Monwnews.com, Eskalasi ketegangan geopolitik terjadi, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat tinggi Iran saling melontarkan ancaman terbuka pada Jumat (2/1/2026).

Situasi ini memperuncing hubungan kedua negara, hanya beberapa bulan setelah Amerika Serikat membombardir fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Trump memperingatkan Teheran agar tidak menindak demonstran yang turun ke jalan. Ia menulis bahwa jika Iran bertindak pada para demonstran,” maka Amerika Serikat “akan datang untuk menyelamatkan mereka.”
Pada sisi lain, Ali Larijani, mantan ketua parlemen yang kini menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menuding Israel dan Amerika Serikat berada di balik gelombang demonstrasi tersebut.
“Trump harus tahu bahwa intervensi Amerika Serikat dalam persoalan domestik akan berujung pada kekacauan di seluruh kawasan dan kehancuran kepentingan Amerika Serikat,” tulis Larijani di X
Pernyataan Larijani diperkirakan merujuk pada kehadiran militer Amerika Serikat yang luas di Timur Tengah.
Nada ancaman juga disampaikan Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya menjabat sekretaris dewan keamanan nasional selama bertahun-tahun. Ia memperingatkan bahwa “setiap tangan intervensi yang terlalu dekat dengan keamanan Iran akan dipotong.”
“Rakyat Iran sangat memahami pengalaman ‘diselamatkan’ oleh orang-orang Amerika: dari Irak dan Afghanistan hingga Gaza,” tambah Shamkhani dalam unggahannya di X.
Protes di Iran yang kini memasuki hari keenam disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak 2022, Namun, aksi kali ini belum meluas ke seluruh negeri.
Saat ini, satu dolar AS diperdagangkan sekitar 1,4 juta rial, kondisi yang menjadi pemicu awal kemarahan publik.
Aksi-aksi protes yang berakar pada persoalan ekonomi itu juga diwarnai dengan seruan menentang sistem teokrasi Iran.
Di tengah tekanan internal tersebut, Teheran menyatakan tidak lagi memperkaya uranium di lokasi mana pun di dalam negeri.
Langkah itu sebagaimana dilansir CNBC, dimaksudkan sebagai sinyal kepada Barat bahwa Iran masih terbuka untuk perundingan terkait program nuklirnya guna meredakan sanksi ekonomi yang gencar dijatuhkan oleh negara negara Barat pada negara tersebut.












