Umum  

Dialektika Hina dan Mulia dalam Syair Kerendahan Ontologis

Oleh: H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara

Tiada mulia bagi mereka yang merasa mulia.

Tiada hina bagi mereka yang merasa hina.

Tetapi apabila engkau mengerti, sesungguhnya hina dan mulia tiada engkau miliki.

Maka jangan engkau menghina dan memuja terhadap sesama, karena mereka juga tiada memiliki hina dan mulia di dalamnya.

H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara
H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

Syair singkat ini memuat kepadatan makna yang sangat khas tasawuf. Ia tidak berbicara pertama-tama tentang etika sosial dalam arti lahiriah, tetapi tentang pembongkaran pusat keakuan yang diam-diam mengklaim hak untuk menilai, meninggikan, merendahkan, memuja, dan menghina. Dalam bahasa ilmu tasawuf, problem utama manusia bukan semata perilaku yang buruk, melainkan ilusi kepemilikan terhadap sifat, maqam, dan nilai diri. Karena itu, syair ini tidak cukup dibaca sebagai anjuran moral untuk “rendah hati”, melainkan sebagai isyarat menuju penyaksian bahwa hina dan mulia, pada tingkat hakikat, bukan milik makhluk. Ia hanyalah tajalli penilaian Allah, bukan properti ego manusia.

Dari sudut pandang tasawuf akhlaqi, baris pertama—“Tiada mulia bagi mereka yang merasa mulia”—langsung menghantam penyakit kibr, ‘ujub, dan riya’. Al-Qur’an memperingatkan, “janganlah kamu menganggap dirimu suci,” sebab Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Larangan ini bukan hanya melarang pujian verbal terhadap diri, tetapi juga penghukuman batin yang menempatkan diri sebagai pemilik kemuliaan. Demikian pula hadis sahih menjelaskan bahwa kesombongan bukan soal pakaian atau penampilan, melainkan “menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” Dengan demikian, syair ini tepat menyentuh jantung penyakit ruhani: ketika seseorang merasa mulia, ia sudah tergelincir dari kemuliaan yang hakiki, sebab rasa memiliki itulah bibit keterputusan dari Allah.

Dalam kerangka ini, kemuliaan bukan sesuatu yang berdiri pada “aku”, melainkan anugerah yang sewaktu-waktu bisa dicabut. Para sufi sejak generasi awal, sebagaimana banyak dihimpun dalam Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karya Abū Nu‘aym al-Aṣfahānī, menampilkan pola yang sama: para wali justru takut dipandang mulia oleh manusia, karena kemuliaan di hadapan makhluk sering menjadi hijab dari kemuliaan di hadapan Allah. Karya Abu Nu‘aym itu memang disusun sebagai biografi para zahid, ‘abid, dan sufi generasi awal, dan memperlihatkan bahwa inti kewalian bukan klaim spiritual, melainkan akhlak, wara’, khauf, dan kerendahan hati. Maka baris pertama syair tersebut sejalan dengan tradisi sufi klasik: orang yang sadar dekat dengan Allah justru semakin takut pada bisikan superioritas rohani.

Lawan dari orang yang merasa mulia adalah orang yang merasa hina. Namun syair ini tidak berhenti pada kritik terhadap kesombongan; ia juga membedah jebakan lain yang sering disalahpahami sebagai tawaduk, yakni keterikatan ego pada identitas kehinaan. Baris kedua—“Tiada hina bagi mereka yang merasa hina”—pada pandangan pertama tampak paradoksal. Bukankah merasa hina berarti rendah hati? Dalam tasawuf, belum tentu. Sebab ada bentuk “kehinaan” yang masih berpusat pada aku. Seseorang berkata dalam batinnya: aku paling kecil, aku paling buruk, aku paling gagal. Sepintas ini tampak saleh, padahal aku masih menjadi pusat perhatian. Ini bukan fana’, melainkan ego yang berganti pakaian. Ia bukan takabbur yang meninggi, melainkan narsisisme ruhani yang merendah tetapi tetap memeluk diri sendiri.

Karena itu, para sufi membedakan antara tawāḍu‘ dan dhillah nafsiyyah. Tawaduk adalah kerendahan hati karena melihat keagungan Allah; sedangkan merasa hina sebagai identitas psikologis bisa saja hanya bentuk lain dari keterikatan pada diri. Dalam horizon tasawuf, baik “aku mulia” maupun “aku hina” sama-sama dapat menjadi selubung ego. Yang dibongkar bukan hanya keangkuhan positif, tetapi juga keakuan negatif. Maka syair ini sangat halus: ia tidak menyuruh manusia merendahkan diri secara teatrikal, melainkan melepaskan klaim atas posisi ontologis dirinya di hadapan Allah. Dengan kata lain, yang ditolak syair ini adalah kepemilikan identitas moral oleh ego.

Di sinilah baris ketiga menjadi poros seluruh makna: “Tetapi apabila engkau mengerti, sesungguhnya hina dan mulia tiada engkau miliki.” Kalimat ini adalah pintu menuju pembacaan yang lebih dalam, yakni pembacaan ontologis. Dalam ilmu tasawuf, makhluk pada dirinya sendiri adalah faqir, tidak memiliki wujud, daya, dan sifat secara independen. Segala sesuatu yang tampak pada dirinya sesungguhnya pinjaman dari Allah. Jika ada ilmu, itu pinjaman. Jika ada kehormatan, itu pinjaman. Jika ada kehinaan, itu pun terjadi dalam wilayah takdir, ujian, dan hikmah Ilahi. Karena itu, orang yang “mengerti” tidak lagi mendaku: ini kemuliaanku, ini kehinaanku. Ia menyaksikan bahwa dirinya hanyalah tempat lewatnya penetapan Allah.

Pandangan seperti ini selaras dengan jalur tasawuf yang menekankan fanā’ dan baqā’. Dalam tradisi al-Risālah al-Qushayriyyah, fana’ dipahami sebagai lenyapnya keterlekatan ego terhadap dirinya sendiri, lalu subsisten dengan Allah melalui kehendak, adab, dan penyaksian yang benar. Karena itu, ketika syair berkata “tiada engkau miliki,” ini bukan nihilisme moral, bukan penolakan terhadap pahala dan dosa, dan bukan juga peniadaan syariat. Ini adalah peniadaan klaim ego atas sumber nilai. Manusia tetap diperintah beramal, tetapi dilarang menganggap amal sebagai milik ontologis yang mengangkat dirinya di atas orang lain. Itulah sebabnya para sufi besar beramal paling berat namun paling sedikit mengaku.

Jika dibaca melalui kacamata Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’ karya Aḥmad Ḍiyā’ al-Dīn al-Kamashkhanawī, syair ini dapat didekati dari tradisi suluk yang menekankan adab murid, tazkiyat al-nafs, dan kehati-hatian terhadap tipu daya maqam. Dalam tradisi tasawuf tarekat, salah satu penyakit paling berat adalah ketika salik mulai merasa telah “menjadi sesuatu”: merasa lebih ikhlas, lebih bersih, lebih dalam, lebih dekat, atau bahkan lebih hancur daripada orang lain. Kamashkhanawi dikenal dalam tradisi pengajian tasawuf sebagai penyusun karya tentang prinsip-prinsip kewalian; rujukan modern Indonesia juga mencatat kitab ini sebagai salah satu sumber dalam kajian tasawuf. Dalam kerangka itu, syair ini dapat dibaca sebagai peringatan keras: selama engkau masih memiliki rasa kepemilikan terhadap maqam batinmu, engkau belum aman dari hijab.

Kalimat “apabila engkau mengerti” juga penting. Tasawuf tidak mengatakan bahwa semua orang otomatis sampai pada pandangan hakikat ini. Ada syarat: mengerti. Tetapi “mengerti” dalam tasawuf bukan sekadar memahami definisi dengan akal; ia adalah perpindahan kesadaran dari ilmu al-lisan menuju ilmu al-dhawq. Seseorang boleh hafal pembahasan tentang fana’, tawaduk, kibr, dan ikhlas, tetapi selama rasa “aku” masih duduk di singgasana batin, ia belum sungguh mengerti. Maka syair ini bekerja sebagai latihan muhasabah: ketika aku merasa mulia, siapa yang sedang berbicara? Ketika aku merasa hina, siapa yang sedang menuntut pengakuan? Ketika aku memuji orang secara berlebihan atau menghina orang secara keras, siapa sebenarnya yang sedang memperbesar dirinya?

Dari sini, kita masuk ke baris terakhir: “Maka jangan engkau menghina dan memuja terhadap sesama, karena mereka juga tiada memiliki hina dan mulia di dalamnya.” Ini adalah buah sosial dari penyaksian ruhani. Syair ini tidak membiarkan pengalaman batin berhenti di dalam diri. Ia menurunkan konsekuensinya ke dalam adab terhadap sesama. Jika manusia tidak memiliki kemuliaan secara mandiri, maka menghina orang lain adalah bentuk kebodohan ontologis. Kita menghina sesuatu yang bukan miliknya. Dan jika manusia tidak memiliki kemuliaan secara mandiri, maka memuja manusia secara berlebihan pun juga salah arah; kita menuhankan pantulan, bukan sumber cahaya.

Ajaran Al-Qur’an sangat tegas pada titik ini. Surah al-Hujurāt melarang merendahkan, mencela, dan memberi gelar buruk, sebab yang direndahkan bisa jadi lebih baik di sisi Allah. Ini sejalan secara langsung dengan syair yang menolak penghinaan terhadap sesama. Tasawuf mengambil ayat ini lebih dalam lagi: larangan menghina bukan hanya demi etika sosial, melainkan karena penilaian hakiki bukan berada di tangan makhluk. Seseorang yang tampak rendah di mata dunia bisa lebih tinggi di sisi Allah; sebaliknya yang tampak mulia bisa runtuh batinnya. Maka seorang sufi belajar menahan lidah lahir dan batin, sebab yang paling berbahaya kadang bukan hinaan lisan, melainkan hinaan diam-diam dalam hati.

Menariknya, syair ini juga menolak sikap memuja terhadap sesama. Ini amat halus. Banyak orang bisa menerima larangan menghina, tetapi tidak curiga bahwa pemujaan berlebihan juga penyakit ruhani. Dalam tasawuf, memuja makhluk secara berlebihan bisa melahirkan ketergantungan, kultus, ghuluw, dan hijab dari Allah. Kita bukan dilarang menghormati ulama, wali, guru, orang tua, atau orang saleh. Kita dilarang menisbahkan sumber kemuliaan kepada mereka secara mandiri, seolah-olah kemuliaan itu melekat dari diri mereka sendiri. Para wali dalam Ḥilyat al-Awliyā’ justru banyak digambarkan sebagai orang-orang yang lari dari kultus manusia, takut dipuji, dan resah bila disebut suci. Ini menunjukkan bahwa penghormatan yang sehat dalam tasawuf selalu dijaga oleh tauhid: memuliakan makhluk sebagai tanda memuliakan pemberi karunia, bukan menjadikan makhluk sebagai pusat pemujaan.

Secara epistemologis, syair ini bergerak pada tiga tingkat sekaligus. Pertama, tingkat akhlaq: jangan sombong, jangan merendahkan orang, jangan berlebihan memuja manusia. Kedua, tingkat tazkiyah: musuh utama adalah rasa memiliki pada nilai diri. Ketiga, tingkat haqiqah: hina dan mulia adalah penetapan Allah, bukan substansi yang dimiliki makhluk. Pembacaan tasawuf yang matang harus menjaga tiga tingkat ini sekaligus. Bila hanya berhenti pada tingkat akhlak, syair ini menjadi nasihat moral biasa. Bila melompat ke tingkat hakikat tanpa akhlak, orang bisa salah paham seolah semua penilaian moral menjadi tidak penting. Padahal para sufi klasik justru paling keras menjaga syariat sembari paling halus meniadakan ego.

Di sini perlu ditegaskan batas penting: pernyataan “hina dan mulia tiada engkau miliki” bukan berarti Islam menolak konsep kemuliaan moral. Al-Qur’an tetap berbicara tentang kemuliaan takwa, kehinaan kufur, kemuliaan taat, dan kehinaan maksiat. Yang ditolak syair ini adalah klaim kepemilikan, bukan realitas nilai. Takwa itu mulia, tetapi manusia tidak boleh mendaku dirinya pemilik kemuliaan. Maksiat itu menghinakan, tetapi manusia tidak berhak menutup rapat kemungkinan rahmat Allah atas sesama. Dengan kata lain, nilai tetap ada, tetapi ego dilarang duduk sebagai hakim absolut.

Pembacaan ini juga relevan terhadap penyakit keberagamaan modern. Banyak orang merasa mulia karena identitas lahir: kelompok, mazhab, tarekat, gelar, nasab, jabatan, atau kedekatan simbolik dengan agama. Di sisi lain, banyak pula yang menampilkan kehinaan diri secara publik untuk memperoleh legitimasi kesalehan: menampakkan tangis, kehancuran, kepapaan, atau kisah dosa sebagai modal spiritual. Syair ini memukul dua-duanya. Yang satu merasa mulia; yang lain merasa hina. Keduanya masih merasa. Tasawuf menuntun manusia keluar dari teater ego menuju penghambaan yang jernih.

Apabila dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan para sufi awal yang dihimpun Abu Nu‘aym, corak syair ini sangat dekat dengan tradisi khauf dan ittihām al-nafs—mencurigai diri sendiri, bukan untuk membenci diri, tetapi untuk mencegah ego mengklaim posisi yang bukan haknya. Para sufi awal sering tampak keras terhadap diri sendiri karena mereka takut amal dirusak oleh perasaan memiliki. Namun kekerasan itu bukan psikologi putus asa. Ia disinari harap dan adab. Mereka tidak menganggap diri suci, tetapi juga tidak menjadikan kehinaan diri sebagai identitas baru yang dibanggakan. Inilah keseimbangan halus yang sukar dicapai tanpa bimbingan ruhani.

Dalam bahasa yang lebih filosofis, syair ini mengandung kritik terhadap apa yang dapat disebut “substantialization of moral status,” yakni kecenderungan manusia memperlakukan kemuliaan dan kehinaan seolah benda yang dapat dimiliki secara tetap. Tasawuf membongkar asumsi ini. Kemuliaan dan kehinaan pada makhluk bersifat nisbi, kontingen, dan bergantung pada pandangan Allah yang meliputi lahir-batin serta akhir perjalanan seorang hamba. Karena itu, para arif tidak mudah memberi vonis final. Mereka menimbang amal, tetapi takut pada kesimpulan mutlak. Mereka mengenali keutamaan, tetapi tidak menyembah figur. Mereka menolak keburukan, tetapi tidak menutup pintu taubat bagi siapa pun.

Syair ini juga mempunyai dimensi sosial-politik yang tetap relevan, meski ia berangkat dari batin. Masyarakat sering tersusun di atas hierarki simbolik: status, kelas, pendidikan, kekayaan, garis keturunan, jabatan, bahkan penampilan agama. Dari sinilah lahir budaya pemujaan kepada yang dianggap “tinggi” dan penghinaan kepada yang dianggap “rendah”. Tasawuf memotong logika itu dari akarnya. Ia tidak serta-merta meniadakan struktur sosial, tetapi menolak penyembahan terhadap status dan pelecehan terhadap yang lemah. Dalam pandangan ini, penghormatan harus dibangun atas adab, bukan kultus; dan kritik terhadap keburukan harus dibangun atas keadilan, bukan kebencian.

Maka, inti syair ini dapat dirumuskan begini: selama “aku” masih merasa memiliki posisi moral, maka aku masih jauh dari adab tasawuf. Orang yang merasa mulia jatuh ke dalam kibr. Orang yang merasa hina namun masih menatap dirinya sendiri juga belum keluar dari jebakan ego. Orang yang mengerti melihat bahwa segala nilai kembali kepada Allah. Dari sini lahir dua buah sekaligus: tawaduk terhadap diri dan kasih terhadap sesama. Ia tidak sibuk meninggikan diri, tidak tergesa menghina orang, tidak mudah mengkultuskan manusia, dan tidak menisbahkan kemuliaan secara independen kepada siapa pun.

Kesimpulan

Syair ini adalah ringkasan sangat padat dari jalan tasawuf: penghancuran ego, penjernihan adab, dan pengembalian seluruh nilai kepada Allah. Dalam cahaya Jāmi‘ al-Uṣūl fī al-Awliyā’, ia dapat dibaca sebagai peringatan bagi salik agar tidak terjebak pada klaim maqam, rasa memiliki kesucian, atau identitas kehinaan yang diam-diam masih berpusat pada diri. Dalam cahaya Ḥilyat al-Awliyā’, ia sejalan dengan teladan para wali awal yang takut pada pujian, lari dari reputasi, dan memuliakan manusia tanpa menyembahnya. Dalam cahaya Al-Qur’an dan hadis, ia berpijak pada larangan menyucikan diri, larangan merendahkan orang lain, dan kecaman keras terhadap kesombongan.

Akhirnya, syair ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati justru lahir ketika seseorang berhenti merasa mulia; dan kehinaan yang menyelamatkan justru lahir ketika seseorang berhenti menjadikan kehinaan sebagai identitas dirinya. Di hadapan Allah, yang tersisa bukan “aku yang tinggi” dan bukan “aku yang rendah”, melainkan hamba yang sadar bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa. Dari kesadaran inilah tumbuh tawaduk yang benar: tidak menghina, tidak memuja secara berlebihan, tidak mengklaim, dan tidak menghakimi. Hanya Allah pemilik kemuliaan mutlak, dan hanya hamba yang melepaskan dirinya yang dapat disentuh oleh cahaya kemuliaan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *