Monwnews.com, Pernahkah kita bertanya, mengapa bangsa yang begitu religius ini tampak semakin mudah marah? Mengapa media sosial kita dipenuhi ujaran kebencian, mengapa tempat ibadah dirusak atas nama agama, dan mengapa mereka yang berbeda pendapat dihabisi secara keji? Mungkin jawabannya tak hanya terletak pada politik atau ekonomi, tetapi pada sesuatu yang lebih dalam: kesadaran kolektif. David Hawkins, melalui Map of Consciousness-nya, menawarkan cara membaca realitas itu. Ia menunjukkan bahwa level kesadaran suatu masyarakat bisa diukur, dan Indonesia hari ini, dengan segala gejolaknya, tengah bergulat di level 150—level amarah. Sebuah kontras tajam dengan para pendiri bangsa yang, di era 1945, mampu mencapai level cinta dan akal budi. Lalu, bisakah kita kembali ke puncak?

Mengukur Jiwa Bangsa dengan Angka
David R. Hawkins, seorang psikiater dan peneliti kesadaran asal Amerika Serikat, menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk membuat sebuah peta yang kontroversial sekaligus revolusioner. Dalam bukunya Power vs. Force (1995), ia memperkenalkan Map of Consciousness, sebuah skala logaritmik dari 0 hingga 1.000 yang mengukur tingkat kesadaran manusia—baik individu maupun kolektif—berdasarkan respons terhadap kebenaran, keindahan, dan kebaikan.
Pada level terendah, 20, ada Shame (penghinaan) yang digambarkan sebagai “Miserable” dengan pandangan hidup “Evil” dan Tuhan yang “Despising”. Naik sedikit ke level 30, ada Guilt (rasa bersalah) yang destruktif. Level 50 adalah Apathy (putus asa), level 75 Grief (duka), level 100 Fear (ketakutan), level 125 Desire (hasrat yang membelenggu), dan level 150 Anger (kemarahan) yang disertai Hate (kebencian).
Di atasnya, baru ada titik balik: level 200 adalah Courage (keberanian), di mana seseorang mulai memiliki kekuatan sejati. Level 250 Neutrality, 310 Willingness, 350 Acceptance, 400 Reason, 500 Love, 540 Joy, 600 Peace, dan puncaknya 700-1.000 adalah Enlightenment—kesadaran para nabi, avatar, dan guru besar seperti Yesus, Buddha, Muhammad.
Hawkins menegaskan bahwa umat manusia secara kolektif mengalami pasang surut kesadaran. Dan jika kita jujur, di mana posisi Indonesia hari ini?
Indonesia di Level 150: Negeri Marah-Marah
Jika kita menggunakan kacamata Hawkins untuk membaca realitas kebangsaan kita, hasilnya mengkhawatirkan. Indonesia saat ini, secara kolektif, tampak berada di level 150: Anger (kemarahan) dan Hate (kebencian).
Ciri-cirinya terlihat jelas. Di media sosial, orang mudah tersulut amarah hanya karena perbedaan pilihan politik atau tafsir agama. Ujaran kebencian menjadi konsumsi sehari-hari. Hoaks yang menebar kebencian menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Di dunia nyata, intoleransi meruyak. Tempat ibadah dirusak atas nama agama. Minoritas diintimidasi. Mereka yang berbeda pendapat di-bully habis-habisan.
Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat bahwa sepanjang 2023, ada lebih dari 5.000 konten ujaran kebencian yang diturunkan dari platform digital. Sebagian besar bermuatan SARA. Sementara itu, laporan dari Setara Institute menunjukkan bahwa angka pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan masih tinggi, dengan 190 peristiwa dan 239 tindakan sepanjang 2023.
Di level 150, menurut Hawkins, seseorang atau masyarakat memandang hidup sebagai sesuatu yang “Antagonistic” (bermusuhan). Tuhan dipandang sebagai sosok “Vengeful” (pendendam) yang perlu dibela dengan cara-cara keras. Proses yang dominan adalah Aggression (agresi). Lihatlah bagaimana sebagian orang dengan mudah mengkafirkan, membid’ahkan, bahkan menghalalkan darah mereka yang berbeda.
Inilah wajah Indonesia hari ini: bangsa yang religius secara statistik, tapi marah secara spiritual.
Jejak Kejayaan: Era Soekarno di Level 300-500
Betapa berbeda dengan era awal kemerdekaan. Di masa kepemimpinan Soekarno, level kesadaran kolektif bangsa ini berada di kisaran 300 hingga 500. Ini adalah wilayah Acceptance (penerimaan), Willingness (kemauan), hingga Reason (akal budi) dan Love (cinta).
Pada level 350 (Acceptance), seseorang memandang hidup sebagai “Harmonious” dan Tuhan sebagai “Merciful”. Di sinilah para pendiri bangsa duduk bersama merumuskan Pancasila. Mereka yang berbeda agama, suku, dan ideologi—Soekarno yang nasionalis, Hatta yang Islam modernis, Wahid Hasyim dari NU, dan lainnya—mampu mencapai konsensus. Mereka tidak saling membunuh, tapi saling merangkul.
Pada level 400 (Reason), yang dicirikan oleh “Understanding” (pemahaman) dan pandangan hidup “Meaningful”, lahirlah konsep-konsep besar seperti Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis). Mungkin secara politik konsep ini bermasalah, tetapi secara kesadaran, ia menunjukkan kemampuan berpikir abstrak dan integratif yang luar biasa. Soekarno mampu memadukan berbagai aliran ideologi dunia ke dalam wadah kebangsaan. Bahkan pada momen-momen tertentu, seperti saat pidato 1 Juni 1945 atau saat pembacaan teks proklamasi, level kesadaran bangsa ini mungkin menyentuh 500 (Love). Cinta pada tanah air, cinta pada sesama, dan cinta pada kemanusiaan menjadi energi penggerak utama. Bukan kebencian, bukan amarah.
Sejarawan Rushdy Hoesein, dalam bukunya “Terbentuknya Negara Indonesia” (2020), mencatat bahwa para pendiri bangsa memiliki kualitas spiritual yang tinggi. “Mereka tidak hanya berdebat tentang bentuk negara, tapi juga merenungkan tentang ruh kebangsaan. Ada dimensi transendental dalam perumusan Pancasila,” tulisnya.
Puncak Kesadaran: Era Kenabian di Level 700-1000
Jika kita mundur lebih jauh lagi, ke era kenabian, kita memasuki wilayah kesadaran yang oleh Hawkins disebut sebagai Enlightenment (700-1.000). Ini adalah level di mana seseorang atau sekelompok kecil manusia mencapai realisasi tertinggi: kesadaran bahwa diri adalah bagian dari Yang Maha Esa.
Nabi Isa (Yesus) dalam tradisi Kristen, atau Nabi Muhammad dalam tradisi Islam, adalah contoh manusia yang mencapai level ini. Pada level 700 ke atas, pandangan hidup adalah “Is” (keberadaan murni). Tuhan dilihat sebagai “Self” (diri sendiri). Prosesnya adalah Pure Consciousness (kesadaran murni).
Pada level 600 (Peace), hidup dipandang “Perfect”, Tuhan sebagai “All Being”. Ini adalah level para wali besar, para sufi yang mencapai fana’. Pada level 540 (Joy), hidup dipandang “Complete”, Tuhan sebagai “One”. Ini adalah level para siddha, para yogi, dan para mistikus.
Apa yang diajarkan oleh para nabi dan rasul? Intinya satu: cinta. Cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama makhluk. Tidak ada ajaran nabi yang menyuruh pengikutnya untuk membenci, apalagi membunuh, orang yang berbeda keyakinan. Nabi Muhammad, dalam Piagam Madinah, justru membangun masyarakat pluralis pertama di dunia, di mana Yahudi, Nasrani, dan Muslim hidup berdampingan. Maka, betapa ironisnya ketika hari ini, atas nama agama yang sama, orang-orang justru mudah marah, mudah benci, dan mudah menyakiti. Ini bukan hanya kemunduran politik, tapi kemunduran kesadaran spiritual.
Mengapa Level Kesadaran Menurun?
Hawkins menjelaskan bahwa level kesadaran kolektif suatu masyarakat bisa naik dan turun tergantung pada berbagai faktor: kepemimpinan, pendidikan, trauma kolektif, dan pengaruh eksternal. Indonesia mengalami penurunan drastis dari era Soekarno (300-500) ke era sekarang (150) karena beberapa hal.
Pertama, kegagalan kepemimpinan pasca-Soekarno. Orde Baru di bawah Soeharto, meskipun berhasil membangun infrastruktur, gagal membangun kesadaran kritis. Pendidikan lebih diarahkan pada pembentukan tenaga kerja daripada pembentukan manusia merdeka. Akibatnya, ketika reformasi datang, masyarakat tidak siap mengelola kebebasan. Kebebasan berubah menjadi kebebasan marah.
Kedua, trauma kolektif. Peristiwa 1965, penembakan misterius, pelanggaran HAM di Aceh, Papua, dan Timor Timur, meninggalkan luka mendalam yang tak pernah sembuh. Luka yang tak terawat berubah menjadi kemarahan yang terpendam, lalu meledak dalam bentuk kekerasan sosial dan politik.
Ketiga, masuknya paham keagamaan transnasional yang membawa teologi kebencian. Kelompok-kelompok ini, dengan pendanaan melimpah dari Timur Tengah, menyebarkan cara pandang eksklusif: kami yang paling benar, yang lain sesat dan halal darahnya. Mereka berhasil menginfiltrasi lembaga pendidikan, masjid, dan media sosial.
Keempat, ketimpangan ekonomi yang tajam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rasio gini Indonesia masih di atas 0,38, yang berarti kesenjangan tinggi. Orang miskin melihat orang kaya hidup bermewah-mewah sementara mereka susah makan. Kemarahan sosial ini kemudian dengan mudah dialihkan ke isu-isu identitas: agama, suku, ras.
Membaca Pemikiran Gus Dur dengan Kacamata Hawkins
Di sinilah pemikiran Gus Dur tentang spiritualitas baru menemukan relevansinya yang luar biasa. Gus Dur, sadar atau tidak, sedang berjuang untuk menaikkan level kesadaran bangsa ini dari anger (150) ke level yang lebih tinggi: courage (200), acceptance (350), reason (400), bahkan love (500).
Ketika Gus Dur membela minoritas, ia sedang menggerakkan bangsa ini dari anger (yang selalu mencari musuh) menuju acceptance (yang mampu menerima perbedaan). Ketika ia duduk bersama tokoh-tokoh lintas agama, ia sedang membangun reason—kesadaran bahwa dialog lebih baik daripada konflik. Ketika ia memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya, ia sedang mencapai level love dan peace.
Gus Dur adalah bukti bahwa seseorang bisa mencapai level kesadaran tinggi meskipun hidup di tengah masyarakat yang masih rendah. Ia seperti mercusuar di tengah badai. Ia tidak larut dalam amarah kolektif, tapi justru menjadi penyeimbang. Dalam bahasa Hawkins, Gus Dur adalah “attractor field”—medan penarik yang mampu mengangkat kesadaran orang-orang di sekitarnya. Kehadirannya, pemikirannya, dan teladannya menjadi energi positif yang melawan arus kebencian. Ia menulis dalam Spiritualitas Baru: “Kita harus berani keluar dari belenggu egoisme kelompok. Kita harus berani melihat kemanusiaan sebagai satu keluarga.” Kalimat ini, dalam skala Hawkins, berada di level 500 ke atas. Ini adalah cinta universal.
Jalan Keluar: Bagaimana Menaikkan Level Kesadaran?
Pertanyaan besarnya: bisakah kita menaikkan level kesadaran kolektif bangsa ini? Hawkins optimistis. Ia percaya bahwa perubahan bisa terjadi, meskipun membutuhkan waktu dan usaha sadar dari banyak pihak.
Pertama, pendidikan. Hawkins menekankan bahwa level 400 (reason) dicapai melalui pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis, bukan sekadar menghafal. Indonesia harus segera mereformasi sistem pendidikannya. Kurikulum harus menekankan pada pembentukan karakter, empati, dan kemampuan berpikir jernih. Guru harus menjadi teladan, bukan sekadar pengajar.
Kedua, kepemimpinan yang berkesadaran tinggi. Seperti era Soekarno, kita butuh pemimpin yang tidak hanya populer, tapi juga memiliki visi kebangsaan yang dalam. Pemimpin yang mampu menenangkan amarah, bukan mengipasinya. Pemimpin yang level kesadarannya minimal di level 400-500, sehingga bisa menjadi attractor field bagi rakyatnya.
Ketiga, penguatan budaya lokal. Budaya Nusantara, dengan segala kearifannya, menyimpan nilai-nilai yang bisa menaikkan kesadaran. Tari, musik, wayang, dan ritual adat adalah media untuk mencapai level acceptance dan love. Kebangkitan spiritual harus dimulai dari kebangkitan budaya.
Keempat, penguatan ruang publik yang sehat. Media sosial saat ini menjadi ruang publik utama, tapi ia dikelola oleh algoritma yang mengutamakan sensasi dan amarah. Kita perlu membangun ruang-ruang alternatif: komunitas diskusi, kelompok kajian, ruang seni, di mana orang bisa bertemu, berdialog, dan saling memahami.
Kelima, keteladanan. Gus Dur telah memberi teladan. Kini tugas kita adalah meneladani Gus Dur. Setiap orang, di levelnya masing-masing, bisa menjadi agen perubahan. Di keluarga, di tempat kerja, di lingkungan sekitar, kita bisa mempraktikkan nilai-nilai cinta dan penerimaan.
Menuju Indonesia Level 500: Mungkinkah?
Mungkinkah Indonesia mencapai level 500 (love) seperti di era awal kemerdekaan? Atau bahkan level 600 (peace) dan 700 (enlightenment) seperti era kenabian?
Jawabannya: mungkin, tapi tidak instan. Perjalanan dari level 150 ke 500 adalah lompatan peradaban. Ia tidak bisa dicapai hanya dalam satu atau dua periode pemerintahan. Ia butuh kerja keras lintas generasi. Tapi kita punya modal. Kita punya Pancasila yang oleh para pendiri bangsa dirumuskan dalam level kesadaran tinggi. Kita punya keberagaman yang, jika dikelola dengan baik, justru menjadi sumber kekuatan. Kita punya tradisi spiritual yang kuat, baik dari agama-agama resmi maupun kepercayaan lokal.
Yang kita butuhkan adalah kesadaran untuk memulai. Kesadaran bahwa amarah tidak akan menyelesaikan masalah. Kesadaran bahwa kebencian hanya akan melahirkan kebencian baru. Kesadaran bahwa cinta adalah satu-satunya jalan.
Gus Dur telah membukakan pintu. Kini terserah kita, mau masuk atau tidak.
Dari Amarah ke Cinta, Sebuah Pilihan
David R. Hawkins menulis dalam Transcending the Levels of Consciousness (2006) bahwa “The level of consciousness is not a matter of intelligence, but of integrity.” Tingkat kesadaran bukanlah soal kecerdasan, tapi integritas. Integritas untuk memilih cinta daripada benci. Integritas untuk memilih dialog daripada konflik. Integritas untuk memilih persatuan daripada perpecahan.
Indonesia hari ini ada di persimpangan. Satu jalan menuju ke bawah: ke level 100 (fear), 75 (grief), bahkan 50 (apathy). Jalan lain menuju ke atas: ke level 200 (courage), 350 (acceptance), 400 (reason), 500 (love).
Pilihan ada di tangan kita. Sebagai individu, sebagai masyarakat, sebagai bangsa. Mari kita pilih jalan ke atas. Mari kita bangkitkan spiritualitas sejati. Bukan spiritualitas yang sibuk dengan amarah, tapi spiritualitas yang berbuah cinta.
Seperti pesan Gus Dur di penghujung hayatnya: ”Tidak penting apa pun agamamu, yang penting adalah kemanusiaanmu.” Itulah puncak kesadaran. Itulah Indonesia yang kita impikan.
—
David R. Hawkins (1927-2012) adalah psikiater, peneliti kesadaran, dan penulis buku-buku tentang spiritualitas dan metafisika. Karyanya tentang Map of Consciousness telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia sebagai alat untuk pengembangan diri.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Presiden ke-4 RI, tokoh Nahdlatul Ulama, dan salah satu pemikir Muslim terpenting di Indonesia. Ia wafat pada 30 Desember 2009 dan dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang.












