Iptek  

Butuh Terobosan Ide Untuk Ramaikan Pasar Tradisional di Tengah Gencarnya Arus Pasar Online Pada Era Digital

Oleh: Galih Herry (Ketua Forum Ma-Ju Malang Jurnalis, Sekretaris PC INAKER Kota Malang

Monwnews.com – Malang,- Bagaimana mengoptimalkan pasar tradisional agar kembali rame pengunjung dan pembeli,ditengah era digital saat ini ?

Pasar tradisional itu ibarat kayak lesung Kalau nggak ditabuh bareng, suaranya kalah sama musik digital. Padahal “nada” nya jauh lebih kaya.

Galih Herry (Ketua Forum Ma-Ju Malang Jurnalis, Sekretaris PC INAKER Kota Malang
Galih Herry (Ketua Forum Ma-Ju Malang Jurnalis, Sekretaris PC INAKER Kota Malang

Era digital bukanlah musuh. Dia cuma *alu baru*sebagai alat pemukul lesung.
Tinggal kita mau pake mukul lesung, atau malah dipake mukul kepala pasar sendiri.

Kita coba dengan resep ini,supaya pasar tradisional menjadi rame lagi. Saya mencoba dengan jurus 4 langkah,dengan filosofi jawa kebendaan yang sudah pernah kita bahas tempo hari :

1. Jurus “Kopi”: Bikin Pasar Jadi Ruang Nongkrong, Bukan Cuma Transaksi
Masalah: Anak muda ke mall karena adem, bersih, ada tempat duduk. Ke pasar karena “disuruh ibu”.
Solusi:
Buat “Warkop Lesung” di tengah pasar: Coba disediakan sebuah sudut ngopi gratis pake produk pedagang.Agar pengunjung bisa ngopi sambil menunggu istrinya belanja. Anak muda bisa juga bisa ngopi . Ruang mengopi menjadi salah satu alasan orang datang & betah.
Live “Kotekan Pasar” atau sarana bunyi-bunyian. Setiap Sabtu pagi ada musik lesung, keroncong, atau akustik, dari anak-anaj pelajar setingkat menengah pertama atau menengah atas,atau karang taruna. Sehingga pasar jadi panggung budaya, bukan cuma tempat berbelanja yang terkesan kumuh dan tempatnya becek. Orang datang buat experience, belanjanya ngikut.
Jaga “Pahitnya” Tetap Jujur: Harga jujur, timbangan bener, nggak ada menipu wisatawan lokal yang tengah belanja. Biar kopi pahitnya dari biji, bukan pahit dari ditipu.

Karakter: Pasar jadi ruang sosial setara. Pejabat, artis, kuli, bisa ngopi di bangku yang sama.

2. Jurus “Ketan Srundeng”: Jual Cerita & Keunikan Lokal yang Lengket
Masalah: Di Shopee semua murah & sama. Pasar tradisional kalah harga.
Solusi:
“Daun Pisang Digital”: Tiap lapak wajib punya cerita. “Tempe Mbah Joyo: resep 1945, kedelai dari Tumpang”. Tempel QR Code di lapak. Di-scan, muncul video Mbah Joyo bikin tempe. Ini membuat daya tarik baru. pembungkus yang bikin produk nggak bisa ditiru pabrik.
Paket “Srundeng Ekonomi Sirkular”: Bikin bundling: Beli sayur + ikan + bumbu = dapet resep & bonus kelapa parut gratis dari lapak sebelah. Uang muter di dalam pasar. Ini lengketnya ketan.
Transparansi Label: Kayak bungkus “KETAN SERUNDENG” tadi. Tulis: “Cabai rawit ini dari Pujon, petik kemarin”. Orang bayar lebih mahal buat kejujuran & jejak lokal.

Karakter: Pasar jadi penjaga kearifan lokal. Nggak bisa dibunuh marketplace karena jualannya “rasa & cerita”.

3. Jurus “Sendok”: Digitalisasi Itu Alat, Bukan Tuan
Masalah: Pedagang gaptek, takut sama HP. Pemda kasih “sendok” digital tapi nggak ngajarin nyendok.
Solusi:
Sendoknya 2 Macam: Ojek Online & QRIS:
1. Jadi “Dapur” GoFood/GrabFood: Latih 20 pedagang bumbu, sayur matengan, jajan pasar buat masuk aplikasi. Ibu-ibu kantor bisa “belanja ke pasar” dari meja kerja. Pasar nggak mati, cuma pindah pintu.
2. QRIS Seragam: Semua lapak, sampe tukang parkir, pake QRIS. Tapi dibuatin standee lucu bergambar Semar: “Nyuwo QRIS, nggih”. Biar nggak kaku.
“Ketua OSIS” Pasar Digital: Rekrut anak SMK/D3 jadi “Duta Digital Pasar” tiap kelurahan. Tugasnya muter, fotoin produk, upload ke IG/TikTok pasar, bantuin pedagang balas WA. Dibayar dari retribusi. Anak muda pegang sendok, pedagang senior pegang resep.
Sendok APBD yang Bener: Daripada bangun pasar baru mangkrak, APBD dipake buat: WiFi gratis kenceng, kanopi anti bocor, toilet bersih wangi, tempat sampah pilah. Ini nyendokin anggaran ke yang bener-bener dibutuhin.

Karakter: Teknologi jadi alat gotong royong, bukan alat gantikan manusia.

4. Jurus “Jari-jari Roda”: Semua Harus Mukul Bareng
Masalah: Jika Pemda, pedagang, pembeli, anak muda, jalan sendiri-sendiri. Irama lesungnya hancur.
Solusi:
Jari Roda Tugasnya Biar Pasar Rame Kalau Nggak Jalan
*Poros: WalikotaBupati/Dinas Pasar* Bikin event rutin + regulasi pro-pasar: Car Free Day dipindah ke pasar sebulan sekali. Larang minimarket buka 24 jam dekat pasar. Jika Porosnya dol maka semua jari macet.
*Jari 1: Paguyuban Pedagang* Kompak jaga kebersihan & jam buka. Bikin “pakta integritas” nggak curang timbangan. Kalau 1 jari patah, roda oleng, pembeli kabur.
*Jari 2: Sekolah SMA/SMK* Tugas PKL/P5 suruh bikin konten pasar, desain kemasan, bikin sistem kas sederhana. Sekolah nggak nyambung ke pasar = generasi putus dari akar.
*Jari 3: Komunitas & Influencer Lokal* “Ngonten” di pasar, bukan cuma di kafe. Bikin challenge “Belanja 50rb dapet apa aja di pasar”. Pasar nggak punya “Humas” di era digital.
*Jari 4: Pembeli/Warga* Mindset: Selisih 2rb di pasar = nambah gizi anak pedagang. Di minimarket = nambah dividen konglomerat. Kalau warga nggak bela, siapa lagi?
Karakter: Ini saiyeg saeka praya versi digital. Satu irama, satu tujuan.

Kesimpulannya, : “Upgrade Lesung, Jangan Buang Lesung”

Pasar tradisional nggak akan mati kalau kita paham ini:

1. Jangan Lawan Digital, Kawinkan: Lesung + Mic = pentas lebih kenceng. Pasar + HP = omset lebih gede.
2. Jual yang Nggak Bisa Dikirim JNE: Bau terasi, tawar-menawar, senyum Mbak penjual, cerita di balik sambel. Itu user experience yang nggak ada di aplikasi.
3. Pemda Harus Jadi Dirigen Kotekan: Bukan cuma mungut retribusi. Tapi mastiin semua “alu” mukul dengan irama yang sama. Kalau ada yang fals, ditegur. Kalau ada yang bagus, dikasih panggung.

Pasar rame itu indikator “roda daerah muter sehat“. Artinya duit muter di bawah, budaya hidup, warga guyub.

Kalau pasar sepi, itu tanda bahaya. Artinya kita cuma jadi “penonton lesung” di negeri sendiri. Beli di aplikasi, uangnya lari ke Jakarta, gudangnya di luar negeri.

Mending kita mulai dari kecil: besok pagi ngopi di pasar, Pak. Sambil pungut satu kresek yang jatuh. Itu udah nabuh lesung pertama.

Malang, Jumat Kliwon 08/05/2026.

#indonesiabekerja/bergerakmalangkucecwara/malangwani#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *