Membongkar Realitas Semu: Saat Media Mengaburkan Budaya dan Kebenaran

Oleh: Muhammad Rizal Haqiqi

Monwnews.com – Surabaya, Di zaman serba digital ini, kita hidup di tengah banjir informasi, gambar, dan narasi yang hadir setiap detik. Tanpa disadari, cara kita memandang dunia bahkan memandang diri sendiri semakin dibentuk oleh media, bukan oleh pengalaman langsung. Dua pemikir besar, George Gerbner dan Jean Baudrillard, telah sejak lama memperingatkan hal ini melalui Teori Kultivasi dan Konsep Simulacrum.

Teori Kultivasi George Gerbner

Gerbner menunjukkan bahwa paparan media jangka panjang, terutama televisi dan kini media sosial, dapat “mengultivasi” persepsi kita tentang kenyataan. Seseorang yang tumbuh dengan tayangan kekerasan, misalnya, bisa saja menganggap dunia ini penuh ancaman, meskipun data menunjukkan sebaliknya.

Baudrillard melangkah lebih jauh. Ia memperkenalkan istilah simulacrum salinan dari kenyataan yang telah kehilangan aslinya. Dalam hiperrealitas ini, masyarakat bukan lagi mengalami realitas, melainkan mengonsumsi realitas yang telah dikonstruksi secara estetis oleh media. Kita lebih percaya pada apa yang viral, daripada apa yang nyata.

Lalu, apa akibatnya bagi kita ?

Pertama, kita mengalami krisis makna. Budaya yang dulu lahir dari pengalaman kolektif seperti gotong royong, kesantunan, hingga spiritualitas lokal kini dibentuk oleh standar media: viralitas, estetika visual, dan jumlah like. Nilai dianggap usang jika tidak tampil memikat secara digital.

Kedua, kita menghadapi realitas yang terfragmentasi. Setiap orang hidup dalam gelembung media masing-masing. Algoritma menyusun dunia kita, membentuk keyakinan, bahkan identitas. Akibatnya, ruang dialog dan pemahaman bersama semakin sempit.

Ketiga, ada penipisan identitas budaya. Banyak anak muda yang mengenal mitologi Norse sebelum tahu kisah Mahabharata. Mereka hafal karakter Marvel, tapi lupa cerita rakyat tanah kelahirannya. Ini bukan salah teknologi, tapi karena kita abai membingkai budaya kita dalam bentuk yang relevan dengan zaman.

Namun, belum terlambat. Kita bisa menempuh jalur kesadaran budaya. Literasi media harus ditanamkan sejak dini: bahwa tidak semua yang kita lihat di layar mencerminkan kebenaran. Kita harus belajar menunda penilaian, merenung, dan menyaring, bukan sekadar menelan informasi.

Kita juga perlu menghidupkan kembali akar budaya, bukan sebagai nostalgia masa lalu, tetapi sebagai fondasi untuk masa depan. Cerita rakyat, hikayat, dan praktik budaya lokal bisa dibingkai ulang dalam bentuk konten digital yang kreatif tanpa kehilangan jiwanya.

Yang tak kalah penting, mari kita kembalikan nilai-nilai spiritual dan sosial ke ruang nyata, bukan hanya di dunia maya. Jadilah teladan budaya dalam tindakan, bukan sekadar unggahan. Buka ruang dialog antargenerasi, agar nilai tidak hanya diwariskan tapi juga diinterpretasi ulang secara kontekstual.

Dalam dunia yang semakin dimediasi, menjadi berbudaya bukan berarti menolak teknologi, tapi justru menjinakkannya. Kita bisa menggunakan teknologi sebagai sarana memperkuat akar, bukan mencabutnya.

Kini, pertanyaannya bukan hanya apa yang kita tonton atau bagikan, tapi lebih dalam yakni Realitas siapa yang sedang kita hidupi, dan budaya siapa yang sedang kita warisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *