Semangat BERDIKARI, Semangat Bung Karno

Sebuah Tulisan dari Sang Pemerhati Budaya, Tokoh Senior dari GMNI, Tentang Kemandirian

Oleh: Djoko Sumono (Pemerhati Budaya)

BERDIKARI (Berdiri diatas kaki sendiri) adalah sebuah proses yang panjang dan sampai saat ini Berdikari ini menjadi hantu yang paling ditakuti oleh imperialis.

Manusia adalah Dimensi yang multikomplek kongkrit dan individual hidup di dalam ruang dan waktu berada pada posisi Esensinya yang Utuh sebagai Eksistensi yang Autentik.

Berdikari ini adalah keberadaan Idiologis, ia mengandung nilai-nilai dasar yang luhur, ia menjadi dambaan dari setiap individu manusia yang tinggal di muka bumi

Berdikari ini adalah upaya untuk memahami subtansi manusia secara utuh dan menyeluruh.

Berdikari ini adalah salah satu butir Tri Sakti Bung Karno: Berdaulat dibidang politik, Berdikari dibidang ekonomi, berkepribadian didalam Kebudayaan.

Apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan apa yang ada dan menjadi itu adalah ada, apa yang saya kerjakan apa yang saya perjuangkan apa yang saya dapatkan itu adalah menjadi, kerja saya ini adalah rangkaian kegiatan produktif dalam rangka keberdikarian saya sebagai individu manusia yang Merdeka.

Ada sebuah gambaran ontologis tentang Berdikari: lindungilah dirimu sendiri, berdirilah diatas kakimu sendiri, tolonglah dirimu sendiri, gemblenganlah dirimu sendiri, ekploitasi dirimu sendiri, katakan tidak terhadap imperialis yang secara terstruktur sistematis dan masif berusaha mengekploitasi dirimu.

Dalam rangka keberdikarian saya ini, saya bangun Relasi dengan Dunia dengan Spiritualitas GOTONG ROYONG dalam artian kerja sama tanpa adanya saling mengekploitasi satu dengan yang lainnya.

Dalam keberdikarian saya berdiri dengan tegar berbagai dimensi dihadapan saya, ia adalah dimensi esensial, dimensi sosial dan dimensi budaya.

Dalam keberdikarian saya terhampar dengan luasnya kehidupan sosial manusia yang sangat kompleks sehingga dibutuhkan komunikasi yang efektif dan efisien dlm membangun jembatan jembatan Emas komunikasi yang berdasarkan kepada kesetaraan.

Kompleksitasnya hubungan antara Berdikari dan kehidupan sosial inilah maka dibutuhkan yang bernama Idiologi.

Kemudian idiologi bermanifestasi menjadi Negara sebagai wahana bagi kehidupan idiologi dan Politik.

Berdikari ini adalah suatu akumulasi dari perjalanan sejarah Suku bangsa manusia yang tinggal di muka bumi.

Kemudian daripada itu ada keseluruhan yang nampak dalam bagian bagian dan bagian bagian ini menunjuk keseluruhan.

Sang Berdikari ini terus menerus mengingatkan kepada kita semua: apakah aku harus kongkrit atau menjadi abstrak kembali ???

Sebuah renungan tentang Berdikari

Akhirnya sang Berdikari berucap biarlah saya tetap ada dan menjadi hidup diantara kalian semua meskipun tidak pernah dimengerti oleh Jamannya.

Salam Trisakti Bung Karno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *