Perangkap Thucydides dan Ujian Akal Sehat Dunia

Oleh: Albert Agung Wijaya, SH.,M.Han - Pengamat Pertahanan, Alumnus Pascasarjana UNHAN RI, Alumni GMNI Surabaya

Monwnews.com, Ketika Xi Jinping menyebut “Thucydides Trap” di hadapan Donald Trump, ia sesungguhnya tidak sedang mengutip sejarah Yunani kuno. Ia sedang berbicara tentang masa depan dunia: apakah abad ke-21 akan menjadi abad kerja sama antarperadaban, atau justru abad ketika dua raksasa terjerembap ke dalam perang karena sama-sama tidak sanggup mengelola rasa takut.

Albert Agung Wijaya, S.H.,M.Han - Pengamat Pertahanan, Alumnus Pascasarjana UNHAN RI, Alumni GMNI Surabaya
Albert Agung Wijaya, S.H.,M.Han – Pengamat Pertahanan, Alumnus Pascasarjana UNHAN RI, Alumni GMNI Surabaya

Ada kalimat yang tampaknya akademik, tetapi sesungguhnya politis. Ada istilah yang terdengar seperti teori hubungan internasional, tetapi sebenarnya bekerja sebagai isyarat kekuasaan. Thucydides Trap adalah salah satunya.

Ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping, dalam pertemuan dengan Donald Trump, bertanya apakah Tiongkok dan Amerika Serikat dapat menghindari Thucydides Trap dan membangun paradigma baru hubungan antarnegara besar, dunia seharusnya tidak membaca kalimat itu sebagai basa-basi diplomatik. Ia bukan sekadar ajakan damai. Ia adalah pernyataan posisi. Ia adalah kritik halus kepada Amerika. Ia adalah pesan kepada dunia bahwa abad dominasi tunggal Barat sedang ditantang. Ia juga peringatan bahwa bila kekuatan lama tidak mampu berdamai dengan lahirnya kekuatan baru, sejarah bisa kembali bergerak menuju tragedi.

Di balik istilah itu bersemayam kecemasan besar zaman ini: mampukah Amerika Serikat menerima Tiongkok sebagai kekuatan setara? Mampukah Tiongkok naik tanpa memprovokasi ketakutan eksistensial Amerika? Mampukah negara-negara menengah—termasuk Indonesia—menyelamatkan otonomi strategisnya ketika dua raksasa sedang mengatur ulang peta dunia?

Pertanyaan itu penting karena Thucydides Trap bukan hanya teori perang. Ia adalah teori tentang ketakutan. Tentang rasa cemas imperium lama ketika melihat takhtanya diganggu. Tentang ambisi kekuatan baru yang menuntut pengakuan. Tentang dunia yang tidak lagi sepenuhnya dipimpin Washington, tetapi juga belum siap menerima Beijing sebagai pusat gravitasi baru.

Di titik inilah kita harus membaca pernyataan Xi secara lebih ideologis. Ia tidak sedang berkata, “Kami ingin damai” semata. Ia juga sedang berkata, “Jangan paksa kami hidup di bawah tata dunia yang Anda bangun sendirian.”

Sejarah sebagai Cermin Kekuasaan

Thucydides adalah sejarawan Yunani kuno yang mencatat perang antara Athena dan Sparta. Ia bukan filsuf abstrak yang berbicara tentang negara ideal. Ia adalah saksi perang, jenderal, sekaligus analis kekuasaan. Dari tangannya lahir salah satu kalimat paling terkenal dalam studi hubungan internasional: kebangkitan Athena dan rasa takut yang ditimbulkannya di Sparta membuat perang menjadi tak terhindarkan.

Kalimat itu bertahan selama lebih dari dua ribu tahun karena ia menyentuh naluri terdalam politik internasional: negara besar jarang takut kepada kelemahan; mereka takut kepada kebangkitan. Yang membuat Sparta gelisah bukan Athena yang miskin, tetapi Athena yang tumbuh. Yang membuat Amerika gelisah bukan Tiongkok yang menjadi pabrik murah dunia, tetapi Tiongkok yang mulai menguasai teknologi tinggi, jaringan perdagangan, energi, mineral kritis, pembayaran digital, dan diplomasi Global South.

Inilah inti Thucydides Trap: ketika kekuatan baru bangkit dan mulai mengancam kedudukan kekuatan lama, benturan sering kali sulit dihindari. Graham Allison kemudian mempopulerkan istilah ini dalam buku Destined for War. Ia meneliti 16 kasus transisi kekuatan besar dalam 500 tahun terakhir. Dalam sebagian besar kasus, rivalitas itu berujung perang. Namun teori ini harus dibaca hati-hati. Ia bukan hukum alam. Ia bukan takdir sejarah. Ia bukan ramalan yang pasti terjadi. Tetapi ia adalah peringatan: perubahan distribusi kekuasaan selalu berbahaya bila tidak disertai kebijaksanaan politik. Masalahnya, dunia hari ini justru sedang kekurangan kebijaksanaan itu. Yang banyak muncul adalah nasionalisme sempit, proteksionisme, perang teknologi, militerisasi kawasan, dan kecurigaan yang diproduksi setiap hari oleh mesin propaganda negara besar.

Xi, Trump, dan Bahasa Diplomasi yang Tidak Pernah Netral

Dalam politik global, kata-kata pemimpin besar jarang netral. Ketika Xi menyebut Thucydides Trap, ia sedang melakukan tiga hal sekaligus.

Pertama, ia menempatkan Tiongkok sebagai kekuatan yang sah untuk naik. Beijing ingin dunia memahami bahwa kebangkitan Tiongkok bukan agresi, melainkan koreksi sejarah. Dalam memori politik Tiongkok, abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah masa penghinaan nasional: perang candu, dominasi Barat, agresi Jepang, dan pelemahan kedaulatan. Karena itu, proyek kebangkitan Tiongkok tidak hanya bersifat ekonomi. Ia bersifat historis, psikologis, bahkan peradaban.

Kedua, Xi sedang membalik tuduhan Barat. Selama ini Amerika dan sekutunya kerap menggambarkan Tiongkok sebagai negara revisionis yang mengancam tata dunia berbasis aturan. Dengan menyebut Thucydides Trap, Xi seolah berkata: persoalannya bukan Tiongkok yang naik, melainkan Amerika yang takut kehilangan monopoli.

Ketiga, Xi sedang menuntut pengakuan. Frasa “paradigma baru hubungan antarnegara besar” adalah bahasa diplomatik untuk mengatakan bahwa Tiongkok tidak mau lagi diperlakukan sebagai murid dalam kelas yang gurunya Amerika. Tiongkok ingin duduk sebagai arsitek bersama tata dunia.

Di sinilah ketegangan ideologis muncul. Amerika berbicara atas nama “rules-based international order”. Tiongkok berbicara atas nama multipolaritas dan non-intervensi. Tetapi keduanya tidak sepenuhnya polos. Amerika membela aturan yang banyak ia bentuk sendiri dan sering ia tafsirkan sesuai kepentingannya. Tiongkok menawarkan multipolaritas, tetapi di banyak tempat juga membangun ketergantungan ekonomi, teknologi, dan infrastruktur yang tidak kecil. Maka dunia tidak sedang berhadapan dengan malaikat dan iblis. Dunia sedang berhadapan dengan dua bentuk kekuasaan besar: satu hegemon lama yang ingin mempertahankan hak istimewanya; satu kekuatan baru yang ingin merevisi tata dunia tanpa selalu menjelaskan secara terbuka batas ambisinya.

Amerika dan Ketakutan Kehilangan Abadnya

Untuk memahami respons Amerika terhadap Tiongkok, kita harus memahami bahwa Amerika bukan hanya negara. Ia adalah sistem. Sejak Perang Dunia II, Amerika membangun tata dunia melalui dolar, Bretton Woods, NATO, pangkalan militer global, lembaga keuangan internasional, teknologi, universitas, budaya populer, dan narasi demokrasi liberal. Dengan perangkat itu, Amerika tidak sekadar kuat. Ia menjadi pusat dunia. Ia menentukan standar. Ia mengatur bahasa kemajuan. Ia memimpin arsitektur ekonomi global. Ia menentukan siapa yang dianggap “bertanggung jawab” dan siapa yang dianggap “ancaman”.

Namun Tiongkok mengguncang struktur itu dari banyak sisi sekaligus. Di bidang ekonomi, Tiongkok menjadi pusat manufaktur dunia. Di bidang teknologi, Tiongkok mengejar kecerdasan buatan, 5G, kendaraan listrik, baterai, semikonduktor, dan komputasi kuantum. Di bidang infrastruktur, Belt and Road Initiative membentang dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika Latin. Di bidang keuangan, internasionalisasi yuan dan sistem pembayaran alternatif pelan-pelan mengusik kenyamanan dolar. Di bidang diplomasi, Tiongkok tampil sebagai pembela Global South, meski sering kali dengan kepentingan strategis yang sangat nyata.

Bagi Amerika, ini bukan sekadar persaingan dagang. Ini adalah krisis kepemimpinan dunia. Maka respons Amerika tidak hanya berupa diplomasi. Ia berupa perang tarif, pembatasan ekspor chip, larangan teknologi, penguatan aliansi Indo-Pasifik, AUKUS, QUAD, dukungan kepada Taiwan, dan tekanan terhadap negara-negara agar tidak terlalu dekat dengan ekosistem teknologi Tiongkok.

Di sini terlihat paradoks besar globalisasi. Amerika dahulu menjadi arsitek utama globalisasi. Tetapi ketika globalisasi melahirkan pesaing besar dari luar Barat, Amerika mulai membatasi globalisasi itu sendiri. Pasar bebas dipuji ketika menguntungkan pusat lama. Tetapi ketika pasar bebas mempercepat kebangkitan pesaing baru, bahasa yang muncul berubah menjadi keamanan nasional.

Inilah ideologi hegemonik dalam bentuk paling telanjang: aturan dianggap universal selama menopang dominasi. Ketika aturan mulai menggeser keseimbangan kekuasaan, aturan itu direvisi, dibatasi, atau dibekukan.

Tiongkok dan Ambiguitas Kebangkitan Damai

Tiongkok selalu menegaskan bahwa kebangkitannya adalah kebangkitan damai. Beijing menolak disebut calon hegemon baru. Ia berbicara tentang kerja sama saling menguntungkan, harmoni, pembangunan bersama, dan dunia multipolar. Namun realitas strategis tidak pernah dibangun hanya oleh pidato. Tiongkok memperkuat angkatan laut, memperluas kemampuan rudal, membangun pulau buatan di Laut Cina Selatan, memperdalam pengaruh di Afrika, mempererat hubungan energi dengan Rusia dan Timur Tengah, mengamankan mineral kritis, serta memperluas standar teknologinya.

Apakah itu salah? Dalam logika realisme, tidak. Setiap negara besar akan membangun kapasitas untuk menjaga kepentingannya. Amerika melakukannya. Rusia melakukannya. India melakukannya. Uni Eropa pun, dengan caranya sendiri, mulai memikirkan otonomi strategis. Tetapi justru di sinilah masalahnya: ketika semua negara besar merasa tindakannya defensif, pihak lain sering membacanya sebagai ofensif. Tiongkok membangun armada laut untuk mengamankan jalur perdagangannya; Amerika membacanya sebagai ekspansi militer. Amerika memperkuat aliansi di Indo-Pasifik untuk menjaga stabilitas; Tiongkok membacanya sebagai pengepungan.

Inilah spiral keamanan. Setiap tindakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan sendiri justru menurunkan rasa aman pihak lain. Dari sinilah perang sering lahir, bukan karena satu pihak tiba-tiba menjadi gila perang, tetapi karena semua pihak merasa sedang bertahan. Maka ketika Xi berkata Tiongkok tidak ingin terjebak dalam Thucydides Trap, pernyataan itu memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia adalah ajakan damai. Di sisi lain, ia adalah peringatan bahwa Tiongkok tidak akan mundur dari agenda kebangkitannya.

Perang Abad Ini Tidak Selalu Dimulai dengan Peluru

Kesalahan umum dalam membaca Thucydides Trap adalah membayangkan perang hanya sebagai tembakan, invasi, kapal induk, atau rudal. Padahal konflik AS–Tiongkok sudah berlangsung hari ini, hanya bentuknya belum selalu militer.

Perang tarif adalah peluru fiskal. Kontrol ekspor semikonduktor adalah blokade teknologi. Sanksi keuangan adalah serangan moneter. Dominasi dolar adalah senjata struktural. Pembatasan aplikasi digital adalah perang data. Perebutan mineral kritis adalah perang industri. Perebutan standar kecerdasan buatan adalah perang masa depan.

Inilah yang dapat disebut sebagai geoekonomi konflik. Negara-negara besar tidak hanya memakai tentara, tetapi juga memakai pasar, mata uang, standar teknologi, logistik, pelabuhan, rantai pasok, dan data sebagai instrumen kekuasaan.

Dunia yang dulu memuja interdependensi kini mulai menyadari bahwa keterhubungan juga bisa dijadikan senjata. Negara yang menguasai simpul jaringan dapat menekan negara lain tanpa menembakkan satu peluru pun. Menguasai chip berarti menguasai masa depan industri. Menguasai dolar berarti menguasai pembuluh darah transaksi global. Menguasai pelabuhan berarti menguasai ritme logistik. Menguasai data berarti menguasai perilaku manusia.

Di sinilah konflik AS–Tiongkok menjadi lebih dalam daripada perang dingin lama. Perang Dingin AS–Uni Soviet terutama membelah dunia secara ideologis dan militer. Persaingan AS–Tiongkok membelah dunia sampai ke dalam ponsel, baterai mobil listrik, sistem pembayaran, kabel bawah laut, pelabuhan, aplikasi, cloud, dan kecerdasan buatan. Ini bukan sekadar konflik dua negara. Ini konflik dua ekosistem.

Taiwan, Laut Cina Selatan, dan Selat Malaka

Walaupun perang abad ini banyak berbentuk geoekonomi, titik ledak militernya tetap nyata. Taiwan adalah yang paling berbahaya. Bagi Tiongkok, Taiwan adalah bagian dari kedaulatan nasional dan simbol penyelesaian sejarah. Bagi Amerika, Taiwan adalah simpul strategis: pusat semikonduktor dunia, penanda kredibilitas aliansi, dan benteng penting dalam rantai pulau pertama yang membatasi proyeksi kekuatan Tiongkok ke Pasifik. Jika Taiwan meledak, dunia tidak hanya menghadapi perang lokal. Dunia menghadapi krisis semikonduktor, krisis perdagangan, krisis keuangan, dan kemungkinan benturan langsung dua kekuatan nuklir.

Laut Cina Selatan adalah titik kedua. Wilayah ini bukan hanya laut. Ia adalah jalan raya perdagangan dunia, jalur energi, ruang klaim kedaulatan, dan arena unjuk kekuatan. Di sana beririsan klaim Tiongkok, kepentingan negara-negara ASEAN, operasi kebebasan navigasi Amerika, dan strategi kekuatan menengah seperti Jepang, Australia, dan India.

Selat Malaka adalah titik ketiga yang sangat dekat dengan Indonesia. Bagi Tiongkok, Malaka adalah jalur hidup sekaligus kerentanan. Sebagian besar energi dan perdagangan Tiongkok melewati jalur ini. Dalam kondisi damai, Malaka adalah nadi perdagangan. Dalam kondisi perang, ia bisa berubah menjadi titik cekik.

Indonesia berada di sekitar simpul-simpul ini. Artinya, Indonesia tidak mungkin menjadi penonton murni. Setiap ketegangan AS–Tiongkok di Indo-Pasifik akan berdampak pada diplomasi, pertahanan, perdagangan, energi, investasi, dan keamanan maritim Indonesia.

Inilah sebabnya membaca Thucydides Trap penting bagi Indonesia. Bukan karena Indonesia harus memilih Amerika atau Tiongkok, tetapi karena Indonesia harus memahami bahwa medan permainan sedang bergeser ke halaman rumahnya sendiri.

Ideologi di Balik Tata Dunia

Di permukaan, AS–Tiongkok berbicara tentang perdagangan, teknologi, Taiwan, dan keamanan. Tetapi di bawahnya ada pertarungan ideologis yang lebih dalam.

Amerika membawa narasi demokrasi liberal, pasar terbuka, hak asasi manusia, dan tata dunia berbasis aturan. Narasi ini memiliki daya tarik besar. Banyak bangsa memang memperoleh manfaat dari institusi internasional, perdagangan global, dan norma demokrasi. Tetapi problemnya, Amerika sering menerapkan nilai-nilai itu secara selektif. Ia berbicara keras tentang kedaulatan ketika lawannya melanggar, tetapi lebih lunak ketika sekutunya melakukan hal serupa. Ia berbicara tentang pasar bebas, tetapi tidak ragu memakai proteksionisme ketika merasa terancam. Ia berbicara tentang hukum internasional, tetapi memiliki sejarah intervensi yang panjang.

Tiongkok membawa narasi berbeda: kedaulatan, pembangunan, stabilitas, non-intervensi, dan multipolaritas. Narasi ini menarik bagi banyak negara berkembang yang lelah diceramahi Barat. Tiongkok menawarkan jalan pembangunan tanpa syarat politik yang terlalu eksplisit. Infrastruktur dibangun, pinjaman diberikan, pasar dibuka.

Namun narasi Tiongkok juga menyimpan bahaya. Pembangunan tanpa demokrasi dapat melahirkan stabilitas yang membungkam. Non-intervensi bisa menjadi dalih untuk mengabaikan hak warga. Kerja sama ekonomi bisa berubah menjadi ketergantungan struktural. Multipolaritas bisa menjadi bahasa indah untuk perluasan pengaruh kekuatan besar baru. Maka secara ideologis, dunia hari ini tidak boleh naif. Menolak hegemoni Amerika tidak otomatis berarti menerima semua manuver Tiongkok. Mengkritik Tiongkok tidak otomatis berarti tunduk kepada Barat. Yang dibutuhkan adalah kejernihan: setiap kekuatan besar membawa kepentingannya sendiri.

Bagi negara seperti Indonesia, ideologi politik luar negeri harus berangkat dari kedaulatan rakyat, kepentingan nasional, keadilan sosial, dan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri. Bukan menjadi satelit Washington. Bukan pula menjadi halaman belakang Beijing.

Indonesia dan Bahaya Menjadi Bidak

Indonesia sering mengulang doktrin “bebas aktif”. Tetapi dalam dunia yang semakin keras, bebas aktif tidak cukup menjadi mantra. Ia harus menjadi kapasitas. Bebas aktif berarti Indonesia bebas menentukan sikap, tetapi aktif membentuk lingkungan strategis. Masalahnya, kebebasan diplomatik tidak akan kuat bila fondasi ekonominya lemah. Negara yang tergantung pada impor energi, teknologi asing, pangan impor, pembiayaan luar negeri, dan industri bernilai tambah rendah akan sulit sepenuhnya bebas.

Dalam konflik AS–Tiongkok, tekanan terhadap Indonesia akan makin besar. Amerika akan mendorong Indonesia masuk lebih dalam ke orbit keamanan Indo-Pasifik. Tiongkok akan memperkuat pengaruh melalui investasi, perdagangan, infrastruktur, dan teknologi. Jepang, Korea Selatan, India, Australia, Uni Eropa, dan negara-negara Teluk juga akan memainkan peran masing-masing.

Pertanyaannya: apakah Indonesia memiliki strategi nasional yang cukup matang untuk mengelola semua itu?

Indonesia memiliki posisi penting: negara kepulauan terbesar, pengendali jalur laut strategis, ekonomi terbesar ASEAN, pemilik mineral kritis, pasar besar, dan kekuatan demografis. Tetapi posisi penting tidak otomatis melahirkan kekuatan. Posisi strategis bisa menjadi berkah bila dikelola dengan visi. Tetapi bisa menjadi kutukan bila dikelola dengan mental rente.

Mineral kritis seperti nikel, misalnya, dapat menjadi alat tawar besar dalam transisi energi global. Tetapi bila hilirisasi hanya berarti ekstraksi besar-besaran dengan nilai tambah terbatas, kerusakan lingkungan, tenaga kerja murah, dan ketergantungan teknologi asing, maka Indonesia hanya berpindah dari kolonialisme bahan mentah lama ke kolonialisme rantai pasok baru.

Pelabuhan dan jalur laut Indonesia juga strategis. Tetapi bila logistik nasional mahal, industri pelayaran lemah, dan keamanan maritim belum optimal, maka posisi geografis tidak berubah menjadi kekuatan geopolitik.

Sistem pembayaran digital, pusat data, dan infrastruktur telekomunikasi juga akan menjadi medan baru kedaulatan. Tetapi bila Indonesia tidak memiliki standar keamanan data, industri teknologi nasional, dan tata kelola digital yang kuat, maka rakyat Indonesia hanya menjadi pasar data bagi kekuatan luar.

ASEAN sebagai Pagar yang Rapuh tetapi Penting

Dalam pusaran AS–Tiongkok, ASEAN sering tampak lamban. Konsensus sulit dicapai. Kepentingan negara anggota berbeda. Ada yang lebih dekat ke Amerika, ada yang lebih tergantung pada Tiongkok, ada yang berusaha menjaga jarak.

Namun justru karena itu ASEAN tetap penting. Tanpa ASEAN, Asia Tenggara akan dipecah menjadi negara-negara kecil yang mudah ditekan satu per satu. ASEAN bukan benteng sempurna, tetapi ia adalah pagar diplomatik. Lemah, tetapi masih berguna. Lamban, tetapi masih diperlukan.

Indonesia harus memainkan peran lebih aktif di ASEAN. Bukan sekadar menjadi tuan rumah konferensi, tetapi menjadi pengarah agenda strategis kawasan. Laut Cina Selatan, transisi energi, ekonomi digital, keamanan pangan, rantai pasok, dan arsitektur Indo-Pasifik harus dibaca sebagai satu kesatuan.

Asia Tenggara tidak boleh hanya menjadi arena pertarungan Amerika dan Tiongkok. Ia harus menjadi subjek regional yang memiliki posisi tawar. Jika tidak, kawasan ini akan mengalami nasib klasik wilayah strategis: diperebutkan, dipuji, diinvestasi, tetapi tidak benar-benar dihormati.

Perangkap Pikiran

Salah satu bahaya terbesar Thucydides Trap adalah ketika teori ini berubah menjadi perangkap pikiran. Bila elite Amerika percaya bahwa Tiongkok pasti akan menjadi musuh, maka setiap langkah Tiongkok akan dibaca sebagai ancaman. Bila elite Tiongkok percaya bahwa Amerika pasti ingin menghancurkan kebangkitannya, maka setiap langkah Amerika akan dibaca sebagai pengepungan.

Dari sini lahir ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Kecurigaan melahirkan kebijakan keras. Kebijakan keras melahirkan respons keras. Respons keras membenarkan kecurigaan awal. Begitu seterusnya sampai dunia lupa bahwa perang bukan takdir, melainkan keputusan politik yang gagal dicegah.

Karena itu, tantangan terbesar abad ini bukan hanya menghindari perang. Tantangan terbesarnya adalah menghindari cara berpikir yang menganggap perang sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan tak terhindarkan.

Di sinilah diplomasi, kebijaksanaan, dan imajinasi politik menjadi penting. Dunia tidak boleh menyerahkan masa depannya kepada kaum determinis geopolitik yang membaca sejarah hanya sebagai siklus benturan imperium. Sejarah memang memberi peringatan, tetapi manusia tetap memiliki ruang untuk memilih.

Kepentingan Nasional yang Berdaulat

Bagi Indonesia, membaca Thucydides Trap harus berujung pada agenda domestik. Tidak cukup mengatakan bahwa dunia sedang bergolak. Tidak cukup menyerukan perdamaian. Tidak cukup mengulang bebas aktif. Yang diperlukan adalah memperkuat daya tahan nasional.

Pertama, Indonesia harus membangun kedaulatan energi. Ketergantungan impor energi membuat posisi strategis rapuh. Dalam dunia yang penuh konflik chokepoint—Hormuz, Malaka, Laut Cina Selatan—energi bukan sekadar komoditas, melainkan keamanan nasional.

Kedua, Indonesia harus memperkuat industri bernilai tambah tinggi. Hilirisasi harus naik kelas dari pengolahan bahan mentah menjadi penguasaan teknologi, desain, riset, paten, dan merek. Tanpa itu, Indonesia hanya menjadi buruh besar dalam rantai pasok global.

Ketiga, Indonesia harus membangun kedaulatan pangan. Perang besar selalu mengganggu pangan. Harga pupuk, gandum, kedelai, energi, dan logistik saling terkait. Negara yang pangannya rapuh akan mudah ditekan.

Keempat, Indonesia harus memperkuat pertahanan maritim. Sebagai negara kepulauan, laut adalah halaman depan, bukan halaman belakang. TNI AL, Bakamla, penjagaan perbatasan, industri kapal, radar, satelit, dan keamanan siber harus dilihat sebagai satu sistem.

Kelima, Indonesia harus menjaga demokrasi. Ini sering dilupakan. Dalam dunia yang keras, ada godaan untuk mengatakan bahwa stabilitas lebih penting daripada kebebasan. Tetapi negara yang demokrasinya melemah akan mudah dikendalikan oleh oligarki domestik dan kepentingan asing. Demokrasi yang sehat bukan beban geopolitik. Ia adalah sumber legitimasi nasional.

Kesimpulan: Jangan Terjebak dalam Sejarah Orang Lain

Thucydides Trap adalah peringatan penting, tetapi bukan kitab takdir. Ia mengingatkan bahwa kebangkitan kekuatan baru dan ketakutan kekuatan lama dapat melahirkan perang. Tetapi ia juga mengingatkan bahwa perang terjadi ketika akal sehat kalah oleh kesombongan, ketika diplomasi kalah oleh paranoia, dan ketika elite gagal membedakan antara ancaman nyata dan ancaman yang diciptakan oleh rasa takut sendiri.

Xi Jinping memakai istilah itu untuk mengirim pesan kepada Amerika dan dunia: Tiongkok ingin diakui sebagai kekuatan besar yang sah. Amerika mendengarnya dengan kecemasan karena pengakuan itu berarti berkurangnya monopoli. Dunia menyaksikannya dengan gelisah karena konflik dua raksasa tidak pernah hanya melukai dua raksasa. Bagi Indonesia, pelajaran utamanya jelas. Jangan menjadi bidak dalam perangkap orang lain. Jangan membaca dunia hanya dari kacamata Washington. Jangan pula menelan mentah-mentah narasi Beijing. Indonesia harus membangun cara pandang sendiri, kepentingan sendiri, kapasitas sendiri, dan keberanian sendiri. Sebab dalam abad yang sedang berubah, bangsa yang tidak memiliki strategi akan menjadi strategi bangsa lain. Bangsa yang tidak menguasai energi, pangan, teknologi, laut, dan datanya sendiri akan menjadi pasar, jalur, dan objek negosiasi kekuatan besar.

Perangkap Thucydides mungkin berbicara tentang Amerika dan Tiongkok. Tetapi perangkap yang lebih berbahaya bagi Indonesia adalah perangkap ketergantungan, perangkap elite rente, perangkap diplomasi slogan, dan perangkap pikiran yang membuat bangsa ini merasa cukup menjadi penonton.

Dunia sedang berada di persimpangan. Tetapi Indonesia juga berada di persimpangan. Pilihannya bukan antara Amerika atau Tiongkok. Pilihannya adalah antara menjadi bangsa berdaulat atau menjadi ruang perebutan.

Dan di situlah makna terdalam dari Thucydides Trap bagi kita: sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang dalam perang besar. Sejarah juga mencatat bangsa-bangsa yang gagal membaca tanda zaman sebelum terlambat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *