Monwnews.com, Sebuah video singkat dari kanal YouTube Paula White Ministries menjadi pintu masuk untuk memahami fenomena yang lebih besar: upaya sakralisasi figur politik yang mengaburkan batas antara iman dan kekuasaan. Ketika seorang penasihat spiritual presiden secara terbuka menyandingkan penderitaan kliennya dengan penderitaan Yesus Kristus, kita tidak sedang menyaksikan sekadar kecerobohan teologis. Kita sedang menatap sebuah titik kulminasi dari perjalanan panjang sejarah dan spiritualitas Amerika yang kini mengguncang dunia.

WASHINGTON, D.C. — Ruangan itu dipenuhi para pemimpin agama dari berbagai denominasi. Suasana makan siang Paskah di Gedung Putih pada awal April 2026 itu semula dijadwalkan sebagai acara rutin tahunan: doa bersama, ramah tamah, dan mungkin beberapa patah kata dari presiden. Tidak ada yang menduga bahwa dari ruangan itu akan lahir sebuah momen yang dalam hitungan jam memicu gelombang kemarahan global, perdebatan teologis yang sengit, dan pertanyaan mendasar tentang masa depan hubungan antara agama dan politik di negara adidaya itu.
Paula White-Cain, perempuan berambut pirang dengan gaun elegan yang telah menjadi penasihat spiritual pribadi Donald Trump selama lebih dari dua dekade, melangkah ke podium. Di belakangnya, Presiden ke-47 Amerika Serikat itu berdiri dengan tangan terlipat, mendengarkan. Suara White yang terlatih dari pengalaman panjang sebagai televangelis mengisi ruangan.
“Presiden, tidak ada yang membayar harga seperti yang Anda bayarkan,” ucapnya dengan nada yang khusyuk namun tegas. “Itu hampir merenggut nyawa Anda. Anda dikhianati, ditangkap, dan dituduh secara salah. Itu adalah pola yang familiar yang Tuhan dan Juru Selamat kita tunjukkan… Tuan, karena kebangkitan-Nya, Anda bangkit.”
Kalimat itu—yang secara eksplisit menyamakan berbagai dakwaan hukum, proses pengadilan, dan percobaan pembunuhan yang dihadapi Trump dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus—langsung memecah keheningan ruangan. Beberapa hadirin mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Yang lain, menurut saksi mata yang enggan disebutkan namanya, tampak menunduk tidak nyaman. Namun di luar tembok Gedung Putih, rekaman video yang beredar luas di media sosial segera memicu respons yang jauh lebih keras dan tajam.
“Ini adalah penghujatan yang sangat keterlaluan,” tulis Megan Basham, seorang komentator konservatif yang biasanya mendukung pemerintahan Trump, dalam sebuah unggahan di X. “Saya tidak percaya ini terjadi di Gedung Putih.”
Teolog Katolik Rich Raho menyebutnya sebagai “penghujatan.” Sementara itu, Pendeta Benjamin Carter dari tradisi Protestan arus utama menyatakan dengan nada lebih getir: “Inilah bunyinya ketika seseorang menyebut nama Yesus dengan sia-sia.”
Kontroversi ini tidak berdiri sendiri. Hanya berselang beberapa hari setelah insiden itu, Trump sendiri mengunggah sebuah gambar buatan kecerdasan buatan (AI) di platform media sosial miliknya, Truth Social. Gambar itu menampilkan dirinya dalam balutan jubah putih panjang, dengan kedua tangan yang tampak memancarkan cahaya lembut, sedang mengulurkan tangan ke arah seorang pria yang terbaring—sebuah komposisi visual yang secara tidak salah lagi mengingatkan siapa pun yang akrab dengan ikonografi Kristen pada lukisan-lukisan Yesus Kristus yang sedang menyembuhkan orang sakit.
Respons publik kembali meledak. Kali ini, bahkan para pendukung setianya merasa perlu memberikan komentar. Trump kemudian menghapus unggahan itu dan memberikan penjelasan yang oleh banyak pihak dianggap tidak meyakinkan: itu hanyalah gambar dirinya sebagai “dokter.” Namun, bagi para pengamat yang jeli, rangkaian peristiwa ini—dari doa Paskah Paula White hingga unggahan meme kontroversial—menyingkap sesuatu yang jauh lebih fundamental: adanya upaya yang tampak sistematis untuk membangun citra mesianik di sekitar figur Donald Trump.
Dan di pusat dari upaya itu, berdiri seorang perempuan yang telah lama berada di lingkaran terdalam kekuasaan spiritual Trump: Paula White.
Sang Arsitek Spiritual: Siapa Paula White?
Untuk memahami bagaimana seorang presiden Amerika Serikat bisa disandingkan—bahkan oleh penasihat spiritualnya sendiri—dengan figur sentral iman Kristen, kita perlu menelusuri siapa sebenarnya Paula White dan bagaimana ia bisa berada di posisi yang begitu berpengaruh.
Lahir dengan nama Paula Michelle Furr pada 20 April 1966 di Tupelo, Mississippi, White menjalani masa kecil yang penuh gejolak. Ayahnya bunuh diri ketika ia masih sangat muda, dan ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang menurut pengakuan White dalam berbagai kesaksian publiknya, melakukan pelecehan fisik dan seksual terhadapnya. Trauma masa kecil itu menjadi fondasi bagi narasi “dari keterpurukan menuju kemenangan” yang kelak menjadi ciri khas pelayanannya.
Pada usia 18 tahun, White pindah ke Washington, D.C., dan kemudian bertemu dengan Randy White, seorang pendeta muda dari gerakan Karismatik. Mereka menikah dan bersama-sama membangun sebuah gereja di Tampa, Florida, yang diberi nama Without Walls International Church. Gereja itu tumbuh dengan cepat, dari hanya segelintir jemaat menjadi salah satu gereja mega (megachurch) terbesar di Amerika Serikat pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.
Namun, yang membuat Paula White berbeda dari kebanyakan pendeta mega lainnya adalah pendekatan teologisnya yang sangat kontroversial. Ia adalah salah satu pengkhotbah paling terkemuka dari apa yang dikenal sebagai “teologi kemakmuran” (prosperity gospel)—sebuah aliran pemikiran dalam Kekristenan yang mengajarkan bahwa kekayaan materi, kesehatan yang prima, dan kesuksesan duniawi adalah tanda-tanda nyata dari berkat dan perkenanan Tuhan. Sebaliknya, kemiskinan, penyakit, dan kegagalan sering kali ditafsirkan sebagai akibat dari kurangnya iman atau bahkan kutukan.
Dalam kerangka berpikir teologi kemakmuran, hubungan antara manusia dan Tuhan sering kali digambarkan dalam istilah transaksional: umat harus “menabur benih” (sowing seeds) dalam bentuk donasi finansial kepada pelayanan Tuhan, dan sebagai imbalannya, Tuhan akan memberikan “panen” berkat yang berlipat ganda. White sendiri telah berulang kali meminta jemaatnya untuk memberikan donasi dalam jumlah yang spesifik dan sering kali besar. Pada satu kesempatan, ia meminta $1.144 dolar AS sebagai “benih kebangkitan” (resurrection seed). Pada kesempatan lain, ia menjanjikan “tujuh berkat supernatural”—termasuk penugasan malaikat pribadi—dengan harga $1.000 dolar AS.
Praktik-praktik semacam ini telah lama menuai kritik tajam dari berbagai kalangan Kristen arus utama, baik Katolik maupun Protestan. Banyak teolog dan pemimpin gereja secara terbuka melabelinya sebagai “guru palsu” (false teacher), “bidaah” (heretic), dan bahkan menyebut ajarannya sebagai “kekejian” (abomination). White sendiri pernah menjadi subjek investigasi oleh Komite Keuangan Senat Amerika Serikat dan Internal Revenue Service (IRS) terkait gaya hidup mewah yang didanai oleh uang donasi jemaat—sebuah investigasi yang akhirnya ditutup tanpa tuntutan pidana namun tetap meninggalkan noda pada reputasinya.
Namun, terlepas dari semua kontroversi itu, atau mungkin justru karena kemampuannya bertahan di tengah badai kritik, Paula White menarik perhatian seorang tokoh yang kelak akan mengubah hidupnya: Donald J. Trump.
Perkenalan mereka terjadi pada tahun 2002. Trump, yang saat itu masih menjadi pengusaha properti dan bintang reality show “The Apprentice”, kebetulan menonton acara televisi White. Terkesan dengan apa yang dilihatnya, Trump—yang tidak dikenal sebagai pribadi yang religius—menghubungi White dan memintanya untuk memberikan “pelajaran Alkitab” pribadi. Sejak saat itu, hubungan mereka berkembang dari sekadar hubungan mentor-murid menjadi aliansi spiritual dan politik yang begitu erat sehingga banyak pengamat menyebut White sebagai “kurator rohani” Trump.
Ketika Trump memutuskan untuk terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2016, White berada di sisinya. Ia membantu memobilisasi dukungan dari kalangan evangelikal dan Pentakosta yang selama ini skeptis terhadap Trump—seorang miliarder dari New York dengan tiga pernikahan dan rekam jejak bisnis yang kontroversial. White memberikan bahasa dan kerangka teologis yang memungkinkan jutaan pemilih Kristen konservatif untuk melihat Trump bukan sebagai kontradiksi terhadap nilai-nilai mereka, melainkan sebagai alat Tuhan yang “tidak sempurna” namun dipilih untuk tujuan yang lebih besar.
“Tuhan menggunakan orang-orang yang tidak sempurna sepanjang waktu,” demikian argumen yang sering dilontarkan oleh White dan para pendukung Trump lainnya. “Lihatlah Raja Daud dalam Alkitab. Ia bukan orang yang sempurna, tetapi ia adalah orang yang berkenan di hati Tuhan.”
Setelah Trump memenangkan pemilihan presiden 2016, pengaruh White semakin menguat. Ia diangkat sebagai penasihat khusus di Kantor Penghubung Publik Gedung Putih pada tahun 2019, menjadi perempuan pertama yang memimpin Kantor Iman dan Kesempatan (Center for Faith and Opportunity). Dan ketika Trump kembali ke Gedung Putih untuk masa jabatan kedua pada tahun 2025, ia menunjuk White untuk memimpin Kantor Iman Gedung Putih (White House Faith Office) yang baru dibentuk—sebuah posisi yang memberinya akses langsung dan pengaruh yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan agama.
Posisi inilah yang menjadi panggung bagi insiden doa Paskah yang kontroversial itu. Dan untuk memahami mengapa insiden itu memicu kemarahan yang begitu meluas, kita perlu menyelami perspektif spiritual dan teologis yang menjadi landasan kritik.
Perspektif Spiritual: Antara Penghiburan dan Penghujatan
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya…”
Kutipan dari Kitab Keluaran 20:3-5 itu dilontarkan oleh Malcolm Kenyatta, Wakil Ketua Komite Nasional Demokrat, sebagai respons terhadap insiden doa Paula White. Bagi Kenyatta dan jutaan orang Kristen lainnya di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, tindakan menyandingkan Donald Trump dengan Yesus Kristus bukanlah sekadar metafora yang berlebihan atau pujian yang terlalu antusias. Itu adalah pelanggaran serius terhadap perintah pertama dan kedua dalam Sepuluh Perintah Allah—fondasi dari iman Yahudi dan Kristen.
Untuk memahami mengapa reaksinya begitu keras, kita perlu memahami posisi Yesus Kristus dalam teologi Kristen arus utama. Dalam tradisi Katolik, Ortodoks, dan Protestan, Yesus bukanlah sekadar “nabi yang baik,” “guru moral yang agung,” atau “teladan kehidupan yang patut ditiru.” Ia adalah Allah yang menjadi manusia—Logos yang telah ada sejak semula dan melalui-Nya segala sesuatu dijadikan. Karya-Nya di kayu salib bukanlah sekadar tindakan heroik seorang martir yang rela berkorban demi keyakinannya. Itu adalah tindakan penebusan yang bersifat unik, sempurna, dan final bagi dosa seluruh umat manusia.
Seperti yang ditulis dalam Surat kepada Orang Ibrani 10:12-14: “Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah… Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.”
Dengan menyatakan bahwa pengalaman Trump—dikhianati oleh sekutu politik, ditangkap dalam berbagai proses hukum, dituduh secara salah oleh lawan-lawan politiknya, dan kemudian “bangkit” dengan memenangkan pemilihan presiden untuk kedua kalinya—adalah “pola yang familiar yang Tuhan dan Juru Selamat kita tunjukkan,” Paula White telah melakukan apa yang oleh para teolog disebut sebagai “reduksi makna yang sangat drastis.” Ia mereduksi penderitaan kosmis dan ilahi Kristus menjadi sekadar template atau pola yang dapat ditiru oleh figur politik mana pun yang mengalami kesulitan.
“Ini bukan hanya perbandingan yang tidak tepat; ini adalah pelecehan terhadap inti iman Kristen,” ujar Dr. Albert Mohler, Presiden Southern Baptist Theological Seminary, dalam sebuah episode podcast “The Briefing” yang membahas insiden tersebut. “Ketika kita berbicara tentang penderitaan Kristus, kita sedang berbicara tentang tindakan penebusan yang unik dalam sejarah alam semesta. Tidak ada penderitaan manusia—betapapun beratnya—yang dapat dibandingkan dengan itu.”
Kritik serupa juga datang dari kalangan Katolik. Uskup Robert Barron, pendiri Word on Fire Catholic Ministries yang dikenal luas karena kemampuannya menjelaskan doktrin Katolik kepada khalayak modern, menyebut insiden itu sebagai “contoh sempurna dari apa yang terjadi ketika teologi kemakmuran bertemu dengan politik kekuasaan.” Dalam sebuah wawancara dengan National Catholic Register, Barron menjelaskan bahwa ada bahaya ganda dalam tindakan White: pertama, bahaya teologis karena mereduksi makna penderitaan Kristus; dan kedua, bahaya politis karena memberikan legitimasi ilahi kepada figur politik tertentu.
“Sepanjang sejarah Gereja, kita telah melihat godaan untuk melakukan ini—untuk membaptis kekuasaan politik dengan bahasa religius,” kata Barron. “Dan setiap kali itu terjadi, hasilnya selalu buruk: bagi iman, karena ia menjadi alat kekuasaan; dan bagi politik, karena ia menjadi kebal terhadap kritik rasional.”
Yang menarik adalah bahwa kritik paling tajam justru datang dari kalangan evangelikal konservatif—basis pendukung utama Trump sendiri. Megan Basham, yang biasanya vokal membela Trump, menyebut insiden itu sebagai “penghujatan yang SANGAT KETERLALUAN.” Russell Moore, mantan presiden Komisi Etika dan Kebebasan Beragama dari Konvensi Baptis Selatan yang dikenal sebagai kritikus konsisten Trump, menulis dalam buletin Substack-nya: “Ini adalah konsekuensi logis dari apa yang terjadi ketika gereja-gereja meninggalkan tugas kenabian mereka dan menjadi sekadar komite aksi politik dengan hiasan religius.”
Moore, yang harus mengundurkan diri dari posisinya karena tekanan politik setelah ia mengkritik Trump, telah lama memperingatkan tentang bahaya “menikahkan” gereja dengan kekuasaan politik. “Ketika gereja menjadi sekadar sayap rohani dari partai politik,” tulisnya, “ia kehilangan kemampuannya untuk berbicara kebenaran kepada kekuasaan. Ia hanya bisa mengamini apa yang sudah diputuskan oleh kekuasaan.”
Teologi Kemakmuran: Fondasi Ideologis yang Rapuh
Untuk memahami bagaimana Paula White bisa sampai pada titik di mana ia merasa nyaman—bahkan merasa terpanggil—untuk menyandingkan Trump dengan Kristus, kita perlu menyelami lebih dalam fondasi teologis yang ia anut: teologi kemakmuran.
Teologi kemakmuran, yang juga dikenal sebagai “Word of Faith” atau “Injil Kesehatan dan Kekayaan” (Health and Wealth Gospel), muncul di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20 sebagai perkembangan dari gerakan Pentakosta dan Karismatik. Tokoh-tokoh awalnya termasuk E.W. Kenyon, Kenneth Hagin, dan Kenneth Copeland. Inti ajarannya adalah keyakinan bahwa Tuhan ingin umat-Nya sehat secara fisik, kaya secara materi, dan sukses dalam segala aspek kehidupan. Kemiskinan, penyakit, dan kegagalan dipandang bukan sebagai bagian dari rencana Tuhan, melainkan sebagai akibat dari kurangnya iman, dosa yang belum diakui, atau bahkan serangan dari iblis yang harus dilawan dengan “perkataan iman” (positive confession) dan “peperangan rohani” (spiritual warfare).
Dalam sistem teologi ini, ada hubungan kausal yang langsung antara iman seseorang dan kondisi materialnya. Jika seseorang kaya dan berkuasa, itu adalah bukti bahwa ia memiliki iman yang kuat dan diberkati Tuhan. Sebaliknya, jika seseorang miskin dan menderita, itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan imannya. Logika ini, ketika diterapkan pada figur politik, menghasilkan kesimpulan yang hampir tak terelakkan: Donald Trump, dengan kekayaan miliaran dolarnya, kemenangan politiknya yang mengejutkan, dan kemampuannya untuk selamat dari berbagai skandal dan dakwaan hukum, pastilah seseorang yang sangat diberkati dan diurapi oleh Tuhan.
Dr. Kate Bowler, profesor sejarah Kekristenan Amerika di Duke Divinity School dan penulis buku “Blessed: A History of the American Prosperity Gospel,” menjelaskan bahwa teologi kemakmuran memiliki “afinitas elektif” dengan politik sayap kanan Amerika. “Teologi kemakmuran mengajarkan bahwa individu adalah penentu utama nasibnya sendiri melalui imannya,” kata Bowler dalam sebuah wawancara dengan The Atlantic. “Ini adalah teologi yang sangat individualistis, sangat optimistis, dan sangat cocok dengan etos kapitalisme Amerika dan impian Amerika (American Dream).”
“Ketika Anda menerapkan kerangka berpikir ini pada politik,” lanjut Bowler, “Anda cenderung melihat pemimpin yang sukses dan berkuasa sebagai orang yang diberkati Tuhan, terlepas dari karakter moral atau kebijakan mereka. Keberhasilan itu sendiri menjadi bukti perkenanan ilahi.”
Inilah yang oleh para kritikus disebut sebagai “teologi istana” (court theology)—sebuah sistem kepercayaan yang fungsinya adalah untuk melegitimasi dan menguduskan status quo serta memberikan pembenaran teologis bagi kekuasaan yang sudah ada. Dalam konteks ini, Paula White bukanlah seorang nabi yang menyampaikan kritik kenabian kepada penguasa. Ia adalah seorang “pendeta istana” yang tugasnya adalah memberikan stempel persetujuan ilahi atas apa yang sudah diputuskan oleh penguasa.
“Sepanjang sejarah, kita telah melihat fenomena ini berulang kali,” kata Dr. Anthea Butler, profesor studi agama di University of Pennsylvania dan penulis buku “White Evangelical Racism: The Politics of Morality in America.” “Dari para pendeta yang memberkati kapal-kapal perang hingga para imam yang merestui kebijakan-kebijakan raja, selalu ada godaan bagi pemimpin agama untuk menjadi alat legitimasi kekuasaan. Yang berbeda sekarang adalah skala dan kecepatannya, berkat media sosial dan sifat politik Amerika yang sangat terpolarisasi.”
Akar Historis: Mesianisme Politik di Amerika, dari Puritan hingga Trump
Jika teologi kemakmuran adalah fondasi teologis yang rapuh, maka sejarah panjang mesianisme politik di Amerika adalah tanah subur tempat benih “Trump sebagai Kristus” dapat bertumbuh. Untuk memahami fenomena ini secara utuh, kita harus melakukan perjalanan kembali ke masa lalu, ke abad ke-17, ketika para pemukim Puritan pertama tiba di pantai New England.
John Winthrop, gubernur pertama Koloni Teluk Massachusetts, menyampaikan sebuah khotbah terkenal pada tahun 1630 di atas kapal Arbella saat ia dan rekan-rekannya dalam perjalanan menuju Dunia Baru. Mengutip kata-kata Yesus dari Injil Matius, Winthrop menyatakan bahwa koloni baru mereka akan menjadi “Kota di Atas Bukit” (City upon a Hill)—sebuah masyarakat teladan yang akan disaksikan oleh seluruh dunia.
“Kita akan menjadi seperti sebuah kota di atas bukit,” kata Winthrop. “Mata semua orang tertuju kepada kita.”
Gagasan bahwa Amerika memiliki takdir ilahi, bahwa bangsa ini dipilih oleh Tuhan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain dan untuk memainkan peran khusus dalam sejarah keselamatan dunia, telah menjadi salah satu benang merah paling konsisten dalam narasi nasional Amerika. Pada abad ke-19, gagasan ini mendapatkan ekspresi politiknya yang paling kuat dalam doktrin “Manifest Destiny”—keyakinan bahwa ekspansi Amerika ke arah barat, dari Atlantik hingga Pasifik, bukanlah sekadar ambisi teritorial, melainkan panggilan ilahi.
Jurnalis John L. O’Sullivan, yang mempopulerkan istilah “Manifest Destiny” pada tahun 1845, mencirikan Amerika sebagai “agen Tuhan yang tanpa dosa, yang memiliki takdir mesianik untuk memulai transfigurasi demokrasi global dan menebus dunia dari tirani.” Bahasa yang digunakan O’Sullivan secara eksplisit bersifat mesianik dan religius, meskipun ia sendiri bukanlah seorang pemimpin agama.
Pada pertengahan abad ke-20, sosiolog Robert Bellah mengamati fenomena ini dan menciptakan istilah yang kini menjadi sangat berpengaruh dalam studi agama dan politik Amerika: “American Civil Religion” (Agama Sipil Amerika). Dalam esainya yang terkenal pada tahun 1967, Bellah berargumen bahwa di samping berbagai denominasi agama yang ada di Amerika, terdapat sebuah “agama sipil” yang berfungsi sebagai perekat moral dan spiritual bangsa.
Agama sipil ini memiliki kitab sucinya sendiri (Deklarasi Kemerdekaan, Konstitusi), nabi-nabinya sendiri (George Washington, Abraham Lincoln, Martin Luther King Jr.), ritual-ritualnya sendiri (pelantikan presiden, Hari Thanksgiving, Hari Peringatan), dan doktrin-doktrinnya sendiri (kebebasan, demokrasi, eksepsionalisme Amerika). Dalam agama sipil ini, Amerika bukanlah sekadar negara; ia adalah instrumen Tuhan dalam sejarah.
“Ini adalah kekuatan yang sangat kuat dan dalam banyak hal positif,” kata Dr. Philip Gorski, profesor sosiologi di Yale University dan penulis buku “American Covenant: A History of Civil Religion from the Puritans to the Present.” “Ia memberikan narasi pemersatu yang memungkinkan bangsa yang sangat beragam ini untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar kepentingan individu atau kelompok.”
Namun, Gorski memperingatkan, selalu ada bahaya laten dalam agama sipil ini. “Bahayanya adalah ketika agama sipil ini berubah menjadi sesuatu yang lebih eksklusif dan militan—apa yang saya sebut sebagai ‘nasionalisme religius’ (religious nationalism). Dalam bentuknya yang ekstrem, ia dapat mengaburkan batas antara kesetiaan kepada Tuhan dan kesetiaan kepada bangsa, dan membuka pintu bagi sakralisasi figur dan kebijakan politik.”
Kebangkitan Evangelikal dan Politisasi Iman
Transformasi paling signifikan dalam lanskap agama dan politik Amerika terjadi pada paruh kedua abad ke-20. Gerakan evangelikal, yang sebelumnya cenderung apolitis atau bahkan progresif dalam berbagai isu sosial, mulai bergeser ke kanan secara dramatis.
Beberapa faktor mendorong pergeseran ini. Pertama, reaksi terhadap gerakan kontra-budaya tahun 1960-an—revolusi seksual, gerakan hak-hak sipil, protes anti-perang—yang dianggap oleh banyak kalangan konservatif religius sebagai serangan terhadap nilai-nilai tradisional Kristen. Kedua, keputusan Mahkamah Agung dalam kasus Roe v. Wade (1973) yang melegalkan aborsi di seluruh Amerika Serikat. Bagi banyak evangelikal, ini adalah alarm yang membangunkan mereka dari tidur politik mereka. Ketiga, ketakutan akan sekularisasi yang meningkat, terutama dalam sistem pendidikan publik.
Tokoh-tokoh seperti Jerry Falwell dengan “Moral Majority”-nya dan Pat Robertson dengan “Christian Coalition”-nya muncul sebagai pengorganisir utama kekuatan politik evangelikal. Mereka berhasil memobilisasi jutaan pemilih evangelikal kulit putih menjadi blok suara yang solid untuk Partai Republik. Mereka membingkai berbagai isu politik—bukan hanya aborsi, tetapi juga hak-hak LGBTQ+, doa di sekolah, peran gender, dan pendidikan—sebagai “perang budaya” (culture war) yang bersifat spiritual. Ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat politik; ini adalah pertempuran kosmis antara kekuatan baik dan jahat, antara Tuhan dan iblis.
“Dalam narasi perang budaya ini, politisi Republik yang berjanji untuk ‘mengembalikan Amerika kepada Tuhan’ dipandang bukan hanya sebagai pemimpin politik,” jelas Dr. Kristin Kobes du Mez, profesor sejarah di Calvin University dan penulis buku terlaris “Jesus and John Wayne: How White Evangelicals Corrupted a Faith and Fractured a Nation.” “Mereka dipandang sebagai pembela iman, sebagai pejuang di garis depan pertempuran spiritual, bahkan sebagai alat di tangan Tuhan untuk melindungi umat-Nya dari musuh-musuh mereka.”
Du Mez menunjukkan bahwa transformasi ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah hasil dari kampanye yang disengaja dan terorganisir oleh para pemimpin evangelikal untuk membentuk identitas politik yang khas. “Mereka membangun sebuah ekosistem media—radio Kristen, televisi Kristen, penerbitan Kristen, dan kemudian situs web dan media sosial Kristen—yang secara konsisten menyampaikan pesan bahwa menjadi orang Kristen yang setia berarti memilih Partai Republik dan mendukung agenda politik konservatif,” katanya.
Dalam ekosistem ini, figur seperti Donald Trump—yang secara personal sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai keluarga tradisional yang dijunjung tinggi oleh evangelikal—dapat diterima dan bahkan dirayakan. “Trump dipasarkan sebagai ‘pejuang’,” kata du Mez. “Dalam budaya evangelikal kontemporer, menjadi pejuang—seseorang yang akan melawan musuh-musuh mereka dengan segala cara yang diperlukan—lebih dihargai daripada menjadi orang yang saleh dalam pengertian tradisional.”
Fenomena “Trump sebagai Koresh”: Pembenaran Teologis dari Kitab Suci
Salah satu cara paling efektif yang digunakan oleh para pemimpin agama seperti Paula White untuk menjembatani kesenjangan antara gaya hidup Trump yang kontroversial dan dukungan mereka yang antusias adalah dengan menggunakan analogi Alkitab tentang Raja Koresh.
Dalam Perjanjian Lama, Koresh (Cyrus) adalah raja Persia yang bukan orang Yahudi dan tidak menyembah Tuhan Israel. Namun, menurut kitab Yesaya, Tuhan menggunakan Koresh sebagai alat untuk menggenapi rencana-Nya: membebaskan umat Israel dari pembuangan di Babel dan mengizinkan mereka kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci. Yesaya bahkan menyebut Koresh sebagai “orang yang Kuurapi” (Yesaya 45:1)—sebuah gelar yang biasanya hanya diberikan kepada raja-raja Israel yang sah.
“Analogi Koresh sangat kuat,” jelas Dr. John Fea, profesor sejarah Amerika di Messiah University dan penulis buku “Believe Me: The Evangelical Road to Donald Trump.” “Ia memungkinkan para pemimpin evangelikal untuk mendukung Trump sambil mengakui bahwa ia bukanlah orang yang saleh dalam pengertian tradisional. Mereka dapat mengatakan, ‘Ya, kami tahu Trump bukan orang yang sempurna. Kami tahu ia tidak menjalani kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai Kristen. Tetapi Tuhan dalam kedaulatan-Nya dapat menggunakan siapa pun—bahkan seorang raja kafir—untuk mencapai tujuan-Nya.’”
Fea mencatat bahwa penggunaan analogi Koresh meningkat secara dramatis selama kampanye 2016 dan terus berlanjut selama masa kepresidenan Trump. “Ini menjadi semacam kartu ‘bebas dari penjara’ teologis. Setiap kali ada skandal atau kontroversi, para pendukung evangelikal Trump dapat kembali kepada narasi ini: Trump mungkin bukan teladan moral, tetapi ia adalah alat Tuhan untuk melindungi kebebasan beragama, menunjuk hakim-hakim konservatif, dan melawan agenda sekular.”
Paula White sendiri telah berulang kali menggunakan analogi ini. Dalam berbagai khotbah dan wawancara, ia menggambarkan Trump sebagai “Koresh modern”—seorang pemimpin yang mungkin tidak sempurna secara pribadi, tetapi telah dipilih oleh Tuhan untuk melakukan hal-hal besar bagi umat-Nya.
“Tuhan menggunakan Koresh, dan Koresh bahkan tidak mengenal Tuhan,” kata White dalam sebuah wawancara dengan Christian Broadcasting Network pada tahun 2018. “Tetapi Tuhan mengurapinya untuk melakukan sesuatu yang spesifik. Saya percaya Presiden Trump adalah Koresh kita.”
Namun, para kritikus menunjukkan bahwa ada perbedaan mendasar antara analogi Koresh dan apa yang terjadi dalam insiden doa Paskah di Gedung Putih. Analogi Koresh masih menempatkan pemimpin politik dalam kategori yang berbeda dengan Yesus Kristus. Koresh adalah alat di tangan Tuhan; ia bukanlah Tuhan itu sendiri, dan ia bukanlah gambaran atau perwujudan Kristus.
“Dengan menyandingkan penderitaan Trump dengan penderitaan Kristus, White telah melangkah jauh melampaui analogi Koresh,” kata Dr. Russell Moore. “Ini bukan lagi tentang Tuhan menggunakan seseorang yang tidak sempurna untuk tujuan-Nya. Ini tentang mengklaim bahwa penderitaan politik seseorang memiliki makna penebusan yang sebanding dengan penderitaan Kristus. Ini adalah langkah ke dalam wilayah yang sangat berbahaya secara teologis.”
Implikasi bagi Iman Kristen dan Demokrasi Amerika
Fenomena “Trump sebagai Kristus” yang mencapai puncaknya dalam insiden doa Paula White dan unggahan meme AI memiliki implikasi yang mendalam dan jangka panjang, baik bagi komunitas Kristen maupun bagi kesehatan demokrasi Amerika.
Bagi Iman Kristen:
Banyak pemimpin Kristen dari berbagai denominasi telah menyuarakan keprihatinan mendalam tentang dampak insiden semacam ini terhadap persepsi publik tentang Kekristenan. Ketika para pemimpin agama terkemuka secara terbuka menyandingkan seorang politisi kontroversial dengan Yesus Kristus, hal itu mengirimkan pesan yang sangat problematis kepada dunia luar.
“Ini menciptakan ‘batu sandungan’ (stumbling block) yang sangat besar,” kata Uskup Barron. “Orang-orang yang berada di luar iman, yang mungkin sudah skeptis terhadap Kekristenan, melihat ini dan menyimpulkan bahwa iman Kristen hanyalah alat politik, bahwa kami tidak benar-benar percaya pada apa yang kami khotbahkan tentang kerendahan hati, pengorbanan, dan pelayanan kepada yang lemah.”
Lebih jauh, insiden semacam ini juga berpotensi menyebabkan kebingungan dan perpecahan di dalam komunitas Kristen sendiri. Survei dari Pew Research Center secara konsisten menunjukkan bahwa orang Kristen Amerika, terutama evangelikal kulit putih, sangat terpolarisasi secara politik. Insiden seperti doa Paula White cenderung memperdalam perpecahan itu, dengan beberapa orang melihatnya sebagai ekspresi iman yang sah dan yang lain melihatnya sebagai penyimpangan yang mengerikan.
“Yang paling meresahkan bagi saya adalah bagaimana hal ini mendistorsi pemahaman tentang apa artinya mengikut Yesus,” kata Dr. du Mez. “Yesus yang saya baca dalam Injil adalah seseorang yang menolak kekuasaan duniawi, yang memilih untuk melayani daripada dilayani, yang mati sebagai penjahat yang dieksekusi oleh kekaisaran. Mengasosiasikan Yesus dengan kekuasaan politik dan kultus kepribadian adalah penyimpangan total dari pesan Injil.”
Bagi Demokrasi Amerika:
Dari perspektif politik, sakralisasi figur politik adalah racun bagi demokrasi yang sehat. Demokrasi bergantung pada kemampuan warga negara untuk secara rasional mengevaluasi kinerja pemimpin mereka, untuk mengkritik kebijakan yang mereka anggap salah, dan untuk meminta pertanggungjawaban dari mereka yang berkuasa. Ketika seorang pemimpin dibingkai sebagai figur mesianik yang memiliki mandat ilahi, proses-proses demokratis yang normal ini menjadi sangat sulit, jika bukan tidak mungkin.
“Jika Anda benar-benar percaya bahwa Donald Trump adalah ‘Koresh modern’ atau bahkan seseorang yang penderitaannya sebanding dengan penderitaan Kristus, maka kritik terhadap Trump bukan lagi sekadar ketidaksetujuan politik,” jelas Dr. Gorski. “Kritik itu menjadi pemberontakan melawan kehendak Tuhan. Ini adalah formula untuk kultus kepribadian yang sangat berbahaya.”
Sejarawan telah mendokumentasikan bagaimana retorika mesianik telah digunakan oleh rezim-rezim otoriter sepanjang sejarah untuk membungkam oposisi dan mengkonsolidasikan kekuasaan. Dari klaim “mandat surgawi” para kaisar Tiongkok kuno hingga kultus kepribadian di sekitar Stalin, Mao, dan Kim Il-sung, sakralisasi pemimpin politik selalu menjadi ciri khas pemerintahan yang represif.
“Demokrasi Amerika memiliki sistem kekebalan yang kuat,” kata Dr. Fea. “Kita memiliki tradisi panjang kebebasan berbicara, pers yang bebas, pemilihan umum yang teratur, dan pemisahan kekuasaan. Sistem-sistem ini telah melindungi kita dari godaan otoritarianisme di masa lalu. Tetapi sistem kekebalan itu hanya berfungsi jika warga negara menggunakannya. Jika sebagian besar populasi menolak untuk mengkritik pemimpin mereka karena mereka percaya ia memiliki mandat ilahi, sistem itu mulai runtuh.”
Perspektif dari Indonesia: Pembelajaran bagi Demokrasi yang Sedang Tumbuh
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena “Trump sebagai Kristus” mungkin tampak seperti cerita yang jauh dan eksotis—sesuatu yang hanya bisa terjadi di Amerika Serikat dengan sejarah dan budaya politiknya yang unik. Namun, ada pelajaran penting yang dapat dipetik dari insiden ini bagi demokrasi Indonesia yang masih relatif muda.
Pertama, fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya godaan untuk “membaptis” kekuasaan politik dengan bahasa agama. Godaan ini tidak unik bagi Amerika Serikat. Sepanjang sejarah, para penguasa di berbagai budaya dan tradisi agama telah berusaha untuk mendapatkan legitimasi religius bagi kekuasaan mereka. Di Indonesia, kita telah melihat versi-versi lokal dari fenomena ini: dari konsep “ratu adil” dalam tradisi Jawa hingga penggunaan retorika agama oleh para politisi kontemporer untuk memobilisasi dukungan.
Kedua, fenomena ini mengingatkan kita akan bahaya “teologi kemakmuran” dan varian-variannya yang mengajarkan bahwa kekayaan dan kekuasaan adalah tanda-tanda perkenanan ilahi. Ajaran-ajaran semacam ini tidak hanya mendistorsi pesan-pesan inti dari tradisi-tradisi agama besar, tetapi juga menciptakan kondisi yang subur bagi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kultus kepribadian.
“Indonesia memiliki tradisi toleransi beragama dan pluralisme yang kuat,” kata Dr. Zainal Abidin Bagir, direktur Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) di Universitas Gadjah Mada. “Tetapi kita juga telah melihat dalam beberapa tahun terakhir bagaimana identitas agama telah dipolitisasi dengan cara-cara yang memprihatinkan. Pelajaran dari Amerika adalah bahwa ketika agama menjadi alat politik, yang menderita bukan hanya kualitas demokrasi, tetapi juga integritas iman itu sendiri.”
Ketiga, fenomena ini menyoroti pentingnya pendidikan teologis yang sehat dan kritis di kalangan umat beragama. Banyak pengamat mencatat bahwa keberhasilan figur-figur seperti Paula White dalam mempengaruhi jutaan orang Kristen Amerika adalah sebagian karena kurangnya literasi teologis di kalangan jemaat awam. Ketika umat tidak memiliki kerangka teologis yang kuat untuk mengevaluasi klaim-klaim religius yang mereka dengar, mereka menjadi rentan terhadap manipulasi oleh para pemimpin agama yang karismatik tetapi secara teologis bermasalah.
“Kita membutuhkan lebih banyak pendidikan teologi untuk awam,” kata Pendeta Henriette T. Hutabarat Lebang, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) periode 2019-2024. “Umat perlu dibekali dengan kemampuan untuk membaca Alkitab secara kritis, untuk memahami tradisi teologis gereja mereka, dan untuk membedakan antara suara kenabian yang sejati dan suara-suara yang hanya mencari keuntungan pribadi atau politik.”
Penutup: Kembali kepada Inti Iman
Video singkat dari kanal YouTube Paula White Ministries yang menjadi titik awal telaah ini menampilkan White berbicara tentang pentingnya tetap setia di tengah tantangan, dengan mengambil contoh Yesus di Taman Getsemani. Di permukaan, itu adalah pesan yang sederhana dan bahkan dapat dikatakan tidak kontroversial. Setiap tradisi agama mengajarkan tentang nilai ketekunan dalam menghadapi kesulitan.
Namun, sebagaimana telah kita lihat, video itu—dan lebih luas lagi, seluruh fenomena “Trump sebagai Kristus”—tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteksnya yang lebih besar. Ia adalah bagian dari sebuah narasi yang dibangun secara hati-hati dan sistematis, di mana Paula White memainkan peran kunci sebagai arsitek spiritualnya.
Apa yang kita saksikan di Amerika Serikat saat ini bukanlah akhir dari sebuah cerita. Ini adalah babak baru yang meresahkan dalam kisah panjang dan rumit tentang hubungan antara iman dan kekuasaan. Ke mana arah babak ini akan membawa bangsa itu—dan apa dampaknya bagi lanskap keagamaan dan politik global—masih harus dilihat.
Yang jelas, bagi jutaan orang Kristen di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, insiden ini telah menjadi momen untuk refleksi yang mendalam. Ini adalah panggilan untuk kembali kepada inti dari iman mereka: bukan kepada kuasa politik, bukan kepada kekayaan materi, dan tentu saja bukan kepada kultus kepribadian di sekitar figur manusia mana pun. Melainkan kepada sosok yang telah menjadi pusat iman Kristen selama dua milenium: Yesus dari Nazaret, yang ajarannya tentang kerendahan hati, pengorbanan, dan kasih kepada musuh berdiri dalam kontras yang tajam dengan retorika kekuasaan yang mendominasi politik kontemporer. Atau, seperti yang diingatkan oleh seorang teolog abad ke-4, Agustinus dari Hippo, dalam karyanya yang monumental “Kota Tuhan”: “Dua kota telah dibentuk oleh dua jenis cinta: cinta akan diri sendiri yang sampai pada penghinaan terhadap Tuhan, itulah kota duniawi; dan cinta akan Tuhan yang sampai pada penghinaan terhadap diri sendiri, itulah kota surgawi.”
Pertanyaan yang kini dihadapi oleh komunitas Kristen di Amerika—dan memang, oleh semua orang beriman di mana pun—adalah kota mana yang akan mereka pilih untuk menjadi warganya.












