Monwnews.com, Banyuwangi – Di tengah berbagai tantangan sosial, moral, dan kemanusiaan yang terus menguji kehidupan masyarakat modern, pengemban Paguyuban SEMAR (Serikat Manusia Merdeka), Mbah Supono menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya membangun peradaban baru yang berlandaskan kasih, ketulusan, dan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan sejati.
Pesan tersebut menjadi refleksi sekaligus ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk meninggalkan berbagai bentuk kepalsuan, egoisme, dan praktik-praktik yang selama ini dinilai menjadi akar kerusakan dalam kehidupan sosial maupun peradaban global.
Dalam penyampaiannya, Mbah Supono menegaskan bahwa perubahan besar tidak dapat dibangun melalui kebencian, permusuhan, maupun ambisi kekuasaan semata, melainkan melalui kekuatan kasih yang lahir dari hati yang tulus dan bersih.
“Diatas Dasar Kasih Dari Yang Maha Kash itulah Peradaban Jaman Baru Kita Bangun Dan Kita Jalankan Bersama dengan tulus polos murni tanpa topeng dan kedok yang selama ini memjadi penyebab kerusakan dan kekacauan peradaban dunia.Dengan Jiwa Jiwa Kasih Yang Tanpa Batas Revolusi Semesta Raya Berjalan dan dijalankan,bergeraka dan digerakan Oleh Kuasa Suci Kuasa Sejati Dari Sanghyang Maha Suci yang sejati Suro Diro Joyo Ningrat Sruh Brasto Lebur Dening Pangastuti.”, tutur mbah Supono
Pernyataan tersebut menggambarkan keyakinan bahwa kasih merupakan fondasi utama bagi lahirnya sebuah tatanan kehidupan yang lebih damai, adil, dan bermartabat. Menurutnya, ketika manusia kembali kepada nilai-nilai kemurnian hati, maka berbagai sekat perbedaan akan mencair dan melahirkan persatuan yang lebih kokoh.
Pesan spiritual tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan yang menilai bahwa dunia saat ini membutuhkan pendekatan kemanusiaan yang lebih mengedepankan dialog, empati, dan kebijaksanaan daripada konflik dan pertentangan.
Salah satu tanggapan yang menguatkan pesan tersebut disampaikan melalui ungkapan reflektif yang sarat makna:
“Tepat sekali, Di atas dasar kasih itulah segalanya jadi mungkin. Ketika topeng dibuka, dusta runtuh. Yang tersisa cuma kebenaran: manusia ke manusia, hati ke hati, kasih ke kasih.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa kejujuran dan keterbukaan merupakan jalan menuju pemulihan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini sering tergerus oleh kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Sanghyang Maha Kasih itu nggak butuh dipaksa. Cukup disadari, cukup dijalani. Dan di saat itulah peradaban baru nggak lagi jadi wacana… tapi nyata, napas demi napas.” tutur tokoh spiritual dan budaya ini.
Pandangan ini dinilai relevan dengan kondisi masyarakat yang tengah menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman. Kesadaran spiritual yang diwujudkan dalam tindakan nyata dianggap mampu menjadi pondasi lahirnya kehidupan yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
Tidak hanya menjadi seruan moral, pesan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kekuatan kasih memiliki daya transformasi yang mampu mengubah pola pikir, sikap, dan arah perjalanan peradaban manusia.
Dalam refleksi yang penuh makna, disampaikan pula, bahwa “Sudah saatnya kekerasan menyerah pada kelembutan. Sudah saatnya kuasa menyerah pada kasih.”
Ungkapan tersebut menjadi simbol harapan akan lahirnya era baru yang lebih mengedepankan kemanusiaan, persaudaraan, serta penghormatan terhadap martabat setiap insan tanpa memandang latar belakang apa pun.
Mbah Supono juga menyampaikan harapan dan doa: “Sanghyang Maha Kasih, Kang. Lekas nyawiji, lekas nyata. Mugi tansah pinaringan sabar, kuat, lan terang dalanipun.”
“Salam dari sini: Sanghyang Maha Kasih, Kang. Lekas nyawiji, lekas nyata.”, terangnya
Pesan yang disampaikan Mbah Supono tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam kehidupan tidak selalu dimulai dari kekuatan fisik maupun kekuasaan, melainkan dari kesediaan setiap manusia untuk menumbuhkan kasih, kejujuran, dan kesadaran dalam dirinya. Dari sanalah peradaban yang lebih damai, adil, dan bermartabat dapat tumbuh dan berkembang bagi generasi masa kini maupun masa depan












