Monwnews.com, Bait dan Syair Jayabaya adalah metafora, yang kuat untuk menggambarkan kondisi Rakyat Kecil yang hidup dalam penderitaan, kemarahan, dan serta ketidakadilan sosial.

Ungkapan ini berasal dari tradisi tembang dan serat Jawa ( antara lain terkait Jangka Jayabaya ) dan serta sering dibaca sebagai sindiran sosial-politik terhadap struktur kekuasaan yang menindas.
Berikut kupasan ontologis, epistemologis, dan serta aksiologisnya.
Ontologi membahas hakikat keberadaan ( ontos = yang ada, logos = ilmu ).
Dalam frasa ini, yang ada dapat diurai menjadi beberapa entitas metafisis dimana Semut Ireng ( semut hitam ) melambangkan Rakyat jelata, orang kecil, atau massa yang tak berdaya secara struktural.
Hitam disini bukan sekadar warna, melainkan simbol kerumunan, kepasifan relatif, dan posisi marginal.
Geni ( api ) melambangkan situasi sosial-politik yang membara atas kemarahan, ketidakadilan, represi, atau struktur kekuasaan yang membakar kehidupan sehari-hari Rakyat.
Ngendog ( bertelur ) menggambarkan tindakan reproduksi, kelangsungan hidup, dan upaya meneruskan kehidupan ditengah kondisi ekstrem.
Hal itu menandakan bahwa kehidupan Rakyat tetap berjalan, bahkan beranak-pinak , didalam kondisi yang seharusnya api tersebut memusnahkan.
Secara ontologis, frasa ini menyatakan realitas sosial yang paradoksal dimana kehidupan ( telur/kelangsungan ) justru didalam elemen yang secara natural destruktif (api).
Mengisyaratkan bahwa yang ada dalam realitas sosial-politik Jawa bukan sekadar fakta empiris, melainkan konstelasi relasi kuasa, penderitaan, dan serta ketahanan yang saling menjerat.
Realitas disini bersifat dialektis antara api yang menghancurkan sekaligus menjadi rumah bagi semut untuk bertelur simbol ketahanan ( resiliensi ) Rakyat ditengah penindasan.
Epistemologinya bagaimana kita mengetahui dan serta menafsirkan frasa ini.
Epistemologi membicarakan sumber, metode, dan serta kriteria kebenaran pengetahuan.
Pengetahuan tentang semut ireng ngendog sadjroning geni diperoleh melalui beberapa jalur
tradisi lisan dan teks serat/tembang. Pengetahuan ini bersumber dari warisan kultural ( tembang Dhandhanggula, Serat Jayabaya, dan kidung-kidung lain ).
Kebenarannya tidak diuji lewat eksperimen, melainkan lewat otoritas kultural, koherensi naratif, dan daya terangnya terhadap realitas sosial.
Hermeneutika simbolik dalam makna frasa ini tidak literal, melainkan simbolik.
Pengetahuan tentangnya memerlukan interpretasi dimana semut = Rakyat, api = amarah/penindasan, bertelur = kelangsungan hidup.
Validitas pengetahuan di sini diukur dari kemampuan interpretasi membuka realitas sosial yang tersembunyi ( misalnya ketimpangan, koruptor yang ngidung/bersenang-senang/pestapora, sedang Rakyat Kecil yang pasif dan pasrah ngalah ).
Pengalaman sosial-historis dalam konteks Indonesia, frasa ini terbaca benar karena resonansinya dengan pengalaman kolonialisme, Orde Baru, hingga ketimpangan kontemporer Reformasi.
Pengetahuan tentangnya dibenarkan oleh korespondensi antara simbol dan pengalaman kolektif.
Dengan demikian, epistemologi frasa ini bersifat interpretatif-naratif, bukan positivistik. Kebenarannya terletak pada daya kritisnya menyingkap struktur sosial, bukan pada verifikasi empiris langsung.
Aksiologi adalah nilai, etika, dan implikasi praksis
Aksiologi membahas nilai ( baik–buruk, etis–estetis ) dan kegunaan pengetahuan.
Dalam frasa ini, dimensi aksiologisnya sangat kuat dalam nilai etis atas frasa ini mengandung kritik moral terhadap struktur yang membiarkan Rakyat bertelur di dalam api.
Rakyat dalam menyoroti ketidakadilan, eksploitasi, dan absennya perlindungan terhadap yang lemah.
Nilai politis secara implisit, frasa ini menuntut transformasi sosial dimana api harus dipadamkan atau setidaknya dikelola agar tidak membakar kehidupan Rakyat Kecil.
Hal itu adalah seruan halus terhadap penguasa agar menciptakan tatanan yang memanusiakan.
Nilai estetis-kulturalnya sebagai tembang/kidung, frasa ini juga memiliki nilai estetis dalam mengemas kritik sosial dalam bentuk puitis yang mudah diingat dan serta diwariskan.
Hal ini menunjukkan bagaimana budaya Jawa menggunakan estetika sebagai medium etika-politik.
Dalam kerangka Pancasila, frasa ini dapat dibaca sebagai seruan keadilan sosial ( sila ke-5) dan kemanusiaan yang adil dan beradab ( sila ke-2 ) dalam kondisi semut bertelur di api adalah pelanggaran terhadap martabat manusia dan serta keadilan sosial.
Filsafat semut ireng ngendog sadjroning geni bukan sekadar puisi lama, melainkan kerangka kritis untuk membaca realitas sosial-politik Indonesia sehingga Rakyat kecil yang tetap hidup, bahkan berkembang, di tengah struktur yang seharusnya membinasakan mereka.
Ontologinya mengungkap realitas paradoksal, epistemologinya menekankan pengetahuan interpretatif berbasis tradisi, adapun aksiologinya menuntut etika keadilan dan serta transformasi sosial.
Parikaton Skarpuro, 02082026.












