Harmoni Kebatin dan Etika Kekuasaan

Surodiro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti sebagai Cermin Kepemimpinan Nasional

Oleh: Gaguk Inaker

Monwnews.Com “Surodiro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti” is a profound Javanese philosophical proverb attributed to Raden Ngabehi Ronggowarsito.

It teaches that even the mightiest traits like bravery and worldly success can be overcome by wisdom and kindness.

Phrase Breakdown “Surodiro” : Represents bravery or fierceness (suro) combined with unyielding strength (diro), symbolizing powerful but potentially destructive forces.

Joyoningrat (or Jayaningrat) ; Refers to glory, nobility, or immersion in worldly pleasures, often leading to arrogance or tyranny.

Lebur Dening ; Means “destroyed by” or “melted away through,” indicating inevitable downfall.

Pangastuti ; Stands for praise, wisdom, compassion, or noble deeds that prevail over negativity.

Core MeaningThe full proverb translates to: “The fierce, unyielding glory of the noble is melted away by wisdom and kindness”.

Its remind that human vices like anger, pride, and greed fueled by power ultimately dissolve before patience, empathy, and goodness.

This wisdom encourages self-reflection to cultivate inner virtues over ego-driven dominance.

“Surodiro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti” berasal dari karya sastra Jawa abad ke-19, diciptakan oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito, seorang pujangga Keraton Surakarta.

Asal Penulis Ronggowarsito (1802-1873) menjabat sebagai Pangeran Adipati Arya Wedana, penyair ulung era Kasunanan Surakarta.

Pepatah ini muncul dalam karyanya “Serat Wichara”, yang berisi falsafah Jawa mendalam tentang etika dan kebijaksanaan.

Konteks historis ungkapan ini lahir di tengah gejolak politik kolonial Belanda di Jawa Tengah, guna mengkritik korupsi dan tirani penguasa.

Ronggowarsito menyusunnya untuk menasihati para bangsawan agar mengutamakan kebajikan daripada kekuasaan brutal.

Falsafah ini mencerminkan nilai-nilai Mataram Islam yang menekankan “harmoni kebatin”.

Adapun mengkaji diksi “agama” semua khalayak sudah paham memang berasal dari bahasa Sansekerta dengan akar a (tidak) dan gama (kacau atau bergerak sembarangan), sehingga bermakna “tidak kacau” atau “teratur/beraturan”.

Penjelasan ini sesuai dengan etimologi umum yang menyatakan agama sebagai sistem aturan yang membawa ketertiban dalam kehidupan manusia.

Variasi Etimologi ada beberapa sumber menyebut gama sebagai “pergi/berjalan,” membuat agama berarti “tidak berubah/kekal,” menekankan kestabilan ajaran spiritual.

Namun, interpretasi “tidak beraturan atau sebaliknya” keliru; justru sebaliknya, agama melambangkan keteraturan moral dan sosial, bukan kekacauan.

Konteks Jawa dalam tradisinya, agama (agami) dipahami sebagai ngelmu kasampurnan atau harmoni dengan Tuhan, alam, dan sesama, selaras dengan falsafah seperti “Surodiro Joyoningrat” yang menjunjung kebajikan teratur atas kekacauan nafsu.

Kata “agama”dalam bahasa Sanskerta berasal dari āgama (आगम), yang terbentuk dari prefiks ā- (menuju) dan akar gam (pergi atau bergerak).

Secara etimologis, ini bermakna “yang datang” atau “yang diwahyukan,” merujuk pada pengetahuan suci atau ajaran yang diturunkan dari sumber ilahi.

Interpretasi umum yang populer lain adalah a (tidak) + gam (kacau atau bergerak sembarangan), sehingga “agama” berarti “tidak kacau” atau sistem yang membawa keteraturan moral dan spiritual. Versi ketiga melihat a (tidak) + gam (pergi), menyiratkan “tidak berubah” atau “kekal,” menekankan kestabilan ajaran.

Konteks Penggunaan dalam teks Veda dan filsafat Hindu, āgama merujuk pada kitab suci atau tradisi otoritatif yang membimbing dharma (kewajiban hidup).

Makna ini memengaruhi pemahaman agama di Indonesia sebagai pedoman teratur, selaras dengan falsafah Jawa seperti Surodiro Joyoningrat tsb yang menekankan harmoni atas kekacauan.

Adapun Kepemimpinan Nasional yang diharapkan serta Ideal haruslah mencerminkan kekuatan karakter yang kokoh, selalu menjadi teladan, dan serta dalam memimpin terlihat jelas satunya kata dengan perbuatan, berpegang pada paramaarta (kebenaran tertinggi), serta memiliki wawasan kebudayaan luas dengan kepribadian berhastabrara (perilaku terpuji).

Pendekatan ini memastikan Rakyatbyang dipimpinnya memperoleh manfaat nyata dari kepemimpinan nasional.

Karakter Kuat dan Tauladan Pemimpin Ideal menunjukkan kekuatan batin melalui keteguhan moral, bukan kekerasan fisik, mirip “suro diro” dalam pepatah Jawa yang akhirnya luntur oleh kebijaksanaan.

Selalu menjadi tauladan berarti konsisten dalam perbuatan baik, seperti Ronggowarsito yang mengkritik tirani demi harmoni sosial.

Hal ini membangun kepercayaan rakyat, sehingga kebijakan nasional seperti pembangunan infrastruktur benar-benar dirasakan manfaatnya.

Berpegang pada Paramaarta , dimana kebenaran mutlak dalam filsafat Jawa-Hindu, menuntut pemimpin nasional sangat memprioritaskan keadilan ilahiah , sebagai wakil Tuhan yang welas asih namun tegas, menghindari atas semata kepentingan pribadi maupun kelompok atau politik sesaat.

Pemimpin Nasional seperti ini menghindari korupsi, memastikan anggaran nasional dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan Rakyat.

Contohnya, keputusan berbasis etika agama (seperti āgama Sanskerta: keteraturan dari wahyu) menciptakan stabilitas jangka panjang.

Wawasan Kebudayaan Luas mencakup pemahaman tradisi lokal seperti pepatah “Surodiro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti” di Jawa hingga Sanskerta, memadukannya dengan modernitas.

Pemimpin ini mempromosikan toleransi antaragama dan budaya, menghasilkan kebijakan inklusif seperti program desa berbasis adat yang meningkatkan ekonomi Rakyat.

Kepemimpinan nasional yang mengamalkan serta berkarakter Hastabrata sangat bermanfaat pada Rakyat yang dipimpinnya dimana pemimpin tsb selalu menekankan sopan santun, rendah hati, dan sangat berempati, membuat pemimpin nasional dekat dengan Rakyatnya.

Maka kepemimpinan nasional menghasilkan kesejahteraan kemakmuran Rakyat konkret dan serta tlah menjadi nyata pengurangan bahkan fapat menghilangkan kesenjangan jurang pemisah antara sikaya dan simiskin, jadi kemiskinan secepatnya hilang melalui redistribusi keadilan tiada pandangbulu, sehingga tercipta harmoni sosial, serta pembangunan berkelanjutan.

Rakyat betul-betul diuntungkan karena sistem tidak kacau (agama: tidak bergerak sembarangan), melainkan teratur dan bermanfaat.

Adapun Hastabrata, atau sering disebut Astha Brata, adalah filosofi kepemimpinan Jawa Lampau yang menekankan delapan sifat ideal seorang pemimpin, diambil dari unsur alam sebagai salah satu kitab suci illahi.

Arti Kata Hasta berarti delapan, sementara Brata bermakna perilaku, laku, atau pengendalian diri.

Secara keseluruhan, hastabrata diterjemahkan sebagai “delapan ajaran” atau “delapan pedoman laku” bagi pemimpin bijaksana.

Delapan Sifat Filosofi ini melambangkan karakteristik dari delapan unsur alam yaitu :

1. Bumi yaitu Sabar serta kokoh, dan saling memberi.

2. Matahari berlaku sebagai Penerang dan menghangat.

3. Api harus Berani, satunya kata dengan perbuatan lagi tegas, tidak berkata bohong namun emosi tetap terkendali.

4. Samudra dimana berpandangan Luas namun stabil, dan menampung

5. Langit dimana warasan Luas visi misi kepemimpinannya dan selalu melindungi

6. Angin yang Fleksibel dan merata,

7. Bulan selalu Lembut dan menenangkan.

8. Bintang dimana Memberi petunjuk konsisten, hindari ibarat kata “pagi tempe sore kedelai”

Asal Usul Ajaran ini bersumber dari epos Ramayana, di mana Sri Rama mengajarkannya kepada Wibisana sebagai pedoman pemimpin ideal, dan tetap relevan dalam kepemimpinan modern Indonesia.

Dan kembali ketika menukil filsuf Ronggo Warsito memperingatkan tentang dinamika kekuasaan Mataram Islam yang disponsori oleh VOC dan serta dijangkauan cakramanggilingan Surodiro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti tsb , masih relevan dengan cita-cita luhur Republik Indonesia yang sudah 80 tahun berdiri dengan sistem Demokrasi dimana Rakyat harus Berdaulat sebagai Negara Kesatuan yang terdiri dari beribu pulau beserta pantainya dan serta beribu gunung berapi dengan kekayaan botani, maupun hayati dan serta sumber daya terkandung didalamnya sebagai berikut :

Soekarno praktis berkuasa penuh hanya 9 tahun dengan semangat kemandirian kebangsaan (Konferensi Asia Afrika dan serta Ganefo NEF nya)

Soeharto dengan Orde Barunya berkuasa 32 tahun beserta pembopongan sokongan Amerika, Inggris dan Jepang dan hingga lengser keprabon

Orde Reformasi yang mengharubiru hingga hari ini sudah berjalan kurang lebih 27 tahun serta berturut turut kekuasaan bergiliran yaitu : Abdurrahman Wachid, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono, Joko Widodo dan serta baharu sahaja setahun lebih berkuasa Prabowo Subianto.

Dan bagaimana romantika dinamika dialektika selanjutnya lajur kepemimpinan nasional berikutnya dimasa-masa mendatang, terserah para tokoh masyarakat dan serta para intelektual dalam penyertaan akal nalar pikir ilmu dan keimanannya sahaja.

Kita Kami Kamu Mereka trus dan serta tetap bergerak bergerak bergerak bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama-sama dan serta jua tetap bersyukur, saling berbagi, saling berkunjung, berkumpul saling silang mencari mensepakati bersama atas solusi-solusi terbaiknya dan jangan lupa bahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *