Monwnews.com, DI tengah derasnya arus informasi yang membanjiri gawai kita setiap detik, sebuah syair klasik dari khazanah tasawuf tiba-tiba terasa begitu relevan. Syair itu berbunyi:

Berhati-hatilah dengan Iblis yang gemar membawa kabar berita, berita yang dibawa selalu mengada-ada dengan tujuan supaya kalian terjatuh ke dalam jurang api neraka.
Orang yang gemar menyebarkan berita mengada-ada, sama dengan Iblis berwajah manusia.
Perbuatan mengada-ada dekat dengan fitnah dan dusta, mintalah perlindungan pada Allah dari bencana yang diperbuat oleh mereka.
Jangan mengada-ada, sebab perbuatan mengada-ada adalah bentuk kesesatan yang nyata, dan neraka adalah jaminannya.
Di era ketika berita palsu, disinformasi, dan hoaks merajalela, syair ini bukan sekadar untaian kata-kata indah warisan masa lalu. Ia adalah peringatan kenabian yang melampaui zamannya. Ia berbicara tentang “Iblis yang gemar membawa kabar berita”—sebuah metafora yang, jika kita renungkan, begitu tepat menggambarkan fenomena buzzer, penyebar hoaks, dan para pembuat konten provokatif yang kini menghuni ruang-ruang digital kita.
Namun, untuk memahami kedalaman makna syair ini, kita tidak bisa hanya membacanya secara harfiah. Diperlukan pisau analisis yang lebih tajam. Dan di sinilah khazanah tasawuf, dengan kitab-kitab klasiknya yang agung seperti Jāmi‘ul Uṣūl fīl Auliyā’ karya Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dan Ḥilyatul Auliyā’ wa Ṭabaqātul Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim al-Aṣfahānī, menawarkan perspektif yang mencerahkan.
Ketika Lidah Menjadi Senjata Iblis
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, seorang ulama sufi terkemuka dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah, dalam kitab monumentalnya Jāmi‘ul Uṣūl fīl Auliyā’, menjelaskan bahwa perjalanan spiritual seorang hamba menuju Allah harus melewati empat tahapan utama: adab (tata krama lahir dan batin), tazkiyatun nufūs (penyucian jiwa), mujāhadah dan riyāḍah (olahraga jiwa), serta wirid yang berfungsi membuka tabir agar dapat wuṣūl (sampai) kepada Allah.
Dalam kerangka inilah, perbuatan mengada-ada yang disinggung oleh syair di atas menempati posisi yang sangat serius. Ia bukan sekadar kesalahan etika biasa. Ia adalah manifestasi dari penyakit hati yang, jika tidak diobati, akan menghancurkan seluruh bangunan spiritual seorang hamba. Ibarat rayap yang menggerogoti kayu dari dalam, dusta dan berita palsu menggerogoti kejujuran dan integritas jiwa secara perlahan tapi pasti.
Kitab Jāmi‘ul Uṣūl mengajarkan bahwa tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—adalah proses yang melibatkan dua gerakan: at-takhallī (mengosongkan diri dari sifat tercela) dan at-taḥallī (menghiasi diri dengan sifat terpuji). Perbuatan mengada-ada, dalam terminologi ini, termasuk dalam kategori akhlāq madhmūmah (akhlak tercela) yang harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum seseorang dapat mengisi jiwanya dengan sifat-sifat mulia.
Ibarat gelas kotor yang harus dibersihkan sebelum diisi air bersih, demikian pula hati manusia harus dibersihkan dari kotoran dusta sebelum dihiasi dengan kejujuran. Para ulama sufi menegaskan bahwa selama noda mengada-ada masih bercokol dalam jiwa, selama itu pula cahaya Ilahi tidak akan menemukan tempatnya.
Belajar dari Para Wali: Kejujuran sebagai Mahkota
Jika kitab Jāmi‘ul Uṣūl memberikan kerangka metodologis, maka kitab Ḥilyatul Auliyā’ wa Ṭabaqātul Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim al-Aṣfahānī memberikan teladan konkret. Kitab yang memuat 689 biografi para wali Allah ini adalah ensiklopedia agung yang merekam bagaimana orang-orang suci dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ at-tabi’in, dan generasi setelahnya, menjalani kehidupan spiritual mereka.
Abu Nu‘aim menuliskan bahwa para wali yang disebutkan dalam kitabnya adalah mereka yang “telah meninggalkan yang fana demi mengejar yang baqa, dan telah meninggalkan kebersamaan dengan orang-orang yang lalai demi merindukan kebersamaan dengan Tuhan mereka.” Semangat meninggalkan “yang fana” ini mencakup pula meninggalkan keuntungan duniawi yang diperoleh melalui berita-berita palsu.
Salah satu pelajaran paling berharga dari Ḥilyatul Auliyā’ adalah bagaimana para wali menjaga lidah mereka. Mereka tidak akan menyampaikan suatu berita kecuali setelah memverifikasi kebenarannya. Mereka lebih memilih diam jika tidak yakin. Bagi mereka, diam adalah perhiasan, dan setiap kata yang terucap adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Abu Nu‘aim meriwayatkan sebuah hadits yang sangat relevan dengan tema ini. Rasulullah SAW memperingatkan tentang zaman ketika “para pembaca Al-Qur’an bertambah banyak, sementara orang-orang yang benar-benar berilmu berkurang; ketika para pemimpin dan pangeran bertambah banyak, sementara orang-orang terpercaya semakin sedikit; ketika keuntungan duniawi dicari melalui perbuatan-perbuatan yang seharusnya dilakukan demi akhirat.”
Perhatikan bagaimana hadits ini secara tepat menggambarkan fenomena kita hari ini. Di era media sosial, “para pembaca Al-Qur’an” yang dimaksud bisa jadi adalah para penceramah instan yang mengutip ayat seenaknya untuk kepentingan politik atau ekonomi. “Orang-orang terpercaya yang semakin sedikit” adalah fenomena kelangkaan integritas di ruang publik. Dan “keuntungan duniawi yang dicari melalui perbuatan-perbuatan akhirat” adalah realitas komodifikasi agama yang begitu marak.
Syair yang kita kaji, dengan demikian, adalah pengingat bahwa fenomena ini bukanlah hal baru. Ia sudah diprediksi. Dan solusinya pun sudah tersedia: kembali kepada tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, sebagaimana yang diajarkan oleh para wali dan ulama sufi.
Anatomi Tipu Daya Iblis: Pelajaran dari Al-Qur’an
Untuk memahami mengapa syair ini menempatkan Iblis sebagai “pembawa berita”, kita perlu menelusuri bagaimana Al-Qur’an menggambarkan strategi Iblis dalam menyesatkan manusia. Dalam Surah Al-A‘rāf ayat 17, Allah mengabadikan pernyataan Iblis:
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”
Ayat ini menunjukkan strategi Iblis yang komprehensif. Ia tidak hanya menyerang dari satu arah, melainkan dari segala penjuru. Dan di era informasi ini, salah satu “arah” yang paling efektif adalah melalui berita dan informasi yang masuk ke dalam pikiran manusia setiap hari. Dalam terminologi tasawuf, bisikan Iblis yang masuk ke dalam hati disebut al-khawāṭir asy-syaiṭāniyyah—lintasan-lintasan setan yang seringkali menyamar sebagai kebenaran.
Imam Al-Ghazali, dalam masterpiece-nya Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, menjelaskan dengan rinci bagaimana Iblis tidak hanya menyesatkan melalui godaan maksiat lahiriah, tetapi juga melalui pintu-pintu yang tampaknya “baik”. Iblis memperdaya para sufi periode awal melalui ilmu yang mereka miliki, membuat mereka menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah secara halus.
Inilah yang membuat “berita” menjadi senjata yang begitu ampuh. Berita, tidak seperti pedang atau racun, tidak meninggalkan bekas fisik. Ia bekerja secara halus, memasuki pikiran, membentuk opini, mengubah persepsi, dan pada akhirnya, menggeser keyakinan. Seseorang yang terkena serangan pedang masih bisa melihat lukanya dan mengobatinya. Tetapi seseorang yang terkena “serangan berita” seringkali tidak menyadari bahwa pikirannya telah teracuni.
Al-Junaid Al-Baghdadi, salah seorang tokoh sufi terkemuka, menegaskan: “Madzhab kami ini terikat dengan dasar-dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Pernyataan ini adalah respons terhadap mereka yang mengada-adakan ajaran dalam tasawuf tanpa landasan syariat. Dalam terminologi Al-Qur’an, perbuatan semacam ini disebut iftirā’ (mengada-ada), yaitu membuat-buat dusta terhadap Allah, dan pelakunya diancam dengan laknat dan neraka.
”Iblis Berwajah Manusia”: Potret Sang Penyebar Hoaks
Lapis kedua syair yang berbunyi “Orang yang gemar menyebarkan berita mengada-ada, sama dengan Iblis berwajah manusia” adalah kalimat yang sangat tajam. Ia bukan sekadar metafora puitis, melainkan diagnosa spiritual yang akurat.
Dalam pandangan tasawuf, manusia memiliki potensi yang luar biasa. Ia bisa naik ke derajat yang lebih tinggi dari malaikat, tetapi juga bisa turun ke derajat yang lebih rendah dari binatang. Bahkan, lebih rendah lagi: ia bisa menyerupai Iblis. Dan inilah yang terjadi pada orang yang secara sadar dan sistematis menyebarkan berita palsu untuk menyesatkan orang lain.
Transformasi dari “manusia” menjadi “Iblis berwajah manusia” terjadi melalui proses bertahap yang seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Awalnya, mungkin hanya “sedikit melebih-lebihkan” cerita. Lalu menjadi “menambahkan bumbu” agar lebih menarik. Kemudian menjadi “sengaja memelintir” fakta untuk kepentingan tertentu. Dan akhirnya, menjadi “menciptakan berita palsu” yang sama sekali tidak berdasar. Pada titik ini, ia telah “menyerap” sifat Iblis ke dalam dirinya.
Imam Al-Ghazali mengidentifikasi 20 macam bahaya lidah, di antaranya: perkataan yang mengandung dusta, menggunjing (ghībah), mengadu domba (namīmah), perkataan yang tidak bermanfaat, dan berdebat yang tidak sesuai syariat. Semua ini adalah “pintu masuk” Iblis ke dalam hati manusia.
Orang yang gemar membawa berita mengada-ada memiliki beberapa ciri yang dapat diidentifikasi: Pertama, ia tidak memiliki komitmen terhadap kebenaran (aṣ-ṣidq), yang merupakan salah satu maqām (stasiun spiritual) fundamental dalam tasawuf. Kedua, ia menggunakan informasi sebagai alat untuk mencapai kepentingan duniawi, baik berupa harta, popularitas, maupun kekuasaan. Ketiga, ia tidak peduli dengan dampak destruktif dari berita yang disebarkannya.
Dalam tradisi sufi, ṣidq (kejujuran) bukan sekadar tidak berbohong. Ia adalah keselarasan total antara apa yang ada di dalam hati, apa yang diucapkan oleh lidah, dan apa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Orang yang ṣādiq (jujur) adalah orang yang pikiran, perkataan, dan perbuatannya selaras. Ia tidak memiliki “wajah ganda”. Ia adalah apa adanya.
Sebaliknya, “Iblis berwajah manusia” adalah orang yang kehilangan keselarasan ini. Wajahnya manusia, tetapi hatinya telah disusupi sifat-sifat Iblis: suka menipu, suka menyesatkan, dan bangga dengan perbuatannya yang merusak.
Fitnah: Anak Kandung dari Berita Mengada-ada
Syair ini juga menegaskan hubungan kausal antara perbuatan mengada-ada dengan fitnah dan dusta: “Perbuatan mengada-ada dekat dengan fitnah dan dusta.” Ini adalah rumusan yang sangat presisi.
Kata fitnah dalam Al-Qur’an memiliki spektrum makna yang luas: ujian, cobaan, gangguan, kekacauan sosial, bahkan perang saudara. Tetapi benang merah dari semua makna ini adalah satu: fitnah adalah kondisi ketika kebenaran dan kebatilan bercampur aduk sehingga sulit dibedakan. Dan bukankah ini tepat menggambarkan era post-truth yang kita alami sekarang?
Fitnah lahir dari perbuatan mengada-ada melalui mekanisme yang sederhana. Seseorang mengada-adakan berita (dusta). Berita itu disebarkan. Orang-orang yang tidak kritis mempercayainya. Kepercayaan yang salah ini melahirkan tindakan yang salah. Tindakan yang salah menimbulkan konflik. Dan konflik inilah yang disebut fitnah.
Dalam perspektif sufistik, fitnah tidak hanya merusak tatanan sosial lahiriah, tetapi juga menimbulkan “fitnah spiritual” yang mengganggu perjalanan para salik menuju Allah. Fitnah mengeraskan hati (qasāwatul qalb), yaitu kondisi ketika hati tidak lagi mampu menerima kebenaran dan cahaya Ilahi. Hati yang keras adalah hati yang telah mati, dan hati yang mati tidak akan mampu membedakan antara yang haq dan yang batil.
Allah SWT berfirman dalam Surah Hūd ayat 18: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi berkata: ‘Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.’ Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.”
Ayat ini berbicara tentang iftirā’—membuat-buat dusta terhadap Allah. Ini adalah tingkatan dusta yang paling tinggi dan paling berbahaya. Dan dalam konteks syair yang kita kaji, “berita mengada-ada” bisa termasuk dalam kategori ini jika ia menyangkut klaim-klaim palsu atas nama agama.
Hilyatul Auliya’: Kisah Para Wali yang Memilih Diam
Di tengah dunia yang bising seperti sekarang, diam adalah tindakan kontra-kultural yang radikal. Dan inilah yang dipraktikkan oleh para wali Allah yang biografinya direkam dalam Ḥilyatul Auliyā’.
Abu Nu‘aim al-Aṣfahānī meriwayatkan kisah-kisah yang sangat inspiratif tentang bagaimana para sufi klasik menjaga lidah mereka. Mereka berbicara hanya ketika ada keperluan, dan itupun setelah menimbang dengan cermat. Diam, bagi mereka, bukanlah kelemahan atau ketidakmampuan berkomunikasi, melainkan pilihan sadar untuk menghindari bahaya lidah.
Rasulullah SAW sendiri bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini sederhana, tetapi implikasinya sangat dalam. Setiap kali kita akan berbicara, kita dihadapkan pada pilihan: apakah perkataan ini baik? Jika ya, ucapkan. Jika tidak, diamlah.
Para wali dalam Ḥilyatul Auliyā’ menghidupi hadits ini secara konsisten. Mereka menyadari bahwa setiap kata adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini melahirkan kehati-hatian yang luar biasa dalam berbicara.
Abu Nu‘aim meriwayatkan sebuah hadits yang sangat relevan: “Apa yang akan kalian lakukan ketika suatu bencana menimpa kalian dan orang-orang mulai mengadopsi bid‘ah-bid‘ah, mengklaimnya sebagai tradisi kenabian (sunnah)?… Hal ini akan terjadi ketika para pembaca Al-Qur’an kalian bertambah banyak, sementara orang-orang yang benar-benar berilmu berkurang; ketika para pemimpin dan pangeran kalian bertambah banyak, sementara orang-orang terpercaya semakin sedikit; ketika keuntungan duniawi dicari melalui perbuatan-perbuatan yang seharusnya dilakukan demi akhirat, dan ketika orang-orang mencari ilmu agama demi status duniawi, bukan demi Allah!”
Hadits ini seperti cermin yang memantulkan realitas kita hari ini. “Para pembaca Al-Qur’an yang bertambah banyak” bisa kita lihat dalam fenomena para selebritas yang tiba-tiba menjadi penceramah. “Orang-orang terpercaya yang semakin sedikit” adalah krisis kepercayaan yang melanda institusi-institusi publik. Dan “keuntungan duniawi yang dicari melalui perbuatan-perbuatan akhirat” adalah realitas industri dakwah yang kian menggiurkan.
Neraka sebagai Jaminan: Perspektif Eskatologis
Syair ini ditutup dengan peringatan yang sangat keras: “Jangan mengada-ada, sebab perbuatan mengada-ada adalah bentuk kesesatan yang nyata, dan neraka adalah jaminannya.”
Bagi sebagian orang, ancaman neraka mungkin terdengar ekstrem untuk “sekadar” menyebarkan berita bohong. Tetapi dalam perspektif tasawuf, ini sangat logis. Perbuatan mengada-ada adalah dosa yang dampaknya tidak terbatas pada pelakunya, melainkan menyebar seperti api yang membakar hutan. Satu berita palsu bisa menghancurkan reputasi seseorang, memecah belah keluarga, memprovokasi konflik antar kelompok, bahkan memicu perang.
Al-Qur’an dalam Surah An-Nūr ayat 11-15 mengecam keras para penyebar berita bohong (al-ifk) dan mengancam mereka dengan azab yang pedih. Peristiwa ḥadītsatul ifk (berita bohong tentang Aisyah RA) adalah contoh klasik bagaimana satu kebohongan bisa menimbulkan kekacauan yang luar biasa di kalangan umat Islam.
Dalam perspektif sufistik, neraka bukan sekadar tempat penyiksaan fisik, melainkan manifestasi dari kondisi ruhani yang rusak. Para sufi menjelaskan bahwa setiap perbuatan memiliki “bentuk spiritual” (ṣūrah ma‘nawiyyah) yang akan dimanifestasikan di akhirat. Perbuatan dusta dan mengada-ada memiliki bentuk spiritual yang sangat buruk: kegelapan.
Hubungan antara dusta dan neraka bukanlah hubungan yang arbitrer, melainkan hubungan kausalitas spiritual: dusta adalah kegelapan, dan kegelapan akan menarik pelakunya ke dalam kegelapan neraka. Sebagaimana Iblis “diusir dari rahmat Allah” karena kesombongan dan kebohongannya (ketika ia menolak sujud kepada Adam dengan alasan yang mengada-ada), demikian pula para pengikut jalannya akan terusir dari rahmat Allah di akhirat.
Belajar dari Al-Hikam: Kewaspadaan sebagai Jalan Selamat
Syekh Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī, dalam kitab Al-Ḥikam yang sangat terkenal, memberikan nasihat yang sangat relevan dengan tema ini:
“Jika kamu mengetahui bahwa setan tidak pernah lalai dari (menyesatkan) kamu, maka janganlah kamu lalai dari Dzat yang kehidupan kamu berada di tangan-Nya.”
Hikmah ini mengandung dua pesan sekaligus. Pertama, kesadaran bahwa Iblis tidak pernah berhenti berusaha menyesatkan manusia. Ia tidak mengenal lelah, tidak mengenal cuti, tidak mengenal istirahat. Setiap detik, setiap menit, ia mencari celah untuk memasukkan bisikannya ke dalam hati manusia. Kedua, respons yang tepat terhadap kenyataan ini bukanlah ketakutan yang melumpuhkan, melainkan peningkatan murāqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) dan isti‘ādzah (memohon perlindungan kepada Allah).
Ibnu ‘Aṭā’illāh, dalam hikmah lainnya, menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki setan yang menaruh belalainya di dalam hati. Jika manusia lupa berdzikir kepada Allah, setan akan membisikkannya dengan godaan. Sebaliknya, jika manusia berdzikir, setan akan mundur dan menutup diri.
Dengan demikian, perlindungan dari “Iblis pembawa berita” dapat diwujudkan melalui zikir yang berkelanjutan (istiqāmah). Zikir bukan sekadar ritual mengulang-ulang kata-kata tertentu, melainkan kondisi hati yang senantiasa terpaut dengan Allah. Dalam kondisi ini, bisikan-bisikan Iblis—termasuk ide untuk menyebarkan berita mengada-ada—akan kehilangan pengaruhnya.
Tazkiyatun Nafs: Resep Penyembuhan dari Para Sufi
Lalu, apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang menyadari bahwa dirinya mungkin telah terjebak dalam kebiasaan menyebarkan berita mengada-ada? Atau apa yang harus dilakukan oleh masyarakat yang hidup di tengah ekosistem informasi yang penuh dengan dusta?
Kitab Jāmi‘ul Uṣūl fīl Auliyā’ memberikan resepnya: tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Proses ini terdiri dari tiga tahapan: takhallī (mengosongkan diri dari sifat tercela), taḥallī (menghiasi diri dengan sifat terpuji), dan tajallī (menerima cahaya Ilahi).
Takhalli adalah langkah pertama dan paling sulit. Seseorang harus terlebih dahulu mengakui bahwa perbuatan mengada-ada adalah penyakit hati yang serius. Ia harus berani berkata jujur kepada diri sendiri: “Ya, aku pernah menyebarkan berita yang tidak benar. Aku pernah melebih-lebihkan cerita. Aku pernah memelintir fakta.” Tanpa pengakuan ini, mustahil ada perbaikan.
Setelah pengakuan, ia harus bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubah naṣūḥa) dan berkomitmen untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Dalam tradisi sufi, taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, melainkan perubahan total: dari dusta ke jujur, dari mengada-ada ke apa adanya, dari menyebarkan fitnah ke menyebarkan kebaikan.
Tahalli adalah langkah kedua. Setelah mengosongkan diri dari dusta, seseorang harus mengisi jiwanya dengan sifat-sifat terpuji, terutama aṣ-ṣidq (kejujuran) dan amānah (dapat dipercaya). Ini bukan proses instan. Perlu latihan terus-menerus, perlu riyāḍah (olahraga jiwa), perlu mujāhadah (perjuangan melawan hawa nafsu).
Tajalli adalah buah dari dua langkah sebelumnya. Ketika hati telah bersih dari kotoran dusta dan telah dihiasi dengan kejujuran, Allah akan membukakan tajallī—penampakan cahaya-Nya—ke dalam hati tersebut. Pada tahap ini, seseorang akan merasakan kehadiran Allah secara mendalam, dan ia akan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela karena kesadarannya yang konstan akan pengawasan Allah.
Relevansi di Era Digital: Ketika Hoaks Menjadi Wabah
Kita hidup di zaman yang oleh banyak ahli disebut sebagai “era post-truth”—era di mana kebenaran objektif kalah oleh emosi dan keyakinan pribadi. Di era ini, hoaks, disinformasi, dan berita palsu menyebar dengan kecepatan yang jauh melebihi kebenaran. Sebuah studi oleh MIT pada tahun 2018 menemukan bahwa berita palsu di Twitter menyebar enam kali lebih cepat dibandingkan berita benar.
Dalam konteks inilah, syair yang kita kaji menjadi sangat relevan. “Iblis yang gemar membawa kabar berita” kini tidak hanya hadir dalam wujud bisikan halus di dalam hati, tetapi juga dalam bentuk notifikasi di layar gawai kita. “Berita yang dibawa selalu mengada-ada” adalah deskripsi yang tepat untuk konten-konten viral yang seringkali tidak berdasar. Dan “tujuan supaya kalian terjatuh ke dalam jurang api neraka” adalah konsekuensi dari kehancuran moral dan sosial yang ditimbulkan oleh hoaks.
Fenomena buzzer politik, penyebar ujaran kebencian, dan pabrik hoaks adalah bentuk modern dari “Iblis berwajah manusia” yang disebutkan dalam syair. Mereka menggunakan kecanggihan teknologi untuk melakukan apa yang dulu dilakukan Iblis secara manual: menyesatkan manusia melalui informasi palsu.
Tapi syair ini tidak hanya mendiagnosa masalah, ia juga memberikan solusi: “Mintalah perlindungan pada Allah dari bencana yang diperbuat oleh mereka.” Di era digital, “meminta perlindungan” ini bisa bermakna ganda: secara spiritual, dengan memperbanyak doa dan zikir; dan secara praktis, dengan melakukan verifikasi (tabayyun) terhadap setiap informasi yang kita terima sebelum menyebarkannya.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Ḥujurāt ayat 6 memberikan panduan yang sangat jelas: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Di era banjir informasi seperti sekarang, ayat ini adalah protokol keamanan digital yang paling fundamental. Tabayyun—verifikasi—adalah benteng pertama melawan “Iblis pembawa berita”.
Menjaga Lisan di Era Kebebasan Berekspresi
Kita hidup di zaman yang mengagungkan kebebasan berekspresi. Setiap orang merasa berhak untuk mengatakan apa saja, kapan saja, tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Media sosial telah menjadi panggung di mana setiap orang bisa menjadi “penerbit” tanpa melalui proses editorial yang ketat.
Dalam konteks ini, ajaran tasawuf tentang menjaga lisan menjadi sangat kontra-kultural, tetapi justru karena itulah ia sangat dibutuhkan. Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn mendedikasikan satu bab khusus tentang bahaya lidah, mengidentifikasi tidak kurang dari 20 macam penyakit lidah yang harus diwaspadai.
Bagi Al-Ghazali, lidah adalah anggota tubuh yang paling berbahaya justru karena ia paling mudah digunakan. Tidak perlu tenaga besar untuk berbicara. Tidak perlu biaya mahal. Hanya dengan beberapa ketukan di layar gawai, seseorang bisa menyebarkan berita yang akan dibaca oleh ribuan, bahkan jutaan orang. Dan jika berita itu palsu, kerusakan yang ditimbulkannya bisa sangat masif dan sulit diperbaiki.
Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, memberikan jaminan surga bagi siapa saja yang mampu menjaga dua anggota tubuh: lidah dan kemaluan. “Barang siapa bisa menjamin untukku anggota tubuh yang terletak di antara jenggot-jenggotnya (lidah) dan dua kakinya (kemaluan), niscaya aku akan menjamin surga untuknya.”
Penyandingan lidah dengan kemaluan dalam hadits ini sangat signifikan. Sebagaimana zina adalah pelanggaran serius terhadap kesucian fisik dan moral, demikian pula dusta dan perkataan mengada-ada adalah pelanggaran serius terhadap kesucian spiritual. Keduanya sama-sama merusak, hanya saja kerusakan yang ditimbulkan oleh lidah seringkali lebih tersembunyi dan lebih sulit dilacak.
Penutup: Kembali ke Jalan Para Wali
Syair klasik tentang “Iblis yang gemar membawa kabar berita” telah membawa kita pada perjalanan spiritual yang panjang. Dari kitab Jāmi‘ul Uṣūl fīl Auliyā’, kita belajar tentang metodologi penyucian jiwa. Dari kitab Ḥilyatul Auliyā’, kita mendapatkan teladan konkret tentang bagaimana para wali menjaga lidah mereka. Dari Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, kita memahami bahaya lidah secara terperinci. Dan dari Al-Ḥikam, kita memperoleh kiat-kiat untuk tetap waspada terhadap tipu daya Iblis.
Di tengah gempuran hoaks dan disinformasi yang semakin massif, ajaran-ajaran ini bukanlah artefak masa lalu yang usang. Ia adalah obat yang sangat dibutuhkan oleh zaman kita. Prinsip tabayyun yang diajarkan Al-Qur’an, etika komunikasi yang dicontohkan para wali, dan disiplin spiritual yang dikembangkan para sufi, adalah sumber daya yang tak ternilai untuk menghadapi tantangan era digital.
Akhirnya, syair ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran fundamental: bahwa setiap kata memiliki konsekuensi. Setiap berita yang kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat. Dan bahwa “neraka adalah jaminan” bagi mereka yang dengan sadar menyebarkan dusta untuk menyesatkan orang lain.
Maka, pilihan ada di tangan kita: apakah kita akan menjadi bagian dari “Iblis berwajah manusia” yang gemar menyebarkan berita mengada-ada, ataukah kita akan berusaha menghidupkan kembali tradisi para wali yang menjaga lidah sebagai manifestasi dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah?
Jawabannya, sebagaimana kata syair itu, adalah dengan senantiasa “meminta perlindungan pada Allah dari bencana yang diperbuat oleh mereka.” Dan perlindungan itu dimulai dari diri sendiri: dari keberanian untuk diam ketika tidak ada kebaikan yang bisa dikatakan, dan dari keberanian untuk jujur ketika kebohongan begitu menggoda. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
—
Penulis adalah pemerhati tasawuf dan khazanah keislaman klasik. Tulisan ini merupakan hasil kajian terhadap kitab Jāmi‘ul Uṣūl fīl Auliyā’ karya Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dan kitab Ḥilyatul Auliyā’ wa Ṭabaqātul Aṣfiyā’ karya Abu Nu‘aim al-Aṣfahānī, serta kitab-kitab klasik lainnya.












