Umum  

125 Tahun Bung Karno: Kewajiban Marhaenis Melahirkan Kader-kader Progresif-Revolusioner

Oleh: Dia Puspitasari, S.Sosio., M.Si., M.I.Kom. (Dosen Untag Surabaya/Sekretaris Institut Sarinah)

Monwnews.com, Seratus dua puluh lima tahun lalu, tepat pada 6 Juni 1901, lahirlah seorang anak bangsa yang kelak mengubah arah sejarah Indonesia. Beliau bukan hanya Proklamator Kemerdekaan, bukan sekedar Presiden Pertama Republik Indonesia, tetapi juga seorang pejuang, pemikir, pendidik kader, dan arsitek ideologi kebangsaan yang meletakkan pondasi perjuangan rakyat Indonesia. Sosok itu adalah Bung Karno.

Dia Puspitasari, S.Sosio., M.Si., M.I.Kom. (Dosen Untag Surabaya/Sekretaris Institut Sarinah)
Dia Puspitasari, S.Sosio., M.Si., M.I.Kom. (Dosen Untag Surabaya/Sekretaris Institut Sarinah)

Momentum 125 tahun kelahirannya, pertanyaan yang semestinya diajukan kaum Marhaenis bukanlah seberapa meriah peringatan yang digelar atau seberapa banyak kutipan Bung Karno yang dibagikan di media sosial. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kita telah menjalankan tugas sejarah yang diwariskan Bung Karno, yakni melahirkan kader-kader pejuang-pemikir, pemikir-pejuang yang mampu melanjutkan perjuangan rakyat Indonesia ? Sebab Bung Karno tidak mewariskan politik oportunis. Beliau mewariskan gagasan, ideologi, dan tradisi kaderisasi. Dalam berbagai tulisan dan pidatonya, Bung Karno selalu menempatkan pemuda dan mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan sosial. Baginya, revolusi tidak mungkin berlangsung tanpa hadirnya generasi baru yang memiliki kesadaran ideologis, keberanian moral, dan kemampuan intelektual.

Ironisnya, di tengah semakin banyaknya kader Marhaenis yang menduduki berbagai posisi strategis, justru kaderisasi sering kali menjadi agenda yang terpinggirkan. Tidak sedikit yang sibuk berburu jabatan, tetapi lupa menyiapkan penerus. Bahkan, yg tidak pernah kaderisasipun sibuk menjadikan identitas marhaenis sebagai kendaraan politik. Tidak sedikit yang rajin berbicara tentang Bung Karno, tetapi enggan meluangkan waktu mendidik kader muda. Bahkan ada yang menikmati hasil perjuangan organisasi, namun abai terhadap tanggung jawab regenerasi. Padahal dalam tradisi Marhaenisme, pengkhianatan terbesar bukanlah kekalahan dalam kontestasi politik, melainkan terputusnya kaderisasi yang menyebabkan gagasan perjuangan kehilangan pewaris.

Kaum Marhaenis harusnya menghormati Bung Karno tidak cukup dengan menggelar seremoni, memasang baliho, atau mengutip kalimat-kalimat heroiknya. Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, terlihat jelas bagaimana Bung Karno sejak usia muda membangun tradisi intelektual sekaligus tradisi gerakan sosial politik. Karya tersebut merupakan kumpulan pemikiran Bung Karno sejak masa mahasiswa hingga masa perjuangan kebangsaan. Beliau menunjukkan bahwa seorang aktivis harus menjadi manusia yang berpikir sekaligus bergerak bertindak melawan ketidakadilan.

Lahirlah konsepsi yang sangat dikenal dalam tradisi Marhaenis pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang. Seorang kader tidak boleh hanya menjadi pemikir yang sibuk berdiskusi di ruang-ruang akademik tetapi abai terhadap penderitaan masyarakat. Sebaliknya, kader juga tidak boleh hanya menjadi aktivis yang gemar berteriak namun miskin gagasan dan kemampuan analisis. Bung Karno menghendaki lahirnya manusia yang mampu menggabungkan keduanya kekuatan intelektual dan keberanian perjuangan. Di sinilah sesungguhnya letak tantangan besar gerakan Marhaenis hari ini. Indonesia sedang menuju puncak bonus demografi. Berbagai kajian BPS dan Bappenas menunjukkan bahwa dekade ini merupakan periode dominasi penduduk usia produktif yang akan menentukan wajah Indonesia menuju 2045. Bahkan proyeksi nasional menunjukkan lebih dari 70% penduduk berada pada usia produktif menjelang puncak bonus demografi. Namun pertanyaan pentingnya adalah apakah organisasi-organisasi kader mampu menyiapkan generasi tersebut ? Di tengah peluang sejarah itu, justru muncul fenomena yang patut dikritik secara terbuka. Tidak sedikit kaum Marhaenis yang sibuk berbicara tentang kekuasaan tetapi lupa menyiapkan penerus. Tidak sedikit yang bangga menyebut dirinya kader ideologis, tetapi tidak pernah melahirkan kader baru bahkan tergabung dalam oknum yg sengaja mendegradasi kaderisasi demi keamanan karir. Tidak sedikit yang gemar berbicara mengenai Bung Karno, namun enggan meluangkan waktu untuk mendidik mahasiswa dan pemuda. Inilah bentuk oportunisme modern yang paling berbahaya.

Organisasi tidak akan mati karena kekurangan elit. Organisasi akan mati ketika kehilangan kader. Kaderisasi sering dianggap pekerjaan biasa, pekerjaan teknis, atau bahkan pekerjaan yang bisa ditunda. Padahal dalam tradisi gerakan, kaderisasi adalah jantung organisasi. Ketika kaderisasi berhenti, maka regenerasi gagasan berhenti. Ketika regenerasi berhenti, organisasi perlahan berubah menjadi sekadar kumpulan nostalgia.

Sejarah menunjukkan bahwa Bung Karno sendiri lahir dari proses panjang pendidikan, perdebatan intelektual, pembacaan buku, organisasi, dan pergulatan bersama rakyat. Beliau bukan produk instan. Beliau adalah hasil kaderisasi zaman. Karena itu, momentum Hari Lahir Bung Karno 2026 harus menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh keluarga besar Marhaenis, khususnya kader dan alumni GMNI.

Pertanyaan yang harus dijawab bukanlah berapa banyak kegiatan seremonial yang kita lakukan untuk memperingati Bung Karno. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak kader yang telah kita lahirkan tahun ini ? bagaimana kualitas kaderisasinya ? sebab kuantitas dan kualitas sama-sama pentingnya. Berapa banyak mahasiswa yang berhasil kita dampingi memahami Marhaenisme ? Berapa banyak pemuda yang berhasil kita ajak mencintai bangsa ini? Berapa banyak kader yang kita siapkan untuk menjadi pemimpin di Bangsa kita untuk masa depan? Jika jawabannya masih minim, maka sesungguhnya kita sedang memiliki utang sejarah kepada Bung Karno. Sebagai akademisi, meyakini bahwa kampus harus menjadi salah satu ruang utama reproduksi kader-kader Marhaenis. Dosen, aktivis, alumni, politisi, birokrat, maupun tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama. Tidak ada alasan untuk berhenti melakukan kaderisasi. Jabatan boleh berubah. Profesi boleh berganti. Tetapi kewajiban melahirkan kader tidak pernah selesai. Sebab Marhaenisme bukan warisan untuk dikenang, melainkan gagasan yang harus terus diturunkan kepada generasi berikutnya.

Hari Lahir Bung Karno ke-125 tahun ini, kaum Marhaenis harus kembali pada tugas sejarahnya memperkuat kaderisasi, memperbanyak ruang pendidikan politik rakyat, dan melahirkan kader-kader GMNI yang progresif, revolusioner, berkarakter, serta mampu menjawab tantangan zaman. Karena pada akhirnya, ukuran kesetiaan seorang Marhaenis bukanlah seberapa lantang ia menyebut nama Bung Karno, melainkan seberapa banyak kader yang berhasil ia lahirkan.

Bung Karno mewariskan gagasan. Tugas kita adalah mewariskan kader. Sebab selama kaderisasi hidup, Marhaenisme tidak akan pernah mati. Selamat Hari Lahir Bung Karno, 6 Juni 2026. Jangan hanya mengenang Bung Karno. Lahirkan kader-kader yang mampu melanjutkan perjuangannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *