Monwnews.com, Kadang semesta mempertemukan manusia bukan di ruang seminar,
bukan di podium kekuasaan,
bukan pula di forum-forum resmi penuh jas dan protokoler.
Melainkan di malam yang sunyi.
Di sela lampu kota yang mulai lelah menyala.
Di antara percakapan sederhana yang justru menyimpan kedalaman makna.
Alhamdulillah, dini hari ini saya dipertemukan dengan seorang pakar Community Policing yang pernah disekolahkan POLRI ke Jepang bolak-balik dan dikenal sebagai salah satu sosok yang memahami roh POLMAS bukan sekadar sebagai konsep keamanan… tetapi sebagai falsafah hubungan manusia.
Menariknya, beliau memperkenalkan dirinya dengan amat sederhana:
> “Saya Imam…”
Tanpa pangkat.
Tanpa gelar akademik berjejer.
Tanpa kebutuhan menunjukkan siapa dirinya.
Dan justru di situlah saya melihat kualitas yang mulai langka di zaman penuh pencitraan:
kerendahan hati orang yang benar-benar berisi.
Beliau menggenggam sebuah tumbler biru.
Sederhana. Bersahaja. Tenang.
Tapi percakapan kami malam itu seperti membuka satu ruang yang selama ini hilang dalam diskursus reformasi Polri:
bahwa keamanan tidak cukup dibangun dengan struktur.
Tidak cukup dengan undang-undang.
Tidak cukup dengan pengawasan kelembagaan.
Karena pada akhirnya, keamanan adalah soal hubungan sosial.
Soal rasa percaya.
Soal bagaimana masyarakat memandang polisi bukan sebagai alat kekuasaan…
melainkan bagian dari denyut kehidupan rakyat itu sendiri.
Dan malam ini terasa semakin reflektif karena kami dipertemukan oleh seorang jurnalis senior yang memilih “menggantungkan pena”-nya ketika dunia jurnalistik perlahan berubah menjadi paduan suara.
Beliau memilih jalan sunyi: fotografi.
Kalimat beliau sederhana, tetapi menghantam batin saya cukup dalam:
> “Biarlah photo yang bicara, karena di balik sebuah karya photo ada sejuta narasi.”
Saya terdiam.
Karena mungkin benar…
Sebuah bangsa tidak kehilangan arah ketika orang berhenti berbicara.
Bangsa kehilangan arah ketika semua orang berbicara dengan nada yang sama.
Dan mungkin itu pula sebabnya POLMAS menjadi penting.
Karena Community Policing bukan sekadar polisi mendekati masyarakat.
Ia adalah upaya membangun kembali jembatan kepercayaan antara negara dan rakyat.
Membangun kembali hubungan yang selama ini retak oleh ketakutan, jarak sosial, dan formalitas kekuasaan.
Maka saya teringat satu kutipan tajam dari Julian Corbett:
> “You can build a ship under 3 years, but you can not rebuild a relationship under 300 years.”
Membangun kapal bisa cepat.
Membangun gedung institusi bisa cepat.
Menyusun regulasi juga bisa cepat.
Tetapi membangun kembali kepercayaan rakyat…
itu pekerjaan lintas generasi.
Dan malam ini saya semakin yakin:
Reformasi Polri tanpa roh POLMAS hanyalah bangunan kokoh yang kosong denyut kemanusiaannya.
Karena hukum sejatinya bukan hanya tentang siapa yang berkuasa.
Tetapi tentang siapa yang merasa dilindungi.
Dodi Ilham
Ketua Umum New Emerging Forces Aktivist 98 (NEFA’98)
Spesialis Security Sector Reform












