Monwnews.com, Di balik dinginnya tembok penjara pada tahun 1919, sebuah perlawanan tidak lahir dari desing peluru, melainkan dari goresan pena yang tajam. Semaoen, pemuda revolusioner sekaligus Ketua pertama Partai Komunis Indonesia, merajut kegelisahannya menjadi sebuah narasi besar berjudul Hikajat Kadiroen. Novel ini bukan sekadar fiksi penghibur lara, melainkan sebuah manifesto politik yang dengan telanjang membongkar borok kejahatan praktik kolonialisme Belanda di tanah air.

Melalui kalimat yang sederhana namun dalam, Semaoen mengajak kita menyelami bagaimana struktur penjajahan bekerja merusak sendi-sendi kehidupan rakyat. Hikajat Kadiroen adalah cermin retak yang menunjukkan wajah asli imperialisme yang selama ini bersolek di balik jargon “kemajuan.”
Kisah dimulai dengan sosok Kadiroen, seorang pemuda dari kalangan priyayi rendah yang cerdas dan jujur. Kariernya melesat bak bintang di langit pemerintahan kolonial. Dari seorang mantri polisi hingga menjadi wakil patih, Kadiroen adalah prototipe “anak emas” yang diinginkan Belanda yaitu patuh, tertib, dan menjalankan birokrasi dengan efisien.
Namun, di balik seragam mentereng dan jabatan yang dihormati, nurani Kadiroen mulai terusik. Semaoen menggunakan karakter Kadiroen untuk membongkar paradoks jabatan di masa kolonial. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam sistem Belanda, semakin jauh ia terpisah dari rakyatnya sendiri. Kadiroen melihat bahwa hukum yang ia tegakkan sering kali tumpul ke atas namun sangat tajam ke bawah. Ia menyaksikan bagaimana rakyat kecil diperas tenaganya, sementara para tuan tanah dan pejabat tinggi berpesta di atas keringat kaum melarat.
Dalam novel ini, Semaoen dengan jeli membedah bahwa kolonialisme Belanda tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh dua kaki yang busuk yaitu kapitalisme dan feodalisme lokal. Belanda menggunakan sistem kasta priyayi untuk mengontrol rakyat. Para pejabat pribumi dijadikan alat untuk menindas saudaranya sendiri demi upeti yang akan dikirim ke negeri kincir angin.
Melalui dialog-dialog politik yang disisipkan dalam cerita, Semaoen menjelaskan konsep yang saat itu mungkin sulit dipahami rakyat awam. Ia membongkar bagaimana modal besar (kapitalisme) masuk ke desa-desa, merampas tanah petani, dan mengubah mereka menjadi buruh upahan yang tak berdaya. Kolonialisme, dalam pandangan Kadiroen, bukan sekadar penjajahan bangsa atas bangsa, melainkan penghisapan manusia atas manusia lainnya.
Titik balik Kadiroen terjadi saat ia mulai bersentuhan dengan gagasan-gagasan pergerakan. Ia menyadari bahwa kejujuran individu di dalam sistem yang korup tidak akan pernah cukup untuk membawa perubahan. Menjadi pejabat yang baik di tengah sistem yang jahat hanyalah memperpanjang umur penindasan itu sendiri.
Momen dramatis terjadi ketika Kadiroen memutuskan untuk menanggalkan jabatannya yang nyaman. Tindakan ini adalah kritik keras Semaoen terhadap mentalitas “mencari aman” yang menjangkiti kaum terpelajar saat itu. Kadiroen memilih jalan terjal dengan menjadi jurnalis di surat kabar Sinar Rajat. Lewat jalur pers, ia menemukan senjata yang lebih ampuh: kata-kata yang mampu membangunkan kesadaran massa.
Di sini, Semaoen menekankan pentingnya organisasi atau serikat. Ia menggambarkan bahwa kekuatan rakyat terletak pada persatuan. Tanpa serikat, rakyat hanyalah lidi-lidi yang mudah dipatahkan. Namun dengan berserikat, mereka menjadi sapu yang mampu membersihkan sampah-sampah ketidakadilan.
Sisi kemanusiaan dalam novel ini diperkuat melalui tokoh Ardinah, seorang janda yang menjadi korban kawin paksa. Melalui Ardinah, Semaoen tidak hanya mengkritik kolonialisme secara politik, tetapi juga membongkar borok sosial terkait kedudukan perempuan.
Ardinah adalah simbol rakyat Indonesia yang mengalami penindasan ganda yaitu ditindas oleh sistem patriarki yang kolot dan dijepit oleh kemiskinan akibat kebijakan kolonial. Kisah cinta antara Kadiroen dan Ardinah bukanlah romansa picisan. Pernikahan mereka adalah simbol penyatuan antara kaum intelektual yang sadar dengan rakyat jelata yang tertindas. Ini adalah pesan bahwa perjuangan politik harus berakar pada empati dan cinta terhadap sesama manusia.
Fakta bahwa novel ini ditulis Semaoen di dalam penjara menambah bobot emosional pada setiap halamannya. Semaoen tidak menulis berdasarkan teori di menara gading, Semaoen menulis berdasarkan apa yang ia lihat di lapangan dan apa yang ia rasakan di balik teruji besi. Ia menyebut karyanya ini ditulis “dengan air mata kesengsaraan.”
Gaya bahasa yang digunakan sangat sederhana karena target pembacanya adalah rakyat jelata, kaum buruh, dan petani yang saat itu mulai belajar membaca. Semaoen ingin agar ide-ide kemerdekaan dan keadilan sosial bisa dicerna oleh siapa saja, bukan hanya oleh kaum elit di kota besar. Ini adalah tonggak awal sastra realisme sosialis di Indonesia, di mana seni bukan lagi untuk seni, melainkan seni untuk perjuangan rakyat.
Pesan untuk Masa Depan
Membaca Hikajat Kadiroen di masa kini membuat kita tersadar bahwa penyakit-penyakit yang digambarkan Semaoen seperti kesenjangan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan hukum ternyata masih relevan untuk Kita renungkan.
Novel ini mengingatkan kita bahwa kolonialisme bisa berubah bentuk, namun esensi penghisapannya tetap sama. Semaoen melalui Kadiroen mengajarkan bahwa keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan berdiri membela mereka yang lemah adalah bentuk tertinggi dari kemanusiaan.
Hikajat Kadiroen adalah warisan literasi yang sangat berharga. Ia bukan hanya dokumen sejarah tentang awal pergerakan nasional, tetapi juga sebuah panduan moral bagi siapa saja yang merindukan keadilan. Semaoen telah membuktikan bahwa meskipun tubuhnya bisa dikurung di dalam penjara, pikiran dan semangat perlawanannya akan terus hidup dan melampaui zaman melalui untaian kata-kata yang ia tinggalkan bagi kita semua.
Kebobrokan kolonialisme Belanda mungkin telah lama berlalu, namun semangat Kadiroen untuk terus kritis terhadap ketidakadilan harus tetap menyala di hati setiap anak bangsa. Karena perjuangan untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan setara adalah tugas sejarah yang tidak akan pernah selesai.












