Pendopo Wironegaran Milik KPAA.H.Sucipto Wironegoro,SE Jadi Ruang Budaya dan Spiritualitas

KPAA,H.Sucipto Wironagoro,SE bersama istri KRAy. Masruroh Dayaningtyas
KPAA,H.Sucipto Wironagoro,SE bersama istri KRAy. Masruroh Dayaningtyas

monwnews.com – Malang,- Pendopo Wironegaran milik KPAA Sucipto Wironegoro terletak di kompleks rest area Kripik Lumba-lumba, Desa Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Pendopo klasik Jawa ini sering menjadi lokasi berbagai kegiatan budaya dan keagamaan di wilayah tersebut.

Pendopo Wironegaran,merupakan bangunan fisik yang sarat akan makna filosofis dan tentunya memliki makna historisnya.

Filosofis Arsitektur Pendopo sebagai bagian dari kompleks hunian arsitektur merupakan perwujudan dari kosmologi dan tata nilai kehidupan masyarakat Jawa.

Salah satu pelaksanaan kegiatan di dalam Pendopo Wiranegaran milik KPAA,H.Sucipto Wironagoro SE.
Salah satu pelaksanaan kegiatan di dalam Pendopo Wiranegaran milik KPAA,H.Sucipto Wironagoro SE.

Bentuk Atap Joglo: Atap pendopo yang berbentuk menyerupai gunung (joglo) melambangkan keagungan dan tempat yang tinggi. Secara filosofis, ini adalah manifestasi dari penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta.

Ruang Terbuka (Tanpa Dinding)
Pendopo yang tidak memiliki dinding melambangkan sifat keterbukaan, keramahtamahan, dan kesediaan sang pemilik untuk menerima tamu atau masyarakat dari berbagai kalangan tanpa membeda-bedakan status sosial.

Pilar atau Saka Guru: Tiang-tiang utama pendopo menyimbolkan kekuatan, keteguhan prinsip hidup, serta empat pilar penopang moral dalam budaya Jawa (cipta, rasa, karsa, dan karya).

Makna Historis dan Kultural Simbol Mikrokosmos : Dalam tradisi keraton, konsep tersebut merepresentasikan mikrokosmos (dunia kecil), yang menjalin hubungan simbolis dan harmonis dengan lingkungan masyarakat ,yang diposisikan sebagai makrokosmos (pusat jagad).

Pusat Kegiatan Budaya: Sebagai ruang terbuka, Pendopo Wiranegaran juga menjadi lokasi berbagai kegiatan penting untuk pelestarian budaya, acara keluarga ndalem, hingga ruang untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan sosial kepada masyarakat.
(galih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *