Tak Hanya Baik, Presiden Prabowo Memang Cerdas, Jauh Sebelum Perang Semua Sudah Disiapkan

Oleh: Dani Agung Prasetyo

Dani Agung Prasetyo
Dani Agung Prasetyo

Monwnews.com, Saat ini, semua tahu bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Harga minyak telah melambung sampai 2 kali lipatnya, dan cenderung terus melayang tinggi. Semua itu karena konflik/perang yang dimulai oleh AS di Timur Tengah yang juga telah memicu kemarahan rakyatnya sendiri dengan menaikkan harga BBM yang tinggi di negeri itu.

Filipina pun resmi mengumumkan status darurat energi nasional imbas ancaman gangguan pasokan bahan bakar akibat eskalasi konflik yang sama. Negara tetangga lainnya, melakukan hal yang sama, harga BBMnya dinaikkan karena tidak mau memikul terlalu banyak defisit anggaran negaranya.

Mari kita intip daftar tetangga kita lainnya berikut ini:
(Jika perhitungan memakai rupiah)

Laos: Rekor kenaikan tertinggi di Rp30.200, yang asalnya Rp22.700.
Kamboja: Merangkak naik ke Rp22.400. Bensin naik 42%, solar 92%.
​Vietnam: prosentase kenaikannya lumayan besar, dari Rp12.700 menjadi Rp19.100.
Thailand: juga ikut naik ekstrim, dari Rp. 16.500 menjadi Rp24.000.
​Singapura: Dari Rp35.000 menjadi Rp40.000

Bagaimana dengan Indonesia?
Bertahan diangka Rp.10.000 pada Pertalite, dan menorehkan angka Rp.12.500 di tingkat Ron yang lebih baik, pertamax.

Tahukah kita bahwa setiap harga minyak dunia yang naik per 1 USDnya, APBN bisa dipastikan akan defisit Rp5 Triliun?
Berat juga ngatur uang negara ya kawan?
Tenang, tak perlu ikut mikir, biarkan hal itu menjadi beban kepala para pemimpin negeri.

Ada kabar bahwa Kilang Balikpapan dipaksa beroperasi penuh untuk menghasilkan surplus solar 3-4 juta kiloliter agar bisa menghentikan impor solar.

​Sebelum perang, Sumatera banjir besar, dan presiden dihujat habis-habisan karena menyebut sawit adalah pohon. Beliau dianggap abai terhadap ekologi hutan. Blunder parah, begitu banyak orang berkasak-kasuk kala itu. Bahkan saya sendiri ikut pusing melihat dan mendengar presidenku banyak dihujat rakyatnya sendiri.

​Dan, sebelum perang, sebelum Selat Hormuz dikunci, presiden bicara lagi tentang ketahanan energi di depan jajaran Kementerian Pertanian. Ada perintah percepatan bioetanol dari singkong, tebu, jagung, dan sawit.

Ternyata, kata sawit adalah pohon, kalimat yang pernah ikut memusingkan kepala saya, ada maksudnya. Bahwa sawit dan tanaman kita adalah pengganti minyak fosil. Ketika dunia sedang krisis energi, yang pasti adalah hasil dari fosil yang diubah menjadi BBM, Indonesia tidak ikutan pusing.

​Polisi bahkan seakan terlihat kurang kerjaan karena seakan ikut menjadi petani jagung.
​Polisi dikerahkan karena butuh eksekusi cepat untuk mengamankan stok energi nasional. Jagung adalah bahan baku bioetanol, bisa menggantikan posisi bensin. Untuk kerja cepat, polisi dibutuhkan tanpa mengganggu kerja utamanya.

Kita harus mampu mandiri energi, agar ketika orang lain perang, ketika jalur-jalur perdagangan berhenti, dan pasukan energi terhalang, kita tidak ikut ambil pusing. Kepala tidak ikut berkunang-kunang ketika pasokan energi dari negeri lain terhenti, karena kita sudah memilikinya.

Jagung tidak hanya akan menjadi makanan ayam, tapi juga akan diminum oleh mesin-mesin, dan tebu tak hanya akan masuk ke pabrik-pabrik gula dan menjadi tersangka utama penyebab diabetes, tapi juga akan hadir sebagai sumber bahan bakar.

Hari-hari ini mungkin pemerintah sedang berdarah-darah menahan beban APBN. Mungkin pemerintah sedang berdarah-darah untuk menahan harga BBM. Bahkan pemerintah sedang berdarah-darah untuk membuat rakyat tidak terbebani harga BBM seperti rakyat para tetangga yang 30 ribuan, seperti rakyat di negeri Paman Sam yang sudah merasa tercekik dengan harga energi. ​Sungguh, itu melelahkan sekali. Tapi negeri yang sangat tergantung pada harga minyak dunia ini harus mampu bertahan dengan himpitan pasokan energi, tanpa banyak membebani rakyat.

Presiden Prabowo, walau caranya sering dicaci maki, ternyata Beliau sedang menata, membangun, serta memeluk negeri ini. Indonesia harus tetap menjadi negeri yang berdaulat.
Kita punya, kita mampu, kita bisa..!!!
Merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *