Sang Maestro Badai Pasti Berlalu Jejak Langkah Eros Djarot

Oleh: Sapto Raharjanto ketua bidang penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies Jember

Monwnews.com, Di bawah langit Indonesia yang senantiasa berubah, hanya sedikit sosok yang mampu berdiri tegak di persimpangan seni, budaya, dan politik dengan keanggunan yang sama. Eros Djarot adalah anomali yang indah dalam sejarah modern kita. Ia bukan sekadar pemetik gitar atau penyusun kata; Eros Djarot adalah seorang penutur zaman yang melalui jemarinya, Indonesia pernah mengecap salah satu puncak kebudayaan tertingginya.

Sapto Raharjanto ketua bidang penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies Jember
Sapto Raharjanto ketua bidang penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies Jember

Langkah kaki Eros Djarot tidak berangkat dari ruang hampa. Akar pemikirannya tertancap kuat dalam tanah nasionalisme yang subur. Sebagai seorang intelektual muda, ia menemukan rumah spiritualnya di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Di sinilah, napas marhaenisme dan ajaran Bung Karno meresap ke dalam nadinya, membentuk karakter yang berpihak pada rakyat dan keadilan sosial.

Kontribusinya terhadap organisasi ini tidak hanya berupa pemikiran, namun juga sebuah identitas yang abadi. Eros adalah sosok di balik megahnya Mars GMNI. Lewat nada-nada yang di ciptakan, Eros Djarot memberikan denyut jantung bagi ribuan kader untuk terus bergerak di bawah bendera nasionalisme. Lagu tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah ikrar musikal tentang pengabdian kepada tanah air.

Keterikatan ideologis ini kemudian membawanya ke kancah politik praktis yang lebih luas. Eros Djarot menjadi salah satu pilar penting dalam sejarah PDI Perjuangan. Sebagai kepala Litbang pada masanya, Eros Djarot menjadi otak di balik strategi dan narasi partai yang tengah berjuang di tengah himpitan rezim. Baginya, politik adalah seni kemungkinan yang tujuannya tetap satu yaitu menjaga martabat bangsa. Meski arus politik seringkali membawa gelombang yang tidak menentu, prinsip kebangsaan yang Eros Djarot serap dari masa mahasiswa tak pernah luntur.

Jika politik adalah medan baktinya, maka film dan musik adalah bahasa jiwanya. Pada tahun 1977, sebuah pertemuan artistik terjadi ketika sutradara maestro Teguh Karya memutuskan untuk mengangkat novel populer karya Marga T yang berjudul Badai Pasti Berlalu ke layar lebar. Teguh tidak hanya butuh seorang komposer, tetapi sang maestro ini butuh seorang peramu rasa yang mampu menerjemahkan duka, dan harapan ke dalam bentuk audio. Maka Teguh Karya memilih Eros Djarot.

Eros memikul tanggung jawab sebagai penata musik dengan visi yang melampaui zamannya. Ia tidak ingin menciptakan sekadar musik latar yang lewat begitu saja. Tetapi Eros Djarot ingin musik tersebut menjadi nyawa kedua bagi visual yang ditampilkan di layar. Dengan sentuhan puitis dan kepekaan terhadap mahakarya seni, Eros mulai merajut komposisi yang kemudian mengubah arah sejarah musik Indonesia selamanya.

Dari proyek film inilah lahir sebuah album yang kini diakui sebagai karya agung musik pop Indonesia. Soundtrack Badai Pasti Berlalu bukanlah album biasa karya ini adalah sebuah pemberontakan artistik terhadap musik pop yang saat itu cenderung seragam dan sederhana.

Eros Djarot bertindak sebagai konduktor bagi sekumpulan musisi muda berbakat yang kelak menjadi legenda. Ia menggandeng Chrisye dengan vokalnya yang jernih dan surgawi, Jockie Suryo Prayogo yang jenius dalam aransemen keyboard, serta Berlian Hutauruk yang memiliki kekuatan vokal sopran. Tak ketinggalan sentuhan Keenan dan Debby Nasution yang memperkaya tekstur musiknya.

Kolaborasi ini melahirkan lagu-lagu yang seolah tidak bisa dimakan waktu seperti

“Badai Pasti Berlalu”: Sebuah hymne tentang ketabahan yang dinyanyikan dengan penuh penjiwaan oleh Chrisye.

“Pelangi”: Lagu yang menggambarkan keindahan setelah kesedihan dengan melodi yang manis namun dalam.

“Merpati Putih”: Sebuah balada yang melambangkan kebebasan dan kesucian cinta.

“Matahari”: Lewat suara Berlian Hutauruk, lagu ini menjadi sangat teatrikal, megah, dan penuh energi yang meledak.

“Merepih Alam”: Sebuah refleksi tentang kesunyian manusia di tengah semesta yang luas.

“E & C & Y”: Komposisi instrumental yang menunjukkan betapa matangnya musikalitas Eros, Chrisye, dan Jockie dalam berinteraksi tanpa kata-kata.

Aransemen dalam album ini memperkenalkan penggunaan synthesizer yang canggih pada masanya, struktur lagu yang tidak lazim, dan lirik-lirik puitis yang memiliki kedalaman sastra. Album ini berhasil mendobrak pakem bahwa musik populer harus selalu dangkal. Eros membuktikan bahwa musik pop bisa menjadi sangat artistik, cerdas, namun tetap mampu menyentuh hati jutaan pendengar.

Warisan yang Kekal
Kini, berpuluh tahun setelah “Badai Pasti Berlalu” ini pertama kali ditiupkan melalui piringan hitam, karya-karya Eros Djarot tetap menjadi standar emas bagi musisi generasi berikutnya. Badai Pasti Berlalu bukan lagi sekadar judul film atau album, melainkan sebuah frasa budaya yang melambangkan optimisme bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai cobaan.

Eros Djarot telah memberikan teladan bahwa seorang seniman tidak harus terkurung dalam menara gading. Eros Djarot bisa menjadi aktivis, ia bisa menjadi politisi, namun jiwanya tetap menjadi milik seni. Melalui keterlibatannya di GMNI dan dedikasinya dalam memperkuat fondasi PDI Perjuangan, Eros Djarot menunjukkan bahwa ideologi adalah kompas, sementara seni adalah cara membagikan kompas tersebut kepada dunia.

Sejarah akan selalu mencatat Eros Djarot sebagai sosok yang mampu menjahit robekan zaman dengan benang-benang melodi. Selama lagu “Badai Pasti Berlalu” masih diputar di sudut-sudut kota atau senandung “Pelangi” masih terdengar di kamar-kamar anak muda, maka selama itulah napas keseniman Eros Djarot akan terus menghidupi bangsa ini. Karya Badai Pasti Berlalu adalah pengingat bahwa di balik badai yang paling gelap sekalipun, selalu ada musik yang menuntun kita pulang menuju cahaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *