Monwnews.com, Unggahan singkat di sebuah media sosial yang menyatakan, “Orang Jawa tidak merebut kekuasaan dengan suara keras,” melintas begitu saja di linimasa, tetapi bagi mereka yang telinga batinnya masih menyimpan getar tembang-tembang leluhur, kalimat itu adalah sebongkah permata yang memantulkan seluruh samudra makna. Ia bukan sekadar klise tentang kehalusan atau stereotipe tentang kelembutan; ia adalah kunci untuk memasuki sebuah kosmologi yang menempatkan kekuasaan bukan sebagai hasil pergulatan, melainkan sebagai cahaya yang turun ke dalam keheningan. Di tengah dunia yang kian gemuruh oleh retorika, propaganda, dan teriakan saling menjatuhkan, ajaran spiritual Jawa tentang bagaimana kekuasaan diraih dalam diam laksana angin malam yang justru sanggup mengubah arah musim tanpa perlu menggelegar.
Untuk memahami kedalaman kalimat itu, kita mesti berani menyelami lebih dulu konsep kekuasaan dalam alam pikir Jawa. Saya mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru, sebab dalam kebudayaan ini, pemahaman sejati tidak pernah lahir dari kecepatan. Mari kita duduk, menata rasa, dan memasuki ruang-ruang sunyi di mana kekuasaan bukan soal siapa yang berbicara paling keras, melainkan siapa yang mampu menampung wahyu yang jatuh dalam kesunyian.
Kekuasaan sebagai Zat Kosmis: Bukan Direbut, Melainkan Dijemput dalam Diam
Benedict Anderson, dalam esainya yang termasyhur, “The Idea of Power in Javanese Culture” (1972), mengungkap sebuah perbedaan mendasar yang sering luput dari pengamatan modern. Di Barat, kekuasaan dipahami secara abstrak dan relasional: ia adalah soal hubungan antarmanusia, sesuatu yang bisa dibagi, diambil, dan dikurangi. Kekuasaan seperti kue, jika satu pihak memegang lebih banyak, pihak lain pasti kehilangan. Maka, wajar jika perebutan kekuasaan di Barat terjadi secara terbuka, penuh debat, dan—ya—bersuara keras.
Tetapi di dalam batin budaya Jawa, kekuasaan bukanlah itu. Kekuasaan adalah energi konkret, nyata, sebuah daya yang mengisi semesta. Ia adalah kasekten, wahyu, pulung—cahaya ilahi yang jumlahnya tetap di alam raya. Kekuasaan tidak bertambah atau berkurang; ia hanya berpindah, terkonsentrasi, atau memudar, seperti mega yang bergerak menuju satu titik lalu menurunkan hujan. Maka, tugas seorang pemimpin bukanlah merebut kekuasaan dari tangan orang lain, melainkan menyucikan diri agar menjadi wadah yang layak menampung cahaya yang sedang mencari muara.
Falsafah ini melahirkan sebuah implikasi spiritual yang sangat dalam: suara keras adalah tanda ketidaklayakan. Suara adalah getaran, dan getaran yang terlampau kasar hanya akan mengaduk-aduk telaga batin, membuat air kehidupan menjadi keruh. Bagaimana mungkin wahyu yang suci mau turun ke dalam wadah yang terus berguncang oleh nafsu, ambisi, dan kata-kata yang menyembur tak terkendali? Maka, orang Jawa yang berhasrat memperoleh kekuasaan justru memilih untuk menepi. Ia masuk ke dalam gua pertapaan, duduk di tengah hutan, atau sekadar menutup mulut dan membuka hati di bilik rumahnya. Dalam keheningan itulah ia ngeningke cipta, menenangkan pikiran, dan ngempet hawa, menahan nafsu, agar pancaran semesta mau berlabuh di ujung rasanya.
Di sinilah kita bertemu dengan esensi spiritual yang paling halus: perebutan kekuasaan tanpa suara bukanlah bentuk kepasifan, melainkan sebuah laku yang sangat aktif di alam batin. Ini adalah jihad spiritual untuk mengosongkan ego, mematikan keakuan, agar yang tersisa hanyalah wadah kosong yang siap diisi oleh karsaning Kang Maha Agung. Dalam tradisi kejawen, inilah yang dinamakan manembah, suatu sikap penyembahan total di mana hamba meniadakan dirinya agar Tuhan bertakhta di dalam jiwanya. Raja yang sejati bukanlah dia yang berteriak, “Akulah penguasa!”, melainkan dia yang mampu berbisik dalam hati, “Aku hanya alat-Mu.”
Wahyu dan Tapa Brata: Kisah-Kisah Gaib Perebut Takhta
Khasanah babad dan serat Jawa dipenuhi dengan kisah-kisah mistik tentang bagaimana wahyu kekuasaan turun bukan di tengah keramaian pasar atau di atas mimbar debat, melainkan di puncak gunung yang sepi, di kedalaman gua, di tepi samudra yang hanya diiringi debur ombak. Kisah Panembahan Senapati, pendiri Dinasti Mataram, adalah salah satu yang paling monumental. Sebelum mendirikan kerajaan besar, ia tidak menggalang pasukan dengan orasi berapi-api. Ia justru pergi ke Pantai Selatan, bersemadi di tengah gelombang, hingga konon bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut selatan. Dari pertemuan itulah ia memperoleh pengakuan dan wahyu kedaton. Suara debur ombak yang dahsyat justru menjadi latar bagi sebuah kesunyian batin yang menghasilkan kekuasaan.
Tradisi semacam ini bukan sekadar legenda. Ia adalah cetak biru spiritual yang dihayati oleh masyarakat Jawa selama berabad-abad. Tapa brata, laku prihatin, dan semedi menjadi jalan utama untuk meraih kasekten. Dalam laku ini, jasmani ditekan, makanan dikurangi, tidur dipersempit, dan ucapan dihentikan. Mulut dikunci rapat, karena orang Jawa percaya bahwa setiap kata yang keluar tanpa kendali adalah kebocoran daya. Energi yang seharusnya disimpan untuk menarik wahyu justru habis terbuang dalam perbincangan sia-sia. Maka, mbisu (membisu) adalah salah satu bentuk tapa yang dihormati. Di situlah orang belajar bahwa keheningan bukanlah ketiadaan; ia adalah rahim tempat kekuasaan sejati dikandung.
Kekuasaan yang direbut tanpa suara keras, dengan demikian, adalah kekuasaan yang memiliki legitimasi kosmis. Ia tidak berasal dari suara mayoritas yang bisa dimanipulasi, tetapi dari suara hati nurani alam semesta yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang telinga batinnya telah diasah oleh laku spiritual. Inilah yang dalam terminologi Jawa disebut waskitha: kemampuan membaca tanda-tanda tanpa harus dijelaskan. Pemimpin waskitha tidak butuh laporan berlembar-lembar atau polling pendapat; ia cukup ngrasakake getar jaman, dan dari getar itu ia tahu ke mana arah angin sejarah bertiup. Maka, ia sering terkesan diam. Diamnya bukan karena kosong, melainkan karena terlalu penuh oleh isyarat semesta yang diterjemahkan dalam batin.
Etika Harmoni dan Bunyi sebagai Gangguan Kosmis
Dari kosmologi itu, turunlah etika sosial yang sangat menjunjung harmoni. Prinsip rukun dan tentrem menjadi dua sayap yang menopang kehidupan bersama. Rukun berarti menjaga permukaan sosial tetap halus, tanpa robekan konflik. Tentrem berarti ketenteraman yang bukan hanya fisik, melainkan juga psikis dan spiritual. Suara keras adalah musuh utama keduanya. Suara keras menciptakan riak, dan riak sekecil apa pun bisa berubah menjadi gelombang yang mengganggu keseimbangan.
Dalam filosofi Jawa, bunyi itu sendiri memiliki daya. Bunyi bukan sekadar gelombang mekanis; ia adalah getaran yang bisa memengaruhi jiwa dan alam halus. Gamelan yang ditabuh dengan lembut mendatangkan ketenangan; sebaliknya, suara bentakan menciptakan hawa panas yang bisa memicu pertengkaran dan bahkan menarik kekuatan-kekuatan negatif. Oleh karena itu, mengendalikan suara adalah bagian dari ngelmu (ilmu spiritual). Orang Jawa yang matang secara rohani akan berbicara pelan, penuh ngati-ati, dan selalu memilih kata dengan rasa. Bahkan dalam situasi konflik sekalipun, ia akan menggunakan pasemon (sindiran halus) atau sanepa (kiasan) yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memiliki ketajaman rasa. Perebutan kekuasaan, dengan demikian, terjadi dalam relung-relung makna, bukan di atas pentas teriakan.
Mari kita renungkan makna di balik unen-unen: “Wong Jawa iku nggone rasa, dudu nggone omong.” Orang Jawa itu tempatnya rasa, bukan tempatnya omong. Kata-kata hanyalah kulit luar; inti sesungguhnya terletak pada rasa yang mengalir di bawahnya. Dalam politik model ini, seorang negarawan tidak perlu berdebat panjang lebar. Ia cukup mengucapkan sepatah dua patah kata yang padat, dan kata-kata itu akan bekerja seperti mantra yang meresap ke dalam sanubari pendengarnya. Pidato Bung Karno mungkin berapi-api, tetapi di kalangan para priyayi Jawa justru ada kekaguman terhadap pemimpin yang berbicara sedikit namun sarat makna. Seperti Soeharto yang hanya perlu tersenyum tipis dan seluruh ruangan menjadi hening. Keheningan itu sendiri sudah merupakan pernyataan kekuasaan yang jauh lebih dahsyat daripada suara lantang.
Alon-Alon Waton Kelakon: Strategi Kosmis Menjemput Takdir
Salah satu mutiara kearifan Jawa yang paling sering dikutip, tetapi jarang dihayati secara mendalam, adalah alon-alon waton kelakon. Di permukaan, ungkapan ini terdengar seperti nasihat untuk tidak tergesa-gesa. Namun, di baliknya tersimpan strategi kosmis yang sangat radikal: kekuasaan tidak perlu dikejar, karena ia akan datang sendiri kepada siapa pun yang selaras dengan irama semesta. Irama semesta adalah lambat, pasti, dan tanpa paksaan. Padi tumbuh setapak demi setapak, musim berganti tanpa perlu diteriaki, dan air mengalir mencari tempat rendahnya sendiri.
Maka, mereka yang merebut kekuasaan dengan suara keras sesungguhnya sedang melawan kodrat. Mereka ingin mempercepat sesuatu yang memiliki waktunya sendiri, dan setiap usaha mempercepat itu hanya akan melahirkan ketidakseimbangan. Pemimpin yang lahir dari ambisi dan teriakan, menurut kosmologi ini, adalah pemimpin kesusu—dan karena kesusu, ia tidak akan kokoh. Pondasi spiritualnya rapuh karena dibangun di atas pasir nafsu, bukan di atas batu karang laku.
Falsafah alon-alon ini juga mengajarkan seni menunggu yang aktif. Menunggu bukan berarti pasif dan berpangku tangan. Menunggu dalam konteks Jawa adalah masa mengolah diri, mematangkan batin, dan membangun daya secara senyap. Ibarat seorang petani yang menanti panen, ia tidak hanya duduk di teras, tetapi setiap hari pergi ke sawah, membersihkan gulma, mengalirkan air, dan mengusir hama. Semua itu dilakukan tanpa perlu berseru kepada tetangga tentang betapa hebatnya ia bekerja. Demikian pula seorang calon pemimpin sejati: ia bekerja membangun kapasitas, merawat relasi dengan rasa, dan memancarkan keteduhan, sampai suatu hari masyarakat—atau semesta itu sendiri—menunjuknya sebagai tempat berteduh tanpa ia perlu berkampanye.
Manunggaling Kawula Gusti: Pemimpin sebagai Titik Hening Semesta
Puncak spiritualitas Jawa tentang kekuasaan adalah ajaran manunggaling kawula Gusti. Secara harfiah, ini berarti “menyatunya hamba dengan Tuhan”. Dalam konteks kepemimpinan, ajaran ini diadaptasi menjadi konsep bahwa raja atau pemimpin adalah poros kosmis, mikrokosmos yang merepresentasikan keteraturan ilahi. Ia adalah gunung di tengah dataran, titik hening di pusat pusaran. Dari keheningannya, keteraturan memancar ke segala penjuru, dan rakyat menemukan ketenteraman hanya dengan merasakan bahwa poros itu ada.
Pemimpin yang telah mencapai tingkatan manunggaling kawula Gusti tidak lagi memiliki ambisi pribadi, karena “aku”-nya sudah larut dalam “Aku” Ilahi. Tindakannya adalah tindakan semesta; ucapannya adalah firman tanpa perlu dikeras-keraskan. Suara keras adalah pengingkaran terhadap pencapaian spiritual ini, karena suara keras menandakan masih adanya pemisahan: masih ada “aku” yang ingin diakui, masih ada “aku” yang merasa terancam dan perlu membela diri. Seorang satria pinandhita—ksatria yang sekaligus pandita—telah melampaui kebutuhan akan pengakuan eksternal. Kekuasaannya absah bukan karena tepuk tangan, melainkan karena keselarasan dengan kehendak Yang Maha Kuasa.
Di titik inilah kita menyentuh inti spiritual yang paling halus: kekuasaan sejati adalah kemampuan untuk ngemong (mengayomi) tanpa menggurui, memerintah tanpa memerintah, dan hadir tanpa mendominasi. Inilah wujud dari sepi ing pamrih, rame ing gawe. Semakin sedikit ia berbicara tentang dirinya, semakin besar energinya tercurah untuk karya nyata. Maka, orang Jawa tidak merebut kekuasaan dengan suara keras, karena bagi mereka, kekuasaan yang sejati tidak direbut. Ia mengalir, turun, dan hinggap pada pribadi yang paling sunyi dari ego.
Paradoks Sunyi: Kehalusan sebagai Perisai dan Jebakan
Namun, seperti sebilah keris yang memiliki dua sisi, spiritualitas keheningan dalam politik Jawa pun menyimpan paradoks yang tidak boleh kita abaikan. Dalam sejarahnya, budaya pakewuh, ewuh-pekewuh, dan komunikasi tidak langsung ini kerap menjadi selubung bagi praktik-praktik kekuasaan yang represif. Ketika konflik tidak boleh disuarakan secara terbuka, ia tidak hilang; ia hanya merayap di bawah tanah, menjelma menjadi intrik, gosip, santet politik, dan pembunuhan karakter yang jauh lebih kejam karena tidak pernah bisa dihadapi dengan jantan. Penguasa yang bersembunyi di balik topeng kehalusan bisa jadi adalah seorang tiran yang paling efektif, karena perlawanan terhadapnya dianggap sebagai “tidak sopan” atau “tidak berbudaya”.
Inilah peringatan yang harus kita genggam: spiritualitas kekuasaan Jawa yang luhur jangan sampai berubah menjadi ideologi yang membungkam. Ketika “tidak bersuara keras” dimaknai sebagai larangan bagi rakyat untuk mengkritik, maka yang terjadi adalah kemunafikan massal. Semua tersenyum, tetapi di dalam hati menyimpan luka. Semua berkata inggih, tetapi batin menjerit. Dalam masyarakat yang demikian, harmoni bukanlah buah dari keadilan, melainkan hasil dari tekanan. Kekuasaan yang tidak direbut dengan suara keras akhirnya dipertahankan dengan mematikan suara-suara lain—sebuah ironi yang menyayat.
Kesadaran kritis ini sangat penting, terutama di era demokrasi yang mensyaratkan transparansi dan perdebatan publik. Nilai-nilai kehalusan Jawa harus terus-menerus direinterpretasi agar tidak menjadi alat status quo yang menindas. Kita perlu membedakan antara sunyi yang lahir dari kematangan spiritual dan bisu yang lahir dari ketakutan. Sunyi spiritual adalah pilihan sadar untuk mengendalikan nafsu; bisu karena takut adalah tanda jiwa yang terbelenggu.
Menemukan Kembali Suara Hening di Tengah Bising Zaman
Unggahan “Orang Jawa tidak merebut kekuasaan dengan suara keras” akhirnya menjadi cermin bagi kita semua, bukan hanya bagi mereka yang berdarah Jawa. Dalam dunia yang kian bising ini, di mana algoritma memberikan panggung terbesar kepada siapa yang paling lantang, paling sensasional, dan paling provokatif, ajaran spiritual Jawa tentang keheningan menawarkan sebuah kontra-budaya yang revolusioner. Ia mengingatkan kita bahwa kekuasaan yang dibangun di atas teriakan akan hancur oleh teriakan yang lebih besar; bahwa popularitas yang diperoleh dari retorika akan lenyap oleh retorika baru. Tetapi kekuasaan yang tumbuh dari keheningan batin, dari laku, dari keselarasan dengan semesta, memiliki daya tahan yang melampaui zaman.
Zaman memang telah berubah. Kita tidak bisa lagi memimpin hanya dengan bertapa di gua tanpa turun ke masyarakat. Demokrasi prosedural menuntut kampanye, debat, dan—suka tidak suka—suara yang lantang. Namun, esensi spiritual kejawen tidak harus musnah. Ia bisa bertransformasi. Suara lantang tidak identik dengan suara kasar. Pidato tegas tidak harus berisi makian. Kita bisa berdialektika di ruang publik dengan tetap menjaga tata krama, andhap asor, dan tepa slira. Kita bisa menyampaikan kebenaran dengan keberanian, tetapi tanpa kehilangan kelembutan hati. Inilah tantangan bagi generasi kini: bagaimana menjadi “keras” secara substansi, tetapi tetap “hening” dalam jiwa?
Di level pribadi, ajaran ini mengundang kita untuk berhenti sejenak dari kegaduhan. Sudahkah kita hari ini menciptakan ruang sunyi dalam diri? Sudahkah kita berusaha menjadi wadah yang layak bagi kebaikan, atau kita justru sibuk berteriak meminta pengakuan? Kekuasaan dalam arti luas—sebagai daya, sebagai pengaruh, sebagai kapasitas untuk mengubah keadaan—mungkin tidak perlu kita rebut dengan suara keras. Bisa jadi ia sudah menunggu di dalam keheningan diri kita sendiri, siap tumbuh dan berbuah, asalkan kita mau menyiraminya dengan laku, bukan dengan kata-kata.
Penutup: Mengheningkan Diri Sebelum Kekuasaan Sejati Tiba
Akhirnya, “Orang Jawa tidak merebut kekuasaan dengan suara keras” adalah sebuah kalimat yang terus bergema dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Ia adalah warisan leluhur yang merangkum pandangan dunia, laku spiritual, dan strategi kebudayaan yang kompleks. Kalimat itu mengajak kita untuk merenung: mungkin kita telah terlalu letih oleh suara-suara yang saling serang, mungkin kita telah terlalu muak oleh janji-janji yang diteriakkan tetapi tak ditepati. Mungkin, sekarang saatnya untuk mencari pemimpin yang tidak banyak bicara, tetapi banyak ngrasa; yang tidak menjanjikan, tetapi nyata; yang merebut kekuasaan bukan dengan suara keras, melainkan dengan keheningan jiwa yang meneduhkan.
Dan di ranah yang lebih pribadi, kalimat itu bertanya kepada kita masing-masing: dengan cara apa kita “merebut” pengakuan, posisi, atau pengaruh dalam hidup ini? Masihkah kita mengandalkan suara keras, ataukah kita sudah mulai berani masuk ke gua hati, menjalani tapa brata modern, dan membiarkan mutiara kekuasaan sejati ditemukan justru ketika kita benar-benar diam? Sebab, dalam diam yang paling dalam, di situlah Tuhan bersemayam. Dan dari situlah segala kekuasaan yang bernilai sejati bermula.












