Surat Untuk Carintem

Oleh: Ismail Arif - Sastrawan

Sastrawan Indonesia, Sardan Sarjito
Sastrawan Indonesia, Ismail Arif

Alam pikiran Yunani membawa penglihatan kita menjadi pertanyaan.
Hingga untuk urusan “iya” dan “tidak” kita harus berdebat berkepanjangan.
Tak ada yang “iya” dan “tidak” pada ujungnya.
Tidak untuk oligarki yang menjadikan rakyat hanya sebagai figuran.
Tidak juga otoritarian yang menempatkan rakyat sebagai tawanan.
Sementara demokrasi hanya menjadi alasan si kuat untuk memperbudak si lemah secara sah dan sesuai aturan

“Apakah manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, Samantha?” Demikian pertanyaanku terakhir yang aku layangkan

Namamu Carintem, kini jadi Samantha.
Sudah lama juga kamu tinggal di negeri Paman Sam.
Kamu kerap bercerita tentang agungnya kampus Harvard, Ohio, Georgetown dan Barkeley.
Memutakhirkan cara berpikir dan tindakan agar hidup lebih beradab penuh kesopanan.
Berbagi pengalaman tentang seminar dan diskusi ilmiah juga megahnya orasi kebudayaan di kampus gudang pemikiran.

Betapa moderen dan luasnya pemikiran kalian.
Jangan kamu bandingkan cara hidup di sana dengan di desa kita.
Kamu masih ingat dengan Daskim kawan kita, Samantha?
Hingga kini dia masih terus bertanya, apakah Carintem menyintainya.
Engkau meninggalkan tanya pada dirinya, Samantha.

Samantha, aku juga ingin sepertimu.
Aku selalu mengenangmu.
Ketika setiap senja tiba, kita duduk di tepi pantai, bercengkerama membicarakan politik, agama dan pembagian rejeki yang jaraknya kian seperti langit dan comberan saja.
Tentu dengan pikiran yang lebih terbuka, dengan kearifan lokal yang kita punya.

Tapi orang-orang banyak menertawakan kita.
Membuang ide-ide kita ke tong sampah.
Mereka lebih percaya kepada dusta.
Membuang jauh hasrat, harapan dan masa depan. Mengandalkan kelicikan dan perkoncoan ketimbang nurani dan objektifitas pemikiran.

Samantha, semenjak kamu pergi, senja hari di desa kita tak pernah lagi sama.
Kamu mungkin lebih beruntung dari kami semua.
Mungkin.
Sebab ilmu pengetahuan kerap melahirkan manusia cerdas yang bisa membangun kehidupan.
Tapi juga bisa melahirkan manusia penindas yang karena kepandaiannya tak bisa disalahkan.

Samantha, bilakah engkau kembali untuk mewujudkan mimpi yang dulu sering kita bicarakan?
Atau engkau akan menjadi penguasa baru bagi keperluan para tuan yang menyekolahkan?
Apapun, kita semua adalah teman.
Dan bumi ini tempatmu dilahirkan.

Kami semua merindukanmu, Samantha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *