Oleh: H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara
Monwnews.com, Ada kalanya sebuah syair begitu singkat, tetapi justru karena singkat itulah ia menghantam lebih dalam daripada uraian yang panjang. Ia tidak memberi penjelasan yang rumit. Ia tidak menawarkan teori yang berlapis-lapis. Ia hanya meletakkan beberapa kalimat sederhana, lalu membiarkan hati yang membacanya bekerja sendiri. Syair yang berbunyi, ”Aku angkat kedua tanganku, Allahu Akbar, itulah bukti diriku yang tidak berdaya di hadapan-Mu. Aku angkat kedua tanganku, Allahu Akbar, itulah bukti segala urusanku tidak akan pernah lepas dari kuasa-Mu. Aku angkat kedua tanganku, Allahu Akbar, itulah bukti ketiadaanku bersama dengan keberadaan-Mu,” termasuk jenis yang demikian.

Pada pandangan pertama, syair itu tampak seperti ungkapan doa biasa. Ada tangan yang diangkat, ada takbir yang diucapkan, ada pengakuan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Namun, bila dibaca dengan pendekatan tasawuf, syair itu memuat lapisan makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar doa. Ia adalah pengakuan tentang siapa manusia sebenarnya, tentang apa arti Allahu Akbar, dan tentang bagaimana jalan kehambaan sesungguhnya dimulai bukan dari rasa kuat, melainkan dari keberanian mengakui kelemahan.
Di zaman yang terus mendorong manusia untuk tampil percaya diri, menguasai keadaan, mengelola hidup, menaklukkan masa depan, dan mempertahankan citra dirinya, bahasa seperti ini terdengar hampir asing. Manusia hari ini dibesarkan dalam dorongan untuk tampak mampu. Ia diajari menyusun strategi, membangun kekuatan, memoles identitas, dan meyakini bahwa hidup ada di tangannya. Namun tasawuf justru datang dengan arah yang berbeda. Ia tidak menolak usaha, tetapi ia menolak kesombongan yang tersembunyi di dalam usaha itu. Ia tidak menolak ikhtiar, tetapi ia menolak ilusi bahwa ikhtiar manusia adalah pusat segala-galanya. Dan syair pendek ini justru memadatkan seluruh arah tasawuf itu ke dalam tiga pengakuan yang sangat jernih.
Yang paling pertama mengemuka adalah gerakan fisik yang tampaknya sederhana: mengangkat kedua tangan. Dalam pengalaman keagamaan umat Islam, gerakan ini sangat akrab. Kita mengangkat tangan ketika berdoa, ketika memulai shalat, ketika bermunajat dengan penuh harap. Tetapi tasawuf mengajarkan bahwa gerak tubuh dalam ibadah tidak berhenti pada gerak lahir. Gerak lahir adalah bahasa dari keadaan batin. Tubuh yang bergerak sedang menandakan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kebiasaan ritual.
Ketika seseorang mengangkat kedua tangannya, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan bahwa dirinya tidak datang dengan genggaman. Ia tidak datang sambil memegang sesuatu yang hendak dipamerkan kepada Tuhan. Tangannya terbuka. Kosong. Tidak membawa kuasa, tidak membawa kepastian, tidak membawa jaminan atas dirinya sendiri. Dalam kerangka tasawuf, ini adalah lambang faqr, kefakiran total manusia di hadapan Allah. Faqr bukan semata keadaan miskin secara material, melainkan kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya tidak memiliki apa-apa dari dirinya sendiri. Nafasnya bukan miliknya. Kekuatannya bukan miliknya. Kecerdasannya bukan miliknya. Masa depannya bukan miliknya. Bahkan keinginan untuk berdoa pun, bila direnungkan lebih dalam, juga merupakan karunia Allah.
Di situlah syair ini menjadi penting. Ia memulai dari tangan yang terangkat, seolah ingin mengajarkan bahwa kehambaan selalu dimulai dari pelepasan genggaman. Manusia selama ini cenderung menggenggam terlalu banyak hal: genggam kedudukan, genggam pujian, genggam kendali, genggam harga diri, genggam citra, bahkan genggam anggapan tentang dirinya sendiri sebagai sosok yang kuat dan penting. Ketika tangan diangkat kepada Allah, tasawuf membaca gerakan itu sebagai latihan untuk membuka genggaman tersebut. Di hadapan Tuhan, manusia sesungguhnya datang dalam keadaan telanjang: tidak benar-benar memiliki kuasa atas dirinya, apalagi atas dunia.
Lalu, di tengah gerakan itu, syair meletakkan satu lafaz yang agung: Allahu Akbar. Kita sering mengucapkannya. Kita mendengarnya dalam adzan, dalam shalat, dalam takbir hari raya, dalam dzikir, bahkan dalam berbagai momentum hidup. Namun tasawuf mengingatkan bahwa lafaz ini terlalu besar bila hanya diperlakukan sebagai seruan verbal. Allahu Akbar bukan sekadar kalimat yang dilafalkan. Ia adalah pernyataan eksistensial. Ia mengandung konsekuensi yang sangat dalam: bila Allah Mahabesar, maka segala yang lain harus menempati ukurannya yang benar.
Di sinilah banyak manusia sesungguhnya tersandung. Kita mengucapkan Allahu Akbar, tetapi di dalam hati kita justru dunia lebih besar. Kita mengucapkan Allahu Akbar, tetapi pujian manusia lebih menentukan suasana batin kita. Kita mengucapkan Allahu Akbar, tetapi ketakutan terhadap kehilangan kedudukan, harta, pengaruh, atau nama baik lebih kuat daripada rasa tunduk kepada Allah. Kita mengucapkan Allahu Akbar, tetapi diri kita sendiri masih diam-diam menjadi pusat. Maka takbir dalam tasawuf bukan sekadar memuji Allah sebagai Yang Mahabesar, melainkan juga kesediaan untuk mengecilkan semua yang palsu besar di dalam diri: ambisi, kebanggaan, kecemasan, dan terutama ego.
Baris pertama syair berkata, “Itulah bukti diriku yang tidak berdaya di hadapan-Mu.” Ini adalah pengakuan yang sangat mendasar. Di satu sisi, ia tampak sederhana. Tetapi di sisi lain, justru di sanalah letak seluruh rahasia ibadah. Banyak orang ingin datang kepada agama dengan membawa rasa kuat. Mereka ingin merasa lebih baik, lebih benar, lebih terjamin, lebih unggul. Tasawuf memotong jalan itu. Jalan menuju Allah justru dimulai ketika manusia tidak lagi sibuk membangun kebesaran dirinya di hadapan Allah. Ia dimulai dari pengakuan bahwa di hadapan Yang Mahakuasa, manusia sungguh tidak berdaya.
Ketidakberdayaan yang dimaksud di sini tentu bukan ajakan untuk menyerah tanpa usaha. Bukan pula psikologi kalah yang membuat manusia pasif. Yang dimaksud adalah kejujuran ontologis: bahwa seluruh kemampuan manusia tetap berada di bawah izin Allah. Manusia memang berikhtiar, berpikir, bekerja, berjuang. Tetapi semua itu tidak pernah membuatnya menjadi pemilik mutlak atas hidupnya. Ia tetap makhluk yang bergantung. Dalam bahasa tasawuf, kesadaran seperti ini justru menyehatkan jiwa. Sebab banyak kegelisahan lahir dari keinginan untuk tampak sanggup menguasai segala hal, padahal manusia tidak pernah benar-benar menguasainya.
Syair lalu bergerak ke lapisan kedua: “Itulah bukti segala urusanku tidak akan pernah lepas dari kuasa-Mu.” Bila baris pertama menyoroti keberadaan pribadi manusia, baris kedua memperluasnya ke seluruh lingkar hidup. Bukan hanya diriku yang lemah, melainkan segala urusanku pun tidak pernah keluar dari kuasa Allah. Inilah inti dari tawakal yang lurus. Tawakal dalam tasawuf bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Ia adalah meletakkan ikhtiar pada tempatnya. Manusia tetap bekerja, tetap menyusun langkah, tetap menggunakan akal dan tenaga. Tetapi ia tidak menjadikan hasil sebagai berhala. Ia tidak menggantungkan keseluruhan hidupnya pada kemampuan diri. Ia sadar bahwa semua gerak, hasil, keberhasilan, kegagalan, penundaan, dan perubahan tetap berada di dalam tadbir Allah.
Dalam kehidupan modern, manusia sangat mudah terjebak pada ilusi kendali. Kita menyusun agenda, target, rencana, strategi, seolah-olah hidup sepenuhnya bisa dipetakan. Di satu sisi, perencanaan memang diperlukan. Namun di sisi lain, ada bahaya rohani yang besar ketika manusia diam-diam percaya bahwa keselamatan hidup bergantung mutlak pada kemampuannya mengatur. Di situlah tasawuf mengoreksi. Semua urusan tidak pernah lepas dari kuasa Allah. Kalimat ini bukan seruan untuk berhenti berikhtiar, melainkan peringatan agar manusia tidak menyembah ikhtiarnya sendiri.
Ada saat ketika segala yang kita siapkan berhasil berjalan. Ada saat ketika semuanya justru berantakan tanpa bisa kita kendalikan. Pada titik itulah manusia biasanya diuji. Bila ia mengira hidup ini sepenuhnya ada di tangannya, maka ia akan hancur oleh kecemasan atau mabuk oleh keberhasilan. Tetapi bila ia mengerti bahwa segala urusannya ada dalam kuasa Allah, maka ia akan tetap berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tidak menjadikan dirinya sebagai pusat keselamatan. Sikap ini membuat jiwa lebih seimbang: tekun dalam usaha, tetapi rendah hati dalam hasil.
Lalu syair mencapai baris ketiganya yang paling sunyi sekaligus paling dalam: “Itulah bukti ketiadaanku bersama dengan keberadaan-Mu.” Kalimat ini harus dibaca hati-hati. Dalam tradisi tasawuf yang lurus, ia tidak berarti manusia melebur menjadi Tuhan. Ia tidak menghapus batas antara Khalik dan makhluk. Yang hendak diungkapkan di sini adalah sesuatu yang lebih halus: bahwa di hadapan Allah yang benar-benar Ada, keberadaan manusia sesungguhnya rapuh, bergantung, dan tidak mandiri. Manusia ada karena diadakan. Ia hidup karena dihidupkan. Ia bertahan karena ditahan dalam وجود oleh Allah.
Dalam pengertian ini, “ketiadaanku” bukan ketiadaan makhluk secara harfiah, melainkan ketiadaan klaim atas kemandirian. Ego manusia selama ini merasa dirinya pusat. Ia merasa dirinya punya kuasa, punya kepentingan yang harus dipertahankan, punya keberadaan yang kokoh. Tasawuf datang untuk membongkar ilusi itu. Ketika seorang hamba mengatakan bahwa ketiadaannya berada bersama keberadaan Allah, ia sedang mengaku bahwa dirinya tidak pernah berdiri sendiri. Ia bukan sumber bagi dirinya. Ia tidak memiliki wujud yang mutlak. Hanya Allah Yang Mahawujud. Sedangkan manusia adalah makhluk yang seluruh keberadaannya bergantung.
Ada kelegaan yang paradoksal di dalam kesadaran ini. Di satu pihak, ia terasa pahit bagi ego karena memaksa manusia turun dari pusat. Namun di pihak lain, justru dari sinilah kebebasan lahir. Banyak penderitaan manusia muncul karena ia berusaha mempertahankan sesuatu yang rapuh seolah-olah kokoh: citra dirinya, keberhasilannya, penilaiannya atas diri sendiri, bahkan luka-luka yang dijadikannya identitas. Ketika ia menyadari bahwa keberadaannya sendiri tidak mandiri, ia perlahan dibebaskan dari keharusan membela “aku” terus-menerus. Ia menjadi lebih ringan. Lebih jujur. Lebih rendah hati.
Tiga baris syair itu, bila dilihat sebagai satu kesatuan, sesungguhnya membentuk jenjang ruhani yang sangat indah. Mula-mula manusia mengakui ketidakberdayaannya. Lalu ia mengakui bahwa seluruh urusannya ada dalam kuasa Allah. Setelah itu ia mengakui bahwa dirinya sendiri tidak memiliki keberadaan yang mandiri. Ini seperti tiga tahap penyerahan diri yang semakin dalam. Pertama, menyerahkan rasa kuat. Kedua, menyerahkan rasa mampu mengatur. Ketiga, menyerahkan rasa memiliki pusat keberadaan.
Tasawuf memang selalu bergerak ke arah itu. Ia bukan proyek pembesaran diri, melainkan pengurangan diri. Bukan jalan untuk membuat manusia tampak lebih istimewa, melainkan jalan agar ia menjadi lebih jujur sebagai hamba. Banyak orang tertarik pada spiritualitas karena membayangkan suasana yang damai, kata-kata yang lembut, dan rasa tenang. Tasawuf yang sejati tentu bisa melahirkan ketenangan. Tetapi sebelum ketenangan itu datang, ia hampir selalu mengharuskan seseorang berjumpa dengan kenyataan yang tidak nyaman: bahwa dirinya tidak sebesar yang selama ini ia bayangkan.
Di titik inilah syair tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam zaman yang memuja performa. Orang didorong untuk tampil berhasil, tampil kuat, tampil jelas, tampil penuh kendali. Bahkan di ruang keagamaan pun, godaan untuk menjadikan agama sebagai panggung citra sangat besar. Orang bisa rajin ibadah, tetapi tetap menjadikan dirinya pusat. Orang bisa banyak bicara tentang ketergantungan kepada Allah, tetapi diam-diam tetap bergantung pada penilaian manusia. Orang bisa sering mengucapkan Allahu Akbar, tetapi yang sesungguhnya dibesarkan di dalam batinnya adalah dirinya sendiri.
Syair ini memotong semua itu dengan cara yang hening. Ia tidak berteriak. Ia tidak berkhotbah. Ia hanya mengulang satu gerakan, satu lafaz, dan tiga pengakuan. Tetapi justru di dalam pengulangan itu tersimpan latihan rohani yang sangat kuat. Setiap kali tangan diangkat, manusia diajak melepaskan genggaman. Setiap kali takbir diucapkan, manusia diajak mengecilkan ego. Setiap kali pengakuan keluar, manusia diajak masuk lebih dalam ke dalam kesadaran kehambaan.
Bila dibaca dengan cermat, syair ini juga merupakan terapi terhadap beberapa penyakit hati paling utama. Ia melawan kesombongan, karena orang yang benar-benar sadar tidak berdaya akan sulit membesarkan diri. Ia melawan ujub, karena orang yang tahu semua urusannya berada di bawah kuasa Allah tidak akan mudah mengagungkan amal dan rencananya sendiri. Ia melawan kelekatan berlebihan pada identitas diri, karena orang yang sadar bahwa keberadaannya sendiri bergantung akan lebih mudah merendah di hadapan Allah dan di hadapan hidup.
Dalam tradisi tasawuf, inilah inti dari penyucian jiwa. Hati manusia tidak cukup dibersihkan dari dosa-dosa lahir saja. Ia juga harus dibersihkan dari pusat-pusat palsu di dalam dirinya. Dan pusat palsu yang paling licin adalah ego: rasa penting, rasa besar, rasa menjadi penentu, rasa menjadi pemilik atas hidup. Syair ini menolong manusia membaca ulang dirinya sendiri. Ternyata yang paling penting bukan berapa panjang doa yang diucapkan, melainkan apakah doa itu membuat kita benar-benar lebih kecil di hadapan Allah. Ternyata yang paling penting bukan seberapa sering kita bertakbir, melainkan apakah takbir itu sungguh menggeser “aku” dari takhta tersembunyi di dalam hati.
Pada akhirnya, syair ini membawa kita kembali kepada hakikat paling dasar dari ibadah. Ibadah bukan pertama-tama soal memperlihatkan kesalehan. Ibadah adalah pengakuan. Pengakuan bahwa Allah Mahabesar dan aku tidak besar. Pengakuan bahwa Allah Mahakuasa dan aku bergantung. Pengakuan bahwa segala urusanku tidak berada di luar-Nya. Pengakuan bahwa keberadaanku sendiri hanyalah limpahan dari keberadaan-Nya. Bila pengakuan ini benar-benar hidup, maka ibadah tidak lagi hanya menjadi rutinitas. Ia menjadi pembentukan jiwa.
Barangkali itulah sebabnya syair yang sangat singkat ini justru memiliki daya renung yang panjang. Ia tidak menjanjikan pengalaman luar biasa. Ia tidak menggoda pembaca dengan kemegahan mistik. Ia justru mengajak kembali ke sesuatu yang paling sederhana dan paling berat sekaligus: menjadi hamba. Dan menjadi hamba, bila dijalani dengan jujur, memang berarti belajar mengecil. Belajar melepas. Belajar tidak lagi menempatkan diri sebagai pusat.
Di tengah dunia yang terus meminta kita menjadi besar, mungkin tak banyak yang lebih menenangkan daripada satu kesadaran ini: bahwa kita tidak harus memikul dunia seolah-olah semua ada di tangan kita. Kita boleh berusaha sepenuh hati, tetapi tidak perlu menuhankan hasil. Kita boleh menyusun rencana, tetapi tidak harus mabuk kendali. Kita boleh memiliki identitas, tetapi tidak perlu menjadikannya pusat keberadaan. Sebab pada akhirnya, seperti diajarkan syair itu, tangan yang terangkat kepada Allah bukan hanya sedang meminta. Ia sedang belajar mengatakan sesuatu yang lebih dalam: aku tidak berdaya, segala urusanku ada di bawah kuasa-Mu, dan diriku sendiri pun tak punya apa-apa tanpa Engkau.
Mungkin, justru dari titik itulah hati mulai mengenal ketenangan yang lebih dewasa. Bukan ketenangan karena semua persoalan selesai. Bukan ketenangan karena semua rencana berhasil. Melainkan ketenangan karena manusia akhirnya tahu tempatnya. Allah Mahabesar. Dan ketika itu sungguh disadari, diri tidak perlu lagi membesar-besarkan dirinya sendiri.












