Menjadi Samudra: Pelajaran Sufistik dari Sungai yang Takut Lenyap

Sebuah Perenungan tentang Fana’, Baqa’, dan Jalan Kembali Menuju Diri Sejati

Oleh: H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

Monwnews.com, PADA suatu senja yang temaram, ketika langit barat dihiasi semburat jingga yang perlahan ditelan gelap, seorang darwis tua duduk di tepi sungai. Matanya yang redup memandang aliran air yang tak pernah lelah mengalir. Di sampingnya, seorang murid muda—yang baru saja memulai perjalanan spiritualnya—ikut duduk dengan hati yang gelisah.

H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara
H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

“Wahai Syaikh,” kata si murid, memecah keheningan, “aku mendengar sebuah kisah yang aneh. Tentang sebuah sungai yang takut memasuki samudra. Bagaimana mungkin sungai takut pada samudra? Bukankah samudra adalah tujuannya? Bukankah air sungai dan air laut adalah sama?”

Sang darwis tersenyum tipis. Ia memungut sehelai daun kering yang jatuh di dekatnya, lalu melemparkannya ke aliran sungai. Daun itu terapung, berputar-putar, lalu hanyut terbawa arus. “Engkau lihat daun itu?” tanyanya. “Ia tidak takut, karena ia tidak memiliki kesadaran. Tetapi sungai, dalam kisah itu, memiliki kesadaran. Ia sadar bahwa ia ‘ada’ sebagai sungai. Dan justru kesadaran itulah yang membuatnya takut. Ia takut kehilangan dirinya.”

Murid itu mengernyitkan dahi. “Tetapi bukankah kita diajarkan untuk ‘lenyap’ dalam Tuhan? Bukankah itu tujuan tertinggi dalam tasawuf? Lalu mengapa harus takut?”

Sang darwis tertawa kecil. “Justru karena itulah, anakku. Justru karena kelenyapan adalah tujuan, maka ketakutan adalah ujian terakhir. Engkau tidak akan pernah memahami manisnya fana’ sebelum engkau merasakan pahitnya takut kehilangan diri. Tetapi dengarlah baik-baik: apa yang ditakuti sungai—lenyap dalam samudra—ternyata bukanlah kelenyapan sama sekali. Ia justru akan menjadi samudra. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, ia menemukan dirinya yang sejati.”

Dialog ini adalah pintu masuk kita ke dalam salah satu alegori spiritual paling dalam yang pernah ditulis: kisah sungai dan samudra karya Khalil Gibran. Dalam beberapa baris kalimat yang puitis, Gibran telah merangkum seluruh perjalanan ruhani manusia—dari ketakutan eksistensial menuju penemuan jati diri yang agung. Kisah ini, entah disadari atau tidak oleh Gibran sendiri, adalah cermin dari doktrin-doktrin inti dalam tasawuf: fana’, baqa’, ridha, dan Maqam KUN.

Sungai yang Gemetar: Jiwa dalam Perjalanan Pulang

Bayangkanlah sebuah sungai. Ia lahir dari mata air di puncak gunung yang sunyi. Airnya jernih, segar, belum tersentuh oleh kotoran dunia. Ia mengalir turun, melewati hutan-hutan, desa-desa, kota-kota. Di sepanjang perjalanannya, ia mengumpulkan segala macam benda: lumpur, ranting, sampah. Airnya yang semula jernih berubah keruh. Ia juga mengumpulkan nama: orang menyebutnya Sungai Gangga, Sungai Nil, Sungai Brantas. Ia menjadi entitas dengan identitas yang jelas: “Aku adalah sungai ini, dengan sejarah ini, dengan karakter ini.”

Dalam tradisi tasawuf, sungai adalah simbol yang sangat tepat bagi jiwa manusia. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup dari air (QS. Al-Anbiya’: 30). Air melambangkan kehidupan, ilmu, rahmat, dan jiwa yang suci. Sungai, secara khusus, adalah al-nafs al-sālikah—jiwa yang sedang menempuh perjalanan.

Perjalanan sungai dari gunung ke laut adalah al-nuzul dan al-su’ud sekaligus. Al-nuzul adalah turunnya jiwa dari alam ruh yang suci ke alam materi yang penuh godaan. Dalam Al-Qur’an, Allah mengisahkan tentang mitsaq—perjanjian primordial—ketika ruh-ruh manusia berkumpul di hadapan-Nya dan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka (QS. Al-A’raf: 172). Sejak saat itu, setiap jiwa memulai perjalanan turunnya, sebagaimana sungai yang turun dari puncak gunung. Dan al-su’ud adalah perjalanan kembali—naiknya jiwa menuju asal-usulnya melalui proses tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa).

Syaikh Ahmad Diya’uddin al-Kamasykhanawi, dalam kitabnya Jami’ul Ushul fil Auliya’, menjelaskan bahwa setiap jiwa pada hakikatnya merindukan kembali kepada Allah. Kerinduan ini disebut syauq—kerinduan spiritual yang menjadi bahan bakar perjalanan para pencinta. Tanpa syauq, seorang salik tidak akan mampu menempuh jalan yang penuh liku. Sungai mengalir bukan karena ia ingin, tetapi karena gravitasi menariknya. Demikian pula jiwa: ia bergerak menuju Allah bukan semata-mata karena usahanya sendiri, tetapi karena jadzbah—tarikan Ilahi—yang terus-menerus memanggilnya pulang.

Menoleh ke Belakang: Nostalgia dan Jerat Identitas

Namun, tepat sebelum memasuki samudra, sungai berhenti sejenak. Ia “menoleh ke belakang pada perjalanan yang telah ditempuhnya, dari puncak-puncak pegunungan, jalan panjang yang berliku-liku melintasi hutan dan desa-desa.” Ini adalah momen refleksi. Momen ketika jiwa mengingat kembali semua yang telah dilaluinya: suka dan duka, pahit dan manis, dosa dan amal.

Dalam perjalanan spiritual, menoleh ke belakang bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia diperlukan untuk muhasabah—introspeksi diri. Seorang salik perlu merenungi masa lalunya, menyesali dosa-dosanya, dan mengambil pelajaran. Tetapi di sisi lain, menoleh ke belakang bisa menjadi jebakan. Ia bisa berubah menjadi al-takhalluf—keterikatan pada masa lalu—yang menghambat langkah menuju masa depan.

Kisah Nabi Luth dan istrinya dalam Al-Qur’an adalah peringatan simbolis tentang bahaya menoleh ke belakang. Ketika azab akan menimpa kaum Sodom, para malaikat memerintahkan Nabi Luth dan keluarganya untuk pergi tanpa menoleh. Tetapi istrinya menoleh, dan ia menjadi tiang garam (QS. Hud: 81). Dalam tafsir sufistik, “menoleh ke belakang” adalah simbol dari jiwa yang masih terikat pada dunia, masih ingin mempertahankan identitas lamanya, masih belum rela meninggalkan “ke-sungai-annya.”

Sungai menoleh ke belakang bukan hanya karena nostalgia, tetapi juga karena ia melihat sesuatu yang menakutkan di depannya: samudra. Samudra itu begitu luas, begitu asing, begitu berbeda dari jalannya yang sempit dan akrab. Sungai takut bahwa dengan memasuki samudra, ia akan lenyap. Semua yang telah ia bangun—nama, sejarah, identitas—akan hilang begitu saja. Ini adalah ketakutan yang paling manusiawi, ketakutan yang dialami oleh setiap jiwa yang mendekati maqam fana’.

Rasa Takut: Hijab Terakhir Sebelum Penyaksian

“Sebuah sungai gemetar karena rasa takut.” Kalimat Gibran ini sederhana, tetapi mengandung kedalaman psikologi spiritual yang luar biasa. Rasa takut sungai adalah representasi dari khauf al-fana’—ketakutan akan kelenyapan—yang dialami oleh para salik di ambang fana’.

Mengapa ego takut lenyap? Karena selama ini ia mengira bahwa dirinya adalah entitas yang mandiri. Ia telah membangun identitas: “Aku adalah si Fulan, dengan pekerjaan ini, dengan keluarga ini, dengan pencapaian ini.” Identitas ini memberi rasa aman. Ada kepastian dalam keterbatasan. Ada kenyamanan dalam “keakuan.” Dan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa semua itu harus dilepaskan, ego gemetar.

Dalam terminologi tasawuf, ini adalah pertempuran terakhir melawan hijab nurani—hijab yang terbuat dari cahaya. Para sufi membedakan antara hijab dzulmani (hijab kegelapan) dan hijab nurani. Hijab dzulmani adalah sifat-sifat tercela yang jelas-jelas menghalangi seseorang dari Allah: sombong, iri, dengki, cinta dunia. Hijab ini relatif mudah dikenali dan dilawan. Tetapi hijab nurani jauh lebih halus dan lebih berbahaya. Ia adalah kesadaran akan kebaikan diri, kebanggaan akan pencapaian spiritual, perasaan telah “menjadi seseorang.” Dan puncak dari hijab nurani adalah perasaan “aku ada”—wujud al-ana—yang membuat seseorang takut kehilangan eksistensinya.

Imam al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyah menjelaskan bahwa khauf (rasa takut) adalah salah satu ahwal (keadaan spiritual) yang harus dilalui oleh para salik. Tetapi khauf yang dialami di ambang fana’ adalah jenis ketakutan yang paling eksistensial. Ia bukan lagi takut akan hukuman neraka atau siksa kubur. Ia adalah takut akan kehilangan “diri”—takut bahwa setelah lenyap, tidak ada lagi “aku” yang bisa menikmati surga, tidak ada lagi “aku” yang bisa berbangga dengan pencapaian spiritualnya.

Inilah paradoks yang paling dalam: justru ketakutan akan kelenyapan itulah yang merupakan hijab terakhir. Selama “aku” masih takut lenyap, selama itulah “aku” masih ada. Dan selama “aku” masih ada, selama itulah fana’ belum tercapai. Maka, satu-satunya jalan untuk mengatasi rasa takut itu adalah dengan melangkah maju, memasuki samudra, dan membiarkan “aku” itu benar-benar lenyap. Hanya dengan lenyap, rasa takut akan lenyap. Hanya dengan mati, ketakutan akan mati akan sirna.

Keniscayaan yang Tak Terelakkan

“Tetapi tidak ada pilihan lain. Sungai tidak bisa berbalik arah. Tidak ada yang bisa kembali ke belakang. Mundur adalah sesuatu yang mustahil dalam keberadaan.”

Kalimat ini mengandung kebijaksanaan ontologis yang sangat dalam. Sungai tidak bisa berbalik arah karena gravitasi—hukum alam yang telah ditetapkan oleh Allah. Demikian pula, jiwa tidak bisa mundur dari perjalanannya menuju Allah karena sunatullah—hukum Ilahi yang mengatur perjalanan ruhani. Setiap jiwa, sadar atau tidak, sedang bergerak menuju Tuhannya.

Al-Qur’an menegaskan hal ini dengan sangat indah dalam Surah Al-Fajr ayat 27-28: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” Ayat ini adalah panggilan kepada setiap jiwa untuk kembali. Kembali bukanlah pilihan; ia adalah keniscayaan. Setiap manusia, apakah ia seorang wali atau seorang pendosa, sedang berjalan menuju Allah. Bedanya, ada yang berjalan dengan sadar dan suka rela, dan ada yang berjalan dengan terpaksa dan menolak.

Para sufi memilih untuk berjalan dengan sadar. Mereka memahami bahwa hidup ini adalah sayr ila Allah—perjalanan menuju Allah. Mereka tidak menunggu ajal untuk bertemu dengan-Nya; mereka berusaha untuk “mati sebelum mati” (mutu qabla an tamutu), sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw. Mereka memilih untuk memasuki samudra dengan sukarela, daripada terseret oleh arus dengan terpaksa.

Al-Kamasykhanawi menekankan bahwa sayr ila Allah adalah kewajiban setiap mukmin. Ini bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati dan ruh. Dan sebagaimana sungai yang terus mengalir tanpa bisa berhenti, demikian pula waktu terus berjalan membawa kita mendekati ajal—dan setelah ajal, pertemuan dengan Allah. Tidak ada yang bisa menunda atau mempercepat. Semua berjalan sesuai dengan qadha’ dan qadar yang telah ditetapkan.

Mengambil Risiko: Lompatan Iman Menuju Samudra

“Sungai harus mengambil risiko untuk memasuki samudra.”

Kata “risiko” di sini sangat menarik. Risiko adalah kemungkinan mengalami kerugian atau bahaya. Bagi sungai, risiko memasuki samudra adalah kehilangan identitasnya, kehilangan “ke-sungai-annya.” Ini adalah risiko eksistensial yang paling besar: mempertaruhkan seluruh “diri” demi sesuatu yang tidak diketahui.

Tetapi para sufi mengajarkan bahwa justru dengan mengambil risiko inilah, jiwa menemukan keselamatannya. Al-Qur’an berfirman: “Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menemuinya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah” (QS. An-Nisa’: 100). Hijrah—meninggalkan zona nyaman, meninggalkan “rumah” ego, meninggalkan identitas lama—adalah risiko. Tetapi tanpa risiko itu, tidak ada pencapaian.

Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani merekam kisah-kisah para sufi yang mengambil “risiko” spiritual yang luar biasa. Ibrahim bin Adham adalah seorang raja yang meninggalkan tahtanya, keluarganya, dan seluruh kekayaannya untuk menjadi fakir di jalan Allah. Ia berjalan tanpa tujuan yang pasti, hanya mengandalkan Allah. Risikonya sangat besar: ia bisa mati kelaparan, dibunuh oleh perampok, atau menjadi gila. Tetapi justru karena ia berani mengambil risiko itu, ia mencapai maqam kewalian yang tinggi.

Rabi’ah al-Adawiyah mengambil risiko yang berbeda. Ia menolak semua lamaran pernikahan, memilih untuk hidup dalam kesendirian, sepenuhnya “menikah” dengan Allah. Bagi seorang wanita di zamannya, ini adalah risiko sosial yang sangat besar. Tetapi Rabi’ah tidak peduli. Baginya, samudra lebih berharga daripada sungai yang sempit. Ia rela kehilangan segalanya demi mendapatkan Satu.

Al-Junaid al-Baghdadi mengambil risiko intelektual. Ia mengajarkan doktrin fana’ dan baqa’ secara terbuka, meskipun tahu bahwa ajarannya bisa disalahpahami dan ia bisa dituduh sesat. Dan memang, ia sering dikritik oleh para fuqaha yang tidak memahami ucapannya. Tetapi al-Junaid tidak mundur. Ia terus mengalir, terus mengajar, hingga akhirnya ia diakui sebagai “Sayyid al-Ta’ifah”—pemimpin para sufi.

Mereka semua mengambil risiko. Mereka semua “memasuki samudra” dengan penuh kesadaran bahwa mereka mungkin akan “lenyap”—lenyap dari pandangan manusia, lenyap dari pengakuan sosial, lenyap dari kenyamanan dan keamanan duniawi. Tetapi sebagaimana sungai yang justru menemukan dirinya dalam samudra, demikian pula para sufi itu justru menemukan jati diri mereka yang sejati dalam “kelenyapan” itu.

Lenyap yang Bukan Lenyap: Misteri Fana’ dan Baqa’

Dan kini tibalah kita pada puncak dari seluruh alegori. Gibran menulis: “Karena hanya saat itulah rasa takut akan hilang, karena saat itulah sungai akan memahami bahwa ini bukanlah lenyap dalam samudra, melainkan menjadi samudra.”

Kalimat ini adalah definisi paling puitis dari fana’ dan baqa’ yang pernah saya temukan. Sungai memasuki samudra dengan ketakutan bahwa ia akan lenyap. Tetapi setelah masuk, ia justru menyadari bahwa ia tidak lenyap—ia menjadi samudra. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Dalam terminologi tasawuf, fana’ adalah lenyapnya kesadaran ego di hadapan Allah. Ketika seorang salik mencapai fana’, ia kehilangan kesadaran akan dirinya sebagai entitas yang terpisah. Ia tidak lagi merasa “aku sedang shalat,” “aku sedang berdzikir,” “aku sedang beribadah.” Yang ia rasakan hanyalah Allah. Tetapi—dan ini adalah poin yang paling krusial—fana’ bukanlah peniadaan eksistensi. Air sungai tidak hilang ketika memasuki samudra; ia hanya kehilangan batas-batasnya, namanya, dan identitasnya yang sempit. Ia tetap ada, tetapi kini ia “ada” sebagai bagian dari samudra—bahkan lebih dari sekadar bagian, ia adalah samudra itu sendiri, sebagaimana setiap tetes air adalah lautan.

Baqa’ adalah kelanjutan dari fana’. Setelah lenyap dari dirinya sendiri, sang sufi “kekal” bersama Allah. Ia kembali ke dunia dengan kesadaran yang justru lebih jernih, lebih tajam, lebih penuh. Tetapi kini ia tidak lagi bertindak dari egonya; ia bertindak dari “samudra” yang telah menjadi identitasnya yang baru. Inilah makna hadis qudsi yang sangat masyhur di kalangan sufi: “Tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku-lah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”

Perhatikanlah: hamba itu tidak berubah menjadi Allah. Tetapi Allah menjadi “alat-alat” yang dengannya hamba itu berfungsi. Sungai tidak berubah menjadi samudra secara harfiah; tetapi esensi airnya kini adalah air samudra. Ia mendengar dengan “telinga” samudra, melihat dengan “mata” samudra, bertindak dengan “tangan” samudra. Inilah baqa’ billah: kekekalan bersama Allah.

Al-Kamasykhanawi mendefinisikan fana’ sebagai “hilangnya sifat-sifat yang hina” dan baqa’ sebagai “wujudnya sifat-sifat yang terpuji.” Dalam konteks metafora Gibran, sungai “kehilangan” kesempitannya, keterbatasannya, namanya yang lokal—dan “mewujudkan” keluasannya, ketakterbatasannya, identitasnya yang universal sebagai samudra. Ini adalah pertukaran yang paling menguntungkan: melepaskan yang sempit untuk mendapatkan yang luas, melepaskan yang fana untuk mendapatkan yang baqa’.

Penghilangan Rasa Takut: Ketika Subjek yang Takut Itu Sirna

Gibran menulis: “hanya saat itulah rasa takut akan hilang.” Mengapa rasa takut hilang? Bukan karena sungai tiba-tiba menjadi berani. Bukan karena ia berhasil mengatasi ketakutannya dengan teknik psikologis tertentu. Rasa takut hilang karena subjek yang takut itu sendiri telah lenyap.

Ini adalah poin psikologis-spiritual yang sangat penting. Selama masih ada “aku” yang bisa merasa takut, selama itu pula rasa takut bisa muncul. Tetapi ketika “aku” itu lenyap—ketika sungai telah menjadi samudra—maka tidak ada lagi yang bisa merasa takut. Siapa yang akan takut? Samudra tidak takut pada dirinya sendiri.

Dalam tasawuf, ini disebut fana’ al-khauf—kelenyapan rasa takut. Para ‘arifin tidak lagi takut kepada apapun selain Allah, dan bahkan ketakutan kepada Allah pun berubah menjadi haibah—rasa segan yang dipenuhi cinta. Rabi’ah al-Adawiyah, dalam syairnya yang terkenal, berkata: “Aku mencintai-Mu dengan dua cinta: cinta karena rindu kepada-Mu, dan cinta karena Engkau layak dicintai.” Ini adalah tahap di mana rasa takut telah dilampaui dan digantikan oleh cinta yang murni. Rabi’ah tidak lagi beribadah karena takut neraka atau mengharap surga; ia beribadah karena cinta. Dan cinta yang sejati tidak mengenal takut.

Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim merekam perkataan seorang arif: “Ketika seorang hamba telah tenggelam dalam lautan cinta Ilahi, ia tidak lagi merasakan dinginnya air atau panasnya api. Ia hanya merasakan Kekasihnya.” Ini adalah kondisi sungai yang telah menjadi samudra. Ia tidak lagi merasakan keterpisahan, tidak lagi merasakan ketakutan akan kelenyapan, karena ia telah menemukan bahwa kelenyapan itu adalah ilusi. Yang ada hanyalah Samudra, dan ia adalah bagian dari-Nya.

Kembali ke Fitrah: Realisasi Maqam KUN

Ada satu dimensi lagi dari alegori ini yang perlu kita dalami, dan ini adalah dimensi yang paling agung: sungai yang menjadi samudra adalah realisasi dari Maqam KUN.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia” (QS. Yasin: 82). Kun adalah firman penciptaan, titah Ilahi yang menjadi sumber dari segala yang maujud. Dari Kun inilah segala sesuatu berasal, dan kepada Kun itulah segala sesuatu akan kembali.

Sungai berasal dari mata air di pegunungan. Tetapi dari manakah mata air itu berasal? Dari hujan. Dan dari manakah hujan berasal? Dari penguapan air laut. Jadi, pada hakikatnya, sungai berasal dari samudra. Perjalanannya dari gunung ke laut adalah perjalanan kembali ke asal-usulnya. Ia kembali ke Kun-nya—titah penciptaan primordial yang menjadikannya ada.

Dalam kerangka Maqam KUN yang diuraikan oleh para sufi, sungai yang memasuki samudra adalah jiwa yang telah kembali kepada titik nol penciptaannya. Ia telah mendengar panggilan Kun dan menjawabnya dengan sepenuh wujud: fa yakun, maka jadilah ia. Bukan sebagai sungai yang terpisah, melainkan sebagai samudra yang utuh. Ia telah kembali ke fitrahnya, ke keadaan primordial di mana ia tidak terpisah dari Allah.

Al-Qur’an mengingatkan kita tentang perjanjian primordial ini: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka, dan Dia mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul, kami bersaksi’” (QS. Al-A’raf: 172). Pada saat itu, setiap jiwa menyaksikan Allah dan mengakui-Nya sebagai Tuhan. Tidak ada hijab, tidak ada keterpisahan. Jiwa dan Allah “bersatu” dalam kesaksian yang murni. Itulah Kun. Itulah asal-usul kita.

Kemudian kita lahir ke dunia, dan kita lupa. Kita menjadi “sungai” yang mengalir sendirian, mengira bahwa kita adalah entitas yang terpisah. Kita mengumpulkan nama, identitas, ego. Kita membangun tembok-tembok yang memisahkan kita dari samudra. Dan kemudian, setelah perjalanan panjang yang melelahkan, kita tiba di ambang samudra—kematian, atau fana’ bagi mereka yang menempuh jalan spiritual. Kita takut, karena kita mengira kita akan lenyap. Tetapi ketika kita akhirnya melompat, kita menyadari bahwa kita tidak lenyap. Kita hanya kembali ke asal-usul kita. Kita kembali ke Kun. Kita kembali ke fitrah. Kita kembali ke Allah.

Paradoks Keakuan: Apakah Sungai Mengaku sebagai Samudra?

Tentu saja, ada potensi kesalahpahaman yang sangat besar di sini. Ketika sungai berkata, “Aku adalah samudra,” apakah ia mengaku sebagai Tuhan? Apakah ini ittihad (penyatuan) atau hulul (inkarnasi)? Apakah ini ajaran yang menyimpang?

Sama sekali tidak. Para sufi Sunni yang otoritatif—seperti al-Junaid, al-Qusyairi, al-Ghazali, dan al-Kamasykhanawi—telah memberikan kerangka yang sangat ketat untuk memahami pernyataan-pernyataan seperti ini. Mereka membedakan antara syuhudi (kesaksian) dan wujudi (eksistensial). Yang dialami oleh sungai adalah pengalaman syuhudi: ia menyaksikan bahwa tidak ada wujud selain Samudra. Ia menyaksikan bahwa “ke-sungai-annya” selama ini adalah ilusi. Tetapi secara ontologis, ia tetaplah makhluk. Ia tidak berubah menjadi Tuhan.

Pernyataan “aku adalah samudra” dalam konteks ini berarti: “Aku menyadari bahwa wujudku, dari awal hingga akhir, adalah pinjaman dari Wujud Allah. Aku tidak memiliki wujud sendiri. Apa yang selama ini aku sebut ‘aku’ hanyalah gelombang di permukaan samudra—tampak terpisah, tetapi sesungguhnya tidak pernah terpisah dari samudra.” Ini bukan klaim ketuhanan; ini adalah pengakuan akan kehambaan yang paling radikal.

Al-Junaid al-Baghdadi, yang ajarannya direkam dalam Hilyatul Auliya’, menekankan bahwa puncak tauhid adalah al-fana’ ‘an al-fana’—lenyap dari kelenyapan. Setelah sungai lenyap dalam samudra, ia bahkan tidak lagi menyadari bahwa ia telah lenyap. Ia hanya “ada” sebagai samudra. Inilah baqa’ billah: kekekalan bersama Allah. Sang sufi hidup di dunia, berinteraksi dengan manusia, menjalankan syariat, tetapi kesadarannya sepenuhnya berada dalam Samudra Ilahi. Ia tidak lagi melihat dirinya; ia hanya melihat Allah.

Pelajaran untuk Kita: Merangkul Samudra dalam Kehidupan Sehari-hari

Apa yang bisa kita petik dari alegori ini untuk kehidupan kita sehari-hari? Haruskah kita semua menjadi sufi dan mencapai fana’?

Tentu saja, maqam fana’ adalah anugerah yang tidak bisa diusahakan secara langsung. Ia adalah jadzbah—tarikan Ilahi—yang datang kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tetapi kita semua bisa belajar dari sungai. Kita bisa belajar untuk tidak takut pada “samudra” dalam hidup kita—apa pun bentuknya.

Samudra bisa berupa kematian. Kita semua, suatu hari nanti, akan memasuki samudra kematian. Kita bisa menghabiskan seluruh hidup kita dengan gemetar ketakutan, atau kita bisa menerima kenyataan itu dengan lapang dada dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Para sufi mengajarkan kita untuk “mati sebelum mati”—menjalani kehidupan ini dengan kesadaran bahwa kita sedang dalam perjalanan kembali, dan bahwa kematian hanyalah pintu menuju pertemuan dengan Kekasih.

Samudra juga bisa berupa perubahan besar dalam hidup: kehilangan pekerjaan, perceraian, penyakit serius, atau kegagalan yang menghancurkan. Semua ini adalah “samudra” yang menakutkan, yang mengancam untuk “melenyapkan” identitas kita. Tetapi jika kita menghadapinya dengan sikap sungai—dengan menerima, dengan melompat, dengan percaya bahwa di balik kelenyapan ada penemuan—kita mungkin akan mendapati bahwa kita tidak lenyap. Kita justru menjadi lebih luas, lebih dalam, lebih bijaksana.

Samudra juga bisa berupa Allah sendiri. Setiap kali kita berdoa, setiap kali kita berdzikir, setiap kali kita bersujud, kita sedang mendekati samudra. Dan semakin dekat kita, semakin kita menyadari betapa kecilnya “aku” kita. Ini bisa menakutkan. Tetapi justru dalam pengecilan itulah terdapat pembesaran. Ketika “aku” mengecil, Allah membesar dalam hati kita. Dan pada titik tertentu, “aku” itu lenyap, dan yang tersisa hanyalah Allah.

Penutup: Pulang ke Rumah yang Sebenarnya

Marilah kita kembali ke darwis tua dan muridnya di tepi sungai. Senja telah berganti malam. Bintang-bintang bermunculan satu per satu. Aliran sungai terus mengalir, tak pernah lelah, tak pernah berhenti. Suara gemericiknya seperti dzikir yang tak putus-putus.

“Wahai Syaikh,” kata si murid setelah lama terdiam, “aku mulai mengerti. Sungai takut karena ia mengira akan lenyap. Tetapi justru dengan lenyap, ia menemukan dirinya yang lebih besar. Ia tidak lagi terbatas pada jalannya yang sempit; ia menjadi seluruh lautan. Begitukah?”

Sang darwis mengangguk pelan. “Begitulah, anakku. Dan ingatlah: engkau adalah sungai itu. Aku adalah sungai itu. Setiap jiwa adalah sungai yang sedang dalam perjalanan pulang. Samudra menanti kita semua. Jangan takut. Karena apa yang kaupikir sebagai kelenyapan, sesungguhnya adalah kelahiran kembali. Kelahiran ke dalam Diri yang sejati, yang tidak lagi dibatasi oleh nama, bentuk, dan waktu.”

“Tetapi,” tanya si murid ragu-ragu, “apakah aku akan tetap menjadi ‘aku’ setelah lenyap?”

Sang darwis tersenyum. “Engkau akan tetap menjadi ‘engkau’, tetapi engkau akan menyadari bahwa ‘engkau’ tidak pernah terpisah dari ‘Dia’. Seperti gelombang yang menyadari bahwa ia adalah lautan. Gelombang tidak lenyap; ia hanya menyadari identitas aslinya. Dan dalam kesadaran itu, ia menemukan kedamaian yang tak terkatakan.”

Malam semakin larut. Aliran sungai terus bernyanyi. Dan di langit, bintang-bintang memantulkan cahayanya di permukaan air—seakan-akan langit dan bumi, sungai dan samudra, semuanya adalah satu.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali. Sungai telah mengajarkan kita: jangan takut pulang. Karena rumah yang sebenarnya bukanlah gunung tempat kita berasal, melainkan samudra tempat kita akan kembali.

Wa Allahu a’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *