Daerah  

Peringati 56 Tahun Wafatnya Bung Karno, GMNI se-Jatim Refleksikan Implementasi Marhaenisme di Era Jaman Now

Forum refleksi 56 tahun wafatnya Bung Karno yang diselenggarakan di Karangploso, Malang, Jawa Timur.

Monwnews.com, Malang – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) se-Jawa Timur memperingati 56 tahun wafatnya Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, melalui forum refleksi ideologis yang digelar di Joglo Simbah, Desa Sawah, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (20/06/2026).

Kegiatan yang diikuti kader GMNI dari berbagai daerah di Jawa Timur tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjuangan Bung Karno sekaligus membahas relevansi nilai-nilai Marhaenisme dalam menghadapi tantangan sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi di era kontemporer.

Narasumber Sri Setiaji menyampaikan dalam forum refleksi 56 tahun wafatnya Bung Karno yang diselenggarakan di Karangploso, Malang, Jawa Timur

Dalam suasana diskusi yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, para peserta membahas bagaimana gerakan mahasiswa harus mampu menyesuaikan strategi perjuangan tanpa meninggalkan nilai-nilai ideologis yang diwariskan oleh Bung Karno.

Salah satu sumber narasumber, Sri Setadji, menegaskan bahwa tantangan gerakan mahasiswa saat ini berbeda dengan yang dihadapi generasi sebelumnya, khususnya pada masa Orde Baru.

“Bentuk tantangan gerakan sekarang berbeda dengan zaman Orde Baru. Dulu ideologi gerakan dibatasi, sedangkan sekarang ruang gerak jauh lebih bebas. Namun kebebasan itu menghadirkan tantangan baru yang harus mampu dijawab oleh kader-kader gerakan,” ujar Sri setiaji

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat menerima informasi, membentuk opini, hingga membangun kesadaran politik. Karena itu, gerakan mahasiswa tidak lagi hanya dituntut hadir di ruang-ruang diskusi maupun aksi lapangan, tetapi juga harus memahami dinamika ruang digital.

“Perjuangan hari ini juga ikut dipengaruhi algoritma media sosial. Cara menyampaikan gagasan, membangun kesadaran, hingga mengorganisasi massa menjadi berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Ini menjadi tantangan baru bagi gerakan untuk tetap relevan dan mampu menjangkau masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Sri setiaji menuturkan bahwa perubahan paling mendasar terletak pada karakter konflik sosial yang berkembang di masyarakat. Jika pada masa Orde Baru konflik lebih banyak terjadi antara rakyat dan pejabat negara, saat ini konflik justru banyak muncul di tengah masyarakat itu sendiri.

“Pada masa Orde Baru, konflik yang dominan bersifat vertikal antara masyarakat dengan pemerintah. Hari ini situasinya berbeda. Konflik banyak terjadi secara horizontal di tengah masyarakat sendiri, baik karena perbedaan identitas, Motif kebutuhan, maupun pengaruh arus informasi digital. Karena itu, gerakan tidak hanya bertugas mengkritik kekuasaan, tetapi juga membangun kesadaran dan solidaritas di tengah masyarakat,” jelasnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pokok refleksi dalam peringatan wafat Bung Karno ke-56. Para peserta menilai bahwa nilai-nilai Marhaenisme tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer, terutama dalam memperjuangkan keadilan sosial, persatuan nasional, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Peserta forum refleksi 56 tahun wafatnya Bung Karno berfoto bersama di Joglo Simbah, Kabupaten Malang.

Forum juga menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai warisan historis atau sekadar bahan kajian ideologis. Sebaliknya, ajaran Bung Karno harus terus diaktualisasikan dalam praktik gerakan yang mampu menjawab tantangan zaman, termasuk menghadapi polarisasi sosial, disinformasi, dan ketimpangan yang masih dirasakan masyarakat

Selain menjadi ruang refleksi ideologis, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana konsolidasi kader GMNI Se-Jawa Timur dalam memperkuat arah perjuangan organisasi. Para peserta diajak untuk menjadikan pemikiran Bung Karno sebagai pijakan dalam membangun gerakan yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan orientasi kerakyatan.

Peringatan 56 tahun wafatnya Bung Karno ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno yang setiap tahun diperingati sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa, pemikiran, dan warisan perjuangan sang Proklamator. Bagi GMNI Jawa Timur, momentum tersebut bukan sekedar mengenang sejarah, melainkan juga menghidupkan kembali semangat perjuangan Marhaenisme agar tetap relevan dalam menjawab tantangan bangsa di masa kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *