Umum  

Jatuh ke dalam Dekapan: Makrifat Lipatan Tangan, Jurang, dan Fatamorgana Wujud

Oleh: H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara

Monwnews.com, Pada sebuah sepertiga malam yang dingin, atau di sela-sela terik siang yang menyengat, jutaan tubuh membentuk formasi vertikal menghadap kiblat. Kepala tertunduk, pandangan jatuh ke tempat sujud, lisan terkunci dalam takbir agung. Lalu, di antara heningnya qiyam dan puncak kekhusyukan, kedua tangan bergerak: kanan di atas kiri, menyilang di bawah dada, bertumpu di atas pusar. Bagi sebagian besar, gerakan ini adalah formalitas fikih, sebuah ritus yang diwariskan turun-temurun. Namun, bagi para salik—pejalan ruhani yang mengarungi samudra hakikat—lipatan tangan itu bukan sekadar postur. Ia adalah isyarat kosmik, sebuah peta perjalanan yang menuntun jiwa dari ketersesatan fatamorgana dunia menuju hakikat Keesaan.

H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara
H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

Di sinilah kita memasuki sebuah taman makrifat yang jarang tersingkap. Sebuah teks hikmah yang berbunyi, ”Lipatlah kedua tanganmu di bawah dadamu dan di atas pusar perutmu, Bukankah melipat kedua tanganmu sama halnya dengan melipat kekuasaanmu dan menjerat nafsumu.” Teks ini adalah serpihan permata dari khazanah para arif billah, yang seolah mengajak kita untuk memaknai ulang setiap jengkal gerakan ibadah sebagai monumen penyerahan diri. Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana diabadikan dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ karya Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi an-Naqsyabandi, setiap adab lahiriah adalah pintu menuju kedalaman batin. Lipatan tangan ini, dalam disiplin Tarekat Naqsyabandiyah, adalah latihan awal untuk mengosongkan diri dari klaim kekuasaan manusiawi dan mengebiri nafsu yang selalu meronta ingin diakui.

Tulisan ini adalah sebuah tadabbur, sebuah perenungan panjang untuk membedah makna simbolik lipatan tangan, bukan sebagai hukum fikih yang kaku, melainkan sebagai muraqabah (kesadaran akan pengawasan Ilahi) yang paling intim. Kita akan berjalan menyusuri maqam-maqam spiritual yang ditunjukkan oleh teks tersebut, dengan berpijak pada dua kitab agung: Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani yang merekam hidup para wali, dan Jami’ul Ushul yang merupakan kompas suluk para penempuh jalan akhirat.

Melipat Kekuasaan: Sebuah Takhalli dari Klaim “Aku”

Ketika lidah mengucap Allahu Akbar, saat itu pula semesta dan seisinya secara simbolik dilontarkan ke belakang punggung. Tidak ada lagi urusan dunia, tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi harta. Saat takbir memecah keheningan, hamba memasuki haram (tanah suci) kehadiran Ilahi. Lalu, tangan kanan menggenggam tangan kiri.

Mengapa tangan? Dalam anatomi spiritual, tangan adalah metafora dari al-quwwah (kekuatan) dan al-kasb (usaha). Tangan adalah alat untuk meraih, untuk memukul, untuk mencengkeram, dan untuk membangun peradaban. Tangan adalah simbol keangkuhan peradaban manusia. Ketika dua tangan itu dilipat, si hamba sejatinya sedang melakukan tajrid, menanggalkan segala klaim bahwa ia memiliki daya dan kekuatan. Tangan yang biasanya digunakan untuk bekerja, untuk meraih prestasi, untuk melakukan tindak tanduk kuasa, tiba-tiba dibuat tak berdaya. Ia terlipat, persis seperti jasad yang siap dikafani.

Maulana Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menjelaskan bahwa esensi dari sebuah tarekat adalah “usaha seseorang dalam mengendalikan diri dari sifat-sifat keduniawian.” Beliau merumuskan serangkaian maqamat yang harus dilalui seorang salik. Posisi melipat tangan ini adalah manifestasi fisik dari takhalli, yaitu tahap pengosongan. Siapa yang hendak dikosongkan? Sang “Aku”. Dalam hati manusia terdapat berhala laten yang bernama ana (keakuan). Berhala ini selalu merasa bahwa dirinyalah yang menentukan hasil, dirinyalah yang berkuasa atas nafasnya sendiri, atas rezekinya, atas kariernya. Rasa “memiliki kuasa” inilah yang oleh teks kita disebut sebagai “fatamorgana”, sebuah ilusi optik spiritual yang menghalangi mata batin untuk melihat Sang Penguasa Sejati, al-Qahhar.

”Sungguh itu adalah perintah Allah kepadamu, perintah untuk mengembalikan dirimu beserta kekuasaanmu kepada-NYA.”

Kalimat ini adalah seruan untuk ber-fana’. Fana’ adalah salah satu puncak pengalaman sufistik di mana seorang hamba meleburkan semua sifat-sifat kemanusiaannya yang tercela dan bahkan meleburkan “kesadaran akan dirinya sendiri” ke dalam Wujud Mutlak. Ketika tangan dilipat, kita sedang berlatih untuk mati sebelum mati. Kita lipat “tangan kekuasaan” kita sendiri, kita serahkan, kita kembalikan kepada Pemiliknya. Bukankah ini lebih tinggi dari sekadar pasrah? Ini adalah pengakuan tanpa syarat bahwa yang ada pada diri kita hanyalah kehampaan (‘adam), dan satu-satunya Wujud yang haqq adalah Dia.

Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ mendokumentasikan para kekasih Allah yang telah mencapai puncak tajrid ini. Lihatlah bagaimana kisah-kisah para ashfiya’ (orang-orang pilihan yang suci) diukir. Mereka adalah manusia-manusia yang tangannya secara batiniah telah mati dari ketergantungan pada makhluk. Mereka tidak lagi “merasa memiliki” kekuasaan, sehingga tangan mereka tidak pernah gemetar menolak kebenaran, dan tidak pernah mengepal rakus menuntut dunia. Mereka adalah para fuqara’ (orang-orang fakir) yang sejati. Kefakiran mereka bukanlah ketiadaan harta, melainkan kekosongan hati dari rasa butuh dan rasa kuasa selain Allah. Di sinilah letak relevansi pesan teks kita: “MERASA ADA ITULAH RUPA KUASA YANG HAMPA”. Merasa memiliki wujud, merasa memiliki daya, itulah fatamorgana. Dan fatamorgana hanya akan sirna ketika sang pengembara gurun terus berjalan mendekat. Semakin ia mendekat kepada Allah, semakin ia sadar bahwa dirinya hampa, dan hanya Allah yang Maha Penuh.

Di Antara Pusar dan Dada: Mikrokosmos Bainas Safataini

Setelah menuntun kita pada makna takhalli dan fana’, teks hikmah itu membawa kita pada kontemplasi yang lebih mencengangkan secara metaforis:

”Perhatikanlah dirimu yang melipat kedua tanganmu di antara perut dan dadamu, Sesungguhnya itu adalah petunjuk bagimu, Bahwa dirimu hidup di antara dua tempat yang nyata (bainas safataini) itulah dunia yang fatamorgana, tempat dimana engkau berada dan melangkah.”

Di sini, teks ini menyentuh inti dari kondisi manusia: bainas safataini. Secara harfiah, ini adalah lokasi anatomis tangan saat shalat: di antara pusar dan dada. Namun, dalam bahasa isyarat (isyarah) kaum sufi, ini adalah peta semesta kecil (mikrokosmos).

Pusar, atau perut, adalah pusat dari syahwat biologis. Di sanalah letak nafs al-ammarah, jiwa yang senantiasa memerintahkan pada keburukan, yang menginginkan makan, minum, dan kenikmatan jasadi. Ia adalah tarikan gravitasi bumi yang paling rendah. Sementara dada, adalah singgasana al-qalb (hati). Di sanalah terdapat lathifah ruhaniyyah, titik halus yang mampu menerima pancaran cahaya (tajalli) dari langit malakut. Dada adalah istana bagi nafs al-muthmainnah, jiwa yang tenang dan senantiasa rindu pulang ke hadirat Tuhannya.

Dengan melipat tangan di antara keduanya, seorang mushalli menyimbolkan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk barzakh, makhluk perantara. Kita bukanlah malaikat yang semata-mata ruhani, dan bukan pula hewan yang semata-mata jasadi. Kita adalah titik tengah yang tegang, sebuah medan perang abadi antara tarikan syahwat dari bawah dan tarikan ilham dari atas. Dunia, sebagai bainas safataini, adalah medan ujian (dar al-ibtila’) yang dipenuhi fatamorgana. Ia tampak oleh mata kepala sebagai realitas yang solid, namun bagi mata batin para arif, ia hanyalah bayangan yang lewat, jembatan yang harus diseberangi, bukan rumah yang harus dibangun.

Di sinilah kita bisa merujuk pada bagaimana Al-Kamasykhanawi meletakkan mujahadah (perjuangan batin) sebagai pondasi suluk. “Melipat kedua tangan” di area antara pusar dan dada adalah gesture visual dari jihad al-akbar (perang besar). Tangan yang terlipat itu adalah rantai yang membelenggu nafsu, mencegahnya berkuasa, dan pada saat yang sama “membungkus” hati agar tidak terkontaminasi oleh kotoran-kotoran syahwat yang naik dari bawah. Ini adalah praktik muraqabah yang paling konkret: menjaga hati secara konstan agar tetap berada dalam pengawasan Allah, tidak miring ke jurang kelalaian, dan tidak pula melayang dalam kesombongan spiritual.

Para sufi yang biografinya direkam dalam Hilyatul Auliya’ adalah para juara yang berhasil menaklukkan medan bainas safataini ini. Mereka berdiri tegak di dunia, namun hati mereka tidak terpaut oleh fatamorgananya. Mereka tidak menghancurkan syahwat dengan cara mematikan jasad secara ekstrem, namun mengendalikan dan menempatkannya di bawah telapak kaki ruhani. Mereka memahami bahwa dunia adalah “awal kemana engkau melangkah,” sebagaimana disebutkan oleh teks kita. Dunia adalah tempat untuk melangkah, bukan untuk duduk berpangku tangan. Seorang musafir yang singgah sebentar di bawah pohon rindang untuk kemudian melanjutkan perjalanan, itulah perumpamaan orang zuhud dalam memandang fatamorgana dunia.

Fatamorgana Wujud, dan Melihat Kekuasaan Sejati

Ada sebuah pengakuan eksistensial yang amat pedih dalam teks ini: “MERASA ADA ITULAH RUPA KUASA YANG HAMPA”. Kalimat ini, dalam dialektika tasawuf, adalah pisau analisis yang membedah kesombongan ontologis manusia. Manusia merasa “ada”, merasa memiliki “kuasa”, padahal pada hakikatnya, tiada yang wujud dan tiada yang kuasa kecuali Allah.

Dalam perspektif Ibnu ‘Arabi, yang ajarannya menyebar dalam banyak kitab klasik, wujud makhluk hanyalah wujud pinjaman. Ia laksana bayang-bayang. Ketika cahaya matahari (Wujud Mutlak) bersinar, bayangan itu tampak. Namun, apakah bayangan memiliki esensinya sendiri? Tidak. Ia “ada” tetapi “hampa”. Inilah fata morgana yang dimaksud. Di padang pasir kehidupan, kita sering berlari-lari mengejar air yang kita kira nyata, namun saat kita hampir meraihnya, ia lenyap dan kita bertambah kehausan. Begitulah ambisi, jabatan, pujian, bahkan ilmu yang tidak disertai amal dan ikhlas; ia tampak seperti sumber air kehidupan, namun sejatinya hampa.

Teks kita memberikan solusi yang sangat sufistik: “Maka tiadakanlah hal tersebut, supaya dirimu melihat kekuasaan yang sesungguhnya.” Ini adalah kaidah al-fana’ syarth al-baqa’ (fana adalah syarat untuk baqa’). Selama mata batin manusia masih dipenuhi oleh fatamorgana wujudnya sendiri, selama “aku” masih menonjol di dalam hatinya, ia tidak akan pernah melihat al-Qudrah al-Haqiqiyyah (Kekuasaan Sejati). Hati laksana cermin. Jika cermin itu berdebu dan dipenuhi gambar-gambar selain Allah, bagaimana mungkin cahaya keindahan-Nya memantul dengan sempurna? Melipat tangan dalam shalat adalah upaya membersihkan cermin itu. Kita “meniadakan” rasa kuasa di tangan, kita “meniadakan” gerakan, kita “meniadakan” usaha lahiriah, dengan satu harapan: agar Tangan Kekuasaan Allah (Yadullah) yang bekerja, agar Hanya Dia yang tampak, dan kita tenggelam dalam musyahadah (penyaksian) akan kebesaran-Nya.

Perhatikan para wali dalam Hilyatul Auliya’. Mereka seringkali tampak lemah secara fisik, seringkali terzalimi, tidak memiliki “kuasa” politik atau militer secara kasat mata. Namun, di balik kehampaan lahiriah itu, tersimpan al-haiba (kewibawaan) dan tasharruf (kekuasaan ruhaniah) yang luar biasa. Doa mereka menembus langit, langkah mereka dibormati semesta. Mengapa? Karena mereka telah berhasil “meniadakan” diri mereka sendiri. Ketika “aku” mereka tiada, maka “Dia” hadir menggantikan. Inilah yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sebagai al-fana’ ‘an al-khalqi wa al-baqa’ bi al-Haqq (sirna dari makhluk dan kekal bersama Allah).

Melihat Jurang dan Kubah: Pilihan di Ujung Langkah

Setelah membimbing kita pada perenungan fana’ dan kondisi bainas safataini, teks ini seolah menjadi peta visual yang menakjubkan, membentangkan dua kemungkinan akhir dari sebuah perjalanan:

”Tatkala engkau berdiri dan melipat kedua tanganmu… lihatlah tempat yang ada bawah telapak kakimu, bukankah itu adalah jurang yang menganga yang tidak bisa engkau ukur kedalamannya, dan lihatlah tempat yang ada diatasmu, Bukankah ada istana yang sangat megah beratapkan kubah yang berada diatas bukit menara.”

Bayangan jurang yang menganga di bawah telapak kaki dan istana megah di atas kepala adalah visualisasi dari al-khauf (rasa takut) dan ar-raja’ (rasa harap) yang harus bersenyawa dalam hati seorang sufi. Posisi berdiri saat melipat tangan adalah posisi paling seimbang untuk merenungkan hal ini. Jika kita menjatuhkan pandangan, kita melihat jurang: neraka, hāwiyah, tempat kebinasaan yang kedalamannya tak terukur. Jika kita menengadah, kita melihat istana dengan kubah megah: surga, jannatun na’im, tempat kenikmatan abadi.

Bagi para salik, dua perspektif ini adalah motivator perjalanan, namun bukan tujuan final. Kaum sufi sejati, sebagaimana terpatri dalam adab Jami’ul Ushul, tidak beribadah semata-mata karena takut neraka atau mengharap surga. Mereka beribadah karena cinta (mahabbah) dan karena Allah ahliyyun li an yu’bada (memang layak untuk disembah). Namun, bagi jiwa-jiwa yang masih berjuang di tahap mujahadah, membayangkan jurang neraka adalah pengingat akan bahaya dari ghaflah (kelalaian), sementara membayangkan istana surga adalah pemantik rindu akan jannah dan ridhwan.

“Dunia adalah awal kemana engkau melangkah,” demikian teks ini menandaskan. Betapa dahsyatnya kesadaran ini. Seolah setiap langkah kita, saat ini, sedang menentukan titik koordinat akhir kita. Langkah kaki yang sesuai dengan kehendak-Nya akan membawa kita ke puncak bukit menara, menjauhi jurang. Sementara langkah yang menuruti hawa nafsu, yang memperturutkan fatamorgana, akan menjerumuskan kita ke dalam kegelapan yang tak berdasar.

Di sinilah syariat berfungsi sebagai tali pengaman. Teks ini segera menutup dengan pesan yang membumikan semua konsep tinggi tersebut: ”Berjalanlah engkau sesuai dengan kehendak NYA dan jadikanlah Alqur’an pedoman hidupmu, dan peganglah kebenaran kuat-kuat Niscaya dirimu tidak akan jatuh kedalam jurang neraka yang menganga.” Ini adalah penegasan bahwa thariqah (jalan spiritual) harus selalu berada dalam koridor syariat. Tidak mungkin seseorang mencapai hakikat melipat tangan secara batin, jika secara lahir ia tidak pernah melipat tangannya dalam shalat. Tidak mungkin ia bisa fana’ dari “kekuasaannya” jika ia masih meremehkan perintah dan larangan Al-Qur’an.

Al-Kamasykhanawi dalam kitabnya sangat keras menekankan al-ittiba’ (mengikuti syariat). Tarekat tanpa syariat adalah zindik, dan syariat tanpa hakikat adalah kosong. “Peganglah kebenaran kuat-kuat,” adalah seruan untuk ber-istiqamah. Istiqamah adalah karamah (kemuliaan) tertinggi. Dalam Hilyatul Auliya’, kita menemukan para wali yang paling sederhana sekalipun, tidak ada yang meninggalkan syariat. Justru syariatlah yang menjadi benteng mereka dari terjangan fatamorgana, dan kendaraan yang membawa mereka melesat menuju Allah. Mereka mengikatkan diri mereka sekuat-kuatnya pada tali Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga langkah mereka tidak pernah goyah di atas ash-shirath al-mustaqim.

Menghidupkan Mati Sebelum Ajal: Menuju Istana Ridha-Nya

Pada akhirnya, renungan panjang tentang melipat tangan ini adalah tentang “kematian”. Tangan yang terlipat adalah tangan mayat yang siap dishalatkan. Ketika kita berdiri, menghadap kiblat, menyerahkan tangan kanan kepada tangan kiri, sesungguhnya kita sedang menjalani latihan kematian yang paling mulia. Nafsu kita jerat, klaim kita hentikan, kita kembalikan segalanya kepada Sang Pemilik Sejati.

Dunia yang fatamorgana ini akan terus mencoba memukau kita dengan gemerlapnya. Namun, setiap kali kita melipat tangan dalam shalat, kita diingatkan bahwa kita hidup bainas safataini, di antara dua tempat yang nyata: antara syahwat dan qalb, antara jurang dan istana. Postur ini memampatkan seluruh eksistensi kita ke dalam satu titik momen muraqabah. Tidak ada kemegahan lain yang lebih agung selain posisi seorang hamba yang mengakui kehampaan dirinya di hadapan Yang Maha Penuh.

Ajaran dari kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’ mengajak kita untuk tidak berhenti pada simbol, tetapi menembus ke kedalaman asrar (rahasia-rahasia). Sementara Hilyatul Auliya’ memberikan kita teladan bahwa jalan ini bisa ditempuh, dan telah ditempuh oleh manusia-manusia pilihan. Mereka berjalan di muka bumi ini dengan tubuh mereka, namun hati mereka telah terlebih dahulu mendiami istana-istana kubah megah di atas sana. Mereka berjalan dengan pedoman kitab suci, melangkah dengan hati-hati di antara fatamorgana, hingga ajal menjemput mereka dalam keadaan nafs muthmainnah.

Maka, mari kita perhatikan kembali lipatan tangan kita. Jangan biarkan ia sekadar menjadi otot yang kaku. Resapi bahwa di sana, di antara pusar dan dada, kita sedang memeluk rahasia perjalanan ruhani. Lipatan itu adalah cermin dari kerendahan hati. Lipatan itu adalah isyarat bahwa kita telah selesai dengan segala drama keakuan, dan kini, dalam ketidakberdayaan yang paripurna, kita hanya menunggu sapaan Ilahi. Bukankah Allah tidak melihat pada bentuk tubuh kita, melainkan pada hati yang ada di balik lipatan-lipatan tulang itu? Semoga setiap lipatan tangan kita menjadi saksi bahwa kita telah memilih untuk jatuh ke dalam dekapan-Nya, bukan ke dalam jurang kelalaian. Hanya dengan berjalan sesuai kehendak-Nya, niscaya kita menjadi penghuni istana surga yang abadi. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *