Review buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764–1962 karya Dr. Th. Stevens.

Monwnews.com, Buku ini bukan sekadar sejarah organisasi Freemasonry di Hindia Belanda dan Indonesia. Ia adalah pembacaan tentang satu ruang sosial kolonial yang lama tersembunyi: ruang pergaulan elite Eropa, Indo-Eropa, sebagian kecil bangsawan/priyayi Indonesia, kaum terdidik, profesional, dan pejabat kolonial yang bergerak di antara dunia simbolik, filantropi, pendidikan, modernitas, dan kekuasaan.

Secara formal, buku ini adalah terjemahan dari karya berbahasa Belanda Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands-Indië en Indonesië 1764–1962, diterbitkan pertama oleh Uitgeverij Verloren pada 1994 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Pericles Katoppo, dengan edisi Indonesia diterbitkan Pustaka Sinar Harapan pada 2004.

1. Pokok Isi Buku

Th. Stevens menelusuri sejarah Mason Bebas sejak berdirinya loge-loge awal di Batavia pada abad ke-18 hingga bubarnya aktivitas Masonik di Indonesia pada awal 1960-an. Struktur buku bergerak kronologis: dari masa VOC, pembentukan loge di Batavia, Semarang, Surabaya, Padang; lalu masa pertumbuhan pada abad ke-19; puncak perkembangan 1890–1930; krisis 1930-an; pendudukan Jepang; kemerdekaan Indonesia; hingga berakhirnya Tarekat Mason Bebas di Indonesia. Daftar isi menunjukkan rentang luas itu: Bab I membahas “Seratus Tahun Pertama: 1764–±1870”, Bab II transisi 1870–1890, Bab III perkembangan 1890–1930, dan Bab IV perjuangan bertahan hidup 1930–1962.

Titik penting buku ini adalah bahwa Mason Bebas di Hindia Belanda bukan hanya perkumpulan ritual tertutup. Ia juga berfungsi sebagai jaringan sosial, ruang intelektual, lembaga filantropi, dan salah satu arena pembentukan elite kolonial-modern. Dalam ringkasan, Stevens mencatat bahwa loge-loge pertama di Jawa muncul tidak lama setelah Freemasonry terorganisasi masuk ke Belanda; loge “La Fidèle Sincérité” dan “La Vertueuse” di Batavia pada 1767–1769 menjadi dasar bagi sejarah hampir dua abad Mason Bebas di Hindia Belanda dan Indonesia. Pada masa jayanya, Tarekat ini memiliki sekitar 1.500 anggota dalam 25 bentara/loge, sebelum merosot tajam pada 1950-an dan berhenti pada 1961, dengan sisa aktivitas di Papua Barat hingga 1962.

2. Mason Bebas sebagai “Sejarah Sampingan”

Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya membuka apa yang disebut penerbit sebagai “sejarah sampingan”. Penerbit membedakan antara “Sejarah Utama” yang berisi pergolakan besar, perang, negara, dan gerakan politik, dengan “sejarah sampingan” yang tampak kecil tetapi mempunyai dampak sosial mendalam. Mason Bebas ditempatkan dalam kategori kedua: bukan pusat resmi sejarah nasional, tetapi berperan dalam pembentukan jaringan pendidikan, kebudayaan, dan elite modern.

Ini penting karena historiografi Indonesia sering terlalu terpusat pada negara, partai, perang, tokoh besar, dan gerakan nasional. Stevens mengajak pembaca melihat lapisan lain: perkumpulan, klub, sekolah, jaringan sosial, majalah, yayasan, rumah pertemuan, dan solidaritas elite yang bekerja diam-diam dalam ruang kolonial.

Dengan demikian, buku ini dapat dibaca sebagai sejarah sosial kolonial, bukan sekadar sejarah organisasi Masonik.

3. Relasi Mason Bebas dan Masyarakat Kolonial

Buku ini menunjukkan paradoks mendasar: Mason Bebas membawa gagasan Pencerahan Eropa—persaudaraan, toleransi, pendidikan, kemanusiaan, anti-dogmatisme—tetapi hidup di dalam struktur kolonial yang hierarkis, rasial, dan tidak setara.

Di satu sisi, pengantar buku menggambarkan Mason Bebas sebagai gerakan yang ingin memajukan hal-hal yang mempersatukan manusia, menghapus pemisah antarmanusia, menolak dogma yang memecah, dan mendorong toleransi lintas latar sosial, budaya, dan agama.

Namun, di sisi lain, penerbit dengan jujur mencatat bahwa pada awalnya gerakan ini hanya beranggotakan pria Eropa, terutama Belanda. Baru kemudian orang Indonesia mulai masuk, kebanyakan dari kalangan ningrat.

Di sinilah problem ideologis buku ini menjadi menarik: Mason Bebas berbicara tentang universalitas manusia, tetapi praktik sosialnya tetap dibatasi oleh dunia kolonial. Ia membuka pintu persaudaraan, tetapi pintu itu terutama dapat dimasuki mereka yang sudah memiliki pendidikan, status, bahasa, dan kedekatan dengan elite kolonial.

4. Orang Indonesia dalam Mason Bebas

Salah satu bagian menarik adalah keterlibatan orang Indonesia. Bahkan pada halaman awal disebutkan bahwa Raden Sarif Bastaman Saleh atau Raden Saleh dianggap sebagai anggota Mason Indonesia pertama. Ia digambarkan sebagai pelukis termasyhur, memperoleh pendidikan di Eropa, tetapi banyak berkarya di Indonesia, sehingga dianggap sebagai “pembangun jembatan antara dua kebudayaan.”

Simbol Raden Saleh sangat penting. Ia adalah figur liminal: pribumi, aristokrat, kosmopolitan, seniman modern, berpendidikan Eropa, tetapi tetap berakar dalam sejarah Hindia. Dalam konteks buku ini, Raden Saleh menjadi tanda bahwa Mason Bebas bukan hanya jaringan orang Belanda, tetapi juga menjadi salah satu ruang awal bagi perjumpaan elite Indonesia dengan modernitas Eropa.

Namun, Stevens juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang Indonesia tidak berarti organisasi ini benar-benar mengakar dalam masyarakat Indonesia. Penerbit bahkan menyebut tiga hal menarik: pertama, organisasi ini tidak pernah berakar kuat di bumi Indonesia meski banyak pemimpin Indonesia sebelum Perang Dunia II menjadi anggota; kedua, meskipun banyak anggotanya memegang jabatan kunci di pihak Belanda maupun Indonesia, mereka umumnya tidak mampu berpengaruh menentukan dalam konflik Indonesia–Belanda; ketiga, melalui pelayanan masyarakat dan sekolah-sekolah bermutu, organisasi ini ikut membentuk sebagian elite Indonesia modern.

5. Pendidikan, Filantropi, dan Pembentukan Elite

Salah satu kontribusi paling penting Mason Bebas dalam buku ini adalah bidang pendidikan dan pelayanan sosial. Penerbit menegaskan bahwa melalui banyak pekerjaan pelayanan masyarakat, terutama sekolah-sekolah bermutu tinggi, terbentuklah kawula muda yang kelak menjadi sebagian dari elite Indonesia modern.

Ini menunjukkan bahwa pengaruh Mason Bebas bukan terutama melalui perebutan kekuasaan formal, tetapi melalui produksi habitus elite: pendidikan, etika pergaulan, kemampuan administrasi, bahasa, jaringan sosial, dan cara berpikir modern.

Secara sosiologis, buku ini dapat dibaca dengan kacamata Pierre Bourdieu: Mason Bebas bekerja sebagai ruang akumulasi modal sosial, modal kultural, dan modal simbolik. Keanggotaan dalam loge bukan sekadar status organisasi, melainkan akses ke jejaring, legitimasi, dan gaya hidup elite kolonial.

Namun, dari sisi kritik kolonial, pendidikan semacam ini tetap ambivalen. Ia membuka pintu mobilitas sosial, tetapi hanya untuk sebagian kecil orang. Ia menciptakan elite modern, tetapi tidak otomatis membebaskan rakyat banyak dari struktur kolonial. Ia melahirkan manusia terdidik, tetapi sering dalam horizon nilai yang masih sangat Eropa-sentris.

6. Kelebihan Buku

Kelebihan utama buku ini adalah keluasan data dan keseriusan historisnya. Stevens tidak menulis dengan gaya sensasional atau konspiratif. Ia memperlakukan Freemasonry sebagai objek sejarah sosial, bukan sebagai mitos gelap. Ini penting karena tema Mason Bebas sering dibicarakan secara spekulatif, penuh prasangka, dan terjebak dalam teori konspirasi.

Kekuatan kedua adalah periodisasi yang panjang: 1764–1962. Dengan rentang hampir dua abad, pembaca dapat melihat perubahan Mason Bebas dari masa VOC, negara kolonial modern, Politik Etis, kebangkitan nasional, krisis 1930-an, fasisme, perang, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga nasionalisasi dan pembubaran organisasi asing.

Kekuatan ketiga adalah keberanian menempatkan Mason Bebas dalam konteks masyarakat Hindia Belanda yang berlapis: Eropa, Indo-Eropa, pribumi, Tionghoa, elite birokrasi, bangsawan, kaum profesional, dan masyarakat kota. Buku ini tidak hanya bercerita tentang loge, tetapi juga tentang dunia sosial yang memungkinkan loge itu hidup.

7. Kelemahan Buku

Kelemahan buku ini justru muncul dari kekuatan sumbernya. Karena banyak bertumpu pada sumber Masonik, majalah internal, buku peringatan loge, dan kesaksian mantan anggota, sudut pandangnya cenderung “dari dalam”. Stevens memang sadar akan keterbatasan ini. Dalam ringkasan disebutkan bahwa penelitian sangat dipengaruhi oleh sumber seperti Indisch Maçonniek Tijdschrift, buku-buku peringatan loge, dan kuesioner tahun 1987 kepada mantan anggota loge Hindia Timur.

Akibatnya, pembaca perlu tetap kritis. Aktivitas sosial Mason Bebas banyak digambarkan sebagai pelayanan kemanusiaan, tetapi harus tetap ditanya: pelayanan bagi siapa? Dalam struktur kolonial macam apa? Apakah pendidikan dan filantropi itu membebaskan, atau justru menjadi bagian dari reproduksi elite kolonial?

Kelemahan kedua adalah belum cukup tajamnya kritik terhadap kontradiksi ideologi universal Masonik dengan realitas kolonial. Bila Mason Bebas mengusung persaudaraan universal, mengapa ia begitu lama menjadi ruang dominan pria Eropa? Bila ia menolak pemisah antarmanusia, mengapa ia tetap hidup nyaman dalam masyarakat kolonial yang dibangun di atas pemisahan rasial, hukum, dan ekonomi?

Kelemahan ketiga adalah pembahasan tentang penerimaan masyarakat Indonesia terhadap Mason Bebas masih terasa terbatas. Buku ini kuat dalam melacak organisasi, elite, dan aktivitas sosial, tetapi belum sepenuhnya menggali persepsi masyarakat pribumi, Islam, nasionalis, pesantren, atau kelompok anti-kolonial terhadap Mason Bebas.

8. Pembacaan Ideologis

Secara ideologis, buku ini dapat dibaca sebagai sejarah ambivalensi modernitas kolonial. Mason Bebas membawa bahasa Pencerahan: rasionalitas, toleransi, pendidikan, kosmopolitanisme, persaudaraan. Tetapi bahasa itu masuk ke Hindia Belanda melalui tubuh kolonial: kekuasaan asing, hierarki ras, ekonomi ekstraktif, dan pemerintahan yang tidak demokratis. Maka Mason Bebas di Hindia Belanda adalah paradoks: ia humanis, tetapi hidup dalam kolonialisme; ia universal, tetapi elitis; ia toleran, tetapi terbatas secara sosial; ia mendidik, tetapi juga ikut membentuk lapisan elite yang tidak selalu bersentuhan dengan rakyat.

Buku ini tidak perlu dibaca sebagai bukti teori konspirasi. Justru nilainya terletak pada pembongkaran mekanisme halus kekuasaan kolonial: bagaimana kekuasaan tidak hanya bekerja lewat tentara, pajak, perkebunan, dan hukum, tetapi juga lewat perkumpulan, sekolah, etika pergaulan, jaringan filantropi, dan budaya elite.

9. Kesimpulan

Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764–1962 adalah buku penting bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah sosial kolonial Indonesia dari sudut yang jarang dibahas. Ia memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh perang dan negara, tetapi juga oleh organisasi elite, jaringan pendidikan, filantropi, dan ruang-ruang pergaulan modern.

Nilai terbesar buku ini adalah menggeser pembicaraan tentang Mason Bebas dari wilayah mitos menuju sejarah. Stevens tidak menulis propaganda, tetapi juga tidak menulis pembongkaran ideologis radikal. Ia menyusun dokumentasi panjang tentang organisasi yang pernah hidup hampir dua abad di Hindia Belanda dan Indonesia.

Bagi pembaca Indonesia, buku ini penting karena membuka satu pertanyaan besar: bagaimana modernitas masuk ke Nusantara? Tidak selalu melalui revolusi, tidak selalu melalui partai politik, tidak selalu melalui negara. Kadang ia masuk melalui sekolah, klub, loge, rumah pertemuan, majalah, beasiswa, dan jaringan pergaulan elite.

Namun, buku ini juga mengingatkan bahwa modernitas kolonial selalu membawa luka: ia memberi pendidikan, tetapi tidak memberi kesetaraan penuh; ia bicara persaudaraan, tetapi berdiri di atas tatanan rasial; ia membangun elite, tetapi tidak selalu membebaskan rakyat.

Karena itu, buku ini layak dibaca bukan hanya sebagai sejarah Mason Bebas, melainkan sebagai cermin tentang bagaimana kolonialisme bekerja secara lembut, simbolik, dan kultural dalam membentuk Indonesia modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *