Monwnews.com, Di dalam tradisi Jawa, mbukak lawang bukan sekadar membuka pintu. Pintu secara fisik memang terbuat dari kayu, besi, atau aluminium, tetapi yang sesungguhnya dibuka adalah hubungan antara manusia dengan ruang yang akan ditempatinya. Karena itulah setiap memasuki rumah baru, masyarakat Jawa mengenal berbagai ritual, doa, sesaji, arak-arakan, atau sekadar ucapan permisi. Bukan karena takut pada hantu, melainkan karena sadar bahwa dunia ini tidak dihuni oleh manusia saja.
Orang Jawa mengenal konsep kehidupan yang berdampingan. Ada yang kasat mata dan ada yang tidak kasat mata. Ada yang berbicara dengan mulut, ada yang berbicara melalui tanda-tanda. Bahkan ada yang lebih misterius lagi: yang terlihat manusia tetapi kadang perilakunya sulit dibedakan dari makhluk halus. Karena itu, membuka ruang selalu diawali dengan unggah-ungguh, dengan tata krama.
Pada tanggal 1 Juni 2026, Jam 19.00 Win. Dalam acara Mimbar Bebas Dewan Kesenian Surabaya, tradisi itu kembali dihadirkan dalam Prosesi Pembukaan Galeri Dewan Kesenian Surabaya. Akan ada arak-arakan, akan ada langkah-langkah simbolik, akan ada pintu yang dibuka oleh Ketua Dewan Kesenian Surabaya. Sekilas tampak seperti ritual biasa. Namun sesungguhnya ini bukan peristiwa biasa.
Rumah yang dibuka biasanya akan dihuni sebuah keluarga. Galeri yang dibuka kali ini akan dihuni karya, lukisan-lukisan, gagasan-gagasan, kegelisahan-kegelisahan, dan mungkin juga kemarahan-kemarahan yang telah berubah menjadi karya seni. Jika rumah membutuhkan kursi, meja, dan lemari, maka galeri membutuhkan imajinasi, kebebasan, dan keberanian.
Tajuk pameran yang bakal digelar nanti adalah *Vivere Pericoloso*—hidup dalam bahaya.
Sebuah istilah yang dikenalkan oleh Sukarno untuk menggambarkan keberanian menghadapi zaman yang tidak selalu ramah. Sebab dalam sejarah, kemajuan kebudayaan tidak pernah lahir dari ruang yang terlalu nyaman. Ia lahir dari pertanyaan, perdebatan, kritik, bahkan kadang dari pintu-pintu yang sengaja ditutup oleh kekuasaan.
Di sinilah prosesi mbukak lawang memperoleh makna yang lebih luas.
Karena yang akan dibuka bukan hanya galeri. Yang dibuka adalah ingatan.
Publik tentu masih mengingat bahwa ruang ini pernah mengalami masa-masa yang aneh. Galeri dan ruang Dewan Kesenian Surabaya pernah berada dalam situasi yang lebih mirip lemari arsip ketimbang rumah kebudayaan: dingin, kosong, sunyi, dan nyaris kehilangan suara. Dalam bahasa birokrasi mungkin disebut penataan ruang. Dalam bahasa kesenian kadang terasa seperti pengosongan makna.
Maka ketika pintu galeri dibuka hari ini, yang masuk pertama kali bukanlah para pelukis atau para penonton. Yang masuk adalah pertanyaan:
Mengapa ruang kebudayaan harus diperjuangkan terus-menerus untuk tetap menjadi ruang kebudayaan?
Pertanyaan ini penting karena kota yang sehat tidak hanya membutuhkan jalan raya, mal, gedung pencakar langit, dan laporan pertumbuhan ekonomi. Kota juga membutuhkan ruang tempat warga dapat berpikir, berdebat, bermimpi, dan sesekali tidak sepakat dengan keadaan.
Akademisi menyebutnya ruang publik kebudayaan. Seniman menyebutnya panggung. Rakyat biasa menyebutnya tempat berkumpul. Pemerintah kadang menyebutnya aset.
Perbedaan istilah itulah yang sering melahirkan komedi sejarah.
Sebab bagi seniman, gamelan adalah suara kebudayaan. Bagi birokrasi, gamelan kadang hanya terlihat sebagai inventaris barang bergerak. Bagi pelukis, galeri adalah ruang dialog. Bagi administrasi tertentu, galeri bisa berubah menjadi sekadar ruangan yang perlu dikosongkan.
Di titik itulah seni dan kekuasaan sering bertemu dalam hubungan yang unik: yang satu sibuk menciptakan makna, yang lain sibuk menciptakan berita acara.
Karena itu prosesi mbukak lawang hari ini bukan ritual mistik. Ini justru tindakan yang sangat rasional. Sebuah penegasan bahwa ruang kebudayaan hidup karena digunakan, bukan karena disegel. Bahwa galeri menjadi galeri karena dipenuhi karya, bukan karena dipenuhi kunci.
Arak-arakan yang mengiringi pembukaan ini bukan sekadar berjalan dari satu titik ke titik lain. Ia adalah perjalanan simbolik dari ruang yang pernah dibungkam menuju ruang yang kembali berbicara.
Dan sebagaimana tradisi Jawa yang selalu mengajarkan sopan santun, maka sebelum memasuki galeri ini kita mengucapkan permisi kepada siapa saja yang menghuni ruang ini: kepada para pelukis, kepada para penonton, kepada sejarah, kepada ingatan, bahkan kepada para pengambil keputusan yang mungkin suatu hari nanti menyadari bahwa kebudayaan tidak dapat dipindahkan hanya dengan memindahkan barang-barangnya.
Sebab sebuah ruang seni sesungguhnya tidak hidup oleh temboknya.
Ia hidup oleh orang-orang yang menolak lupa.
Selamat datang di Galeri Dewan Kesenian Surabaya.
Mari membuka lawang.
Mari membuka ingatan.
Dan, sebagaimana tajuk pameran ini, mari tetap berani hidup dalam bahaya—bahaya berpikir, bahaya bertanya, dan bahaya menjadi manusia yang merdeka.












