monwnews.com – GEMA DARI MEDAN JUANG – Jika sejarah bangsa ini ditulis dengan tinta emas, maka nama Raharti ditulis dengan darah dan air mata suci. Di saat banyak orang gentar menghadapi moncong senjata, pejuang wanita ini berdiri tegak sebagai benteng terakhir kehormatan bangsa. Kisah 21 April 1949 bukan sekadar catatan kelam, melainkan proklamasi keteguhan jiwa seorang Ibu Bangsa.

Raharti, istri dari seorang perwira Letnan Dua, bukanlah wanita biasa. Ia adalah “Jantung Pertahanan”, seorang kurir rahasia dan penyambung napas logistik bagi para gerilyawan Republik. Di balik kebaya sederhananya, ia membawa rahasia negara, menantang maut melewati garis demarkasi di bawah tatapan tajam serdadu Belanda yang haus darah.
MALAM JAHANAM: Ketika Iman Berhadapan dengan Bayonet
Saat azan Isya berkumandang, keheningan rumah Raharti dirobek oleh sepatu laras satu peleton serdadu Belanda. Pintu didobrak, kesucian ibadah dikoyak.
Di hadapannya, berdiri komandan penjajah dengan mata merah penuh nafsu dan kebencian. Tak cukup hanya memburu dokumen militer, tangan-tangan kotor penjajah mencoba menodai kehormatan Raharti. Namun, mereka salah sangka! Raharti bukan wanita yang lemah. Dengan sisa tenaga dan harga diri setinggi langit, ia melawan balik, meronta dari cengkeraman durjana, memilih lari menjemput peluru daripada membiarkan kehormatannya dan bangsanya diinjak-injak!
INTEROGASI BERDARAH: Diam Adalah Perlawanan Tertinggi
“Di mana gerilya?!” “Siapa pemimpinmu?!” Bentakan itu mengguntur di ruang interogasi yang pengap. Raharti tahu, satu kata saja keluar dari bibirnya, maka ratusan nyawa rekan seperjuangan akan melayang.
Dalam tekanan yang mampu meremukkan mental pria perkasa sekalipun, Raharti memilih TULI dan BISU. Wajahnya mungkin sembab oleh air mata, namun jiwanya sekeras karang. Ia memikul beban seluruh pasukan di pundaknya sendiri. Ia memilih membusuk di sel atau hancur oleh peluru daripada menjadi pengkhianat bangsa!
28 Peluru, Takbir Terakhir, dan Keajaiban Tuhan
Amarah serdadu Belanda memuncak melihat keteguhan yang tak masuk akal itu. Dalam kegelapan malam, rentetan tembakan menyalak. 28 butir timah panas menghujam tubuh ringkih itu tanpa ampun.
Satu per satu peluru menembus dagingnya, namun sebelum ia tersungkur di atas tanah yang ia cintai, sebuah pekikan yang menggetarkan arsy keluar dari kerongkongannya: “ALLAHU AKBAR!”
Tuhan belum memanggilnya pulang. Meski raga hancur dan kelumpuhan menjadi teman setianya hingga akhir hayat di tahun 1957, Raharti menang! Ia menang melawan rasa sakit, ia menang melawan penjajah, dan ia menang menjaga rahasia Republik.
Pada 10 November 1961, Presiden Soekarno menyematkan Bintang Gerilya sebagai pengakuan bahwa Raharti adalah sejajar dengan Jenderal Soedirman. 28 luka peluru di tubuhnya adalah medali yang tak kasat mata, bukti otentik bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan pengorbanan yang tak terbayangkan.
Mari kita tundukkan kepala. Raharti bukan sekadar nama, ia adalah api yang harus tetap menyala di dada setiap putra-putri Indonesia. Merdeka atau Mati!
Sumber Sejarah:
Arsip SKALA – Perpustakaan Nasional RI (Majalah Mutiara, 1985).
Keppres RI: Penganugerahan Bintang Gerilya 10 November 1961.
Catatan Historiografi Perjuangan Wanita Indonesia.












