Oleh: Gagoek INAKER – Ketua Dewan Pendiri INDONESIA BEKERJA
Bangsa yang Besar Tahu Asal-Usul, Menghormati, serta Mempedomani Tindak-Tanduk dan Karya Nyata Para Pejuang Pahlawan Kemerdekaan Bangsanya. Ketika jagat media sosial masih dipenuhi konflik di Selat Hormuz yang terus berkecamuk, beserta dinamika dialektika mengenai kebangkitan kembali peradaban lampau “Persia 6.000 Tahun” yang lalu, maka bagaimana dengan keberadaan bangunan menyerupai “Piramida” yang terletak di Kabupaten Cianjur, Indonesia?

Monwnews.com – Bangunan atau situs tersebut terletak di antara beribu pulau, beribu gunung berapi, banyak selat, serta pantai; di samping lokasinya yang berada di daerah khatulistiwa dengan dua musim beserta kekayaan flora dan faunanya.
Adapun Situs Gunung Padang, menurut arkeolog, dibangun secara bertahap dalam tiga lapisan utama berdasarkan data geofisika dan pengeboran, dengan teknik konstruksi yang menunjukkan modifikasi buatan manusia dari material vulkanik lokal:
- Lapisan Permukaan (500–1.000 Tahun Lalu): Tahap terbaru ini menggunakan teknik pemahatan andesit untuk membentuk punden berundak (teras suci) khas megalitik Sundaland kuno. Batu-batu dipotong dengan presisi dan disusun tanpa mortar, layaknya puzzle. Tangga, teras, dan altar dibuat bertahap melalui pemindahan batu secara manual, lalu ditutupi tanah ringan untuk estetika dan fungsi ritual.
- Lapisan Tengah (4.000–7.500 Tahun Lalu): Konstruksinya melibatkan penggalian dan pengisian teras masif menggunakan campuran batuan andesit lava yang diukir kasar. Batuan ini ditumpuk untuk membentuk ruangan atau koridor internal selebar hingga 5 meter. Teknik dry-stone masonry (susunan batu kering) mendominasi, dengan pemadatan tanah organik di antaranya untuk stabilitas. Hal ini menunjukkan kemampuan rekayasa tanah yang canggih pada masa transisi Neolitikum.
- Lapisan Dalam (9.000–28.000 Tahun Lalu): Pada tahap fondasi paling awal, kemungkinan besar memanfaatkan modifikasi bukit lava alami melalui pemotongan puncak dan pengisian inti dengan beton geologis primitif (campuran abu vulkanik dan tanah liat organik), sehingga membentuk struktur piramida dasar setinggi 20+ meter. Teknik utamanya adalah cor-in-situ masif tanpa besi, mirip geopolymer kuno, dengan bukti seismik yang menunjukkan kepadatan tinggi seperti beton buatan.
Kurun Perjalanan Perkembangan yang Telah Menyejarah
Dalam dinamika dialektika romantika sesuai kehendak sejarah, terjadilah tahap awal Revolusi Pembebasan dan Berdaulat pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ini merupakan kesepakatan tekad atas keberadaan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang termaktub dalam Teks Proklamasi.
Kini, setelah Deklarasi Kemerdekaan berlalu lebih dari 80 tahun, sejauh mana perkembangan maupun realisasi atas cita-cita suci tersebut telah dinikmati dan diemban oleh para penerus kebudayaannya? Tentu, apa yang dapat dibanggakan oleh bangsa ini di hadapan negara-negara lain dalam pergaulan global?
“JANGAN CEPAT KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANAN”
Tetaplah bersyukur, saling berbagi, dan berkumpul untuk mencari solusi dengan akal, nalar, pikir, kemajuan ilmu pengetahuan, maupun derajat keimanan-NYA. Tetaplah terus bergerak, bergerak, dan bergerak; berkehendak untuk bersinergi, bekerja giat, cerdas, tuntas, terarah, dan terukur bersama generasi pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang hingga tiba pada waktu-NYA jua. Dan serta, jangan lupa bahagia sesuai cara maupun gaya masing-masing.












