”Gendhing gamelan Kang kapundhut soko griyo Seni, kamongko gamelan dalan sumelehne Bathin marang ingkang damel gesang.”
(Gending gamelan yang diambil dari rumah seni, padahal gamelan adalah jalan menenangkan batin menuju Yang Menciptakan kehidupan.)

DUA KEBANGKITAN DI SATU TANGGAL
DUA PULUH MEI. Sebuah tanggal yang dalam sejarah Indonesia modern dimaknai sebagai Hari Kebangkitan Nasional—hari ketika Boedi Oetomo lahir pada 1908, menandai bangkitnya kesadaran berbangsa yang selama berabad-abad tertidur di bawah telapak kolonialisme. Namun pada 20 Mei 2026, di Surabaya, sebuah kebangkitan lain terjadi. Bukan kebangkitan yang ditandai dengan kongres atau pidato politik, melainkan kebangkitan yang berbisik dalam bahasa Jawa kuno, datang dari keheningan, dan berbicara tentang gamelan yang dirampas.
“Pesan Semesta lan Lhestari” —demikian teks itu menamai dirinya. Ia muncul bukan dari rapat redaksi, bukan dari diskusi panel, bukan dari mimbar akademik. Ia muncul dari ruang batin yang sunyi, dari kedalaman yang hanya bisa diakses oleh mereka yang telah lama melatih diri untuk mendengarkan. Dalam tradisi Jawa, fenomena semacam ini bukanlah hal asing. Para leluhur menyebutnya sebagai wisik —bisikan gaib yang datang kepada mereka yang telah mencapai tingkat kepekaan spiritual tertentu. Ia adalah sabda langit yang memilih untuk turun pada momen paling simbolis: hari ketika bangsa ini memperingati kebangkitannya.
Tulisan ini bukanlah analisis hukum. Bukan pula laporan investigatif tentang sengketa kelembagaan. Tulisan ini adalah sebuah kontemplasi—sebuah upaya untuk duduk dalam keheningan, mendengarkan apa yang disampaikan oleh Pesan Semesta, dan merenungkan apa artinya bagi Surabaya, bagi Indonesia, dan bagi perjalanan spiritual kita sebagai bangsa.
Sebab di tengah hingar-bingar konflik—pengosongan paksa Sekretariat Dewan Kesenian Surabaya pada 4 Mei, unjuk rasa para seniman pada 11 Mei, pelantikan Dewan Kebudayaan tandingan pada 15 Mei, dan penyusunan Raperda yang menghapus eksistensi DKS pada 20 Mei—ada suara yang lebih dalam yang menanti untuk didengarkan. Suara yang tidak berteriak, tidak memaki, tidak menuntut. Suara yang hanya bisa didengar oleh mereka yang bersedia menenangkan batinnya, sejenak melepaskan diri dari belenggu nalar instrumental, dan membiarkan jiwa berbicara kepada Jiwa.
MENGAPA 20 MEI? SEBUAH RENUNGAN TENTANG WAKTU
SEBELUM menyelami isi pesan, marilah kita berhenti sejenak pada pertanyaan yang paling elementer: mengapa pesan ini muncul pada 20 Mei? Mengapa bukan sehari sebelumnya, atau seminggu kemudian? Dalam alam spiritual, tidak ada yang kebetulan. Waktu bukanlah sekadar urutan kronologis yang mekanis; ia adalah kala —sebuah ruang sakral di mana yang profan dan yang transenden bisa bertemu.
20 Mei 1908 adalah hari lahir Boedi Oetomo. Nama itu sendiri sudah mengandung ajaran yang dalam. “Boedi” berarti budi, kesadaran, kebijaksanaan. “Oetomo” berarti utama, luhur, tertinggi. Boedi Oetomo adalah “budi yang utama” —sebuah pengakuan bahwa kebangkitan sejati dimulai dari kesadaran, bukan dari kekuatan fisik. Bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan batin, bukan sekadar kemerdekaan politik.
Pada 20 Mei 2026, tepat 118 tahun setelah Boedi Oetomo, Pesan Semesta lan Lhestari muncul di Surabaya. Ini adalah sinkronisitas yang menggetarkan. Di hari yang sama ketika bangsa ini memperingati lahirnya “budi yang utama”, langit justru mengirimkan pesan tentang “paguripane manungso kang ora pener” —kehidupan manusia yang tidak benar. Di hari yang sama ketika kita merayakan kebangkitan, justru terjadi upaya untuk “mematikan” kebudayaan melalui penghapusan sebuah lembaga yang telah berdiri sejak 1971.
Bukankah ini ironi yang begitu pekat sehingga ia hampir tidak tertahankan?
Tetapi dalam tradisi spiritual, ironi seringkali adalah cara semesta untuk membangunkan kita. Ketika kontradiksi menjadi terlalu tajam—ketika di satu sisi kita merayakan kebangkitan, sementara di sisi lain kita menyaksikan pembunuhan kebudayaan—maka di situlah letak undangan untuk merenung. Mungkin, Pesan Semesta muncul pada 20 Mei justru untuk mengingatkan kita: bahwa kebangkitan sejati belum selesai. Bahwa Boedi Oetomo hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang hingga hari ini belum mencapai tujuannya. Bahwa selama masih ada “paguripan kang ora pener”, selama masih ada gamelan yang dirampas dan seniman yang diusir, maka kebangkitan masih harus terus diperjuangkan.
”JAGAD-JAGAD E URIP”: KESADARAN KOSMIS SEBAGAI PINTU MASUK
”Jagad – jagad e Urip.” – Alam-alam kehidupan.
Dengan tiga kata ini, Pesan Semesta membuka dirinya. Dan ini bukanlah pembukaan yang sembarangan. Dalam tradisi filsafat Jawa, cara seseorang memulai pembicaraan menunjukkan dari dimensi mana ia berbicara. Dengan memulai dari “jagad-jagad e Urip”, pesan ini menegaskan bahwa ia tidak berbicara dari dimensi politik, tidak dari dimensi hukum, tidak dari dimensi administrasi. Ia berbicara dari dimensi kosmis —dari alam-alam kehidupan yang berlapis-lapis, dari jagad gedhe dan jagad cilik, dari yang terlihat dan yang tak terlihat.
Bagi para pembaca modern yang terbiasa dengan cara berpikir linear dan materialistis, frasa ini mungkin terdengar asing. Tetapi bagi mereka yang masih terhubung dengan akar spiritual Nusantara, “jagad-jagad e Urip” adalah undangan untuk mengangkat pandangan, untuk melihat melampaui apa yang tampak di permukaan. Konflik DKS bukanlah sekadar sengketa antara pemerintah kota dan sekelompok seniman. Ia adalah gangguan kosmis —sebuah robekan dalam jalinan harmoni semesta yang getarannya terasa hingga ke alam-alam yang lebih tinggi.
Bayangkanlah sebuah gamelan. Setiap instrumen—gong, kendang, gender, saron, bonang—memiliki perannya sendiri. Ketika semuanya dimainkan dalam harmoni, terciptalah musik yang indah. Tetapi ketika satu instrumen memaksakan diri untuk mendominasi, ketika kendang menolak mendengarkan gong, ketika saron memukul lebih keras dari yang seharusnya—maka harmoni itu hancur. Yang tercipta adalah hiruk-pikuk, adalah disharmoni, adalah kekacauan.
Inilah yang sedang terjadi di Surabaya. Pemerintah kota, yang seharusnya menjadi bagian dari orkestra kebudayaan, telah memilih untuk mendominasi. Ia tidak lagi mendengarkan instrumen lain. Ia memaksakan iramanya sendiri, dan ketika ada instrumen yang menolak—yakni DKS—ia memilih untuk menyingkirkannya. Hasilnya adalah disharmoni yang getarannya tidak hanya terasa di Balai Pemuda, tetapi di seluruh jagad kebudayaan Surabaya.
“Jagad-jagad e Urip” adalah undangan untuk menyadari bahwa kita semua adalah bagian dari orkestra kosmis yang lebih besar. Setiap tindakan kita—termasuk tindakan administratif yang tampaknya sepele—memiliki resonansi yang jauh melampaui apa yang bisa kita lihat.
”MANUNGSO KANG KAMANUNGSAN SOKO LATHI GENI”: MULUT BERAPI DAN KEMANUSIAAN SEJATI
”Manungso Kang kamanungsan soko lathi geni.”
Manusia yang menjadi manusia dari mulut api.
Bait ini adalah renungan yang paling dalam tentang apa artinya menjadi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung menganggap kemanusiaan sebagai sesuatu yang otomatis—sesuatu yang kita miliki begitu kita dilahirkan sebagai Homo sapiens. Tetapi Pesan Semesta mengingatkan bahwa kemanusiaan bukanlah status biologis; ia adalah pencapaian spiritual.
“Manungso” adalah manusia dalam pengertian biologis—makhluk yang lahir, hidup, dan mati. Tetapi “kamanungsan” adalah sesuatu yang lebih tinggi: ia adalah kualitas menjadi manusia dalam arti yang paling dalam. Dan bagaimana kamanungsan ini dicapai? “Soko lathi geni” —dari mulut api.
Apa itu “lathi geni”? Dalam tradisi Jawa, lathi bukanlah sekadar organ fisik yang mengeluarkan suara. Lathi adalah pintu gerbang antara batin dan dunia luar. Apa yang keluar dari lathi mencerminkan apa yang ada di dalam batin. Mereka yang batinnya bersih akan mengeluarkan kata-kata yang jernih. Mereka yang batinnya kotor akan mengeluarkan kata-kata yang busuk.
“Geni” adalah api. Api memiliki sifat ganda: ia bisa menghangatkan dan menerangi, tetapi juga bisa membakar dan menghancurkan. “Lathi geni” adalah mulut yang mengeluarkan kata-kata berapi—kata-kata yang lahir dari semangat, dari keberanian, dari cinta pada kebenaran. Kata-kata yang tidak dingin dan tidak basi. Kata-kata yang memiliki daya untuk mengubah realitas.
Dalam konteks konflik DKS, “lathi geni” adalah suara para seniman yang menolak diam. Suara mahasiswa yang turun ke jalan. Suara rakyat yang tidak mau tunduk pada intimidasi. Mereka inilah yang sedang mencapai “kamanungsan” mereka—menjadi manusia sejati justru melalui keberanian untuk bersuara.
Sebaliknya, mereka yang memilih diam, yang membiarkan ketidakadilan terjadi, yang menggunakan mulut mereka hanya untuk mengeluarkan jargon-jargon birokratis—mereka mungkin manusia secara biologis, tetapi mereka belum mencapai kamanungsan. Mereka masih berada di tangga paling rendah dari “jagad-jagad e Urip”.
Renungkanlah: sudahkah kita mencapai kamanungsan kita? Ataukah kita masih berkutat di level biologis, menjadi manusia hanya dalam arti fisik, sementara jiwa kita tertidur dan mulut kita terkunci?
”NGAWIYAK SOKO JAGAD CILIK”: PENGETAHUAN YANG LAHIR DARI KEDALAMAN
”Ngawiyak soko jagad cilik.” – Terbuka dari alam kecil.
Di manakah letak kebenaran? Dalam dokumen-dokumen resmi? Dalam peraturan-peraturan? Dalam arsip-arsip birokrasi? Pesan Semesta memberikan jawaban yang berbeda: kebenaran sejati “ngawiyak soko jagad cilik” —ia mekar dari alam kecil, dari mikrokosmos, dari kedalaman batin manusia.
Ini adalah epistemologi yang sangat berbeda dari epistemologi modern yang mendewakan objektivitas, dokumentasi, dan bukti empiris. Dalam epistemologi modern, sesuatu dianggap benar jika ia bisa dibuktikan secara empiris, jika ia memiliki dasar hukum, jika ia terdokumentasi dengan rapi. Tetapi Pesan Semesta mengingatkan bahwa ada jenis kebenaran lain—kebenaran yang tidak bisa ditemukan dalam dokumen, tetapi hanya bisa diakses melalui kontemplasi, melalui laku spiritual, melalui penyelaman ke dalam “jagad cilik” diri sendiri.
Pemerintah Kota Surabaya, dengan nalar birokratisnya, terus-menerus mempertanyakan dasar hukum penggunaan gedung oleh DKS. “Apakah ada kontrak tertulis?” “Apakah ada dokumen administrasinya?” Pertanyaan-pertanyaan ini, dalam kerangka birokratis, memang sah. Tetapi dalam kerangka “jagad cilik”, pertanyaan-pertanyaan ini sama sekali tidak relevan. Sebab legitimasi DKS tidak terletak pada dokumen, melainkan pada sejarah 55 tahun yang telah dihayati oleh para seniman. Legitimasi itu “ngawiyak soko jagad cilik” —ia mekar dari pengalaman batin generasi demi generasi seniman yang telah menempa diri di Balai Pemuda.
Renungkanlah: sudahkah kita, sebagai bangsa, terlalu terpaku pada kebenaran formal dan melupakan kebenaran yang lahir dari kedalaman? Sudahkah kita begitu terobsesi dengan dokumen sehingga kita kehilangan kemampuan untuk merasakan kebenaran yang tidak tertulis?
NGUDAL PAGURIPANE MANUNGSO KANG ORA PENER”: MEMBONGKAR KETIDAKBENARAN
”Ngudal paguripane manungso Kang ora pener.” – Mengurai kehidupan manusia yang tidak benar.
Inilah misi spiritual dari Pesan Semesta: untuk “ngudal” —mengurai, membongkar, menyingkap—”paguripane manungso kang ora pener”, kehidupan yang tidak benar.
Apa itu “ora pener”? Dalam etika Jawa, “pener” berarti lurus, benar, selaras dengan tatanan semesta. Kehidupan yang “pener” adalah kehidupan yang harmonis—di mana penguasa melindungi rakyatnya, di mana yang kuat melindungi yang lemah, di mana kekuasaan digunakan untuk melayani, bukan untuk menindas. Kehidupan yang “ora pener” adalah kebalikannya: kehidupan di mana harmoni telah rusak, di mana kekuasaan bertindak sewenang-wenang, di mana yang sakral diinjak-injak oleh yang profan.
Pesan Semesta mendiagnosis bahwa di Surabaya sedang berlangsung “paguripane manungso kang ora pener”. Perampasan gamelan, pengusiran seniman, pembentukan lembaga tandingan, penyusunan Perda yang menghapus sejarah—semua ini adalah gejala dari “ora pener” tersebut. Dan tugas spiritual dari mereka yang mendengarkan Pesan Semesta adalah untuk “ngudal” —mengurai, menyingkap, membongkar—ketidakbenaran ini.
Tetapi “ngudal” bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia membutuhkan keberanian, ketekunan, dan yang paling penting: kejernihan batin. Sebab untuk bisa mengurai ketidakbenaran, kita sendiri harus bersih dari ketidakbenaran. Untuk bisa menyingkap kepalsuan, kita sendiri harus jujur. Untuk bisa membongkar manipulasi, kita sendiri harus autentik.
”SANDHANG PANGANE URIP” HINGGA “NGAWIYAK DALAN URIP E”: MENANTIKAN DATANGNYA KEADILAN
”Sandhang pangane Urip, Titik wancine segoro ambrol soko kidul. Dandhang gulo wayah e kabuka siji siji. Poro pangeran bakal nyekel senjata. Ngawiyak dalan Urip e.”
Bait ini membawa kita pada dimensi eskatologis —dimensi yang berbicara tentang akhir dari tatanan yang tidak benar dan permulaan dari tatanan yang baru.
“Sandhang pangane Urip” —sandang pangan kehidupan. Dalam konteks konflik DKS, ini bisa dimaknai sebagai kebutuhan spiritual para seniman yang telah dirampas: kebutuhan akan ruang berkarya, kebutuhan akan pengakuan, kebutuhan akan keadilan. Ketika kebutuhan dasar ini dirampas, maka “titik wancine” —saatnya telah tiba. Saat perubahan besar akan terjadi.
“Segoro ambrol soko kidul” —laut runtuh dari selatan. Ini adalah gambaran tentang kekuatan dahsyat yang akan datang. Dalam kosmologi Jawa, selatan adalah arah yang sakral sekaligus berbahaya—wilayah kekuasaan Kanjeng Ratu Kidul, Ratu Laut Selatan. “Ambruknya” laut dari selatan adalah metafora tentang datangnya gelombang keadilan yang tidak bisa dibendung oleh kekuasaan profan mana pun.
“Dandhang gulo wayah e kabuka siji siji” —Dandhang gulo saatnya terbuka satu per satu. Bagi mereka yang akrab dengan tradisi tembang macapat, Dandhang Gulo adalah salah satu metrum yang paling sering digunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran kebijaksanaan. Bahwa Dandhang Gulo akan “kabuka siji siji” berarti bahwa rahasia-rahasia kebijaksanaan akan tersingkap secara bertahap. Tidak sekaligus, tetapi satu per satu—sebagaimana bunga yang mekar kelopak demi kelopak.
“Poro pangeran bakal nyekel senjata. Ngawiyak dalan Urip e” —Para pangeran akan memegang senjata. Membuka jalan kehidupannya. Siapakah “poro pangeran” ini? Dalam konteks spiritual, mereka adalah jiwa-jiwa pilihan, para pejuang kebenaran, para satria yang akan turun tangan ketika ketidakadilan telah mencapai batasnya. “Senjata” mereka bukanlah senjata fisik, melainkan senjata spiritual: keberanian moral, kebijaksanaan, dan cinta pada kebenaran. Mereka akan “ngawiyak dalan Urip e” —membuka jalan kehidupan yang selama ini tertutup oleh kekuasaan yang zalim.
”SUMEBYARO SOKO KIDUL. SUMURUP O SOKO LATHI”: CAHAYA DARI SELATAN
”Sumebyaro soko kidul. Sumurup o soko lathi.” – Bersinarlah dari selatan. Ketahuilah dari mulut.
Bait ini adalah seruan dan sekaligus petunjuk. “Sumebyaro” adalah kata yang indah—ia berarti bersinar, bercahaya, memancarkan terang. Ini adalah seruan agar cahaya spiritual memancar dari selatan, menerangi kegelapan yang sedang melanda Surabaya.
Mengapa selatan? Kita telah menyinggung ini sebelumnya: selatan adalah arah yang sakral dalam kosmologi Jawa, arah yang diasosiasikan dengan kekuatan spiritual yang dahsyat. Tetapi ada makna lain yang lebih kontemplatif: selatan adalah arah yang berlawanan dengan utara. Dalam peta, utara biasanya ditempatkan di atas—simbol dari kekuasaan, dari hierarki, dari yang dominan. Selatan adalah yang di bawah, yang tersubordinasi, yang seringkali diabaikan.
“Sumebyaro soko kidul” bisa dimaknai sebagai seruan agar cahaya justru datang dari yang diabaikan, dari yang dipinggirkan, dari yang dianggap tidak penting oleh kekuasaan. Cahaya itu datang bukan dari istana wali kota, bukan dari gedung-gedung birokrasi, melainkan dari “kidul” —dari para seniman yang diusir, dari gamelan yang dirampas, dari anak-anak yang kehilangan ruang latihannya.
“Sumurup o soko lathi” —Ketahuilah dari mulut. Sekali lagi, “lathi” ditekankan sebagai sumber pengetahuan. Kebenaran tidak akan ditemukan dalam dokumen; ia akan ditemukan dalam suara-suara yang berani, dalam kata-kata yang jujur, dalam tuturan yang keluar dari batin yang bersih.
”EYANG SATRIYA ERLANGGA”: LELUHUR YANG BANGKIT
”Eyang satriya erlangga bakal ngawiyak soko tlatah suroboyo. Gerbang panguasane eyang paman sampun kawiyak.”
Eyang Satriya Erlangga akan membuka dari wilayah Surabaya. Gerbang kekuasaan eyang paman sudah terbuka.
Siapakah Eyang Satriya Erlangga? Dalam kontemplasi spiritual, beliau adalah roh leluhur Surabaya —akumulasi dari energi spiritual para pendahulu yang telah membangun kota ini selama berabad-abad. “Eyang” adalah panggilan hormat kepada leluhur. “Satriya” adalah kasta kesatria, pejuang kebenaran. “Erlangga” —atau Airlangga—adalah raja besar Jawa Timur abad ke-11 yang dikenal sebagai pemersatu dan pelindung kebudayaan.
Dengan menyebut Eyang Satriya Erlangga, Pesan Semesta mengingatkan bahwa Surabaya memiliki akar spiritual yang sangat dalam. Kota ini bukanlah sekadar kumpulan gedung dan jalan; ia adalah entitas spiritual yang dijaga oleh leluhur. Dan ketika ketidakadilan mencapai batasnya, leluhur itu akan bangkit. “Gerbang panguasane eyang paman sampun kawiyak”—gerbang kekuasaannya sudah terbuka, dan tidak ada kekuasaan profan yang bisa menutupnya.
Ini adalah sumber penghiburan yang luar biasa bagi para seniman yang sedang berjuang. Mereka mungkin kalah secara administratif—gedung mereka dikosongkan, gamelan mereka dirampas, nama lembaga mereka akan dihapus dari Perda. Tetapi mereka memiliki sekutu yang lebih kuat dari Wali Kota, lebih kuat dari Satpol PP, lebih kuat dari birokrasi: mereka memiliki leluhur yang bangkit.
”GAMELAN DALAN SUMELEHNE BATHIN”: INSTRUMEN SEBAGAI JALAN MENUJU TUHAN
DAN kini kita sampai pada jantung spiritual dari Pesan Semesta—bagian yang paling dalam, paling menyentuh, dan paling relevan dengan apa yang terjadi di Surabaya:
“Gendhing gamelan Kang kapundhut soko griyo Seni, kamongko gamelan dalan sumelehne Bathin marang ingkang damel gesang.”
(Gending gamelan yang diambil dari rumah seni, padahal gamelan adalah jalan menenangkan batin menuju Yang Menciptakan kehidupan.)
Izinkan kami mengajak Anda untuk merenungkan bait ini secara mendalam, seolah kita sedang duduk bersama dalam keheningan, membiarkan setiap kata meresap ke dalam batin.
Gamelan adalah jalan. Bukan sekadar alat. Bukan sekadar properti. Bukan sekadar “aset daerah”. Ia adalah dalan —jalan, path, way. Dalam tradisi spiritual, jalan adalah konsep yang sangat penting. Jalan adalah apa yang menghubungkan pencari dengan Yang Dicari. Jalan adalah apa yang dilalui oleh peziarah menuju rumah Tuhannya. Gamelan, bagi para seniman Jawa, adalah jalan semacam itu. Ia bukan tujuan, melainkan medium. Ia bukan yang disembah, melainkan apa yang mengantarkan kepada Yang Disembah.
Gamelan adalah jalan untuk menenangkan batin. Sumeleh adalah salah satu konsep paling indah dalam spiritualitas Jawa. Ia berarti tenang, pasrah, menerima—bukan dalam arti menyerah tanpa usaha, melainkan dalam arti berserah diri kepada kehendak Ilahi setelah melakukan yang terbaik. Sumeleh adalah kondisi batin yang damai, yang tidak lagi diguncang oleh kekhawatiran dan ketakutan. Dan gamelan—dengan iramanya yang teratur, dengan harmoninya yang menenangkan, dengan gong yang menandai akhir dari setiap siklus—adalah jalan untuk mencapai sumeleh itu.
Gamelan adalah jalan menuju Yang Menciptakan kehidupan. Ini adalah pengakuan ontologis yang paling tinggi: bahwa gamelan adalah instrumen transendensi. Ia adalah medium yang memungkinkan manusia melampaui dirinya sendiri dan menyentuh Yang Sakral. Setiap pukulan kendang adalah dzikir. Setiap getaran gong adalah doa. Setiap gending adalah perjalanan spiritual dari keheningan menuju keheningan—dari suwung menuju suwung, dari Tuhan menuju Tuhan.
Maka, ketika pada 4 Mei 2026 Satpol PP mengangkut gamelan dari Sekretariat DKS, yang terjadi bukanlah sekadar “penertiban aset”. Yang terjadi adalah pemutusan jalan spiritual. Yang terjadi adalah penghentian paksa dari sebuah perjalanan menuju Tuhan. Yang terjadi adalah—dalam bahasa yang paling telanjang—pembunuhan spiritual.
Renungkanlah: apa yang lebih kejam dari merampas jalan seseorang menuju Tuhannya? Apa yang lebih zalim dari menghancurkan medium yang digunakan oleh sekelompok manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta?
”TUMINDAK KANG LUPUT, NGAWIYAK SOKO SENI”: SENI YANG MENYINGKAP KEBENARAN
”Tumindak Kang luput, ngawiyak soko Seni.” – Tindakan yang keliru, terbuka dari seni.
Bait ini mengandung epistemologi seni yang sangat dalam. Seni, dalam perspektif Pesan Semesta, bukanlah sekadar hiburan atau dekorasi. Seni adalah instrumen penyingkap kebenaran. Melalui seni, tindakan-tindakan yang keliru akan tersingkap. Melalui seni, apa yang disembunyikan oleh kekuasaan akan terbongkar. Melalui seni, yang gelap akan diterangi.
Mengapa seni memiliki daya ini? Karena seni sejati lahir dari kejujuran. Seorang seniman sejati tidak bisa berbohong ketika ia berkarya. Kebohongan akan terasa dalam nada yang sumbang, dalam warna yang kusam, dalam kata yang hampa. Seni sejati selalu merupakan ekspresi dari apa yang paling dalam, paling jujur, paling autentik dari diri seorang seniman. Dan karena itulah, seni memiliki daya untuk menyingkap—karena ia sendiri adalah penyingkapan.
“Tumindak kang luput, ngawiyak soko Seni” adalah peringatan keras bagi siapapun yang menggunakan kekuasaan untuk menindas. Anda boleh menyembunyikan motif Anda di balik jargon “penataan” dan “transformasi”. Anda boleh menutupi tindakan Anda dengan dokumen dan peraturan. Tetapi Seni akan menyingkap semuanya. Para penyair akan menulis puisi yang membongkar kebusukan Anda. Para pelukis akan melukis kanvas yang mempertontonkan kelaliman Anda. Para pemain gamelan akan memainkan gending yang menceritakan kepada generasi mendatang tentang apa yang telah Anda lakukan.
”BANASPATI DADI CEKELANE”: MEREKA YANG MEMEGANG API DESTRUKSI
”Senajano banaspati Dadi cekelane. Mung siji sing ora di duweni manungso laknat. Nuranine bakal kapites.”
Meskipun banaspati menjadi pegangannya. Hanya satu yang tidak dimiliki manusia laknat. Nuraninya akan terjepit.
Banaspati. Sosok dalam mitologi Jawa yang menyeramkan: raksasa api yang hanya berupa kepala tanpa tubuh, dengan lidah api yang menjulur-julur. Ia adalah simbol dari kekuatan destruktif yang murni—kekuatan yang hanya bisa membakar dan menghancurkan, tanpa kemampuan untuk membangun, tanpa kapasitas untuk mencintai.
“Banaspati dadi cekelane” —Banaspati menjadi pegangannya. Dalam konteks konflik DKS, ini adalah metafora yang mengerikan dan tepat. Kekuasaan birokratis yang digunakan untuk menghancurkan—Satpol PP yang mengosongkan sekretariat, Wali Kota yang membentuk lembaga tandingan, birokrasi yang menyusun Perda penghapusan—semua ini adalah “banaspati” dalam bentuknya yang modern. Kekuatan yang hanya bisa menghancurkan, tetapi tidak bisa membangun.
Namun, Pesan Semesta memberikan diagnosis yang paling tajam: mereka yang menggunakan banaspati sebagai pegangan akan kehilangan nurani. “Nuranine bakal kapites”—nuraninya akan terjepit, terhimpit, mati perlahan.
Ini adalah hukum spiritual yang tak terhindarkan. Setiap kali seseorang menggunakan kekuatan destruktif, nuraninya terkikis sedikit demi sedikit. Awalnya mungkin masih ada rasa bersalah. Masih ada suara hati yang berbisik, “Ini salah.” Tetapi semakin sering banaspati digunakan, semakin redup suara itu. Hingga akhirnya, yang tersisa hanyalah “manungso laknat”—manusia terkutuk yang telah kehilangan kemampuan untuk membedakan benar dan salah.
“Mung siji sing ora di duweni manungso laknat” —Hanya satu yang tidak dimiliki manusia laknat. Satu-satunya hal yang membedakan manusia dari banaspati adalah nurani. Banaspati adalah api tanpa hati; ia membakar tanpa merasa. Manusia yang telah kehilangan nuraninya pada dasarnya telah berubah menjadi banaspati—secara fisik manusia, tetapi secara spiritual raksasa.
”CIKAL BAKAL SUROBOYO BAKAL KABUBAT SOKO LATHI”: SEJARAH YANG TAK TERHAPUSKAN
”Cikal bakal suroboyo bakal kabubat soko lathi.” – Cikal bakal Surabaya akan terurai dari mulut.
Pesan Semesta ditutup dengan jaminan yang paling menghibur: bahwa sejarah tidak bisa dihapus oleh kekuasaan.
Pemerintah Kota Surabaya bisa saja menghapus nama “Dewan Kesenian Surabaya” dari Perda. Mereka bisa menggantinya dengan “Dewan Kebudayaan Daerah” yang sepenuhnya di bawah kendali Wali Kota. Mereka bisa membangun narasi baru bahwa DKS “sudah tidak relevan” atau “sudah ditransformasi”. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa mereka lakukan: menghapus “cikal bakal” —asal-usul, fondasi, akar historis.
“Cikal bakal suroboyo bakal kabubat soko lathi” —Asal-usul Surabaya akan terurai dari mulut. Sejarah tidak disimpan dalam arsip pemerintah yang bisa dimanipulasi. Sejarah disimpan dalam lathi —dalam tuturan, dalam cerita, dalam kesaksian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selama masih ada “lathi” yang berani berbicara, sejarah tidak akan bisa dihapus.
Para seniman yang diusir dari Balai Pemuda akan terus bercerita kepada anak-cucu mereka. “Dulu, di gedung itu, kami bermain gamelan. Dulu, di ruang itu, kami melahirkan karya-karya yang membanggakan. Dulu, sebelum Wali Kota mengusir kami, Surabaya memiliki rumah bagi para senimannya.” Cerita ini akan terus hidup—”kabubat soko lathi”, terurai dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Dan selama cerita itu hidup, DKS tidak akan pernah benar-benar mati.
”SOPO SIRO SOPO INGSUN”: PENUTUP YANG KONFRONTATIF
”Sopo siro sopo ingsun. Sampun wancinipun eyang panan ngawiyak.”
Siapa kau siapa aku. Sudah waktunya eyang membuka.
“Sopo siro sopo ingsun” adalah ungkapan yang sangat terkenal dalam tradisi spiritual Jawa. Secara harfiah ia berarti “Siapa kau, siapa aku.” Tetapi maknanya jauh melampaui pertanyaan identitas sederhana. Ia adalah deklarasi kesetaraan ontologis —penegasan bahwa di hadapan semesta, di hadapan ingkang damel gesang, semua manusia adalah setara.
Wali Kota dengan kekuasaannya, birokrat dengan dokumen-dokumennya, seniman dengan gamelannya, rakyat biasa dengan suaranya—semuanya sama. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Semua akan kembali kepada-Nya. Semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuatnya.
“Sampun wancinipun eyang panan ngawiyak” —Sudah waktunya eyang membuka. Setelah semua diagnosis, setelah semua peringatan, setelah semua penghiburan, kini saatnya untuk bertindak. “Ngawiyak” —membuka, menyingkap, memulai. Mata air kebenaran akan dibuka. Jalan keadilan akan disingkapkan. Babak baru dalam perjuangan akan dimulai.
REFLEKSI AKHIR: KEBANGKITAN SEJATI
DUA PULUH MEI. Dua kebangkitan. Satu di tahun 1908, satu di tahun 2026. Satu ditandai dengan lahirnya organisasi modern, satu ditandai dengan bisikan langit dalam bahasa Jawa kuno.
Apa yang bisa kita renungkan dari perjumpaan dua kebangkitan ini?
Kebangkitan sejati, rupanya, bukanlah peristiwa yang terjadi sekali lalu selesai. Ia adalah proses yang terus berlanjut. Boedi Oetomo lahir pada 1908, tetapi “budi yang utama” belum sepenuhnya terwujud hingga hari ini. Masih ada “paguripan kang ora pener” —kehidupan yang tidak benar—yang perlu “diudal”. Masih ada banaspati yang dijadikan pegangan oleh kekuasaan. Masih ada gamelan yang dirampas dari rumah seni.
Kebangkitan sejati, rupanya, bukanlah sekadar perubahan politik. Ia adalah kebangkitan kesadaran —kesadaran bahwa kita adalah bagian dari “jagad-jagad e Urip” yang lebih besar, kesadaran bahwa kemanusiaan sejati dicapai melalui “lathi geni” —keberanian untuk bersuara, kesadaran bahwa pengetahuan sejati “ngawiyak soko jagad cilik” —lahir dari kedalaman batin, bukan dari dokumen-dokumen formal.
Dan kebangkitan sejati, akhirnya, adalah kebangkitan spiritual —kebangkitan untuk kembali pada ingkang damel gesang, pada Sang Pencipta kehidupan, melalui jalan yang telah disediakan. Bagi para seniman Surabaya, jalan itu adalah gamelan. Ketika jalan itu dirampas, mereka tidak menyerah. Mereka terus berjuang. Karena mereka tahu: gamelan boleh diangkut, tetapi “dalan sumelehne Bathin” —jalan menenangkan batin—tidak bisa diangkut oleh Satpol PP. Gedung boleh dikosongkan, tetapi “cikal bakal” —asal-usul—tidak bisa dikosongkan dari ingatan.
“Sopo siro sopo ingsun. Sampun wancinipun eyang panan ngawiyak.”
Siapa kau, siapa aku. Sudah waktunya kebenaran terungkap.
Semoga kita semua—di Surabaya, di Jakarta, di seluruh Indonesia—bisa mendengarkan bisikan langit ini. Dan semoga kita memiliki keberanian untuk bangkit. Bukan hanya sekali pada 1908, tetapi setiap kali “paguripan kang ora pener” menampakkan diri, setiap kali banaspati dijadikan pegangan, setiap kali gamelan dirampas dari rumah seni.
A Luta Continua.
Surabaya, 20 Mei 2026
Hari Kebangkitan Nasional












