Monwnews.com, Malang – Momen mengharukan mewarnai suasana di atas panggung Pentas Budaya dan Seni Anak-Anak Istimewa, saat anggota dewan sekaligus Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., resmi ditunjuk dan didaulat sebagai Bunda Disabilitas oleh Lembaga Sekolah Luar Biasa se-Malang Raya.
Penunjukan tersebut dilakukan secara simbolis oleh pembina Yayasan Thitek Tenger dan Sanggar Nareswari, Ki Djoko Randy, dalam rangkaian gelaran panggung budaya dan seni di Griya Kriya Topeng dan Ramah Difabel, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, Minggu (30/08/2026).
Pendaulatan sebagai Bunda Disabilitas tersebut merupakan bentuk rasa cinta para difabel dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) kepada Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., legislator Jawa Timur, baik selaku Ketua Komisi E maupun sebagai tokoh publik yang memiliki empati, rasa sayang, asih-asuh, serta kepedulian dan perjuangan nyata atas keberadaan anak-anak istimewa disabilitas.

Perjalanan pulang tugas kedinasan dari Medan, Sumatra Utara, transit ke Jakarta hingga pesawat mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, Sri Untari langsung meneruskan perjalanannya menuju Griya Kriya Topeng dan Ramah Difabel di Bumiayu. Hal ini menjadi salah satu bukti kepedulian dan sikap perhatiannya terhadap undangan yang dihadiri.
Dalam sambutannya, Sri Untari menyampaikan kepada audiens yang hadir di lokasi bahwa dirinya terus memperjuangkan hak-hak masyarakat, khususnya para difabel, melalui Perda Disabilitas yang regulasinya segera dituntaskan pada bulan Agustus ini.
”Kami bersama anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur tengah menyiapkan regulasi tentang Perda Disabilitas,” ucap Sri Untari dari atas panggung.
”Perda Disabilitas adalah komitmen nyata pemerintah daerah untuk memberikan hak yang sama dan setara bagi penyandang disabilitas. Upaya negara hadir untuk sebuah kesetaraan. Provinsi Jawa Timur mendorong budaya kesetaraan dan inklusi,” sambung Untari.
Kepada para orang tua, Sri Untari juga bertutur dan berpesan penting kepada ibu hamil (bumil) agar menghindari junk food atau makanan olahan tinggi (ultra-processed food/UPF).
”Selama kehamilan memang sangat disarankan menjaga pola makanan bagi janin, karena penelitian terbaru menunjukkan adanya kaitan antara pola makan tidak sehat dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan saraf anak, termasuk Autism Spectrum Disorder (ASD),” tandas Untari.

Mengapa Junk Food Memengaruhi Risiko Autisme?
Disampaikan oleh Untari, meskipun autisme sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, kondisi lingkungan rahim saat hamil memegang peran penting. Adanya Asam Propionat (PPA), yakni zat pengawet yang sering digunakan dalam makanan olahan kemasan (seperti roti komersial dan keju olahan), ditemukan dapat mengganggu perkembangan sel saraf janin dan memicu peradangan di otak jika dikonsumsi berlebih.
”Saya mendapat laporan dari Dinsos Provinsi Jatim, ada beberapa perusahaan IT lebih suka mempekerjakan anak-anak disabilitas. Kenapa? Karena mereka lebih fokus dalam kemampuan tugas kerjanya. Mereka punya kemampuan yang setara dengan anak-anak normal, bahkan hasil kerjanya lebih maksimal 1,5 kali dari kemampuan anak-anak normal,” terang Untari.
”Oleh karenanya, dalam Perda tersebut nanti akan kami bentuk Komisi Disabilitas yang punya kewenangan memantau, baik kepada pemerintah maupun swasta, untuk mempekerjakan 1 atau 2 persen anak-anak istimewa para difabel berpotensi,” tandas perempuan yang dijuluki Srikandi Perjuangan multitalenta itu.
Sebelum beranjak turun dari atas panggung, Sri Untari secara simbolis menerima penghargaan dari pembina Yayasan Thitek Tenger dan Sanggar Nareswari, Ki Djoko Randy.
Dalam ungkapannya, Ki Djoko menyampaikan rasa hormat dan terima kasihnya atas kesediaan Sri Untari didaulat sebagai Bunda Disabilitas.
Rasa haru tak terbendung hingga mata Sri Untari berkaca-kaca. Ia menyampaikan rasa salut yang luar biasa atas pengorbanan Yayasan Thitek Tenger dan Sanggar Nareswari dalam memperjuangkan eksistensi serta pembinaan anak-anak disabilitas dengan kemuliaan.
Sebagai bukti kepedulian lainnya, usai melakukan sesi swafoto bersama, Sri Untari mengunjungi hampir seluruh stan UMKM milik 18 SLB yang memamerkan berbagai produknya.
Sri Untari tidak sekadar datang melihat-lihat, namun ia juga membeli produk di masing-masing stan. Ia memahami bahwa produk yang dipamerkan UMKM SLB tersebut merupakan hasil karya anak-anak istimewa disabilitas yang ternyata layak dan mampu bersaing di pasaran umum.
Acara dilanjutkan dengan sesi pemotongan tumpeng oleh Sri Untari yang potongan pertamanya diserahkan kepada Ki Djoko Randy. Kemudian dilanjutkan oleh Redam Guruh Krismantara yang memberikan potongan tumpeng jajanan pasar kepada Bunda Maria, pengelola Sanggar Nareswari selaku penyelenggara kegiatan. (galih)












