Umum  

Spiritual Sosial di Negara Pancasila

Oleh: Gaguk Inaker - Ketua Dewan Pendiri INDONESIA BEKERJA.

Monwnews.com, Apa itu Spiritual Sosial ? Spiritual Sosial adalah spiritualitas yang lahir dari kebudayaan, yang terwujud dalam bentuk kesadaran kolektif, solidaritas, dan nilai kebersamaan seperti gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial.

Dalam konteks Pancasila, spiritual sosial menjadi faktor kohesi yang melahirkan identitas pemersatu bangsa Indonesia.

Agama melahirkan spiritualitas yang religius, adapun Pancasila melahirkan spiritualitas ideologis, sedangkan Kebudayaan melahirkan spiritualitas sosial.

1.Kajian Ontologis dimana hakikat dasar Spiritual Sosial dalam Pancasila tersebut dimana hakikat manusia sebagai subjek pokok.

Secara ontologis, Pancasila berpijak pada manusia sebagai subjek utama yang memiliki hakikat monopluralis yang terdiri dari raga dan jiwa, individu dan sosial, pribadi dan makhluk Tuhan.

Manusia Indonesia adalah homo religius ( makhluk berTuhan ) sekaligus homo socius ( makhluk sosial ).

Hakikat Spiritual Sosial
Dasar Eksistensi dimana spiritual sosial tidak berdiri sendiri, namun berakar pada realitas manusia Indonesia yang religius dan sosial.

Sumber Nilai adalah Nilai-nilai yang berkembang dimasyarakat merupakan peleburan budaya dari periode Hindu-Buddha hingga Islam, yang mencerminkan keragaman Indonesia.

Adapun Struktur Hierarkis terdiri dari sila-sila Pancasila tersusun piramidal, dengan mulai daripada Sila 1 ( Ketuhanan ) sebagai landasan dan Sila 5 ( Keadilan Sosial ) sebagai tujuan berbangsa dan serta bernegara.

Realitas Konkretnya adalah spiritual sosial terwujud dalam gotong royong, solidaritas, dan kebersamaan sebagai jati diri bangsa.

Kesimpulan Ontologisnya hakikat spiritual sosial dalam Pancasila adalah manusia Indonesia yang berketuhanan dan serta berkebersamaan, dimana nilai spiritualitas tidak terpisah dari kehidupan sosial.

2.Kajian Epistemologis adalah bagaimana pengetahuan tentang Spiritual Sosial dihasilkan ?

Pada pengetahuan
Pengetahuan tentang spiritual sosial dalam Pancasila bersumber dari tiga aliran yang terintegrasi yaitu secara ;
Empirisme berbasis pengalaman kolektif masyarakat Indonesia dalam bergotong royong sepanjang sejarah.
Adapun Rasionalisme bersumber pada akal budi keadaban yang menyaring nilai-nilai budaya menjadi sistem nilai yang koheren.
Sedangkan KeWahyuan/Spiritual terkandung dalam nilai religius dari agama yang diinternalisasi dalam kehidupan sosial.

Metode Pencarian Kebenaran
Pendekatan holistik sehingga dapat mengintegrasikan logos ( akal ), pathos ( emosi/sosial ), dan ethos ( moral ).

Kebenaran konsensus bersama khususnya untuk sila 3-5, kebenaran diperoleh melalui musyawarah untuk mufakat sebagai cerminan manusia sebagai makhluk sosial.

Ilmu tidak bebas nilai dimana pengetahuan harus diletakkan dalam kerangka moralitas kodrat dan moralitas religius.

Karakter Epistemologi Pancasila
terintegrasi tidak lantas memisahkan aspek spiritual, rasional, dan empiris.

Berdasarkan Pengalaman maka lahir dan belajar daripada pengalaman empiris bangsa Indonesia, bukan teori yang tiba-tiba.

Yang berorientasi kebaikan bersama atas pengetahuan harus trus menerus diarahkan untuk kebaikan bersama ( common good).

Kesimpulan Epistemologisnya adalah bah asannya pengetahuan Spiritual Sosial dalam Pancasila diperoleh melalui pengalaman kolektif, akal budi, dan nilai religius yang terintegrasi untuk kebaikan bersama.

3.Kajian Aksiologis dimana nilai dan kegunaan Spiritual Sosial.
Dalam nilai-nilai dasar Spiritual Sosial adalah Nilai-nilai yang hidup dalam Pancasila membentuk satu kesatuan hierarki yaitu ;
Sila 1 ( Ketuhanan ) silahkan beribadah sesuai agama namun saling rukun serta bergotong royong, tolong-menolong sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Sila 2 ( Kemanusiaan ) dimana haris saling menghormati tanpa membedakan suku, agama, atau status.

Adapun dalam Sila 3 ( Persatuan ) yaitu trus menunmbuhkan kebersamaan, persaudaraan, menjaga keutuhan bangsa.

Berikutnya Sila 4 ( Kerakyatan ) dilakukan musyawarah, berkerja bersama untuk kepentingan bersama.

Dan Sila 5 ( Keadilan Sosial ) dalam pembagian beban dan hasil secara haruslah adil guna kesejahteraan bersama.

Implementasi Konkretnya adalah Gotong Royong.

Gotong royong adalah aktualisasi nyata spiritual sosial dalam Pancasila guna berpartisipasi aktif bagi setiap individu memberi nilai tambah untuk kebutuhan orang banyak.

Meringankan beban dimana saling membantu tanpa membeda-bedakan.

Kesadaran kolektif bagi seluruh dan semua warga adalah putra-putri Ibu Pertiwi dengan hak dan kewajiban sama.

Adapun Tujuan akhirnya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Fungsi Aksiologis Spiritual Sosial menjadi fondasi negara dimana sebagai dasar kehidupan berbangsa.
Orientasi hidup dalam Panduan perilaku sehari-hari.

Sebagai Media Unifikasi sehingga pemersatu bangsa yang beragam.

Acuan Etika dalam standar moral dalam interaksi sosial.
Dapat menjadi filter arus globalisasi sehingga menyaring pengaruh luar yang tidak sesuai nilai bangsa.

Kesimpulan Aksiologisnya Spiritual Sosial dalam Pancasila memiliki nilai instrumental untuk mewujudkan masyarakat yang beriman, manusiawi, bersatu, demokratis, dan berkeadilan sosial.

Ringkasan Integratif dalam tiga dimensi Spiritual Sosial dalam Pancasila yaitu ;
Dimensi Ontologisnya berdasar inti kajiannya adalah menjadi hakikat dasar.
Berkesimpulannya adalah manusia sebagai homo religius dan homo socius yang berketuhanan dan berkebersamaan.
Dimensi Epistemologisnya dalam inti kajiannya adalah sumber dan metode pengetahuan.
Kesimpulannya adalah pengetahuan dari pengalaman ditambah akal ditambah wahyu, terintegrasi untuk kebaikan bersama.
Dimensi Aksiologis dalam inti kajiannya adalah nilai dan kegunaan.
Kesimpulannya adalah gotong royong sebagai aktualisasi semata-mata dari oleh untuk keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Penutup
Spiritual Sosial dalam negara Pancasila adalah sistem nilai holistik yang berakar pada hakikat manusia Indonesia yang religius-sosial ( ontologis ).
Dihasilkan melalui integrasi pengalaman, akal, dan serta wahyu ( epistemologis ).
Diaktualisasikan dalam gotong royong untuk keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia ( aksiologis ).

Dengan demikian, Spiritual Sosial bukan sekadar teori, tetapi sebagai pandangan hidup yang selalu hidup dalam tindakan nyata membentuk masyarakat Indonesia yang utuh serta berkebudayaan maju.

Jangan Cepat Kagetan, Jangan Cepat Keheranan Saja

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang berkumpul bersolusi, trus bergerak bersinergi bekerja keras cerdas tuntas terarah terukur bersama dengan akal nalar pikir ilmu dan serta derajad keimanan personal.
Dan jangan lupa tersenyum bahagia sesuai kemampuan dan serta caranya.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃💃🥰🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *