlawan tanpa tanda jasa di negeri ini.
Gaji 4 Bulan yang Berujung Nestapa, bayangkan saja dalam empat bulan bertaruh tenaga dan pikiran untuk mencerdaskan anak bangsa, Ibu Hervina hanya menerima Rp700.000. Jika dibagi, itu berarti hanya Rp175.000 per bulan.
Dengan rasa syukur yang tulus dan begitu jujur, ia mengunggah foto slip gaji tersebut ke media sosial. Tidak ada niat menghina, hanya sebuah potret kejujuran tentang betapa murahnya harga ilmu di mata sistem kita. Namun, kejujuran itu justru dianggap sebagai ancaman. Tanpa dialog, tanpa pemanggilan formal, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya: Ia dipecat.
Tindakan otoriter oknum Kepala Sekolah ini menjadi bukti betapa rentannya posisi guru honorer. Pengabdian selama belasan tahun seolah tak bernilai di hadapan ego kekuasaan. Ibu Hervina, yang seharusnya dirangkul dan diperjuangkan kesejahteraannya, justru “dibuang” begitu saja setelah memberikan masa mudanya untuk sekolah tersebut.
Namun, semesta tidak diam dan melihat Air mata Ibu Hervina sehingga memicu badai amarah di jagat maya. Netizen bersatu, mengecam tindakan tidak manusiawi tersebut. Dukungan mengalir deras, termasuk dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang berdiri di garis depan membela haknya.
Berkat tekanan publik yang tak terbendung, keadilan akhirnya mengetuk pintu sekolah tersebut. Surat pemecatan itu dicabut. Kepala sekolah yang sebelumnya begitu jemawa, kini dipaksa tertunduk dan meminta maaf secara terbuka di hadapan publik.
Meski pemecatan dibatalkan, luka di hati dan ketakutan Ibu Hervina dan ribuan guru honorer lainnya di Indonesia tetap menganga. Kasus ini bukan sekadar tentang selembar surat pemecatan, melainkan tentang martabat guru yang seringkali diabaikan.
Sampai kapan mereka yang memberi cahaya bagi masa depan bangsa harus hidup dalam ketakutan dan kemiskinan? atau kejadian seperti ini akan terus terulang?
Tragedi Ibu Hervina adalah cermin retak dunia pendidikan kita. Ini bukan sekadar soal angka Rp700 ribu, melainkan soal martabat dan kemanusiaan. Sampai kapan pengabdian tulus harus kalah oleh arogansi kekuasaan?
Kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di pelosok negeri, masih banyak “Ibu Hervina” lain yang berjuang antara hidup dan dedikasi, tanpa perlindungan yang pasti.












