Monwnews.com – Artikel ini mengeksplorasi bagaimana metafora api (tejas) dalam Tantra Bharawa dapat dibaca sebagai lensa filosofis untuk memahami praktik-praktik demokratis kuno di Nusantara.
Melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis, tulisan ini berargumen bahwa pembakaran ego dalam tradisi Bharawa memiliki resonansi struktural dengan nilai-nilia gotong royong, musyawarah mufakat, dan egalitarianisme yang menjadi fondasi demokrasi Nusantara pra-kolonial.
Ontologi Api.
Kehadiran-Nihil yang menyatu dalam Tantra Bharawa, api bukanlah elemen destruktif belaka melainkan manifestasi langsung dari kesadaran murni (cit).
Api membakar tanpa meninggalkan bekas, sama seperti realitas tertinggi yang sekaligus menghancurkan ilusi (maya) dan mengungkap kebenaran.
Secara ontologis, ini sejalan dengan konsep keberadaan bersama dalam masyarakat Nusantara kuno dan identitas individu tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui relasi dengan komunitas.
Pembakaran diri (atma-homa) dalam ritual Bharawa adalah pengakuan bahwa ego semu harus lenyap agar keberadaan sejati yang terhubung dengan yang lain terbuka.
Epistemologi Api.
Pengetahuan melalui Pengujian, Api dalam Tantra Bharawa berfungsi sebagai alat verifikasi kebenaran sesuatu yang palsu akan hangus, yang sejati akan bertahan.
Dalam konteks epistemologis demokrasi Nusantara, ini paralel dengan proses musyawarah dimana gagasan-gagasan dangkal atau selfish ( asap) dibuang lewat dialog terbuka, sementara kebijaksanaan kolektif ( cahaya) emerge dari gesekan opini.
Pengetahuan demokratik bukan diturunkan secara hierarkis, tetapi diuji kollektif sama seperti api menguji emas.
Disini, Bhairawa sebagai aspek terror/transformatif Tuhan menjadi metafora bagi konflik konstruktif yang diperlukan dalam setiap proses demokratis sehat.
Aksiologi Api.
Nilai Transformasi Sosial Secara Aksiologis, pembakaran dalam Bharawa bukan akhir melalu penghancuran yang melahirkan pembaruan.
Energi bebas dari belenggu dogma dan serta hirarki menghasilkan kebebasan radikal ( mahamudra), yang dalam ranah sosial bermakna penolakan terhadap dominasi absolut.
Praktik-praktak desa Nusantara kuno seperti giliran kerja, bagi hasil, atau mekanisme adat yang membatasi kekuasaan Raja dapat dibaca sebagai institusialisasi prinsip api pembebas ini dimana struktur kuasa yang terlalu besar harus hanguskan supaya keseimbangan komunal/kolektif tetap terjaga.
Bharawa mengajarkan bahwa transfigurasi hanya mungkin setelah kehancuran terstruktur andemokrasi adalah mekanisme terkodifikasi kehancuran tersebut.
Kesimpulan
Metafora api dalam Tantra Bharawa menawarkan vocabulari spiritual-politik yang kaya untuk merefleksikan ulang akar-akar demokrasi Nusantara.
Jika kita membaca gotong royong sebagai bentuk pengorbanan diri demi kebaikan bersama, dan musyawarah sebagai ruang pengujian gagasan, maka semangat bhairawa destruksi kreatif menuju pencerahan menjadi jantung etika publik yang masih relevan.
Demokrasi bukan sekadar prosedur teknis, tetapi merupakan praktik spiritual kolektif harus terus-menerus serta harus membakar ego, kesombongan, dan otoritarianisme internal supaya cahaya kebersamaan menyala.
salamsatujiwa
salamnusantarabekerja












