Gizi Rakyat Indonesia: Ironi Nasi Garam & Konsumsi Buah

Presiden Prabowo Subianto berbicara di World Economic Forum 2026 tentang kondisi gizi dan nasi garam rakyat Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto berbicara di World Economic Forum 2026 tentang kondisi gizi dan nasi garam rakyat Indonesia.

Monwnews.com, Jakarta – Masalah Gizi Rakyat Indonesia kini menjadi sorotan dunia. Presiden Prabowo Subianto membawa potret realitas sosial masyarakat ke panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Pernyataan Presiden di Davos mengungkap ironi piring rakyat yang masih mengandalkan nasi garam. Hal ini sangat kontras dengan data konsumsi buah dan sayur kita yang masih sangat rendah.

​Di hadapan para pemimpin global, Presiden mengungkapkan rasa haru sekaligus keprihatinannya. Beliau menyoroti kondisi jutaan rakyat yang masih hidup dalam kesederhanaan ekstrem.

​”Saya tahu rakyat saya. Banyak dari mereka makan nasi hanya dengan garam. Namun, mereka tetap tersenyum dan memiliki harapan,” ujar Prabowo dengan nada emosional, Kamis (22/1/2026).

​Meski sedih melihat keterbatasan air bersih, Presiden merasa lega. Hal ini karena survei global menempatkan Indonesia sebagai salah satu bangsa paling bahagia di dunia.

​Namun, tantangan kesehatan kita bukan hanya soal kemiskinan materi. Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy, menilai masalah gizi berakar pada pola perilaku. Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Kita punya pepaya hingga alpukat yang melimpah. Namun, tingkat konsumsi buah dan sayur nasional hanya sekitar 5 persen sejak 2007.

Ilustrasi Rakyat indonesia dengan makanan sederhana tapi tetap bahagia
Ilustrasi Rakyat indonesia dengan makanan sederhana tapi tetap bahagia

Doddy menyoroti fenomena dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sayur dan buah seringkali berakhir di tempat sampah karena tidak habis. “Ini soal perubahan perilaku. Masyarakat harus terbiasa dengan konsep Isi Piringku,” tegas Doddy.

​Indonesia sebenarnya telah mengukir prestasi gemilang dalam satu dekade terakhir. Angka stunting turun dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 19,8 persen saat ini. Meski demikian, pemerintah tidak ingin cepat puas.

​Target ambisius telah ditetapkan yaitu 14,2 persen pada tahun 2029. Bahkan, Indonesia mengincar angka 5 persen pada tahun 2045. Untuk mencapainya, peran ahli gizi menjadi garda terdepan dalam menyusun perencanaan menu yang presisi.

Edukasi berkelanjutan mengenai protein sangat krusial. Contohnya adalah konsumsi telur untuk memastikan anak-anak tumbuh maksimal. Inovasi edukasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kita harus mengubah kebiasaan “nasi garam” menjadi asupan yang membangun masa depan bangsa. (Rha/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *