Pemberontak Sudan Makin Ganas Bantai Penduduk, PBB Tak Berdaya

Monwnews.com, Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan milisi sekutu melancarkan serangan selama dua hari berturut-turut ke kamp-kamp pengungsi yang dilanda kelaparan di wilayah Darfur, Sudan, menewaskan lebih dari 100 orang, termasuk 20 anak-anak dan sembilan pekerja kemanusiaan.

https://www.instagram.com/ditakencana/
https://www.instagram.com/ditakencana/

Menurut laporan resmi PBB, serangan ini menargetkan kamp Zamzam dan Abu Shorouk, serta kota El-Fasher, ibu kota provinsi Darfur Utara. Wilayah-wilayah ini merupakan titik perlindungan bagi lebih dari 700.000 pengungsi yang terusir dari rumah mereka akibat konflik bersenjata yang sudah berlangsung hampir dua tahun terakhir.

“Ini adalah eskalasi yang mematikan dan tidak dapat diterima dalam rangkaian serangan brutal terhadap pengungsi dan pekerja bantuan di Sudan sejak konflik ini dimulai,” ujar Clementine Nkweta-Salami, Koordinator Kemanusiaan dan Perwakilan Tetap PBB untuk Sudan, dalam pernyataan resminya sebagaimana dilansir Al Jazeera, Minggu (13/4/2025).

Sebagaimana diketahui, konflik berkepanjangan di Sudan telah menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia, dengan sekitar 25 juta orang atau setengah dari total populasi negara itu kini menghadapi kelaparan ekstrem.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan RSF meningkatkan serangan ke kota El-Fasher, satu-satunya ibu kota provinsi di Darfur yang masih dikuasai oleh tentara pemerintah setelah sebelumnya RSF berhasil mengambil alih ibu kota nasional, Khartoum.

Situasi ini memicu kekhawatiran baru akan eskalasi kekerasan lebih luas, serta mempersulit upaya distribusi bantuan kemanusiaan yang selama ini bergantung pada jalur logistik di Darfur Utara.
Laporan dari Amnesty International yang dirilis awal bulan ini juga menambah catatan kelam RSF.

Laporan tersebut menuduh RSF telah melakukan kekerasan seksual sistematis terhadap perempuan dan anak perempuan di berbagai wilayah konflik, termasuk pemerkosaan berkelompok sebagai bagian dari strategi perang.

Amnesty International menyebut tindakan RSF sebagai bagian dari upaya “menghancurkan struktur sosial” komunitas yang dianggap menentang mereka, dan meminta komunitas internasional segera bertindak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *