Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono

Oleh: Mbah Kuncir Inaker

Monwnews.com, Pepatah Jawa ngono yo ngono, ning ojo ngono dapat dikaji dari tiga perspektif filsafat ilmu yaitu ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
Berikut penjelasan singkatnya.

Ontologis dimana hakikat dan serta makna ngono yo ngono ning ojo ngono secara ontologis, pepatah ini menggambarkan hakikat manusia dan sosial yang berada dalam ketegangan antara boleh dan serta tahu batas keadaban.

Manusia dilihat sebagai makhluk bebas dan serta berkeinginan, yang punya hak untuk tetap berakal bernalar berpikir, berilmu, bergerak, dan serta selanjutnya berkuasa.
Namun sekaligus manusia adalah makhluk sosial yang terikat norma, tata krama karena kemajuan peradaban, berkebudayaan , dimana etika dan serta keadaban dipegang teguh, sehingga kebebasan itu harus dibatasi oleh ning ojo ngono.

Jadi dalam kerangka ontologi, ungkapan ini merepresentasikan realitas hidup manusia yang berada di antara kebebasan dan keterbatasan etis.

Sedangkan Epistemologisnya, bagaimana kita memahami dan mengenal pepatah ini
Secara epistemologis, ngono yo ngono ning ojo ngono adalah hasil pengetahuan lisan dan pengalaman hidup yang berkembang dalam menjadi budaya NJawani, bukan dari teks formal.

Sumber pengetahuannya berawal tradisi lisan, nasihat orang tua, adat, sastra, dan pengalaman sehari‑hari atau lokal wisdom ( keluarga, komunitas, tempat kerja, politik ).

Metodenya dalam pembelajaran melalui pengamatan, tindakan, dan refleksi dimana kita kami kamu mereka mengerti maknanya ketika mengalami sendiri konsekuensi dari bertindak terlalu ngono atau kena ngono.

Dengan kata lain, pepatah ini menjadi paugeran / pijakan cara masyarakat memahami batas kewajaran dalam kehidupan bersama.

Adapun Aksiologisnya ditataran nilai dan serta fungsi dalam kehidupan.
Secara aksiologis, ungkapan ini memiliki nilai etis, estetis, dan sosial yang sangat kuat dalam hidup manusia, terutama dalam konteks budaya religius.

Nilai etisnya adalah mengajarkan keadilan, kehati‑hatian, dan kehalusan sikap , kadang menolak sikap ekstrem, arogan, dan merusak keadaban sosial menunjukan kematangan dalam pergaulan membangun keakraban dalam tingkatan taktis strategi dan sepemikiran maupun tindakan sehari-hari sebagai manusia berakal bernakar berfikir berilmu dan serta mengalami peningkatan derajad keimanannya.

Nilai sosial adalah saling menjaga harmoni, suka bersinergi menegur secara halus, mengendalikan konflik tanpa menyinggung hargadiri, serta memperkuat kepercayaan diantara anggota masyarakat.

Nilai religius/moral dumana menegaskan bahwa kekuasaan, kebebasan, dan keinginan harus dibatasi oleh tanggung jawab moral, kejujuran, dan keadilan, yang merupakan inti dari banyak ajaran agama dalam satunya ucapan dan serta tindakannya.

“MAN JADDA WA JADA”

Dalam rumusan sederhana
Ontologis ngono yo ngono ning ojo ngono adalah cara melihat hakikat manusia beradab yang bebas tetapi terikat batas etika.

Epistemologis adalah cara masyarakat NJawani mengenal dan serta selalu memahami kewajaran hidup lewat pengalaman dan kritik sosial.

Adapun aksiologisnya adalah nilai yang harus dijaga dalam keadaban, kesantunan, keadilan, dan keutuhan sosial dalam kehidupan yang religius.

“OJO GAMPANG KAGETAN, OJO GAMPANG NGGUMUNAN”

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang berkumpul bersolusi dengan akal nalar pikir ilmu derajad keimanan serta trus bergerak bersinergi bekerja giatbketas cerdas tuntas terarah terukur bersama hingga nyata tiba pada waktu NYA keadilan kemakmuran bagi seluruh Rakyat Bersama Indonesia yang tlah Merdeka lebih 80 tahun sampai detik sekarang.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja.
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *