Dia Bukan Pahlawan

Oleh: Ismail Arif

Monwnews.com, Bahkan seorang yang telah membangkitkan bangsanya dari puing kehancuran, dia tidak layak diangkat sebagai pahlawan.

Di dalam kenyangnya perut Perancis itu terdapat kekalahan Jerman. Begitu ucapan paling berkesan di telinga seorang  perwira Jerman, Hermann Wilhelm Göring, dari seseorang asing yang sekonyong-konyong datang di suatu siang.

Tahun 1922, ketika itu Göring bersama sekitar 30 orang lainnya sedang berada di kedai kopi, datanglah seseorang. Dia naik ke atas meja, dan berorasi. Hermann Göring tersengat. Esok malamnya dia langsung menjadi pengikut orang tersebut.

Orang itu bukanlah siapa-siapa. Seorang pelukis yang karyanya dianggap tidak layak. Seorang prajurit rendahan yang ditempatkan sebagai tukang cuci pakaian tentara. Bagaimana mungkin seorang perwira seperti Hermann Göring bisa begitu saja bersedia menjadi pengikut orang seperti itu?

He made us Jerman again . Dia membuat kami menjadi Jerman kembali. Begitu pengakuan Hermann Göring pada pengadilan kejahatan perang di Nuremberg. Di tengah kehancuran, kemiskinan, tak ada baju, tak ada sepatu, tak ada makanan, rakyat Jerman berbaris mengantri makanan di pinggir jalan, dia hadir bagai penerang jalan.

Dialah Adolf Hitler. Dan Göring merasa keputusannya adalah benar. Tahun 1933 Hitler naik sebagai Diktator Jerman. Dan Hermann Göring diangkat menjadi menteri dalam negeri. Hitler terbukti mampu membalas kekalahan Jerman atas Perancis. Bahkan menguasai lebih dari setengah benua Eropa dan menyulut api Perang Dunia II.

Jerman pun lahir kembali from zero to hero bagi bangsanya. Di tangan Hitler, dengan jargon Mein Kampf, Jerman come back menjadi bangsa yang diperhitungkan dan ditakuti.

15 Agustus 1945, Perang Dunia II pupus. Dua hari kemudian Negara Republik Indonesia lahir. Namun jejak bercak darah perjuangan Hitler tercecer sepanjang jalan sejarahnya. Adolf Hitler dinyatakan tewas secara misterius. Dan para petinggi Nazi diadili atas kejahatan kemanusiaan.

Meski dia berhasil mengembalikan kebesaran Jerman dari puing kehancuran, sejarah mengabadikan namanya bukan sebagai pahlawan. Kejahatan kemanusiaan abadi tersemat di wajahnya.

(Ismail Arif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *