Kongres Kebudayaan Nusantara, Sinyal Kembali Bergeraknya Indonesia Nusantara

Oleh: Bunda Susi - Pendoa Nusantara

monwnews.com – Malang,-
Gelar kgiatan Kongres Kebudayaan Nusantara ke-I yang digelar di dalam Pendopo Agung,Kabupaten Malang pada Sabtu 8 Agustus 2026
akan menjadi pusat denyut nadi kebudayaan bangsa.

Kegiatan yang mengusung tema *“Sarasehan Kebudayaan dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka Menggali Jejak-Jejak Peradaban Kebudayaan Nusantara”* guna merumuskan arah pemajuan kebudayaan nasional.

*Kongres Kebudayaan Nusantara* itu bisa diartikan sebagai momentum berkumpulnya para pegiat, seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat dari berbagai daerah untuk “menghidupkan kembali” semangat Nusantara.

1. *Makna “Kongres Kebudayaan Nusantara”*

– *Kongres* = forum besar untuk bermusyawarah, merumuskan arah, dan menyatukan gagasan.
– *Kebudayaan Nusantara* = seluruh kekayaan budaya dari Sabang sampai Merauke: adat, bahasa, seni, tradisi, nilai gotong royong, kearifan lokal.
– Jadi intinya: tempat kita duduk bersama untuk menjaga, merawat, dan memajukan budaya Indonesia agar tidak punah tergerus zaman.

2. *”Sinyal kembali bergeraknya Indonesia Nusantara”*
Kalimat ini bermakna :

– *Sinyal* = Tanda. Kongres ini jadi tanda, bahwa kita tidak lagi diam. Budaya bukan cuma dipajang di museum, tapi dijalankan lagi dalam kehidupan sehari-hari.
– *Kembali bergerak* = setelah sekian lama budaya lokal sering terpinggirkan oleh budaya luar/global, sekarang kita mulai menggerakkan lagi. Anak muda pakai batik, tari daerah diajarkan lagi, bahasa daerah dipakai lagi, produk UMKM budaya naik lagi.
– *Indonesia Nusantara* = menekankan identitas kita sebagai bangsa kepulauan yang beragam tapi satu. “Nusantara” mengingatkan kita pada era Majapahit, Sriwijaya, kerajaan-kerajaan dulu yang menjunjung kebhinekaan.

Kongres ini jadi titik balik. Dari yang tadinya “jalan di tempat” menjadi “bergerak maju” dengan membawa identitas budaya sendiri.

3. *Tujuan besarnya biasanya:*
1. *Melestarikan* – Mendata dan merawat warisan budaya yang hampir hilang
2. *Menghidupkan* – Bikin budaya relevan lagi lewat musik, film, fashion, digital dan lain-lain.
3. *Menyatukan* – Walau beda suku/agama/daerah, tetap pakai payung nilai Nusantara: toleransi, gotong royong, musyawarah
4. *Memperkenalkan ke dunia* – Bahwa Indonesia punya identitas kuat, bukan hanya peniru budaya lain

4. *Kenapa penting sekarang?*
Karena globalisasi cepat sekali. Kalau kita tidak “bergerak” menjaga budaya sendiri, yang tertinggal justru jati diri kita.

Kongres ini ibarat kompas, mengingatkan kita mau dibawa ke mana bangsa ini, dengan tetap berpijak pada akar budaya Nusantara.

Jadi kalau ada orang bilang “Kongres Kebudayaan Nusantara = sinyal kembali bergeraknya Indonesia Nusantara”, maksudnya: *ini tanda kebangkitan*. Kita mulai bangga lagi jadi orang Indonesia, mulai berkarya pakai cara Indonesia, dan mulai menyatukan kekuatan budaya untuk membangun bangsa.

Malang,9 Agustus 2026.
(galih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *