Monwnews.com, Jakarta – Hari raya Idul Adha atau yang disebut hari raya kurban yang jatuh setiap tanggal 10 Zulhijah merupakan momen yang penuh makna bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah satu praktek utama dalam perayaan Idul Adha adalah berkurban, yang memiliki makna spiritual yang sangat dalam bagi setiap Muslim, yaitu bukti ketaatan setiap Muslim kepada-NYA, sebagaimana diperintahkan oleh ALLAH dalam Alqur’an Surah Al Kautsar Ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
Artinya: “Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
Hal tersebut diatas diungkapkan oleh H.Agung Nugroho, S.H., M.H., salah satu anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan.
“Hari Raya Idul Adha selalu memberikan makna sangat dalam bagi setiap muslim. Dan kisah ketaatan Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s yang bisa kita jadikan suri tauladan sebagai manusia yang taat kepada ALLAH SWT,” ucap Agung, Jakarta (12/6/2024).
Menurut Agung, Idul Adha tidak hanya mengajarkan nilai-nilai pengorbanan, ketaatan, keikhlasan dan kesabaran, tapi juga terdapat perintah untuk menyembelih hewan kurban dan wajib melaksanakan ibadah haji bagi setiap Muslim yang sudah mampu secara fisik maupun finansial, sebagaimana ALLAH berfirman dalam Alqur’an Surah Al Hajj ayat 34-35:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ – ٣٤ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَالصَّابِرِيْنَ عَلٰى مَآ اَصَابَهُمْ وَالْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِۙ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ – ٣٥
Artinya: “Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan salat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.”
Dan dalam Hadist Nabi, perintah berqurban ini ditujukan kepada orang yang mampu:
عَنْ َأبِي هُرَيْرَة: َأنَّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا (رواه احمد وابن ماجه)
Artinya: “Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW telah bersabda, barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat salat kami,” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Jadi menurut Agung, bagi mereka yang belum mampu mengerjakan ibadah haji, namun mampu dengan berkurban adalah menjadi salah satu cara mendekatkan diri kepada ALLAH SWT. Dimana berkurban menjadi amalan utama Idul Adha dengan cara melakukan penyembelihan hewan kurban.
Idul Adha, lanjut Agung, mengajarkan kita tentang rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Penyembelihan kurban (sapi maupun kambing), dagingnya didistribusikan kepada fakir miskin, yatim piatu, dan kaum dhuafa yang menjadi simbol kepedulian kita terhadap mereka yang membutuhkan.
“Dengan daging kurban, kita diajarkan untuk selalu peduli dan membantu sesama, serta mempererat tali persaudaraan diantara masyarakat,” ujar Agung.
“Selamat Hari Raya Idul Adha, mari kita saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan dan semoga Idul Adha ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan kemakmuran bagi kita semua… Aamiin,” tutupnya. (dis)












