Monwnews.com, Malang – Dua kali acara debat Calon Kepala Daerah (Cakada) Kota Malang telah dihelat. Menyuguhkan berbagai perspektif dari sudut pandang yang beragam. Semoga bisa menjadi bahan pendidikan politik yang mampu mencerdaskan masyarakat Kota Malang dalam memilih Walikota Malang. Kita semuanya, tentu ingin mendapatkan Walikota Malang yang mampu benar-benar mengemban amanah membangun masa depan Kota Malang.

Semua Cakada Kota Malang, pasti berlomba-lomba menampilkan dan memberikan yang terbaik. Agar bisa mendapatkan dan memenangkan suara rakyat Kota Malang. Dengan gaya, karakter, gestur, performance dan kecakapannya masing-masing. Subyektifitas dan obyektifitas, mendapatkan ruang untuk saling melengkapi dan mempengaruhi. Ada yang gayanya menyerang seperti Tipikal Striker Murni. Ada juga yang bergaya Playmaker atau False Nine. Ada juga yang cara mainnya seperti Gelandang Pengangkut Air. Menarik jika mengamati dinamika Pilkada Kota Malang dengan mindset permainan sepak bola.
Dalam sudut pandang saya secara pribadi, Pasangan Nomer 1 (WALI) seperti menerapkan pola permainan Total Football khas Belanda. Menyerang total. Dengan kredo pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Tidak apa-apa meskipun kebobolan 10 gol, yang penting bisa memasukkan sebanyak 11 gol. Meskipun selisih 1 gol, yang penting menang. Mungkin, hal ini dikarenakan Wahyu Hidayat sebagai Calon Walikota Malang, memang bertipikal penyerang murni. Seorang Striker yang haus gol. Dan terus terang, menurut saya memang Wahyu Hidayat mempunyai insting gol yang luar biasa. Ditambah lagi, mungkin tim suksesnya juga kebanyakan berkarakter sebagai Striker. Semoga saja, Playmaker, Defender dan Kiper yang dimiliki Tim WALI juga bisa mengimbangi kecepatan dan ketepatan gerak strikernya.
Sedangkan Pasangan Nomer 2 (Sam HC & Ganis), menurut pandangan saya secara pribadi, sedangkan menerapkan pola permainan Jogo Bonito khas Samba Brasil. Sepak bola indah nan cantik. Yang menawarkan kelincahan, kecerdikan dan bola-bola pendek yang mempermainkan resiko. Enak untuk ditonton dan dinikmati. Tapi belum tentu bisa membawa kemenangan bagi timnya. Sam HC sendiri memang bertipikal Playmaker. Yang sekaligus kadang bertransformasi menjadi gelandang serang. Naluri golnya tidak setajam Wahyu Hidayat. Namun, pergerakan Sam HC sebagai Playmaker, sudah terbukti mampu mengobrak-abrik benteng pertahanan lawan-lawannya.
Memang, tinggal mencari Striker haus gol di tim Sam HC. Sekaligus memperkuat Defender dan Kiper. Dalam skema Jogo Bonito, Sam HC sudah berhasil membawa warna baru dalam sejarah Pilkada di Kota Malang. Namun, apakah warna baru tersebut mampu menghasilkan kemenangan di dalam Pilkada Kota Malang? Tentu sangat menarik untuk disimak kelanjutannya.
Bagaimana dengan Pasangan Nomer 3 (Abadi)? Tampak jelas bahwa pola permainan yang sedang diterapkan oleh Abadi adalah Catenacio khas Italia. Sebuah skema permainan yang bertumpu pada garis pertahanan. Sambil sesekali menerapkan pola serangan balik secepatnya. Pasangan Abadi cenderung mengandalkan kantong-kantong suara lama dari Abah Anton. Garisnya bergerombol di area pertahanan. Mungkin inilah yang menjadi faktor utama Pasangan Abadi sulit membuat progres. Bahkan, cenderung relatif stagnan menuju surut/ menurun. Karena pemain yang lebih banyak bergerombol di garis pertahanan, tentu lebih muda diserang dari berbagai penjuru. Dan pasti, penguasaan bolanya rendah. Semoga saja, di dalam Tim Pasangan Abadi, ada juga yang berkarakter striker murni dan playmaker. Agar format serangan baliknya juga bisa membahayakan dan membobol gawang lawannya. Pola permainan Catenacio ini, tentu tidak enak untuk ditonton. Karena cenderung monoton.
Dalam dunia sepak bola, tidak ada yang selalu menang. Pasti ada juga yang kalah. Baik Total Football, Jogo Bonito maupun Catenacio, pasti mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tinggal bagaimana Sang Thinktank (Coach/ Pelatih), bisa membaca kekuatan lawan dan mengenali kekuatan masing-masing pemain yang dimiliki. Untuk bisa mengoptimalkan skema permainan dalam meraih kemenangan.
Selain itu, wasit dan pengadil lapangan, juga perlu sama-sama diwaspadai. Semoga saja, wasit dan pengadil lapangannya, tidak berbuat curang atau sudah disuap untuk Fix Match dalam Pilkada Kota Malang.
Tidak seperti permainan sepak bola, yang ada istilah seri atau skor berimbang, Pilkada Kota Malang tidak ada istilah seri atau skor berimbang. Yang ada hanya Kalah atau Menang. Entah menang dengan cara apapun, yang penting menang. Kalah ya kalah. Pastinya, ada yang bersorak gembira dan ada yang kecewa nantinya.
Semoga, semuanya aman dan baik-baik saja. Serta yang paling penting, Kota Malang tetap Damai, Guyun Rukun dan Terus Berkembang. Pada akhirnya, Pilkada memang seperti sepak bola. Hanya permainan saja. Yang pasti ada akhirnya.
11 Nopember 2024
Wahyu Eko Setiawan/ Sam WES
Pendiri Koperasi Jasa Bola Gajayana Indonesia












