Hukum Fisika Dalam Polemik Habaib

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw

Ngatawi Al Zastrouw

Monwnews.com, Dalam ilmu fisika , dikenal hukum aksi reaksi yang merupakan Hukum 3 Newton. Hukum ini berbunyi, jika suatu benda mendapatkan gaya (aksi), maka benda tersebut akan memberikan reaksi balik yang besarnya berbanding lurus dengan besarnya gaya yang diberikan terhaadap benda tersebut.

Dengan kata lain, jumlah rekasi yang diberikan oleh suatu benda akan sama bersarnya dengan jumlah aksi yang diberikan terhadap benda tersebut. Itulah sebabnya hukum ini disebut hukum aksi reaksi.

Hukum ini dapat digunakan sebagai alat bantu mencermati fenomena sosial yang terkait dengan issu habaib yang memancing kontroversi dan polemik.

Sebagaimana yang terlihat dalam media sosial, akhir-akhir ini terjadi perdebatan keras antara Rabithah dan beberapa Habib yang mengaku keturunan Nabi dengan kelompok yang menganggap keturunan Ba’alawi bukan keturunan Nabi atau kelompok yang menolak klaim para habaib sebagai keturunan Nabi.

Kelompok pertama dimotori oleh Bahar bin Smith, Taufiq Assegaf, Hanif AL-Athos. Kelompok kedua dimotori oleh KH. Imaduddin Al-Bantani, Gus Fuad Plered, Sueif Alwi dan sejenisnya.

Kalau dicermati, sepanjang sejarah keberadaan orang Arab di Nusantara, umat Islam Nusantara tidak pernah mengusik dan mempertanyakan keberadaan mereka.

Hampir semua umat Islam dan ulama menaruh hormat kepada mereka. Mau keturunan Yaman, Persia, Yordan, Aran Saudi bahkan yang dari Afrika sekalipun (Sudan, Maroko, Tunis, Al-Jazair) asal berbau Arab, semua dihormati oleh bangsa Nusantara.

Ketika orang-orang keturunan Arab ini mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad, ummat Islam Nusantara menerima tanpa reserve.

Mereka langsung memuliakan dengan penuh rasa tawadlu’, menghormati mereka secara tulus. Masyarakat Nusantara tidak pernah mempertanyakan berbagai istilah panggilan terhdap mereka.

Mau dipanggil syarif, sayyid (yik), sadad atau habib, semua dihormati dan dimuliakan, diberi tempat khusus baik secara sosial maupun spiritual. Hampir tak ada ummat Islam Nusantara yang mempertanyakan apakah mereka benar-benar keturunan Nabi atau tidak.

Tak ada yang mempertanyakan mengapa mereka harus dihormati atau dimuliakan.Bahkan para ulama Nusantara; kyai, ajengan, tuan guru dan tengku semua menghormati para khabib dan sayyid yang dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad.

Tidak ummat Islam di dunia ini yang memberikan penghormatan kepada keturunan Nabi melebihi penghormatan yang diberikan oleh ummat Islam Nusantara.

Selama berabad-abad hubungan antara ummat Islam Nusatara dengan keturunan Rasul (habib, sayyid, syarif dsb.), berjalan secara baik-baik saja. Hubungan sosial berjalan secara harmonis dan rukun, hampir tanpa konflik dan pertengkaran.

Demikian hubungan spiritual, ummat Islam Nusantara menganggap para habaib memiliki kekuatan spiritualitas yang tinggi yang layak dijadikan sebagai tempat bertaya dan berlindung. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Pertama, para habaib sangat menghormati tradisi dan budaya yang ada di Nusantara. Mereka melebur dengan cara hidup dan adat kebiasaan bangsa Nusantara, tidak memaksakan budaya dan tradisi leluhurnya yang ada di Timur Tengah.

Mereka tidak pernah merasa budaya mereka lebih tinggi dari budaya Nusantara. Sikap seperti ini tercemin pada beberapa keturunan Nabi yang menjadi anggota Walisongo yang menggunakan nama-nama lokal pada diri mereka dan memanfaatkan berbagai tradisi serta kesenian lokal sebagai sarana mengajarkan Islam.

Kedua Para habaib pada saat itu sangat menghormati ulama Nusantara. Mereka tidak pernah bersikap tinggi hati dan sombong, mereka juga tidak merasa sebagai orang suci dan muliakarena keturunan Nabi. Para habib keturunan Nabi yang ada di Nusantara tidak pernah memandang rendah apalagi melecehkan para ulama Nusanatara.

Bahkan mereka tidak segan berguru padanya, diantaranya Habib Salim Jindan yang mengaku berguru pada 200 ulama Nusantara, sebagaimana tertulis dalam biografi yang ditulisnya sendiri.

Dalam beberapa karya beliau banyak mengutip naskah karya ulama Tuban yang ditulis abad ke-14. Habib Ali Kwitang, selain berguru pada para habaib Nusantara, beliau juga berguru kepada ulama Nusatara, diantaranya KH. Abdul Hamid (Jatinegara) dan Guru Mujtaba bin Ahmad (Jatinegara) dan beberapa habaib lainnya.

Ketiga, selain memiliki ilmu yang dalam dan luas, para habaib juga selalu bersikap santun, penuh kasih dan peduli pada ummat. Mereka memandang ummat dengan mata yang penuh kasih sayang (yandhuru ummah bil aini rahmah).

Tingkah laku dan tutur katanya yang santun dan lebut menjadi teladan bagi ummat. Karena akhlaknya yang mulai dan ilmunya yang tinggi itulah umat Islam Nusantara selalu menjadikan para habaib sebagai tempat bertanya menyandarkan berbagai persoalan hidup.

Keempat para habaib selalu menebarkan ketentraman dan kedamaian pada masyarakat. Mereka tidak pernah berkata kotor dan memaki yang dapat melukai hati dan perasaan ummat.

Amar makmruf nahi mungkar dilakukan dengan cara-cara yang makruf, bukan dengan cara kasar tak beradab. Jangankan memfitnah dan menebarkan berita bohong, berkata kasarpun mereka tidak pernah.

Ceramah yang disampaikan selalu membawa kesejukan dan ketentraman, tidak mengobarkan rasa permusuhan dan kebencian, dengan tanpa mengabaikan kebenaran.

Aksi-aksi seperti inilah yang membuat reaksi positif ummat Islama Nusantara terhadap habaib. Akhlak, ilmu dan perilaku yang dilakukan oleh para habaib menjadi sumber inspirasi dan teladaan kebaikan yang membuat mereka mendapat reaksi positif dari ummat Islam dan ulama Nusantara, berupa sikap hormat dan memuliakan kepada para habaib tanpa mempedulikan mereka benar-benar keturunan Nabi atau tidak.

Jika menggunakan hukum aksi reaksi Newton untuk melihat perdebatan issu habaib saat ini maka pertanyaannya adalah, aksi macam apa yang membuat ummat Islam dan ulama Nusantara memberikan reaksi sedemikian keras dan kasar?

Bahkan reaksi yang muncul saat ini belum pernah dilakukan ummat Islam Nusantara sepanjang sejarah.

Pertanyaan ini muncul karena penulis beranggapan apa yang disampaikan beberapa ulama dan sebagian ummat Islam Indonesia merupakan reaksi, bukan aksi.

Karena selama ini mereka diam, tenang dan sabar menghadapi sikap para habaib yang mengaku sebagai kketurunan Nabi. Mereka mendengar dan melihat ulah beberapa oknuum habaib yang menista bangsanya dan merendahkan ulama-ulama yang menjadi panutannya.

Misalnya pernyataan yang menyatakan Gus Dur Buta, ulama dan kyai Nusantara goblok, marwah 70 ulama Nusatara lebih rendah dibanding habib yang bodoh dan berbagai istilah lain yang melecehkan.

Bahkan hampir tak ada reaksi yang berarti ketika ummat Islam mengetahui kelakuan oknum habaib yang amoral, tidak beradab dan eksploitatif. Mereka mencoba menutup mata, tetap saja menghormati dan memuliakan.

Jika akhirnya muncul pernyataan dan tindakan frontal yang melawan dan mempertanyakan kapasitas dan orisionalitas genetika mereka yang mengaku sebagai keturunan Nabi, maka bisa diasumsikan bahwa hal itu merupakan reaksi balik dari suatu aksi yang sudah sangat keterlaluan.

Aksi yang dilakukan oleh oknum habaib sudah melebihi ambang batas sehingga reaksi yang muncul juga melebihi ambang batas.

Selain hukum aksi reaksi Newton, fenomena ini juga dapat dijelaskan dengan hukum Pascal. Hukum yang ditemukan Blaise Pascal, seorang ilmuwan Prancis, ini menyatakan tekanan yang dberikan pada zat cair dalam ruang tertutup akan diteruskan ke segala arah dengan besaran yang sama.

Selama ini ummat Islam dan beberapa ulama Nusantara telah tertekan dengan ulah oknum para habaib yang biadab dan tidak berakhlak.

Mereka menggunakan klaim keturunan Nabi untuk merebut simpati, penghormatan dan privelese dari ummat sambil menginjak-injak martabat dan budaya bangsa Nusantara.

Karena tekanan itu makin lama makin kuat dan keras, akhirnya mereka memberikan reaksi balik yang besarnya sama dengan tekanan yang diberikan. Dan reaksi itu merambat kemana-mana dengan tekanan yang sama karena bantuan medsos di era digital.

Berpijak pada hukum fisika Newton dan Pascal ini, ada baiknya semua pihak melakukan perenungan. Karena pada hakekatnya apa yang terjadi dan menimpa pada diri dan kelompok adalah buah dari perbuatan diri dan kelompok tersebut.

Kalau ada ummat yang selama ini hormat dan memuliakan Habib, tapi tiba-tiba mempertanyakan dan mengkritisi genetika dan peran habib, maka sudah selayaknya para habib bertanya: ada apa dengan komunitas saat ini?

Tidak usah jauh-jauh membandingkan akhlak mereka dengan Nabi Muhammad, tapi bandingkan akhlak mereka dengan akhlak Habib Sholeh Tanggul, Habib Ali Kwitang, Khabib Salim Jindan atau akhlaknya Habib Luthfi bin Yahya, Habib Syech Assegaf.

Masihkan akhlak beliau-beliau ini tercermin dalam diri habaib yang suka mencaci maki, melecehkan ulama dan umat Islam Nusantara serta mengobarkan kebencian dan permusuhan degan kata-kata kotor atas nama Islam dan Nabi Muhammad?

Melalui hukum fisika aksi reaksi dan pascal kita akan dapat memahami bahwa kuat dan kerasnya reekasi ummat Islam dan ulama Nusantara sebenarnya merupakan cerminan dari kuatnya aksi yang dilakukan oknum-oknum habib terhadap mereka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *