Lailatul Qadar: Antara Perdebatan Waktu dan Kedalaman Hati

Oleh: H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara

Monwnews.com, Setiap Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia “berburu” Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir. Ada yang meyakini malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Perbedaan pendapat tentang kapan tepatnya malam yang lebih baik dari seribu bulan itu turun telah berlangsung berabad-abad. Namun di tengah hiruk-pikuk perdebatan tanggal, sebuah syair kuno mengajak kita merenung lebih dalam: bahwa Lailatul Qadar sejatinya bukan sekadar malam dalam hitungan kalender, melainkan sebuah kondisi hati. Ia adalah momen ketika tirai yang membentang antara hamba dan Tuhannya tersingkap. Telaah atas syair ini dengan merujuk pada kitab klasik Jami’ul Ushul fil Auliya membawa kita pada pemahaman bahwa pertanyaan “kapan” mungkin tidak sepenting pertanyaan “bagaimana” kita menyiapkan hati untuk menyambutnya.

H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara
H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

Malam yang Dirahasiakan

Sejak empat belas abad yang lalu, umat Islam hidup dalam kegelisahan yang indah. Setiap tahun, ketika Ramadhan memasuki sepuluh malam terakhir, denyut spiritual mencapai puncaknya. Masjid-masjid yang biasanya lengang di sepertiga malam tiba-tiba dipenuhi saf-saf panjang. Orang-orang bangun, mandi, berwudhu, lalu duduk bersimpuh dengan khusyuk. Mereka membaca wirid, menangis dalam sujud, dan memanjatkan doa yang sama: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, maka maafkanlah aku.”

Mereka sedang berburu Lailatul Qadar. Malam yang dalam Al-Qur’an disebut lebih baik dari seribu bulan. Malam turunnya para malaikat. Malam penuh kedamaian hingga terbit fajar.

Tapi, kapan tepatnya malam itu datang? Tidak ada yang tahu pasti. Nabi Muhammad SAW hanya memberikan petunjuk: “Carilah ia pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR Bukhari). Batas itulah yang kemudian melahirkan perdebatan panjang di kalangan ulama. Ada yang mengatakan malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Sebuah kitab bahkan mencatat tidak kurang dari 45 pendapat tentang malam terjadinya Lailatul Qadar. Namun, di tengah perdebatan tentang tanggal, sebuah syair kuno menawarkan perspektif yang berbeda. Ia tidak berbicara tentang kapan, tetapi tentang apa Lailatul Qadar itu sebenarnya. Dan jawabannya menohok:

”Qodar adalah terbukanya tirai hati untuk menerima cahaya ilahi dan mengembalikannya kembali (pantulan cahaya ilahi).”

Tiga Makna di Balik Kata Qadar

Untuk memahami kedalaman syair ini, kita perlu merenungkan makna kata qadr itu sendiri. Fakhruddin Al-Razi, seorang ulama besar abad ke-12, dalam kitab tafsirnya Mafatih al-Ghaib menjelaskan tiga arti penting dari kata yang menjadi akar Lailatul Qadar ini.

Pertama, al-qadar berarti takaran atau ketetapan (taqdir). Pada malam ini, Allah menetapkan segala urusan makhluk-Nya untuk setahun ke depan: rezeki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Para malaikat turun membawa catatan-catatan takdir itu.

Kedua, al-qadar berarti kemuliaan dan keagungan. Sebagaimana firman Allah: “Lailatul qadri khairun min alfi syahr” (Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan). Pada malam ini, setetes tinta pahala menjadi samudra. Setiap sujud bernilai ribuan sujud.

Ketiga, al-qadar berarti kesempitan. Dinamakan demikian karena pada malam itu bumi dipenuhi oleh para malaikat hingga terasa sempit. Jibril dan ribuan malaikat turun membawa rahmat dan kedamaian.

Tapi syair yang kita kaji ini membawa pemahaman qadr ke dimensi yang sama sekali berbeda. Ia berkata:

”Qodar adalah ketetapan atau ketentuan Allah terhadap hamba2 nya Yang istiqomah didalam beribadah. Mereka meng ikrarkan diri / menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah ta’ala. Mereka serahkan hidupnya dan tujuan hidupnya..”

Perhatikan baik-baik. Di sini, “ketetapan” tidak lagi berbicara tentang rezeki atau ajal. Ia berbicara tentang “penetapan identitas spiritual”. Qadr adalah momen ketika Allah menetapkan seorang hamba menjadi abdi sejati-Nya. Bukan sekadar hamba yang menjalankan ritual, tetapi hamba yang seluruh orientasi hidupnya hanya untuk Allah. Ini adalah perluasan makna yang sangat sufistik. Dalam kitab Jami’ul Ushul fil Auliya, Syaikh Dliyauddin Ahmad Al-Kamasykhonawi menjelaskan bahwa para wali adalah mereka yang telah ditetapkan hatinya oleh Allah untuk mengenal dan mencintai-Nya. Mereka tidak sekadar memilih jalan Allah, tetapi lebih utama lagi, merekalah yang dipilih.

Menyingkap Tirai: Kasyf al-Hijab dalam Tasawuf

Puncak spiritual dari syair ini adalah konsep “terbukanya tirai hati” atau dalam istilah tasawuf disebut kasyf al-hijab.

”Qodar adalah terbukanya tirai hati untuk menerima cahaya ilahi dan mengembalikannya kembali (pantulan cahaya ilahi).”

Para sufi meyakini bahwa hati manusia itu seperti cermin. Awalnya ia bening dan mampu memantulkan cahaya kebenaran. Tapi kemudian debu-debu dosa, cinta dunia, dan sifat-sifat tercela menempel di permukaannya, membuatnya buram dan tak lagi memantulkan cahaya. Hijab (penghalang) inilah yang memisahkan manusia dari Tuhannya. Hijab bisa berupa dosa besar, tapi bisa juga sesuatu yang tampak baik, seperti kesibukan beribadah yang justru membuat seseorang lupa pada siapa yang ia sembah. Bahkan cinta kepada keluarga, harta, dan jabatan bisa menjadi hijab jika ia menggeser posisi Allah dari tempat yang seharusnya.

Lailatul Qadar, dalam pemahaman sufistik, adalah momen ketika cermin hati itu dibersihkan hingga mengilap kembali. Ia mampu menerima cahaya Ilahi dan memantulkannya ke alam semesta. Syair itu melanjutkan:

”Sehingga hati orang2 yg mendapatkan lailatul qodar, akan tercerahkan dgn hidayah Allah yang hakiki. Sungguh, hati mereka bisa melihat alam yang nyata atau kehidupan yang sebenar benarnya, itulah Alam ketuhanan, Alam kepastian..”

Ini adalah gambaran tentang ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin—keyakinan yang didasarkan pada pengalaman langsung, bukan sekadar informasi. Mereka tidak lagi “percaya” bahwa Allah itu ada, karena kepercayaan masih menyisakan kemungkinan ketidakpercayaan. Mereka “mengalami” langsung keberadaan Allah, sehingga keraguan tidak mungkin lagi menyentuhnya.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai malam ketika seseorang mencapai keyakinan yang begitu kuat sehingga ia mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan dengan mata hatinya. Inilah yang dimaksud dengan “alam kepastian”—sebuah kondisi di mana tidak ada lagi keraguan.

Perjalanan Panjang Menuju Malam Itu

Pertanyaan kemudian muncul: bagaimana cara meraih pengalaman spiritual sedemikian rupa? Apakah cukup dengan berjaga pada malam tertentu? Syair ini memberikan jawaban tegas: tidak ada jalan pintas. Ia hanya diberikan kepada mereka yang telah melalui proses panjang penyucian diri.

Mereka adalah orang orang yang berpuasa dengan sungguh sungguh dan berhasil membimbing nafsunya, membebaskan jiwanya dari jerat dunia dan sifat angkara murka.”

Ini mengingatkan pada konsep maqamat (stasiun-stasiun spiritual) dalam tasawuf. Seorang penempuh jalan tidak bisa melompat langsung ke puncak tanpa melewati tangga-tangga di bawahnya. Ia harus memulai dengan taubat—kembali dari segala yang buruk menuju yang baik. Kemudian mujahadah—bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Lalu zuhud—melepaskan keterikatan pada dunia. Setelah itu tawakkal—berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Baru kemudian ia bisa sampai pada mahabbah (cinta) dan ma’rifah (pengenalan).

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar menjelaskan bahwa perjalanan spiritual ini ibarat mendaki gunung. Tidak ada lift yang bisa membawa seseorang ke puncak. Ia harus berjalan kaki, setapak demi setapak, kadang tergelincir, kadang jatuh, lalu bangkit lagi. Tapi setiap langkah mendekatkannya pada tujuan.

Puasa Ramadhan, dalam konteks ini, adalah latihan tahunan untuk menempuh jalan itu. Bukan hanya puasa menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa seluruh anggota tubuh: mata dari melihat yang haram, telinga dari mendengar gibah, lisan dari berkata dusta, dan hati dari memikirkan selain Allah. Jika latihan selama sebulan ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka di penghujungnya seseorang siap menerima anugerah Lailatul Qadar.

Keberkahan yang Meluas

Salah satu aspek yang sering terlupakan dalam diskusi tentang Lailatul Qadar adalah dimensi sosialnya. Syair ini dengan tegas menyatakan:

”Qodar adalah keberkahan bulan ramadhan. Keberkahannya bisa dirasakan setelah dirimu / mereka mendapatkan lailatul qodar / ketentuan Allah. Dan keberkahanya bisa membawa keberkahan pula terhadap orang2 yang ada disekelilingnya.”

Ini sejalan dengan konsep wilayah (kewalian) dalam Jami’ul Ushul. Para wali tidak hanya menjadi kekasih Allah secara individual, tetapi juga menjadi sumber berkah bagi lingkungan sekitarnya. Keberkahan itu bisa berupa keteduhan hati, bimbingan spiritual, atau bahkan solusi atas masalah-masalah sosial.

Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqih Puasa menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam ketika para malaikat turun membawa rahmat dan keberkatan. Rahmat itu tidak hanya untuk individu yang beribadah, tetapi untuk seluruh alam semesta. Maka wajar jika orang yang mendapatkannya menjadi saluran berkah bagi orang lain. Ini adalah pengingat penting bahwa spiritualitas dalam Islam tidak pernah bersifat individualistis. Ia selalu memiliki dampak sosial. Seorang yang mencapai kedekatan dengan Allah justru akan semakin peduli pada sesama. Ia seperti lilin yang menyala: ia menerangi dirinya sendiri, tapi juga menerangi ruangan tempat ia berada.

Kapan Lailatul Qadar Turun? Perdebatan yang Tak Kunjung Usai

Setelah memahami makna esoteris Lailatul Qadar, kita kembali pada pertanyaan klasik: kapankah malam mulia itu terjadi? Landasan utamanya adalah sabda Nabi: “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR Bukhari). Hadis ini menjadi pegangan bahwa malam itu berada pada rentang malam 21, 23, 25, 27, atau 29.

Namun, terdapat juga riwayat yang menyebutkan malam 24. Ada pula yang berpendapat berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam 21. Dalam kitab Fath al-Basri, disebutkan tidak kurang dari 45 pendapat—mulai dari malam 1 hingga malam 30—masing-masing berdasarkan pengalaman dan riwayat para sahabat.

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya meyakini malam 27. Keyakinan ini mungkin bersumber dari pemahaman bahwa lafal Lailatul Qadar terdiri dari 9 huruf, dan disebutkan sebanyak 3 kali dalam Surat Al-Qadr, sehingga 9 x 3 = 27. Atau karena kata hiya (kata ganti untuk Lailatul Qadar) adalah huruf ke-27 dalam surat tersebut. Namun secara ilmiah, tidak ada dalil yang secara eksplisit menetapkan malam 27.

Para ulama menjelaskan hikmah dirahasiakannya waktu ini. Pertama, agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir. Jika waktunya diketahui pasti, dikhawatirkan mereka hanya beribadah pada malam itu saja. Kedua, sebagai ujian kesungguhan. Allah ingin melihat hamba-Nya yang benar-benar mencari. Ketiga, agar pahala ibadah dilipatgandakan. Dengan mencari di banyak malam, seorang hamba mendapatkan pahala dari seluruh malam yang ia hidupkan.

Yusuf Al-Qaradawi menegaskan bahwa kerahasiaan ini justru menjadi pendorong untuk melakukan amal saleh sepanjang Ramadhan. Ini mengandung kebaikan baik secara individu maupun jamaah.

Perspektif Sufistik: Melampaui Perdebatan Waktu

Di tengah perdebatan tentang tanggal, para sufi menawarkan perspektif yang berbeda. Mereka memandang Lailatul Qadar tidak semata-mata terikat pada hitungan kalender, melainkan pada kondisi hati.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menukil pendapat Syeikh Yusuf Amrullah bahwa Lailatul Qadar yang sebenarnya hanya terjadi sekali, yaitu ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Adapun Lailatul Qadar yang kita peringati setiap tahun adalah untuk mengenang peristiwa agung tersebut dan mengambil berkahnya.

Ini senada dengan peringatan hari-hari besar lainnya dalam Islam. Kita memperingati 10 Muharram bukan karena pada tanggal itu setiap tahun terjadi peristiwa, tetapi untuk mengenang peristiwa para nabi yang terjadi ribuan tahun lalu. Kita melakukan sai antara Shafa dan Marwah bukan karena kita sedang mengalami kehausan seperti Siti Hajar, tetapi untuk mengenang perjuangannya.

Demikian pula Lailatul Qadar. Kita menghidupkan malam-malam di sepuluh terakhir Ramadhan untuk mengenang dan mengambil berkah dari malam ketika Al-Qur’an pertama kali turun. Dan barangsiapa yang pada malam-malam itu mencapai kondisi hati yang terbuka—sehingga ia benar-benar merasakan kehadiran Ilahi—maka ia telah mendapatkan Lailatul Qadar yang hakiki, kapan pun itu terjadi.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadar bisa dialami oleh siapa saja yang hatinya benar-benar hidup. Sebagian ulama bahkan merumuskan “rumus” untuk menentukan Lailatul Qadar berdasarkan hari awal Ramadhan—seperti yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali—meskipun rumus ini tidak bersifat qath’i.

Yang terpenting, dalam perspektif sufistik, perdebatan tentang tanggal 21, 23, 25, 27, atau 29 bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menghidupkan malam-malam itu dengan kehadiran hati. Karena Lailatul Qadar bukan tentang menemukan malam, tapi tentang ditemukan oleh malam itu dalam kondisi hati yang paling siap.

Antara Malam dan Hati: Sebuah Sintesis

Kajian ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki dua dimensi yang saling melengkapi. Dimensi eksoteris (lahiriah) mengajarkan kita untuk menghormati waktu-waktu tertentu yang dimuliakan Allah. Kita dianjurkan mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama malam-malam ganjil. Kita beriktikaf di masjid, memperbanyak salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa. Kita meyakini bahwa pada malam itu para malaikat turun membawa rahmat dan ketetapan Allah.

Dimensi esoteris (batiniah) mengajarkan bahwa Lailatul Qadar adalah pengalaman spiritual yang membutuhkan kesiapan hati. Ia bukan sekadar “buruan” di malam tertentu, melainkan buah dari perjuangan panjang menundukkan hawa nafsu dan membersihkan jiwa. Ia adalah terbukanya tirai yang memisahkan hamba dengan Tuhannya.

Kedua dimensi ini tidak perlu dipertentangkan. Justru, keduanya saling menguatkan. Ibadah lahiriah di sepuluh malam terakhir adalah sarana untuk mencapai kondisi batiniah yang disebut Lailatul Qadar. Sebaliknya, pemahaman batiniah tentang Lailatul Qadar memberi makna dan ruh pada ibadah lahiriah yang kita lakukan. Tanpa ruh, ibadah lahiriah bisa menjadi kering dan ritualistik. Tanpa bentuk lahiriah, pengalaman batiniah bisa kehilangan tuntunan dan jatuh pada subjektivitas tak terkendali.

Mereka yang Terpilih

Di penghujung syair, ada kalimat yang menggugah:

”Sungguh beruntung orang2 yang mendapatkan lailatul qodar. Hatinya tercerahkan dengan hidayah kebenaran. Dan mereka pula akan terus berjalan menuju keselamatan. Sungguh mereka adalah orang2 yang telah ditentukan / orang2 terpilih menjalankan Amanah Allah..

Mereka yang mendapatkan Lailatul Qadar—dalam pengertian lahiriah maupun batiniah—adalah orang-orang pilihan. Mereka telah melewati proses panjang pembersihan jiwa. Mereka telah berhasil menundukkan hawa nafsu. Mereka telah sampai pada tingkat keyakinan yang tak tergoyahkan. Dan yang terpenting, mereka menjadi saluran berkah bagi lingkungan sekitarnya.

Amanah yang mereka emban adalah kekhalifahan—menjadi wakil Allah di muka bumi dengan membawa nilai-nilai-Nya. Menjadi rahmat bagi semesta alam, sebagaimana Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat. Menjadi saksi atas kebenaran di tengah lautan kebatilan.

Lailatul Qadar, dalam pengertian terakhir ini, bukan lagi sekadar malam. Ia adalah sebuah misi. Ia adalah transformasi dari seorang hamba biasa menjadi abdullah yang sejati, yang kemudian diutus untuk menjadi khalifatullah di bumi. Maka, di penghujung Ramadhan ini, mari kita renungkan: apakah kita hanya berburu malam, ataukah kita sedang berburu transformasi? Apakah kita hanya ingin mendapat pahala seribu bulan, ataukah kita ingin menjadi manusia yang seribu bulan cahayanya menerangi alam semesta?

Jawabannya ada pada seberapa sungguh kita membersihkan hati, menundukkan nafsu, dan memasrahkan diri. Karena pada akhirnya, Lailatul Qadar adalah tentang hati yang tak lagi berdinding. Tentang jiwa yang telah merdeka dari belenggu dunia. Tentang manusia yang telah menemukan tempat pulang yang sejati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *