Di tengah Ketegangan Dengan Nato, Militer China dan Rusia Adakan Latihan Perang Gabungan

Monwnews.com, Di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan anggota NATO, Angkatan Laut Rusia dan China memulai latihan gabungan di Pasifik sejak pekan lalu.

https://www.instagram.com/kayoone.bumi/
https://www.instagram.com/kayoone.bumi/

Latihan bertajuk ‘Maritime Joint-2024’ tersebut dilakukan di dekat kota Zhanjiang, China.
Kementerian Pertahanan China mengatakan latihan ini akan melatih kemampuan angkatan laut untuk mengatasi ancaman keamanan.

Ini juga untuk menjaga stabilitas internasional dan regional dan meningkatkan kemitraan strategis.

“Patroli maritim gabungan keempat di Samudra Pasifik barat dan utara tidak menargetkan pihak ketiga dan tidak ada hubungannya dengan situasi internasional dan regional saat ini,” kata Kementerian Pertahanan China, Selasa (16/7/2024).

Sementara media TASS, melaporkan dua kapal dari Armada Pasifik Rusia berpartisipasi dalam acara tahunan tersebut.

Awak kapal akan melakukan latihan pertahanan udara dan latihan yang melibatkan penerbangan anti-kapal selam, serta memasok ulang pasokan saat bergerak dan pelatihan penyelamatan laut.

Di lain pihalk, dalam sebuah dokumen yang diadopsi setelah pertemuan puncak NATO minggu lalu di Washington, kelompok yang dipimpin AS tersebut menuduh bahwa Beijing telah bekerja sama dengan Moskow untuk “melemahkan dan membentuk kembali tatanan internasional berbasis aturan”.

Komunike tersebut juga menuduh bahwa China telah menyediakan bahan dan komponen penggunaan ganda kepada produsen senjata Rusia di tengah konfliknya dengan Ukraina.

Namun Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah menepis tuduhan tersebut tidak berdasar dan menegaskan bahwa Beijing “selalu menjadi kekuatan untuk perdamaian dan stabilitas di komunitas internasional”.

Wang mendesak NATO untuk fokus pada dialog dan membangun “rasa saling percaya” alih-alih melontarkan tuduhan terhadap Beijing.

Pemerintah China sebagaimana dilansir CNBC telah berulang kali menolak pembingkaian Barat atas konflik Ukraina, yang telah menyajikannya sebagai tindakan agresi Rusia yang tidak beralasan, sebaliknya Beijing telah mengutip ekspansi NATO di Eropa sebagai penyebab utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *