monwnews.com – Malang,- Ini musik lesung atau kotekan lesung, Tradisi Jawa yang lahir dari dapur, tapi maknanya nembus sampai ke balai desa. Di foto ini kelihatan jelas: ibu-ibu & mbak-mbak berkebaya lurik, alu merah-kuning dihentakkan bareng ke lesung, ditonton warga.

Ini bukan cuma sekedar tontonan. Ini punya makna bagian dari peradaban zaman
Saya uraikan filosofinya:
1. Filosofi Dasar: Kerja Jadi Nada, Beban Jadi Irama
Lesung + alu itu aslinya alat numbuk padi. Kerja berat, membosankan, kalau dikerjain sendiri.
Filosofinya: Leluhur kita mengubah beban jadi kebersamaan, capek jadi seni. Dipukul bareng-bareng, dengan pola, jadilah musik. Artinya: masalah sebesar apapun kalau dikerjain kompak dan pake irama yang sama, jadi ringan & indah.
2. Makna dalam Kehidupan Sosial
Unsur Lesung Makna Sosial
*Lesung Kayu* *Wadah/Jagat*: Simbol desa, komunitas, atau negara. Tempat semua orang “bertemu”. Kuat, menampung semua pukulan. Kalau lesungnya retak, semua bubar.
*Alu Banyak* *Warga Masyarakat*: Beda warna merah-kuning, beda tinggi orangnya, beda kuatnya. Tapi semua pegang alu. Artinya: semua warga punya peran. Nggak ada yang cuma nonton.
*Irama Kotekan* *Gotong Royong & Sinkronisasi: Nabuhnya nggak boleh asal. Ada pola *ndherek, ngempyung, ngelak. Harus saling denger, saling ngisi. Kalau satu orang egois nabuh kenceng sendiri, musiknya rusak. Ini ajaran *hidup bermasyarakat harus selaras*.
*Pelaku Perempuan* *Kekuatan Domestik: Dulu yang numbuk padi itu ibu-ibu. Musik lesung = pengakuan bahwa **ruang domestik adalah pusat peradaban*. Dari dapur & lesung lahirlah kehidupan & budaya.
*Penonton Melingkar* *Partisipasi Publik: Warga yang nonton ikut tepuk, ikut jaga irama. Simbol bahwa pembangunan desa harus **diawasi & diramaikan warga*, bukan cuma urusan elit.
3. Makna dalam Informasi Politik
Zaman dulu nggak ada Toa, TV, apalagi Twitter. Gimana cara ngumpulin warga?
1. Lesung = Kentongan Raksasa: Bunyi “thok-thok-dung” alu ke lesung itu keras & khas. Kedengeran sekampung. Dulu dipake buat kode informasi:
– Kode Ngumpul: Bunyi pola tertentu = “kabeh kumpul di balai desa, ada pengumuman lurah”.
– Kode Bahaya: Bunyi bertubi-tubi = “ada maling, ada kebakaran, ada bahaya”. Warga langsung siaga.
– Kode Gembira: Bunyi ramai berirama = “habis panen, ada hajatan, nikahan”. Ngajak semua orang bergembira.
Jadi lesung adalah sistem broadcast informasi politik paling awal. Cepat, murah, menjangkau semua.
2. Politik Simbolik:
– Pemimpin harus kayak lesung: Kuat, jadi wadah, nggak gampang pecah walau “dipukul” kritik dari banyak alu/rakyat.
– Rakyat harus kayak pemain kotekan: Beda pilihan politik boleh, tapi kalau urusan desa/negara, harus mau mukul bareng biar iramanya jadi. Kalau mukul sendiri-sendiri, namanya perpecahan.
– Alu nggak boleh dipake mukul kepala orang: Alat buat kerja & seni, jangan disalahgunakan buat kekerasan politik.
3. Demokrasi Musyawarah: Sebelum nabuh, para pemain harus rembugan dulu: “kita main irama apa?”. Nggak bisa langsung hajar. Ini cerminan musyawarah mufakat. Hasilnya harus irama yang disepakati & indah didengar semua, bukan cuma keras doang.
Kenapa Relevan Buat Pemerintahan Daerah Sekarang?
1. Anti “Pejabat Pejambret”: Musik lesung cuma bisa jalan kalau semua alu mukul ke lesung. Kalau ada satu alu yang nyolong beras di lesung diam-diam, langsung ketahuan karena iramanya pincang. Simbol transparansi & pengawasan publik.
2. Kebijakan Harus Berirama: Pemda nggak boleh bikin program “sok kenceng” sendiri. Harus dengerin kotekan dari bawah: suara petani, UMKM, RT. Kalau nggak selaras, programnya bakal “fals” & ditolak warga.
3. Identitas & Daya Tawar: Di era global, daerah yang punya “musik lesung” sendiri artinya punya identitas budaya. Itu modal politik & ekonomi. Bisa jadi wisata, bisa jadi branding daerah. Daripada semua kabupaten seragam, mending jaga irama khasnya sendiri.
Kesimpulannya:
Musik lesung itu ngajarin bahwa kekuasaan itu bukan di alu yang paling gede, tapi di irama yang disepakati bareng. Lesung jadi negara, alu jadi rakyat & pejabat, irama jadi konstitusi & kesepakatan.
Kalau pemerintah daerah mau aman, bikin aja kebijakan kayak musik lesung: ngumpulin warga dulu, rembugan iramanya, baru mukul bareng. Dijamin “gerobak” daerahnya jalan, dan nggak ada yang merasa dipukuli.
Tinggal kita mau dengerin “informasi politik” dari bunyi lesung ini, atau lebih milih dengerin bisik-bisik di ruang AC.
Malang,19 April 2026












